
Hampir dua jam lamanya akhirnya pintu ruangan terbuka, Panji sedang membaca ayat suci dari ponselnya. Membaca ayat suci membuat hatinya lebih tenang dan ia sudah menyerahkan hidupnya mengikuti takdir yang diberikan kepadanya.
Terdengar suara pintu terbuka seketika ia menoleh dilihatnya seorang polisi wanita memasuki ruangan, terlihat ditangannya membawa beberapa berkas, wanita itu langsung duduk dikursi di depan Panji. Wajah wanita itu menarik karena terawat dengan baik. Panji menaksir usianya diawal empat puluhan, namun dari sikapnya sangat terlihat ia tegas dan berwibawa, dari penampilamnya ia seperti pimpinan disini, terlihat tanda kepangkatannya ada tiga balok emas disana, Panji melihat papan nama yang terpasang didada wanita itu, AKBP Haryati. Walaupun masih diliputi rasa takut Panji mencoba untuk tenang.
"Ahmad Panji Kurniawan?" Wanita itu bertanya dengan tegas, menatap mata Panji dengan sorot mata tajam seakan hendak memotong lehernya.
"Betul, itu saya Ndan!" Lidah Panji tercekat, ia tak berani memandang polisi wanita dihadapannya.
"Kamu tahu kenapa di bawa kemari?"
"Tidak tahu Ndan!" Mungkin karena saya terlibat perkelahian didepan rumah saya tadi siang." Rasa takut mulai menjalar di darahnya, ia berusaha tetap tenang.
"Kamu pernah bekerja Di PT Alam Raya Semesta, beberapa bulan yang lalu di sini, di Kebumen, benar? dan kamu membuat Manajer Perusahaan itu terkapar tak sadarkan diri, benar?"
Panji mengangkat kepalanya, memandang wanita tadi, dilihatnya sorot mata itu tak berubah, ia kembali menunduk.
"Habislah Aku!" Panji membatin, namun ia tahu perrcuma untuk berbohong.
"Iya, benar Ndan!" Panji merasa darahnya sudah berhenti mengalir, ruangan yang tadi terasa panas mendadak menjadi dingin.
"Manajer yang kau hantam itu suamiku!"
Mendengar pernyataan polwan tadi tubuh Panji seperti disambar petir.
"Sekarang tamatlah sudah!" Tubuhnya bergetar hebat, ia tak berani mengangkat kepalanya, ia hanya menunggu, tapi tak ada yang terjadi, tampaknya Polwan tadi menungu reaksi Panji.
" Sejak kejadian itu aku menyuruh anak buahku untuk menangkapmu, memburumu sampai ke Jakarta, petugas disini siang dan malam mengintai rumahmu menunggu kamu kembali." Panji masih menunduk, tubuhnya masih gemetar, ia tak tahu harus berkata apa.
"Saya minta maaf telah menyakiti suami anda!" Mendadak ia mengeluarkan keberaniannya walaupun nadanya lebih terdengar pasrah.
" Tidak perlu minta maaf!" Kamu harus dihukum!" Nada bicaranya kembali meninggi.
__ADS_1
Badan Panji bergetar hebat, badannya seakan selembar bulu yang tertiup angin.
"Hukumannya adalah kamu harus menerima ucapan terima kasihku karena kamu telah menyembuhkan suamiku!"
Panji belum bisa mempercayai pendengarannya, ia mengamgkat kepalanya, ia melihat sorot mata polwan itu sekarang tak lagi galak seperti tadi, matanya sangat ramah dan ia tersenyum kepada Panji. Perlahan Panji merasa darahnya mengalir lagi.
"Suamiku punya penyakit ginjal, ada kanker di ginjalnya, kau memukulnya diwilayah ginjal kanan kan? Akibat pukulanmu suamiku memang tak sadarkan diri beberapa hari, tapi ketika ia bangun kankernya hilang, semua dokter disini bingung bagaimana bisa terjadi. Beberapa kali kami CT scan, ginjalnya sudah dinyatakan bersih. Suamiku sangat yakin akibat pukulanmu yang membuatnya sembuh dan ia sangat berterima kasih kepadamu, begitu juga aku, apakah benar begitu Panji?"
"Aku tak tahu!" Tubuhnya masih lemas walaupun ia merasa lebih tenang, detak jantungnya sudah kembali normal.
"Apakah yang kamu miliki itu kau pelajari dari ayahmu?"
"Komandan kenal Bapakku?" Kali ini Panji yang bertanya dengan heran.
"Aku polisi, ingat?" Ia tersenyum kepada Panji
"Aku adalah polisi yang menangkap Pak Sudibyo dirumah saat ia menyerahkan diri setelah membunuh kepala desa, tadinya aku tak menyangka kamu ada kaitannya dengan Pak Sudibyo. Ketika aku sibuk mencari data tentang dirimu ternyata kamu anak Pak Sudibyo. Aku menemuinya di penjara, dan kepala sipir penjara teman baikku ia cerita banyak hal tentang bapakmu di penjara, semuanya hal yang baik tentunya."
" Bapak menyerahkan diri? Bukan ditangkap?"
"Penusukan? Jadi kepala desa itu bukan mati karena kena pukulan?" Panji memang tak pernah mendapat detail peristiwa pembunuhan yang dilakukan bapaknya, ia masih di pesantren saat peristiwa itu, tak ada yang mau menceritakan hal itu kepada dirinya. Tadinya ia berfikir setelah mengetahui bahwa bapaknya punya kekuatan yang sama dengan dirinya, lalu beliau lepas kontrol.
"Ayahmu mengaku sebagai pembunuhnya, Pak lurah mati ditikam pisau dipunggungnya, namun banyak hal yang aneh dalam kasus ini," Polwan tadi berhenti menunjuk berkas yang ada dimeja yang tadi ia bawa.
"Menurut laporan saksi mata, sehari sebelumnya Pak lurah dihajar sampai tak sadarkan diri di pasar oleh Pak Sudibyo, ia langsung dirawat dirumah sakit. Esok harinya, Pak Lurah sudah pulang dari rumah sakit dan langsung kerumah Pak Sudibyo. Lalu terjadilah peristiwa itu." Polwan itu berhenti nercerita, memandang wajah Panji dengan wajah penuh teka-teki, ia menunggu reaksi Panji. Panji berfikir sejenak dan tiba-tiba darahnya bergolak hebat.
"Jadi maksud komandan, Pak lurah disembuhkan oleh bapakku, ia datang kerumah untuk berterima kasih, jadi tak mungkin bapakku membunuhnya, iya kan?" Panji hampir berdiri, ia berhasil menenangkan dirinya.
Mendengar ulasan Panji polwan itu tersenyum puas, ia langsung kagum kepada Panji yang masih dapat berfikir dalam situasi yang tak menguntungkannya.
"Kau sangat pintar Panji! Sebelum masuk tadi aku sempat mendengar kamu membaca ayat suci, kamu berhasil menenangkan dirimu dan siap menghadapi keadaan! diusia semuda kamu sudah mampu mengendalikan emosi adalah hal yang luar biasa! Aku tadinya tak mau membahas hal ini kepadamu, cukup berterima kasih saja, tapi kulihat kau sudah cukup matang dan dewasa melihat persoalan ini!"
__ADS_1
"Apa yang bisa kita lakukan komandan agar kasus ini dibuka kembali?' panji bertanya dengan gairah, semangatnya mulai membara.
"Aku perlu mengingatkanmu Panji, jangan terlalu berharap dugaan kita itu benar, dan aku juga tak bisa membuka kasus ini lagi karena ayahmu sudah mengakui ialah pelaku tunggal pembunuhan tersebut, kecuali aku mememukan fakta-fakta baru, saksi baru yang bisa mendukung dibukanya kembali kasus ini!" Kali ini suaranya datar, Panji kehabisan kata-kata.
Lama keduanya terdiam, hanya saling pandang tak tahu harus berkata apa, otak Panji penuh dengan penyesalan. Ia menyesal langsung membenci bapaknya saat itu tanpa mencari tahu kebenarannya. Sudah hampir dua tahun, mungkin sudah terlambat untuk mencari fakta yang sebenarnya.
"Aku akan membantu dengan segala yang Aku punya untuk membantumu, jangan ragu menghubungiku bila kau mendapat sesuatu yang baru, " Polwan tadi memberikan kartu namanya ketangan Panji, ia menerimanya melihat sekilas lalu menyimpannya dalam dompet.
"Apa yang akan kau lakukan Panji?"
"Entahlah, tapi yang pasti aku akan jemput adikku untuk kubawa ke Jakarta."
Panji sudah memutuskan ini sejak tadi di mobil polisi, ia merasakan dendam Gilang sangat besar dan ia mengkhawatirkan adiknya, namun yang muncul dibenaknya justru gambar Ratna yang tersenyum dan tertawa geli.
"Kenapa ke Jakarta?' Kau aman disini! Aku akan pastikan kau aman disini! Tapi Jakarta bukan wilayah yuridiksiku, aku tak mungkin menempatkam anak buahku untuk melindungimu disana!"
"Biarlah yang diatas sana yang melindungi kami Ndan! Panji menunjuk jarinya keatas. Polwan tadi akhirnya tersenyum, ia meraih ponselnya dan mengetikan sesuatu, notifikasi mobile banking di ponsel Panji berbunyi.
"Ini tak perlu, sungguh!" Panji menatap ponselnya dan berkata dengan serius.
"Terimalah Panji, itu tak cukup membayar rasa terima kasih kami, aku juga meminta maaf telah membuatmu menunggu lama disini, aku tadi ada rapat penting di Polda, bukan maksud kami membuatmu menunggu, sekali lagi aku minta maaf!"
"Tak perlu minta maaf Ndan! Aku sudah mulai betah disini, rencanya besok saya akan kirim kasur dan lemari saya kemari, Lagipula saya bisa ngobrol sama komandan yang cantik dan baik hati!" Panji tersenyum lepas.
"Hati-hati! Aku bisa menangkapmu lagi dengan tuduhan pelecehan
kepada polisi!" Ia tersenyum.
"Kalau begitu, penjara disini pasti lebih penuh dari penjara Cipinang!" Panji tetap melemparkan senyumnya.
AKBP Haryati tertawa lepas ia mengumpulkan kembali berkas dimejanya dan membawanya berjalan menuju pintu, menoleh kearah Panji memberi isyarat agar Panji mengikutinya. Panji bangkit keluar dari ruangan ia berniat berjalan dibelakang Polwan tadi, namun ia malah meminta Panji berjalan disisinya, mereka berjalan bersama sampai gerbang depan.
__ADS_1
"Simpanlah berkas ini, mungkin ditanganmu bisa kita dapatkan perkembangan baru, oh iya, Suamiku ingin sekali bertemu, bisakah kau dan adikmu datang sebelum kalian berangkat ke Jakarta?"
Panji memberikan senyuman hangat dan anggukan kepala kepada AKBP Haryati.