KUTUKAN Atau ANUGERAH

KUTUKAN Atau ANUGERAH
Keajaiban Buat Ibram


__ADS_3

Ibram membuka kelopak matanya memandang sekeliling ruangan. Hanya ada dua ranjang dikamar itu dan disebelah kanannya terbaring adiknya yang masih tertidur pulas. Dua tiang besi menggantungkan botol infus berjajar diantara mereka dan mengalirkan cairannya, satu ke tangan dia dan satu ke tangan Roy. Ia menekan tombol bantuan supaya suster segera datang.


Tidak beberapa lama seorang suster berhijab datang dan langsung menyapa Ibram.


"Selamat sore dokter Ibram, sudah bangun yaa...iih dokter jarang kemari, sekalinya kemari lagi pingsan!"


Suster cantik langsung menyapa Ibram dengan manja tak lupa tangannya bekerja memeriksa kondisi ibram. Ibram lamgsung mengenalinya dan membalas sapaan suster dengan tersenyum, ia memang jarang datang ke rumah sakit ini karena dia seorang Psikolog, ia hanya datang ketika rumah sakit membutuhkan jasanya unruk terapi pasien.


"Sudah berapa lama aku berada disini?"


"Cuma beberapa jam saja dokter, dokter datang dalam keadaan pingsan, dan berlumuran darah, tapi kami tak menemukan penyakit apapun di badan dokter, tak ada hal lain yang ditakutkan." Suster yang cantik itu menjawab pertanyaan Ibram sambil tangannya meraba-raba bulu halus di sepanjang lengan yang menurut ibram tak ada kaitannya dengan perawatan, tapi Ibram hanya mendiamkan saja.


"Adikku? Bagaimana kondisi adikku?" Ibram menunjuk Roy yang masih terbaring disebelahnya.

__ADS_1


"Ia masih belum siuman, tapi kondisi tubuhnya baik, tadi dokter sudah memeriksa keadaannya. Mudah-mudahan sebentar lagi ia bangun" Suster menjawab.


Setelah selesai memeriksa kondisi Ibram suster tadi pergi sambil tak lupa memberikan senyum genitnya kepada ibram. Ibram masih memikirkan peristiwa yang terjadi kepadanya tadi siang. Ia ditendang selangkangannya oleh pemuda yang sedang dipukuli oleh adiknya. Ibram meraba area selangkangannya ia merasa keanehan di area selangkangannya. Saat suster cantik tadi mengelus tangannya ia merasa alat kejantanannya berkedut, sesuatu yang sudah lama tak bisa dirasakan lagi olehnya. Tangan Ibram masih disana ketika seorang wanita masuk ke ruangannya, dan dengan cepat ia menarik tangannya.


" Mas Ibram sudah bangun? Alhamdulillah." Yang barusan masuk ternyata Heny istrinya ibram. Ibram terlonjak kaget, bukan hanya karena kedatangan istrinya tapi juga penampilan istrinya sangat seksi dan menggoda. Ia menggunakan rok span yang memamerkan pahanya yang putih mulus, sementara baju yang dia pakai kemeja tanpa lengan warna putih transparan yang tak mampu menutupi bra dan bagian atas dadanya yang montok, bahu dan lengamnya juga sangat indah, ada blazer cantik yang saat ini hanya disampirkan dilengannya. Aura curiga mulai merasuki setiap sel otak Ibram, berbarengan dengan itu Ibram merasakan alat kejantanannya bangun berdiri dan langsung tegak mengeras, dan ini pertanda baik. Ibram berharap istrinya melihat, namun sayangnya hal itu luput dari perhatiannya.


Selang berapa saat dokternya tiba. mereka saling betutur sapa dengan sopan karena sudah saling mengenal.


"Dokter Ibram, anda diperbolehkan pulang, tapi kalau dokter dan istri mau menginap disini, saya terpaksa kasih harga kamar!" Dokter Susilo yang sempat melirik istrinya tertawa.


Enam bulan lalu adalah awal bencana dalam rumah tangga Ibram. Mereka sebelumnya membuat semua orang iri dengan keluarga mereka. Dokter Ibram yang ganteng dan istrinya Heny seorang desainer interior yang cantik menawan dan memiliki seorang anak laki-laki ganteng cerdas dan pintar. Enam bulan lalu mereka pergi untuk berlibur ke Sumatera mendaki gunung yang menjadi hobby mereka berdua, sayangnya disana Ibram diserang babi hutan yang menghantam area selangkangannya. Hasil operasi memang membuat tampilannya seakan normal, namun ternyata alat kejantanan dan reproduksinya tak mampu berfungsi.


Sejak itu Ibram tak mampu lagi menuhi hasrat dan kebutuhan seksual istrinya, frustasi menjalar dikeduanya, cekcok mulut tak bisa dihindarkan. Disaat-saat genting hubungan mereka tampaknya perpisahan tak bisa dihindarkan, Ibram juga hanya bisa pasrah apapun keputusan istrinya. Beberapa bulan terakhir ini istrinya merubah cara berpakaiannya menjadi lebih seksi dan berani menampilkannya keluar. Dia pulang larut malam dan tak perduli dengan Ibram. Walaupun hatinya sakit membayangkan istrinya selingkuh memcari kepuasan dengan lelaki lain tapi ia mencoba tak pernah membicarakannya. Tampaknya hari ini keajaiban datang , ia tak sabar untuk membuktikannya. Ia sedang memikirkan bagaimana meyakinkan istrinya untuk pulang bersama.

__ADS_1


"Sayang tunggulah sebentar, aku urus administrasinya, kita pulang bersama."


Ibram takmenunggu jawaban istrinya ia langsung berjalan keluar didampingi dokter Susilo, sambil berjalan ia punya rencana dan menelpon beberapa orang untuk mewujudkan rencananya. Setelah keluar dari ruang kantor rumah sakit ia menghampiri istrinya yang sedang menelpon seseorang. Ibram penasaran apa yang sedang mereka dibicarakan, ia mencoba mendekat diam-diam untuk mendengarkan, namun istrinya ternyata berbalik secara tiba-tiba dan negitu panik ketika melihat Ibram dan langsung memutuskan hubungan teleponnya.


"Sayang, sebelum pulang kita makan dulu ya, Aku sudah sangat lapar!" Ibram membuang semua pikiran buruknya dan menganggap yang barusan terjadi adalah hal yang biasa baginya.


"Aku sudah makan! Kita langsung saja pulang! Atau kau makanlah sendiri! Biar aku pulang sendiri! Ibram mencoba tak merespon jawaban ketus dari istrinya, ia harus mendapatkan istrinya kembali malam ini, istrinya yang dulu mencintainya dngan tulus.


"Sebentar saja sayang, kita sudah lama tak makan bersama, please untuk hari ini jangan menolakku, kalaupun ini akan jadi makan malam bersama kita yang terakhir, tolonglah kali ini saja, ok?" Ibram memegang tangan Heny dan memandangnya dengan penuh harap. Heny memandang Ibram dengan tatapan heran. Ia merasa aneh dengan kalimat terakhir yang diucapkan Ibram.


"Apakah dia mengetahui kalau aku selingkuh dibelakangnya?" Batin Heny berkata cemas. Heny mencoba tesenyum agar Ibram tak membaca apa yang ada di pikirannya, Ibram pasti akan curiga kalau ia terus memaksa menolak dan akhirnya ia mengangguk.


Mobil Heny yang dikendarai Ibram berhenti didepan sebuah restoran mewah di selatan Jakarta. Heny tercengang, ia ingat disinilah Ibram melamarnya. Dalam suasana makan malam yang romantis, candle light diner, diiringi musik yang menjadi kesukaan mereka, satu lantai restoran dibooking oleh Ibram hanya untuk hari yang spesial itu, semua meja dilantai itu hanya diisi oleh keluarga mereka dan teman-teman terdekatnya.dan sekarang mereka kembali kesini setelah sekian lama.

__ADS_1


Meja untuk mereka sudah dipesan, kali ini Ibram hanya memesan satu meja, bukan satu lantai seperti dahulu, namun Ibram sudah memesan makanan dan minuman kesukaan istrnya. Sepanjang waktu mereka disana Ibram hanya mengajak bicara hal-hal yang ringan, mengenang masa lalu dan romantis mereka, Ibram beberapa kali mencoba melempar jokes supaya istrinya tertawa. Ia seolah tak perduli dengan gestur penolakan dan jawaban ketus istrinya sepanjang hari itu. Heny yang awalnya begitu kaku dan terus saja bersikap ketus kepada Ibram lama-lama mencair ketika menyadari Ibram tak memperdulikan segala bentuk penolakan dan bersikap sabar dengannya. Ibram juga tak mengungkit perselingkuhannya. Ia mulai memaksa tertawa mendengar jokes yang dilemparkan Ibram namun hatinya masih dingin.


__ADS_2