KUTUKAN Atau ANUGERAH

KUTUKAN Atau ANUGERAH
Kesaksian Janda


__ADS_3

Ratih masih didalam mobil keluarga yang ditumpanginya menuju rumah mereka. Dokter Rahmat memberikan berkas rekam medis Bapak Prayitno kepada Ratih. Dalam perjalanan pulang Ratih hanya diam tak bicara baik kepada Gilang ataupun Ibunya. Ratih merahasiakan tentang kesembuhan dirinya kepada mereka . Dalam diamnya otak Ratih bekerja mencerna semua informasi dan peristiwa yang dia alami. Sementara otaknya mencoba bekerja, kupingnya menangkap perdebatan Gilang dan ibunya tentang bagaimana mereka harus bersikap kepada Panji, Gilang terus saja memantapkan hatinya untuk membalas dendam, sementara ibunya memohon dengan sangat agar Gilang memaafkan Panji dan bapaknya.


Ratih mencoba memgingat kejadian tempo hari, sore itu Ratih ditelpon ayahnya untuk datang menjemput beliau pulang dari rumah sakit. Tidak ada orang dirumah saat itu, ibunya entah dimana, begitu juga Gilang. Ayahnya begitu gembira ketika Ratih datang, wajahnya bersih dan segar, senyum sumringah terhias dibibirnya, Wajah riang ayahnya tak akan bisa dilupakan Ratih karena hampir sepanjang waktu ia mendapati wajah ayahnya yang penuh emosi, kegelisahan dan tekanan-tekanan yang terlukis diwajahnya, tak ada senyuman, yang ada adalah makian dan umpatan yang menghiasi keluarga mereka sepanjang waktu.


Momen kebahagiaan ayahnya terus berlangsung sampai mereka kembali kerumah, namun tiba dirumah ayahnya justru hendak kembali pergi, Ratih mencoba menahannya karena khawatir ayahnya belum cukup fit untuk mengendarai mobil. Tapi ayahnya menjawab dengan senyum dan langsung memeluk Ratih.l Ia meminta maaf kepada Ratih karena menyiakan-nyiakan hidup Ratih selama ini. Ia juga mengatakan Ratih tak perlu khawatir, ia tak pergi jauh hanya ingin mengucapkan terima lasih kepada orang yang telah menyembuhkannya. Ratih membiarkan ayahnya pergi sendiri, menunggu dirumah sampai malam itu datang berita ayahnya terbunuh.


"Kemana dan siapa yang ditemui ayah sore itu? Apakah kerumah bapaknya Panji?"


"Ayah jelas sudah sehat dan ia ingin mengucapkan terima kasih, kenapa bapaknya Panji malah membunuhnya?"


" Kalau bapaknya Panji ingin membunuh ayahnya, kenapa tidak diselesaikan di pasar saat itu?"


Pertanyaan-pertanyaan berputar-putar dikepala Ratih. Ia membuka berkas yang diberikan dokter Rahmat. Tak ada nama siapa yang memukul ayahnya sampai pingsan di pasar. Ayahnya memang memiliki beberapa toko dipasar yang ia sewakan kepada pedagang. Barisan pembenci ayahnya juga banyak disana, ayahnya menarik sewa, biaya kebersihan dan pungutan lain yang mencekik leher mereka, namun tak ada yang berani melawan ayahnya karena centeng-centeng ayahnya yang siap berjibaku ketika tuannya dalam bahaya. Jejak medis ini tidak dilengkapi laporan kepolisian yang utuh.


Ratih berasumsi hanya bapaknya Panji yang berani memukul karena ingin menyembuhkan ayahnya. Kekuatan yang sama yang dimiliki Panji yang telah menyembuhkan dirinya dari kanker rahim. Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa setelah disembuhkan malah selanjutnya dibunuh?


Kegelisahan Ratih yamg sebentar sebentar menghembuskan napasnya, membolak-balik berkas sampai menggigit gigit kuku terpantau dari kaca spion depan oleh ibunya. ibunya hanya diam mengamati perubahan sikap Ratih tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.


Sampai dirumah Ratih langsung masuk kamar merebahkan dirinya di kasur tak memperdulikan ajakan ibunya untuk makan. Semua yang di alaminya membuat otaknya hampir meledak, dorongan untuk mencari kebenaran kasus ini muncul begitu saja. Dulu Ratih tak perduli bagaimana ayahnya meninggal. Yang ia perdulikan adalah aset ayahnya yang akhirnya habis karena berbagai macam hal, direbut kembali oleh yang berhak, diperebutkan orang-orang yang mengaku saudaranya atau yang dihabiskan oleh mereka bertiga untuk foya-foya. Airmata menetes dari kelopak matanya, seribu penyesalan yang datang berbarengan dengan seribu gambar perbuatan hina masa lalunya yang mampir diotaknya.


Tuhan memberinya kesempatan untuk menebus dosanya. Tuhan memberikan kehidupan kedua setelah kehidupan pertamanya hilang bersama kanker rahimnya. Ratih bertekad untuk menggunakan kesempatan kedua ini untuk merubah hidupnya, seperti apa yang di katakan dokter Rahmat, menjadi tugas dia untuk mengurai kasus ini, namun semakin di pikirkan semakin membuat kepalanya mau pecah.


Diantara lelah tubuh dan letih pikirannya, akhirnya mata Ratih bisa terpejam juga, dalam gelisah tidurnya ia melihat ibunya masuk kekamarnya dan duduk disampingnya, membuatnya terbangun kembali. Ia mengambil posisi duduk bersandar di ranjang.

__ADS_1


"Ada apa ibu kemari!" Ratih berkata dengan ketus, bukan sebuah pertanyaan tapi tepatnya perintah mengusir ibunya pergi. Hubungan mereka sudah memburuk beberapa tahun belakangan ini. Mereka hidup dalam rumah yang sama tapi dunia yang berbeda, tak ada yang saling perduli.


Ketiganya disatukan oleh penderitaan ketika sang ayah pergi, namun semua sudah terlambat, tak ada yang bisa diperbaiki, yang ada cuma saling menyalahkan. Orang yang dipanggil ibu olehnya menangis, tangannya mengambil kedua tangan Ratih dan menciumnya satu persatu. Ratih tertegun.


"Maafkan ibu nduk! Maafkan aku selama ini tak menjadi ibu yang baik bagimu, aku menyesal dengan semua perbuatanku kepada kalian, "


Tangisnya mulai pecah tak lagi ditahan seperti tadi, menangis sesegukan tak henti-henti. Ratih tak tahu harus berbuat apa, tapi adegan ibunya mencium tangannya adalah sebuah bukti bahwa ibunya benar-benar merendahkan dirinya sebagai tanda menyesal, Ratih tak pikir panjang lagi langsung memeluk erat ibunya, keduanya menangis bersamaan, seperti halnya Ratih, ia juga mengharapkan kesempatan kedua datang untuk memperbaiki hidupnya. Lama keduanya berpelukan sampai akhirnya Ratih melepaskan pelukannya dan menatap wajah ibunya.


"Sudahlah Bu, tak perlu minta maaf kepadaku, Ratih juga banyak salah sama Ibu, Ratih juga minta maaf!" Keduanya kembali berpelukan.


"Aku melihatmu berbeda hari ini, kau tampak sehat dan segar tidak seperti biasanya , tapi kau terlihat resah sejak pulang dari rumah sakit tadi." Ibunya berkata dengan lembut. tangannya masih menggenggam dua tangan Ratih. Genggaman tangan lembut yang dirasakan Ratih mengingatkan kembali ke masa kecilnya. Ibunya adalah ibu yang baik dan lembut, waktu ia kecil selalu berkeluh kesah kepada ibunya sampai ia remaja. Tapi ibunya yang dulu hilang saat terjadi pertengkaran hebat dirumah saat Ratih duduk di bamgku SMA. dan sekarang ibu masa kecilnya telah kembali, hangat dan lembut.


"Ibu kenal Bapaknya Panji?" Pertanyaan Ratih tiba-tiba keluar dari mulutnya, seperti sudah menduga apa yang akan ditanyakan Ratih, ibunya mengangguk.


"Kenapa ibu yang jadi korban?"


"Tadinya kukira ayahmu memilihku karena benar-benar mencintaiku, begitulah apa yang selalu dikatakannya kepadaku, tapi sepanjang kami menikah aku hanyalah pelarian buatnya. Aku sudah bergembira karena mendapatkan ayahmu, membayangkan hidup berkecukupan, dicintai pejabat penting dikampung ini, betapa bahagianya aku, namun seberapa keraspun aku berusaha membuat ayahmu mencintaiku, dia tak pernah menganggap aku ada."


Ratih terperangah mendengar penuturan ibunya, ibunya sangat cantik, bahkan kecantikannya masih terlukis jelas diusianya sekarang, Ratih jadi penasaran seperti apa kecantikan Nur Azizah, ibunya Panji, sehingga ayahnya sampai mengabaikan ibunya. Ratih yang pernah gagal berrumah tangga merasakan bagaimana sakitnya diabaikan, dan ibunya terus bertahan sampai ia dan Gilang remaja. Ia akhirnya mengerti mengapa ibunya lari meninggalkan mereka berdua.


Ratih mengelus tangan ibunya, lalu mencium kedua tangannya, tampak sorot mata bahagia terpancar dari wajah ibunya.


"Apakah perseteruan mereka memungkinkan sampai bisa saling bunuh?" Rasa penasaran Ratih kembali keluar.

__ADS_1


"Menurutku tidak, kalau karena kalah saing karena wanita, harusnya Sudibyo yang dibunuh sama Ayahmu kan? Entahlah kalau ada persoalan lain, Ayahmu memang bertindak diluar batas saat memimpin, dan Sudibyo punya pengaruh kuat dilingkungan. kebijakan ayahmu didesa banyak ditentangnya. Semakin keras tekanan diberikan kepada ayahmu, ia justru semakin tak terkontrol. Mabuk, main judi, bahkan ayahmu terang-terangan bermain dengan perempuan lain didepan mataku, aku tak sanggup menahannya. Aku pergi membawa uang dan beberapa simpanan emas yang aku tahu disimpan olehnya. Setiap malam aku habiskan dengan laki-laki lain untuk mengobati kekecewaan dan rasa sakitku. Maafkan ibu Nduk!"


Air matanya kembali mengalir ia tak sanggup memandang Ratih. Ratih juga merasakan hal yang sama, ia tak jauh berbeda perilakunya, hanya bedanya Ratih tetap dirumah. Sekarang tinggal rumah ini yang tersisa dari masa kejayaan ayahnya. Pernah suatu malam ia Gilang dan ayahnya pulang dalam keadaan sama -sama mabuk. Rumah yang menampung tiga orang pemabuk seperti tak salingllllllllllllllll mengenal satu sama lain. Ketiganya mabuk untuk hal yang berbeda, mungkin ayahnya melakukan untuk mengurangi sakitnya. Ketika mengingat sakit ayahnya Ratih terkesiap.


"Ibu! Apakah Ibu tahu kalau ayah selama ini punya penyakit jantung?" Ibunya menatap wajah Ratih dengan heran.


"Sakit jantung? Tidak aku tak tahu, sungguh!, kalau saja aku tahu aku mungkin tak akan meninggalkannya karena aku tahu ia pasti membutuhkanku!, ia tak pernah menganggap aku ada!" Kali ini nadanya meratap.


Ratih menangkap nada jujur dalam suara ibunya, dan memang ibunya tidak kembali ketika ayahnya meninggal, ia justru kembali ketika mendengar Ratih bercerai, ia datang untuk Ratih, tapi Ratih selama ini mengabaikannya. Air mata Ratih mengalir, namun bukan saatnya ia terkebak pada nostalgia, ada urusan yang harus diselesaikan. Ia mengambil berkas dari meja riasnya dan menyerahkan kepada ibunya.


"Disitu jelas tertera bahwa ayah sakit jantung! satu hari sebelum ia meninggal ia disembuhkan dari sakitnya!"


"Siapa yang menyembuhkan?"


"Kemungkinan orang yang sama yang membunuh ayah, dan anaknya telah menyembuhkanku dari kanker rahim! Kau lihat! Aku tampak sehat karena kanker rahimku sudah hilang100 persen!"


ibunya terbelalak menatap wajah Ratih. Dipandanginya anak gadisnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan langsung memeluknya sambil menangis.


Setelah lama berpelukan akhirnya keduanya melepaskan diri.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya Nduk?"


"Aku harus bertemu Panji! Ia pasti kembali ke kampung ini untuk mencari informasi. Aku akan membantunya memecahkan persoalan ini sampai tuntas!"

__ADS_1


__ADS_2