
Dua hari yang telah ditentukan tiba. Nissa bersikeras ingin mendampingi Panji menemui laki-laki gondrong yang telah coba disembuhkan Panji. Nissa khawatir dengan apa yang akan terjadi pada kakaknya, tapi Panji menolak. Akhirnya Nissa mengalah dan membiarkan Panji menghadapinya sendirian.
Panji sudah tiba di taman namun hari ni taman terlihat sepi, tak banyak aktivitas manusia disana. Panji memutar matanya berkeliling mencari sosok laki-laki tersebut, ia tak dapat menemukannya dan akhirnya ia hanya bisa duduk menunggu kedatangan mereka ditaman.
Baru saja ia duduk tiba-tiba punggungnya ditendang dari belakang sehingga membuatnya tersungkur, belum sempat ia bangun sudah ada dua orang yang mencekal tangannya kebelakang dan memaksa ia bangun bertumpu diatas kedua dengkulnya. Muka Panji berhias tanah, saat Panji mulai menyadari keadannya tampak laki-laki itu dihadapannya.
"Kau penipu! Sekarang rasakan pembalasanku!" Ia menghantam hidung Panji dengan pukulan sekuat tenaga, Tulang hidung Panji langsung patah, darah mengalir deras, namun Panji tak bisa berbuat apa apa.
"Ini hasil test dari dokter! Tak ada perkembangan apapun! Kau coba menipu Aku Hah!" Buk! Satu pukulan lagi menghantam mata kirinya membuat pandangan mata kirinya kabur. Rasa sakit yang tak terkira keluar bersama tetesan darah di alis matanya.
"Sekarang kau rasakan tendanganku!" Panji sudah pasrah dengan apa yang terjadi, dalam posisi setengah berdiri dan tangannya di piting dengan kuat tak ada yang bisa ia lakukan sekarang.
"STOP!" Terdengar suara keras yang membuat gerakan lelaki itu tertahan.
"Roy! Kenapa kau selalu memukuli orang, apalagi salah anak ini?" Panji mendengar suara laki-laki yang berbeda, keduanya saling berhadapan. Panji memperhatikan keduanya hampir mirip, mereka saling memandang dengan galak. Panji mencoba memanfatkan situasi, ia memaksa berdiri bertumpu pada kedua kakinya.
"Apa urusanmu Bram! Anak ini songong! Dia bilang bisa menyembuhkan penyakitku, tapi omongannya cuma omong kosong! Makanya kuberi dia pelajaran!"
Laki-laki yang dipanggil Bram menoleh kearah Panji. Ketika mata Panji sampai kematanya Bram area ************ Panji langsung merasa sakit yang tak terhingga seperti ditusuk ribuan jarum.
__ADS_1
"Astaga! Ini korbanku selanjutnya? Tapi mengapa sakitnya disitu, sakit apa dia? Bagaimana aku bisa memukulnya?" Panji membatin karena Kedua tangannya dipiting dengan kuat oleh kedua temannya Roy. Hanya kakinya yang sekarang bebas.
Bram melepaskan pandangannya dari Panji lalu berbalik, tangannya merangkul Roy, ia berbicara sesuatu secara perlahan kepada Roy. Rasa sakit yang dirasakan Panji sudah tak mampu ditahan lagi, tapi tangannya tak berdaya, tak pikir panjang lagi Panji mengarahkan tendangan kakinya kearah ************ Bram.
Ketika punggung kaki Panji mendarat telak ke ************ Bram seketika darah muncrat dari mulut Bram, ia langsung roboh. Roy dan kedua temannya kaget, kesempatan itu tak disia siakan oleh Panji, ia memberi sikutan dan bantingan kepada kedua teman Roy, sebelum ia berlari ia sempat meninju hidung Roy dan kembali menghantam dada kirinya. Roy mengeluarkan darah hitam dari mulutnya dan roboh tak sadarkan diri.
Panji melarikan diri sekencang-kencangnya karena orang yang dibantingnya sudah bangun dan mengejar Panji. Panji terus berlari tanpa menoleh kebelakang, terdengar teriakan orang-orang yang menyuruhnya berhenti beberapa langkah kaki terdengar berderap cepat dibelakangnya. Panji terus mempercepat larinya saat ia sudah hampir keluar dari taman terdengar bunyi orang terjatuh dengan keras dibelakangnya, ia menoleh, salah satu pengejarnya, teman si Roy terjatuh entah apa penyebabnya. Panji berhenti sejenak, lalu ia kembali memutuskan berlari, mengejar angkot didepannya yang mengantarnya kembali pulang.
Sampai didepan gerbang kompleknya ia memakai masker dan topi untuk menutupi lukanya dan menghindari pertanyaan penjaga komplek, sampai dirumah langsung disambut dengan wajah cemas adiknya.
"Astaga Mas! Apa yang terjadi?" Panji tak menjawab, ia merebahkan dirinya ke sofa, Mata sebelah kiri hampir tak bisa melihat, darah masih mengucur dari hidungnya.Nissa langsung mengambil air hangat dan lap bersih untuk membersihkan luka di wajah Panji.
"Jangan Khawatir! Aku masih bisa melihat wajahmu yang jelek koq!" Panji tertawa menggoda Nisa yang masih cemas, Nisa langsung cemberut mendengar candaan Panji namun langsung tersenyum senang.
"Syukurlah matamu tak apa, Aku tadi khawatir nasibku bakal jelek menuntunmu kemana-mana!" Nisaa tertawa membalas ledekan Panji.
"Sialan!" Panji ikut tertawa lalu kembali matanya menatap Nissa.
"Ternyata memang benar, penyakit tak akan sembuh bila korban diberitahu sebelumnya. Tadi Aku memukul kembali orang itu, ternyata dia benar pingsan dan mengeluarkan darah hitam." Panji menjelaskan apa yang terjadi di taman tadi dan ada korban tambahan yang kemungkinan adalah saudara dari lelaki tadi.
__ADS_1
"Tampaknya uang 10 juta juga melayang dik! Tak ada dalam perjanjiannya harus dipukul dua kali, dan apesnya dia sempat memukul wajahku hingga luntur ketampananku." Panji terkekeh mentertawakan nasibnya.
Nissa yang mendengar keluhan Panji hanya tertawa.
" Sudahlah Mas! Kalau memang belum rezeki kita dengan cara apapun dikejar ya tetap aja nihil! Yang penting Mas Panji sekarang baik-baik saja, matanya juga tidak rusak, untung saja!"
"Ya untung saja! Aku sempat menggeser wajahku sedikit ketika melihat pukulan itu menghampiri mataku, kalau saja telat sepersekian detik saja gelarku jadi 'Sibuta dari Kebumen' !" Panji tertawa miris, ia membayangkan dirinya seperti Advent Bangun yang berjalan pakai tongkat dan baju kulit ular. Dia akan jadi jomblo seumur hidup karena siapa yang mau berpacaran sama dia, orang buta yang tak punya nasib yang jelas.
Panji kembali memikirkan nasibnya, sudah dua kali ia berhenti dari pekerjaannya akibat kekuatan ajaibnya. Sekarang ia sedang mencari pekerjaan baru, akankah bertahan berapa lama ia akan bekerja disana? Dan kalau terjadi begitu terus menerus bagaimana masa depannya? Impiannya untuk jadi Dokter tak akan terwujud. Andaipun bisa dapat pekerjaanpun tak jauh dari menjadi petugas kebersihan atau office boy.
Ia memang memiliki uang dari hasil penjualan rumah orangtuanya, tapi jumlahnya tidak besar dan hanya cukup untuk biaya kuliah adiknya saja. Sementara uang dari Ratna dan Ibu Haryati sudah hampir habis untuk urusan sekolah Nissa dan makan sehari-hari.
Nissa seperti memahami apa yang sedang dipikirkan Panji, ia duduk disamping Panji.
"Sudahlah Mas, jangan terlalu memusingkan rezeki, setiap makhluknya sudah diatur bagian rezekinya masing-masing. Kita hanya perlu banyak bersyukur dan ikhlas menerima bagian kita sekarang ini!"
Panji tersenyum jahil mendengar celoteh Nissa.
"Baik Bu ustadzah, tapi maaf aku tak punya uang receh!"
__ADS_1
Nissa mendelik sewot dan menyentil hidung Panji yang baru saja diperban, membuat Panji menjerit kesakitan. Nissa tertawa dan langsung kabur kekamarnya.