
Minggu siang Nissa dan Ratna sudah kembali dari Panti dimana ibunya dirawat. Sesuai kesepakatan, mereka tidak membicarakan kasus pembunuhan kepada ibunya. Mereka hanya mengurus kepindahan ibu dan bibinya. Ibunya tampak kaget ketika tahu akan dipindah apalagi keberadaan bibinya disana diketahui oleh Nissa. Nissa dan Ratna hanya tersenyum simpul ketika ibunya secara tak sadar menanyakan darimana mereka tahu keberadaan bibinya disini.
Sementara Panji belum diperbolehkan keluar dari rumah sakit karena lukanya belum sembuh. Ratih mengabarkan kalau Gilang juga sudah siuman, dia berhasil melewati masa kritisnya. Polisi mendatangi Panji tapi Panji justru mencabut laporan penyerangan dirinya ketika polisi datang untuk memproses kasusnya.. Panji yang didampingi komandan Polres Kebumen, AKBP Haryati mencabut BAP Gilang. Hal yang sempat menjadi perdebatan sengit antara dia dan Ibu Haryati.
"Kau yakin perbuatanmu Panji? Dia sudah dua kali ingin membunuhmu!" Ibu Haryati menatap Panji dengan galak.
"Seperti kalian, Gilang berhak mendapat kesempatan kedua, dia tak akan mendapatkannya bila dia dipenjara."
"Kau tahu Panji, ada sifat jahat yang bisa disembuhkan tapi memang ada juga yang menjadi tabiat dan karakter seseorang, Kau yakin dia bisa sadar?"
"Aku tak tahu, tapi kita harus beri dia kesempatan untuk membuktikannya kan? Kalau aku salah komandan tinggal menagkapnya lagi." Panji berkata enteng, seolah menangkap penjahat seperti menangkap capung. Ibu Haryati hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Baiklah kalau itu keputusanmu! Tapi aku tak akan berdiam diri. Aku akan buat dia menjalani proses rehbilitasi pelayanan masyarakat di kantorku, Polres Kebumen. Kalau dia dan teman-temannya lulus ujian, aku baru akan melepasnya kembali."
"Cukup adil! Panji menjulurkan tangannya yang tak sakit kepada bu Haryati. Bu haryati menyambutnya dengan kesal. Ia masih menggelengkan kepala.
"Aku tak tahu apa yang kau makan selama ini Panji! Oh ya, aku dengar desas desus kau berhasil mengungkap kebenaran kasus bapakmu, Nah ceritakan lengkapnya padaku! Nada bicaranya setengah memerintah, Panji hanya tersenyum.
"Maafkan aku, aku tak bisa! Kau Polisi, kau punya kewajiban untuk menangkap siapa yang salah, aku tak bisa menceritakan kepadamu, biarlah kebenaran ini menjadi milik kami saja." Panji masih tersenyum lebar dibawah tatapan galak wanita paling ditakuti di kebumen. Ibu Haryati mendengus kesal, Panji tertawa ketika melihat ekspresi kesal yang ditampakkan Ibu Haryati.
Kasus ini sebenarnya menjadi dilema buat Ibu Haryati, kasus ini mengangkat prestasinya karena dialah yang menangkap bapaknya Panji. Apabila kasus ini dibuka kembali dan terbukti ada orang lain pelakunya, ia tak tahu bagaimana nasib jabatannya. Walaupun ia sudah tak perduli dengan jabatan dan reputasinya, terbukti ia dengan tulus tetap menolong Panji menyelesaikan misinya.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu maumu! Aku berjanji tak akan mengungkitnya lagi. Untung saja aku berhutang budi padamu, kalau tidak sudah ku pites kau Panji" Ia menyambar leher Panji yang masih duduk di atas ranjangnya, memitingnya dengan sebelah tangan sambil tertawa. Kepala Panji benar-benar dijitak olehnya.
Senin sore hari Panji baru diizinkan meningalkan rumah sakit setelah dokter menyatakan lukanya sudah cukup aman. Sebelumnya berkas-berkas dari rumah sakit sudah dikirm oleh Ratna ke kantor Panji untuk mengabarkan ketidakhadiran Panji beberapa hari kedepan. Seluruh biaya perawatan dan penginapan mereka ditanggung oleh Pak Andi. Mereka bertiga dilepas oleh ibu Haryati dan Pak Andi menuju Jakarta. Prasetyo sudah meninggalkan mereka kemarin malam, ia harus kembali menjalani pendidikannya. Sementara Ratih masih menunggu Gilang pulih sebelum ia dibawa ke Polres Kebumen.
Hari yang dinantikan telah tiba, Ratih dan ibunya telah sampai dirumah sakit tempat dokter Ibram bekerja. Panji Ratna dan Nissa sudah menunggu mereka disana. Sebelum Ratih sampai Panji sudah menceritakan secara garis besar kepada Ibram dan istrinya yang ternyata hadir disana, menjelaskan siapa Ratih dan maksud tujuannya.
"Biar kusimpulkan! Ayahnya Ratih dibunuh pamanmu karena ia telah memperkosa anaknya. Bapakmu melindunginya dan mengaku sebagai pembunuhnya, betul begitu?" Panji mengangguk.
"Kalian bertiga memang pandai, aku sempat tertipu, kalian berhasil mencuri informasi dariku, tapi kau lupa membersihkan permen karet di pintuku Nissa!" Nissa tersenyum malu. Ibram tertawa.
"Bisakah dokter menyimpan rahasia ini? bapakku tak ingin paman masuk penjara, ia dibutuhkan untuk merawat Lily."
"Kalau itu mau kalian, Oke!" Ibram menggerakan jarinya seolah ia sedang mengunci mulutnya. Ibram mengangkat ponselnya yang berbunyi, lalu mengajak semuanya berangkat.
"Kau sudah siap Ratih?" Ratih menganguk.
"Biar aku dahulu yang masuk, aku akan beri kode kalau Ratih dan ibunya boleh masuk. Kalian semua menunggu disini, kita lihat situasinya nanti apakah kalian bisa masuk, ada kemungkinan keberadaan kalian membantu, tapi ada kemungkinan malah membuatnya takut, semua tunggu perintah dariku!"
Ibram langsung masuk kamar Lily. Seorang perawat laki-laki menunggu dipintu yang tertutup rapat.Tak lama kemudian perawat tadi memberikan instruksi agar Ratih masuk. Ratih berjalan dengan tegang, ia mendapat genggaman tangan yang hangat dari Ratna untuk memberinya kekuatan. Ia tersenyum, ia memeluk Ratna sekali lagi sebelum ia melangkah melewati pintu.
Ia berjalan perlahan mendekati Lily dan dokter Ibram yang duduk bersila ditepi kasur Lily. Jaket pengikat yang membungkus badan Lily telah dibuka. Melihat ada yangenghampirinya Lily langsunge menyembunyikan wajahnya dibalik kedua kakinya. Ratih hanya bisa melihat rambut dan kakinya Lily.
__ADS_1
"Lily, kau ingat aku? Aku Ratih, sahabatmu." Lily diam tak memberi reaksi apapun. Ia sesekali mencuri pandangannya menatap Ratih, Ratih tersenyum padanya, Lily kembali tertunduk menyembunyikan wajahnya dibalik kakinya. Ibram memberi isyarat kepada Ratih untuk memgang tangannya Lily.
Ratih langsung memegang tangan Lily, matanya sudah basah oleh air mata. Apa yang coba diceritakan oleh Panji tempo hari tentang kondisi Lily tidak berhasil menceritakan hal yang sesungguhnya. Reaksi Ratiih langsung spontan mengikuti nuraninya yang sudah bergolak hebat. Ratih langsung bersujud didepan kaki Lily dan menangis tersedu.
"Lily... Maafkan aku lily... Akulah yang bersalah memaksamu mengantarku pulang saat aku mabuk, maafkan aku lily... Maafkan aku...!"
Ibram memberi kode ke petugas pintu agar ibunya Ratih masuk. Bu Maryati masuk dan melangkah mendekati mereka, tapi Ibram menahannya agar tetap dibelakang Ratih. Ratih masih menangis meraung-raung, meminta maaf dengan tulus. Dari samping Ibram melihat mata Lily mengembang, ia coba memastikannya dengan menyentuh rambut Lily yang menutupi mukanya dan mengibasnya ke belakang. Lily tak bereaksi, penglihatan Ibram tak salah, mata Lily sudah basah oleh air mata. Ia memberi kode agar ibunya Ratih bicara.
"Aku ibunya Ratih Nak! Akulah yang bersalah karena telah meninggalkan anak-anak dan suamiku. Semua salahku. Maafkan aku Nak Lily... "
"Aku ingin kau sembuh Lily, aku akan tinggal disini kalau perlu untuk merawatmu, aku ingin kita berkumpul bersama lagi, maukah lily, maukah kau memaafkanku Lily? Ratih masih bersimpuh menangis dan terus menatap wajah Lily yang masih tersembunyi. Tamgannya terus memegang tangan Lily. Ibunya Ratih membelai punggung Ratih.
"Kau dengar Lily, Ratih sahabatmu ingin kau sembuh, diluar ada beberapa sahabatmu yang perduli padamu! Mereka ingin kau lupakan masa lalu, kau wanita cerdas dan pandai Lily! kau tak boleh terkurung disini dengan masa lalumu. Lupakanlah lily! , lupakan semuanya! maafkanlah dirimu!, maafkan semua orang yang telah bersalah padamu!" Dokter ibram mulai bicara, tangannya terus membelai rambut Lily.
Lily secara perlahan mulai mengangkat wajahnya, ia mulai menatap Ratih, Ibram memberi kode kepada Ratih agar menunggu reaksi Lily. Ratih mencoba tersenyum, ia terus memegang tangan Lily. Lily masih terus menatap Ratih, ia mencoba melepaskan tangannya dari Ratih. Ibram memberinya kode agar Ratih melepas salah satu tangannya. Tangan Lily yang sudah bebas perlahan naik keatas kewajah Ratih. Ternyata Lily mencoba menghapus air mata Ratih. Ratih memegang punggung tangan Lily agar terus menempel dipipinya, kemudian Ratih mencium telapak tangan Lily.
"Ratih... Kau masih mau jadi temanku? " Suara Lily keluar dengan terbata-bata, air mata Ratih langsung tumpah dengan derasnya.
"Tentu saja Lily! Tentu saja! Aku akan jadi sahabatmu seumur hidupku! Ibram memberi kode agar Ratih memeluk Lily, Ratih langsung memeluk Lily dengan penuh kehangatan dan Lily membalas pelukan Ratih. Keduanya menangis tersedu-sedu.
Dari luar ruangan tak ada yang tahu persis apa yang terjadi, hanya Nissa yang menyaksikan seluruh adegan dari awal melalui kotak kaca kecil yang ada dekat pintu. Kotak kaca itu memang hanya pas buat satu wajah dan dimonopoli oleh Nissa. Heny yang ingin melihat akhirnya hanya berdiri dibelakang Nissa. Airmata Nissa tak henti mengalir dan puncaknya ia ikut menangis tersedu dipelukan Heny. Heny memeluk Nissa sambil terus membelai kepalanya dengan lembut sampai Nissa berhenti menangis.
__ADS_1
Sementara Panji dan Ratna yang berdiri didepan pintu tak bisa menebak apa yang terjadi. Perasaan gundah, cemas dan entah apalagi yang dirasakan Panji. Ia hanya bisa berdoa sepanjang waktu semoga ini berhasil dengan baik.