
Beberapa lama kemudian dokter Ibram keluar dari kamar Lily bersama ibunya Ratih. Ia mengajak semua kembali keruangannya. Ia memberi perintah kepada perawat untuk tetap menjaga diluar karena Ratih masih diperintahkan tinggal menemani Lily.
Mereka semua masuk kedalam ruangan kerja Ibram dan tersentak kaget ketika melihat pamannya Panji sedang duduk bersimpuh dengan air mata bercucuran. Panji dan Nissa yang masih tak percaya dengan apa yang disaksikan matanya, tak tahu harus berbuat apa, mereka diam mematung menatap pamannya.
"Saat kalian datang kemari membobol ruanganku tempo hari. aku sudah yakin semua ini ada hubungannya dengan pamanmu! Aku mempersiapkan semua, aku membuat pengeras suara yang terhubung langsung dari ruangan lLily. Aku paksa dia datang dan aku kunci dia disini, Dia mendengar semua setiap kata-demi kata yang keluar. Bukan begitu pak Haryono?" Pak haryono hanya diam dan terus menangis.
"Bisakah kita mendengarkan lagi disini? Panji setengah berharap, ia ingin tahu apa yang terjadi. Ibram menunggu reaksi yamg lainnya yang ternyata hanya diam. Ibram mempersilahkan semuanya duduk. Semua mengambil posisi duduk disofa berbentuk huruf L yang ada didepan meja kerja Ibram. Paman Panji masih bersimpuh di atas karpet iyang berada ditengah antara mereka dan Ibram. Ibram memgambil remote dan menyalakan alatnya.
Semua percakapan dikamar Lily diperdengarkan kembali di ruangan Ibram. Nissa kembali menangis tersedu dipelukan Heny. Air matanya tak mampu dibendung. Air mata Ratna juga nekad mengalir dipipinya yang halus. Panji menggenggam erat tangan Ratna mengurangi kesedihannya, namun ia sendiri tak mampu menahan air matanya. Setiap kata -demi kata yang diperdengarkan kembali membuat Paman Panji terus menangis. Pertunjukan telah selesai. Panji menyeka air matanya dan menghampiri pamannya.
"Bangunlah Paman! Kami semua disini sayang sama Lily. Bapakku rela masuk penjara, ibuku tinggal dipanti, aku sudah tahu semuanya, Pamanlah yang membunuh pak lurah! Tapi kami tak meminta Paman bertanggung jawab dan menggantikan bapak dipenjara, tidak Paman! Bapak hanya minta paman bertanggung jawab buat kesembuhan Lily. Bangunlah Paman! Bangunlah buat Lily!"
"Aku tak tahu harus berbuat apa sejak kejadian itu Panji, aku ingin bertanggung jawab tapi bapakmu melarang! Istriku ikut depresi seperti Lily. Hidupku sudah seperti hantu. Maafkan aku Panji! Maafkan aku!"Isak tangis Pak Haryono semakin keras.
Nissa melangkah mendekati pamannya, ia memeluk pamannya dari samping dan menyandarkan kepalanya kebahu pamannya.
"Tidak Paman! Kamilah yang harus berterima kasih kepada Paman. Paman merawat aku dan Mas Panji disaat kami dalam kondisi sulit. Paman tetap berkorban buat kami padahal Paman sedang disulitkan dengan urusan Lily. Kami menyayangi Paman seperti kami menyayangi bapak kami. Bangunlah Paman! Aku membutuhkan Paman! Lily membutuhkan Ayahnya." Nissa menuntun pamannya berdiri. Isak tangis masih terdengar dari mulutnya. Ia mulai berdiri dan langsung memeluk Nissa dan Panji dengan erat. Panji mengambil sebuah kursi dan menbawa pamannya duduk disana.
"Tapi aku sudah membunuh orang Panji! Bagaimana dosaku kalau aku tak masuk penjara?" Jeritan hati Pak Haryono yang terus dihantui rasa bersalah akhirnya terucap. Ibram menghampiri pamannya Panji.
"Setahuku Penjara tak ada hubungannya dengan penebusan dosa, penjara dibuat bukan untuk pengampunan dosa, tapi buat merehabilitasi agar tidak berbuat kejahatan lagi. Untuk penebusan dosa yang aku tahu, Pak Haryono harus bertobat, minta ampunlah sebanyak-banyaknya kepada Tuhan!"
__ADS_1
"Betul Paman! Dosa Paman tak akan tertebus karena masuk penjara, biarlah bapak yang ada disana, bapak sangat berguna disana menyembuhkan penyakit orang-orang disana. Paman bisa tebus dosa paman dengan bertobat, memohon ampun dan berbuat kebaikan disini! Lily adalah prioritas hidup Paman sekarang!"
" Haryono! Aku dan Ratih sudah mengikhlaskan semuanya. Mungkin kepergian suamiku adalah takdir tuhan yang terbaik buat kita semua." Bu Maryati menghampiri sahabat kecilnya.
"Maafkan aku Mar! Maafkan aku!" Haryono mengambil tangan Sahabatnya dan meletakkan di kepalanya, ibunya Ratih mengangguk, mengusap kepala sahabatnya dengan tangan satunya.
"Aku seharusnya bawa baju ganti! Lihat bajuku! Basah semua oleh airmataku dan air mata Nissa!" Heny terkekeh meledek Nissa tapi tak melapaskan pelukannya agar Nissa tetap merebahkan kepala dipundaknya. Nissa tersenyum malu, air matanya masih terus mengalir membasahi baju Heny.
"Aku cemburu padamu Nissa! Aku tak pernah dipeluk sehangat itu olehnya."
"Tak akan! Kecuali kau membelikanku gamis yang baru!" Heny tertawa senang.
"Kau lihat Nissa, kau yang berbuat aku yang kena getahnya." Semua tertawa mendengar kekonyolan Ibram dan Istrinya. Panji juga ikut tertawa, dokter Ibram dan istrinya, mereka dua orang yang luar biasa, cocok satu sama lain, mereka mampu mengendalikan suasana agar tak larut dalam kesedihan. Panji mengacungkan dua jempol dalam hatinya untuk mereka.
"Bagaimana perkembangan terakhirnya Ratih?"
"Lily sudah tertidur, Sesuai arahan dokter, aku coba bercerita tentang hal-hal indah yang kami lewati bersama, ia tak banyak bicara, tapi ia menghabiskan makanannya, aku yang menyuapinya." Ratih tersenyum senang.
"Ia menghabiskan makanannya? Alhamdulillah, aku tak menyangka progresnya sebesar ini, semua berkat kau Ratih, karena ketulusan hatimu yang menggerakkan kesadaran dan kemauan dia untuk hidup lagi."
"Tidak dokter! Ini semua karena ketulusan hati semua orang yamg ada disini. Kalau boleh aku minta izin untuk menemaninya seharian ini, aku akan memandikannya biar dia terlihat cantiik lagi seperti dahulu, mungkin sedikit memotong rambutnya kalau dokter mengizinkan.
__ADS_1
"Untuk gunting rambut harus ada pengawas yang mengawasi kalian, sisanya tentu boleh. Aku malah tadinya ingin meminta kamu untuk itu. Kau punya pekerjaan tetap ditempat tinggalmu?"
"Aku baru saja mengundurkan diri dari pekerjaanku, aku dan ibuku sudah berniat meninggalkan kampung halamanku. Terlalu sulit dan berat buat kamu melanjutkan hidup kami dengan tenang disana."
"Kebetulan sekali. Aku sudah membamgun klinik untuk praktek pribadiku. Aku menyiapkan beberapa ruangan untuk pasien yang menginap. Izinnya baru saja keluar. Aku berniat memindahkan Lily, ibumu dan istri Pak Haryono kesana agar aku lebih fokus menyembuhkan mereka. Aku membutuhkan pegawai dan tentu saja aku akan dibantu istriku. Istriku sudah resign dari kantornya, dia tak mau jauh dariku sejak aku sembuh." Mata Ibram mengerling kepada istrinya yang disambut dengan kalimat 'wew' dan juluran lidah Heny.
"Kalau kau berkenan, kau bisa bekerja denganku disana, aku melihat kau punya potesi untuk jadi perawat yang handal, aku akan menyekolahkan kau sekolah perawat kalau kau mau, bagaimana?"
Ratih hanya terpana mendengar permintaan Ibram, ia menangis terharu. Ratna yang duduk disebelah Ratih mulai keluar sifat usilnya.
"Kau jawab saja permintaan dokter, bukannya nangis, aku sudah bosan dengar kau menangis!" Ratna sukses mendapat toyoran dikepalanya oleh Ratih yang melakukannya sambil tertawa. Ia menarik tangan Ratna untuk duduk merapat dekatnya. Matanya melotot galak.
"Kau duduk disini dekatku! Kalau mulutmu usil lagi biar kurobek mulutmu yang cantik itu!" Ratna tertawa mendengar ancaman Ratih., dia malah bersandar ke bahu Ratih.
"Bagaimana dengan Gilang?"
"Dia sudah dibawa ibu Haryati ke polres Kebumen, itulah sebabnya aku dan ibuku siap untuk pindah, kami merasa berat meninggalkan Gilang selama ini. Gilang berterima kasih kepadamu karena kau tak memenjarakannya Panji, Aku juga sudah cerita semuanya pada Gilang. Awalnya ia tak percaya, tapi bu Haryati mendukung ceritaku. Ia sangat terpukul pernah sangat membencimu Panji." Panji tak mendengar kalimat terakhir Ratih, pikirannya menerawang.
"Jadi akhirnya Kapolres kebumen berhasil juga mendapat kebenarannya, tapi ia sudah berjanji padaku untuk tak mengungkit lagi kasus ini, biarlah! Yang akan terjadi biarlah terjadi." Panji membatin.
"Bagaimana dengan ibuku dokter? apa yang bisa kita lakukan?" Kali ini Nissa yang bertanya.
__ADS_1
"Aku sudah bilang dari awal, aku sudah persiapkan semuanya. Ibu dan bibimu sudah dari kemarin ada disini. Aku menempatkan mereka berdua diruangan yang ada pengeras suaranya seperti disini, ketiga ruangan terkoneksi. Kita bahkan bisa melihat apa yang sedang diperbuat ibu dan bibimu setelah mereka mendengar semua yang terjadi dikamar Lily dan yang kita bicarakan disini." Ibram mengambil remotenya kembali ia menyalakan televisi yang ada diatas kepalanya. Tak lama muncul gambar dua orang wanita yang menangis saling berpelukan.
"Sekali tepuk tiga lalat kena! Itulah gunanya teknologi. Memudahkan dan mempersingkat kerja kita. Aku sudah memeriksa kondisi mereka kemarin. Buat istrimu Pak Haryono! beliau pasti sembuh jika melihat Lily sudah sembuh. Untuk ibumu Nissa! Aku yakin ia sudah sembuh dari dahulu, ia hanya perlu dipastikan bahwa semua akan baik-baik saja. Sekarang kita harus rayakan momen bahagia ini dengan makan bersama, siapa yang traktir? Rekeningku sudah bobol mengganti gamis istriku!" Ibram masih keluar usilnya. Semua tangan menunjuk Pak Haryono, ia tertawa lebar dan mengangguk pasrah.