KUTUKAN Atau ANUGERAH

KUTUKAN Atau ANUGERAH
Tamu Jauh


__ADS_3

Pak Slamet sudah diantar pulang oleh Ratna pagi pagi sekali. Ratna sampai menginap semalam mendiskusikan kasus bapaknya Panji, dan terus berlanjut dikamar Nissa, menjelang adzan shubuh baru ia tertidur, baru saja terlelap ia dibangunkan oleh Panji untuk mengantar Pak Slamet pulang. Pak Slamet ingin sampai dirumah sebelum anaknya berangkat kerja. Setelah mengantar Pak Slamet pulang ia justru kembali ke rumah Panji, bukan kerumahnya. Panji yang melihat Ratna balik kembali sampai terheran-heran.


"Loh? Kau tidak pulang?"


"Kau mengusirku?" Ratna mendelik sewot kepada Panji, Panji menatap bingung dan hanya bisa garuk-garuk kepala.


"Aku ngantuk sekali, aku mau tidur! Kalau aku pulang pasti dapat ceramah, tak akan bisa tidur pulas!" Ratna melanjutkan sambil merebahkan dirinya ke sofa.


"Kalian makanlah dulu, sarapan sudah siap, kau tak boleh tidur disofa! Setelah sarapan kau tidur dikamarku!" Nissa berteriak kepada Ratna.


"Baik nyonya!" Ratna terkikik yang disambut lemparan sebutir bawang yang dilempar asal oleh Nissa.


Mereka sarapan bersama, sambil makan mereka masih saja mendiskusikan persoalan yang semalam. Ratna merekam semua kesaksian Pak Slamet menggunakan ponselnya. Mereka mendengarkan lagi rekamannya.


"Aku setuju dengan opsi ada orang lain yang membunuh pak Lurah. Mari kita rekonstruksi kejadiannya. Pak Lurah datang mau meminta maaf, ia disambut ramah oleh bapak dan ibu kalian. Tiba-tiba ada orang yang mengambil pisau dipagar dan menikam keras punggung pak Lurah sampai tembus jantungnya. Bapakmu mengenalinya, menyuruhnya lari, lalu ia memutar posisi jasad, merapikan pot bunga yang bergeser karena ia memutar jasad pak Lurah sendirian. Lalu ia melihat jendela kamar istri Pak Slamet terbuka, ia kerumah Pak Slamet, meminta tolong menelpon polisi, menutup jendela dan gorden kamar istri Pak Slamet supaya polisi tak perlu menjadikannya saksi. Kembali kerumah, meminta pak slamet menghajarnya. Polisi datang, ia mengaku sebagai pembunuh tunggal. Kasus selesai." Ratna menyimpulkan semua hasil pembicaraan mereka semalam. Panji dan Nissa menganguk setuju.


"Tapi siapa yang ia lindungi? bapak tak punya hutang, tak punya musuh, atau mungkinkah bapak punya musuh setelah dia sering memukul orang dipasar?" Panji bertanya entah kepada siapa.


"Rasanya tidak Mas, aku pernah kepasar saat ayah butuh bantuan mengunakan ATM. Kejadiannya tak lama sebelum kasus pembunuhan. Orang-orang pasar sangat menghormati beliau, saat itu bapak sudah punya kekuatannya."


"Artinya orang yang ia lindungi adalah orang yang ia kenal baik, dan itu berarti aku dan kamu masuk dalam daftar tersangka!" Panji terkekeh tersenyum kepada Nissa.


"Orang yang ia kenal baik dan tahu kalau bapak menyimpan pisau di pagar, namamu dicoret dari daftar Mas, tapi aku masih!" Nissa terkikik geli.

__ADS_1


"Dia anak lelaki! Kenapa dia tak pernah membantu bapaknya?" Ratna menyerang Panji dengan ketus. Panji terlihat geram, Nissa hanya tertawa.


" Mas Panji memang tak pernah membantu bapak, setiap liburan atu pulang kerumah sehari semalam ia itikaf dimasjid dekat rumah kami, bapak memang menyiapkannya menjadi dai." Nissa menjelaskan kepada Ratna.


"Nah kau dengar kan? Aku disiapkan oleh bapakku untuk menjadi suami yang soleh, yang akan menuntunmu masuk syurga." Panji tertawa senang bisa membalas ledekan Ratna.


"Ih jijik aku!" Ratna mencibir, namun mukanya bersemu merah.


Nissa tertawa melihat tingkah mereka, entah mengapa ia menikmati perseteruan hubungan kakaknya dengan Ratna. Rasa saling suka yang ditampilkan dengan saling meledek dan menjatuhkan. Tak jarang mereka saling ngotot dengan argumen masing-masing tapi tak jarang pula mereka kompak saling mendukung. Sehabis sarapan kantuk menyerang ketiganya dengan dahsyat, Nissa dan Ratna langsung masuk kamar, Panji berbaring disofa. Tak lama kemudian tak terdengar lagi suara dikamar Nissa. Begitu juga Panji yang sudah terlelap disofa. sampai matahari sudah meninggi mereka masih tertidur. Sampai sebuah salam dan ketukan di pintu membangunkan Panji.


Panji bangun dan segera membuka pintu. Didepan pintu ia melihat satu orang wanita muda dan seorang ibu sedang tersenyum kepadanya, dibelakangnya ada seorang security yang melambaikan tangan kepadanya lalu berjalan menjauhi rumah Panji.


"Selamat siang, apa betul ini rumah Panji? " Wanita muda itu bertanya dengan ramah.


"Iya betul, saya sendiri? Kalian siapa?"


"Ada urusan apa? Eh maaf tapi masuklah dulu, Panji tersadar ia lupa sopan santun, ia menggeser posisi badannya dan memberi isyarat agar keduanya masuk. Keduanya duduk disofa, Panji langsung menanyakan lagi maksud dan tujuan mereka.


"Kami bermaksud mengucapkan terima kasih kepada Mas Panji atas bantuannya kepada saya tempo hari.'


"Tapi maaf saya tak mengenal kalian, dan berterima kasih untuk apa?"


"Aku anaknya almarhum pak Lurah Prayitno dan ini ibuku" Panji tersentak mendengar nama yang disebut Ratih. Bersamaan dengan itu kedua wanita baru saja keluar dari kamarnya, Panji memberi isyarat keduanya untuk bergabung, Nissa berjalan kedapur, Ratna segera menuju sofa. Nissa bergabung sambil membawa minuman buat tamunya.

__ADS_1


"Perkenalkan, ini Nissa adikku, dan ini Ratna, teman kami." Ia memperkenalkan kepada Ratih kemudian berbalik kearah yang berbeda, "Dan kalian, ini Ratih dan ibumya, Ratih putri almarhum Lurah Prayitno." Reaksi keduanya sudah diduga Panji, namun pertanyaan bertubi-tubi dari keduanya sungguh tak diduga. Panji tersenyum.


"Biarlah tamu kita cerita, dari pada mendengar mulut kalian seperti petasan." Ratih tersenyum manis mendengar perkataan Panji. Senyuman manis dan tatapan mata Ratih yang tak lepas dari Panji membuat hati Ratna mendongkol.


"Aku datang kesini atas informasi ibu Haryati, komandan Polres Kebumen. Aku mau berterima kasih karena kau telah menyembuhkanku dari penyakit kanker rahim. Kanker rahimku sembuh karena pukulannmu." Panji teringat kejadian waktu ia pulang kekampungnya, ternyata dia anak pak Lurah, pantas saja Gilang tak jad memukulnya ketika Ratih memintanya berhenti.


"Akulah yang berterima kasih kepada kakak, kalau kakak tak menahan Gilang, kepalaku sudah hancur dihajar balok."


"Aku juga minta maaf atas perbuatan anakku Gilang, Gilang masih tak bisa menghilangkan rasa dendamnya kepada kalian." Kali ini ibunya yang berbicara.


"Selain itu aku juga membawa sesuatu buat kalian." Ratih mengeluarkan sesuatu dari tasnya, ternyata sebuah map nyang terlipat rapi, ia menyerahkannya kepada Panji. Panji dengan bingung membuka isi mapnya, membolak-balik setiap lembarnya, tanpa sadar Ratna sudah menempel dekat dengannya, membaca isi map itu bersama. Kemudian Ratna berteriak.


"Ini laporan medis dari dokter, ini membuktikan opini kita benar, pak lurah sudah sembuh sebelum dia datang kerumah kalian!" Panji menatap Ratna, Ratna menatap tajam kembali kearah Panji dengan penuh antusias. Melihat keduanya begitu dekat hati Ratih mencelos, ia tak tahu apa yang dirasakan hatinya. Ia memcoba memaksakan dirinya tersenyum.


"Benar! Aku sendiri yang menjemput ayahku dari rumah sakit, ia memang telah sembuh dari penyakit jantungnya, ia pamit padaku mau kerumah kalian untuk berterima kasih." Ketiga tuan rumah terdiam, Panji dan Nissa berkutat dengan pikirannya masing-masing. Sementara Ratna dan Ratih saling pandang. Keduanya seakan saling mencoba membedah isi kepala lawannya.


"Tenru saja ini informasi yang berharga, semakin menguatkan dugaan kami, tapi kenapa bu Haryati tak mengabarkan kepadaku?"


"Aku yang memintanya menahan berita ini, supaya aku yang langsung memberikannya kepada kalian. copian berkas ini sudah diterima beliau kemarin."


"Secara teori kami sudah bisa membuktikan bahwa bapak kami tak bersalah, tapi tetap saja lemah karena tak ada saksi yamg kuat apalagi belum ada petunjuk siapa pelaku sebenarnya." Panji kembali menjelaskan kepada Ratih.


"Oh iya, kami juga sudah ke Jogja, bertemu ibumu di panti. Ibumu mengenal ibuku dengan baik, mereka teman akrab masa kecil dahulu," Ratih menoleh kepada ibunya yang sedang mengangguk kepada Panji. "Ibumu mengenali kami, ia memegang tanganku dan berkata ' Suamiku tak bersalah, dia tak membunuh bapakmu' .Dua kali beliau bilang begitu kepadaku, aku menjadi yakin bahwa begitulah kebenarannya." Ratih terdiam tak mampu meneruskan kalimatnya, Nissa langsung bereaksi spontan.

__ADS_1


"Mas Panji, kalau ibu bisa mengenali kawan akrab masa kecilnya, dan bisa mengenali kak Ratih sebagai anak pak lurah, ada kemungkinan dia sudah sembuh. Kita harus kesana menjenguknya sekaligus mengorek informasi darinya." Nissa berkata antusias.


"Baiklah sabtu besok kita ke Jogja, aku sudah gajian saat itu, tapi ingat Nissa, apa yang dikatakan bu Haryati waktu itu, mungkin buat kita akan dapat kebenarannya, tapi akan sulit memperjuangkannya dipengadilan, aku tak ingin membuatmu berharap dan kecewa."


__ADS_2