KUTUKAN Atau ANUGERAH

KUTUKAN Atau ANUGERAH
Hari Penghakiman


__ADS_3

Jumat sore mereka berangkat menuju Jogjakarta menggunakan mobil Ratna. Dalam perjalanan Panji mencoba menghubungi pamannya namun tak ada jawaban. Sudah beberapa hari terakhir ini paman tak mengangkat telepon dari Panji ataupun menjawab pesan yang ia kirim. Satu hal yang janggal menurut Panji karena biasanya paman cepat merespon apapun kebutuhan Panji dan Nissa.


"Aku berpikir Ratih harus tahu apa yang telah diperbuat bapaknya. Dan menurutku Ratih harus meminta maaf kepada Kak Lily, walalupun itu bukan perbuatan dia tapi mungkin saja dengan itu ia bisa disembuhkan." Ratna menyampaikan usulnya.


"Tapi apakah yang melakukannya betul pak lurah? Kita tak tahu pasti. Kita harus dapat keterangannya dulu dari bapak atau ibu." Nissa menjawab usulan Ratna.


"Andaikan benar yang melakukan adalah ayahnya, bukankah hal itu akan menambah beban mental Ratih? Apakah adil buat Ratih kalau ia harus menanggung akibat dari perbuatan bapaknya?' Panji menjawab.


"Aku kira selama ini ia hidup dengan tekanan itu, keburukan pak lurah sudah tersebar kemana-mana. Tapi memang untuk kasus ini lebih personal, aku tak tahu harus bagaimana. Coba bayangkan kita semua ada diposisi Ratih. Apakah Kak Ratna akan mendatangi Kak Lily untuk meminta maaf? Butuh Nyali besar untuk itu."


"Dan butuh nyali besar untuk kita memintanya melakukan itu. Aku setuju kalau kebenarannya sudah kita dapat, kita harus sampaikan kepada Ratih, apakah Ratih mau melakukannya atau tidak, kita kembalikan kepada Ratih." Panji mengambil keputusan. Nissa dan Ratna terdiam.


Mereka tiba di Jogja sudah larut malam dan menuju penginapan yang telah mereka pesan untuk beristirahat. Panji mengambil kamar sendiri sementara Nissa dan Ratna kamar untuk dua orang. Panji merebahkan dirinya ke kasur empuk Membayangkan besok adalah hari yang menegangkan dalam hidupnya. Begitu juga yang terjadi dengan Nissa.


Azan shubuh masih terdengar sayup-sayup dikejauhan ketika ketiganya baru melipat sajadahnya. Mereka keluar dari penginapan mencari kuliner Jogja dipagi hari untuk sarapan bersama sebelum akhirnya sampai di gerbang penjara dimana bapak Panji berada disana.


Salah satu petugas langsung mengenali Panji yang memang wajahnya hampir mirip dengan bapaknya menyambutnya dengan antusias dan langsung membawa mereka keruangan kepala sipir penjara. Kepla sipir penjara langsung menjabat tangan ketiganya dengan erat.


"Selamat Pagi Panji, suatu kehormatan buatku bertemu kalian semua disini. aku tak sempat bertemu ketika kau datang tempo hari."


"Terima kasih Pak, kami datang untuk menemui bapak saya."


"Kalian bisa menemuinya disini, waktunya lebih bebas, lebih aman. Bapakmu sangat kami hormati disini, beliau mengubah orang-orang dipenjara ini menjadi lebih baik, menjadi manusia yang manusiawi. Membuat kita semua memandang hidup percaya bahwa apa yang ditakdirkan tuhan kepada kita itulah yang terbaik, dan aku dengar kau ounya kekuatan yang sama dengannya Panji, aku yakin kau mampu menerimanya dengan baik."

__ADS_1


Pintu diketuk dari luar ketika kepala penjara masih bercerita tentang bagaimana pengaruh bapaknya Panji di penjara dengan bahasa yang bisa ia ungkapkan, Bapaknya Panji Masuk ditemani seorang sipir penjara. Panji memeluk bapaknya begitu juga Nissa, Ratna mencium tangan bapaknya Panji. Kepla sipir dan anak buahnya pamit meninggalkan mereka dan bersegera keluar dari ruangan.


"Kau sangat cantik seperti ibumu Nissa, Bagaimana sekolahmu? Masih lancar?" Bapaknya Masih mengelus kepla Nissa dan menciumnya berkali-kali.


"Masih Pak, Aku sekarang sekolah di Jakarta, tinggal nersama Mas Panji. Ini Ratna, teman Mas Panji." Bapaknya menoleh tersenyum kepada Ratna yang dibalas senyum dan anggukan hormat dari ratna.


"Kalian sudah bertemu ibu?"


"Belum, rencananya dari sini kami akan kesana, aku akan memindahkan ibu keJakarta, aku kenal baik dengan psikolog yang bertugas disana."


"Kenapa? Bukankah ibumu mendapat perawatan terbaik disana?"


"Aku yakin ibu tak harus tinggal disana, Kami sudah tahu kebenaran tentang peristiwa pembunuhan yang bapak lakukan. Pertanyaannya adalah siaoa yang menikam pak lurah dari belakang? Kak Lily sendiri atau Paman?"


"Bapaknya Panji terperanjat, mukanya langsung pucat ketika mendengar Panji yang langsung kepda poin intinya. Ia meraih kursi dimeja kepala sipir dan duduk disana dengan gelisah. Wajahnya berubah dengan ceoat, ia sudah kembali tersenyum.


"Polisi tak perlu mencari apa-apa lagi karena bapak sudah mengaku sebagai pelakui tunggal. Polisi tak perlu tahu kalau pak lurah datang ingin berterima kasih karena sakit jantungnya disembuhkan oleh bapak, pot yang diatur ulang, jendela dan gorden rumah Pak Slamet yang bapak tutup, jasad yang bapak putar, dan darimana luka dimata dan dihidung bapak." Panji mengambil posisi duduk berhadapan dengan bapaknya, ia tersenyum.


"Luar biasa kau Panji! Tak percaya aku berhasil mendidik kau jadi sehebat ini, baiklah aku akan ceritakan detail yang mungkin kalian belum dapat." Bapaknya mengambil segelas air mineral, berpindah posisi duduk disofa yang ada diruangan supaya lebih nyaman Panji, Nissa dan Ratna melakukan hal yang sama duduk disekitarnya.


"Beberapa hari sebelum kejadian, Lily diperkosa oleh pak Lurah, Lily mengenalinya langsung karena anaknya pak lurah adalah temannya, ia sering kerumah Pak lurah. Peristiwa itu membuat kami semua shock hebat, terlebih paman dan bibimu, juga ibumu. Lily sudah seperti anaknya sendiri, dia menyayanginya seperti menyayangimu Nissa, tapi tak ada yang bisa kami perbuat. Pengaruh pak lurah sangat kuat, Lily juga langsung stress tak mau diajak untuk kerumah sakit untuk visum waktu itu." Kembali ia meminum air mineralnya, dan entah itu rokok siapa yang tergeletak dimeja, bapaknya Panji langsung menyulutnya.


"Kau benar! Pak lurah datang untuk berterima kasih, saat itu bada isya, setelah ia mengungkapkan maksudnya ia menjabat tanganku, aku masih enggan, aku berharap ia mati saja, bukannya sembuh.

__ADS_1


Pamanmu datang kerumah ingin pamit membawa keluarganya ke Jakarta, dendamnya mengelora ketika ia melihat Pak lurah , ia menyambar pisau dipagar dan menikamnya dengan kuat. Ibumu baru saja keluar dari dalam melihat siapa yang datang, ia langsung berteriak dan pingsan. Aku bergerak cepat, kulihat sekeliling tak ada saksi, aku menyuruh pamanmu pergi, mengganti bajunya yang terkena darah dengan bajuku yang masih tergantung dijemuran. Aku menyuruhnya lari dan diam mengenai kejadian ini. aku yang akan bertanggung jawab, ia terperangah tak percaya dengan perbuatanku. Aku bilang ini demi Lily."


"Paman sering kemari sesudah itu?"


Sering, ia bahkan memohon padaku biar ia mengakui perbuatannya, Aku tetap memintanya untuk diam, ini takdirku disini, Aku berguna disini dengan kekuatanku, engkau lihat kan? Para sipir tak ragu bercerita tentangku kepadamu, begitu juga kepada pamanmu. aku hanya mencemaskan kalian, aku memintanya menjaga dan merawat kalian."


"Tapi itu tak berarti membenarkan perbuatannya! yang salah yang harus dihukum!" Ratna berbicara dengan sedikit emosi namun masih berusaha sopan kepada bapaknya Panji. Ia kembali tersenyum kepada Ratna.


" Aku setuju denganmu cantik! Tapi pamanmu sudah dihukum, ia sudah menderita lahir batin, Lily tak punya siapa-siapa lagi, kau tahu? ibunya ada dipanti yang sama dengan ibumu." Panji, Ratna dan Nissa tercengang.


"Apakah Baoak yang meminta ibu pura-pura pingsan saat itu, pura-pura depresi sampai saat ini?" Nissa menyerang bapaknya, Ratna terkejut mendengar pertanyaan Nissa, baoaknya hanya tersenyum.


"Kau memang pintar Nak, tapi kesimpulanmu tak seratus persen benar! bumu benar-benar pingsan saat itu. Aku membaringkannya dikursi depan. ia baru siuman setelah aku dan polisi pergi dari rumah. Esoknya ia menjengukku di kantor polisi. Ia memang melihat kejadiannya. Aku memintanya untuk diam, mengaku tak melihat apa-apa. Ia setuju. Tiba-tiba aku kaget ketika pamanmu bilang ia ada dipanti. Pamanmu bilang Itu pilihannya, bukan bujukan pamanmu, bukan juga perintahku."


Tubuh Panji dan Nissa bergetar hebat ketika mendengar fakta tentang ibunya. Mereka tak bisa mengerti mengapa kedua orangtuanya memilih meninggalkan mereka untuk membela orang lain. Perasaan marah dan kecewa kepada orang tuanya membuncah memenuhi darah mereka sampai otak mereka ikut mendidih.


"Aku tahu kalian kecewa dan membenci kami akibat pilihan kami, itulah sebabnya aku tak mau bercerita kebenarannya Panji. Tapi kalian pasti sudah melihat kondisi Lily, aku dan ibumu mempercayai kalian mampu hidup tanpa kami, tapi lily membutuhkan bapaknya. Maafkan aku, maafkan ibumu juga, setiap pilihan ada konsekuensinya. Dan aku percaya pilihan kami benar, aku melihat buktinya didepan mataku! Kalian mampu melewati ini semua dengan baik. Aku melihat bukan lagi dua anakku yang masih remaja tapi dua orang dewasa yang sudah siap mengarungi takdir kalian."


Panji dan Nissa tak bisa berkata apa-apa lagi. Mulut mereka tersumbat, mereka mengingat bagaimana kondisi lily. Nissa sempat mendengar kalau dirumah sakit jiwa lily hanya mau makan kalau disuapi ayahnya. Paman setiap hari datang hanya untuk menyuapi Lily. Bagaimana nasib Lily kalau paman dipenjara? Pak Lurah memang pantas mati. Sudah begitu banyak orang yang menderita akibat ulahnya. Banyak orang yang berpesta merayakan kematian pak lurah dan sekarang mereka yang harus menanggung akibatnya.


Nissa bergerak menghampiri bapaknya, mengambil tangan dan menciumnya. Ia memerebahkan kepalanya kepangkuan bapaknya tanda ia ikhlas menerima keputusan bapaknya. Panji tercengang, tapi tak lama ia melakukan hal yang sama. Bapaknya langsung menangis tersedu sambil mengusap kepala kedua anaknya dan menciumnya. Ketiganya berpelukan sambil menangis tersedu. Kelopak mata Ratna sudah tak sanggup menahan air yang mendorongnya tumpah kepipi..


Bapak sudah diantar kembali kekamarnya. Kepala sipir penjara melihat kelopak mata mereka semua basah. Saat ketiganya berbaris untuk pamit beliau masih membereskan sesuatu dimejanya.

__ADS_1


"Aku tak tahu kebenarannya, tapi aku yakin bukan bapakmu pelakunya! itulah makanya aku mengatur pertemuan kalian disini. Tapi kalian jangan khawatir, meskipun kami disini membutuhkan bapakmu akau berjanji tak akan menahannya lebih lama. akan akan perjuangkan remisi hukuman untuknya. Janjiku ia akan bebas sebelum kalian berdua menikah!" Pak kepala menunjuk Panji dan Ratna.


"Itu berarti akan sangat lama Komandan." Panji tertawa. Muka Ratna langsung bersemu merah. Ratna menginjak jari kaki Panji dengan tumit sepatunya. Panji meringis kesakitan.


__ADS_2