KUTUKAN Atau ANUGERAH

KUTUKAN Atau ANUGERAH
Mencari Panji


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju rumah sakit mereka berbincang dengan ceria. Suasana yang jauh berbeda dibanding dengan yang kemarin.


"Mas! Semua yang kau lakukan semalam, lilin, mawar merah, dan sebagainya, apa kau menyiapkannya sejak lama? Apa kau sudah lama sembuh?" Rasa penasaran Heny akhirnya diungkapkan.


"Tidak! Itu semua spontan, aku spontan sembuh ketika bangun dari pingsanku, dia bangun ketika kau datang." Ibram menunjuk kecelananya, Heny tersenyum geli.


"Aku langsung menyusun rencana gila itu! Makanya aku mengajakmu makan agar teman-temanku punya waktu mempersiapkan semua. Arsyad dan pembantu kita turut membantu." Ibram melanjutkan ceritanya , matanya fokus kejalan sambil menyetir.


"Kau juga yang menyuruh Arsyad berkata seperti itu?" Heny mulai merasa tak nyaman.


"Tidak! Aku juga kaget ketika mendengar Arsyad bicara seperti itu." Ibram memandang Heny sebentar lalu kembali menatap jalan raya.


"Aku bersalah kepada Arsyad, ia pasti juga menderita karena perbuatanku!" Mata Heny mulai berkaca.


"Arsyad mencintaimu sayang!, ia selalu berdoa untuk kita, dan Tuhan mengabulkan doa anak sholeh." Kali ini Ibram melemparkan senyum terhangatnya.


Heny masih tak mampu menghilangkan rasa bersalah kepada putranya, Arsyad pasti menderita karena ulahnya, tapi ia masih memiliki papanya, papanya yang mendidiknya dengan benar, mendidiknya untuk tidak membenci dan bersabar kepada mamanya. Ia hampir saja kehilangan suaminya, kehilangan putranya, kehilangan suasana hangat dirumahnya dan paling mengerikan adalah ia hampir kehilangan jiwanya akibat nafsu sesat, ia telah mengambil jalan yang salah ketika ujian itu datang. Ibram mengambil jalan untuk semakin mendekatkan diri kepadaNya, sedang ia mengambil jalan sebaliknya. Tuhan telah menyelamatkannya melalui suaminya yang terus bersabar kepadanya, Ibram bisa saja melepasnya pergi dan dengan sembuhnya Ibram tak akan sulit baginya mendapatkan wanita lain yang lebih baik darinya, sedangkan ia hanya jadi pelampiasan nafsu laki-laki lain. Memikirkan itu semua tiba-tiba Heny bergidik bulu kuduknya meremang.


Mereka sudah sampai dirumah sakit, dan langsung menuju ke kamar perawatan adiknya. Didepan pintu kamar Ibram berbicara serius dengan dokter yang baru saja memeriksa adiknya, dokter itu menyerahkan berkas ditangannya kepada Ibram lalu pamit meninggalkan mereka. Didalam kamar ternyata Roy sudah ditemani kedua temannya.


"Roy! Kau sudah dapat beritanya dari dokter kan? Nah! Ceritakan padaku bagaimana cerita lengkapnya! Kemarin kau bilang padaku bahwa kau memukuli pemuda itu padahal pemuda itu mau menyembuhkanmu!'


Roy yang masih duduk di ranjangnya tak begitu memperhatikan perkataan Ibram, ia masih terperangah dengan penampilan istrinya Ibram, Heny tertunduk malu. Ibram menyadari pandangan Roy kemana langsung menggeser posisinya menutup pandangan langsung Roy kepada istrinya.


"Hehehehe maaf Bang! Aku pikir tadi bidadari, ternyata Kak Heny!" Roy yang mendapat tatapan galak Ibram langsung memulai ceritanya.

__ADS_1


'Entahlah Bang! Aku juga tak tahu kalau ternyata dia benar, waktu itu dia memukul dada kiriku dengan keras sampai aku terjatuh, aku cek kedokter ternyatar kanker sialan ini masih ada, makanya aku pukuli dia karena coba menipuku!" Ibram berpikir keras setelah mendengar perkataan Roy.


"Jadi ternyata berhasil setelah kedua kali, tapi kenapa ia berhasil menyembuhkanku hanya dengan sekali tendangan?"


"Kau juga disembuhkan? Kau sakit apa Bang?" Ibram tak menjawab, ia hanya melirik kepada Heny. Roy akhirnya menemukan jawabannya.


"Astaga! Aku sudah menduganya sejak kalian pulang dari Sumatera! Kalian berubah sejak itu!"


"Siapa namanya Roy, bagaimana kamu menghubunginya?" Ibram tak memperdulikan ucapan Roy.


"Kalau tak salah namanya Panji, ia bukan orang sini, aku baru melihatnya saat itu. Dia seperti sedang mencari pekerjaan, aku lihat ia membawa map, dan aku tak tahu bagaimana menghubunginya, kali kedua kami bertemu ditaman karena memang kita sudah janjian ketemu." Kaki Ibram langsung terasa lemas, harapannya bertemu Panji menjadi buntu.


"Kalau benar dia mencari pekerjaan, aku akan coba bertanya di perusahan sekitar taman Bang, aku juga disembuhkan oleh pemuda itu, sinusku yang sudah bertahun-tahun tak sembuh hilang dihantam sikutannya." Salah satu teman Roy yang berambut jabrik berbicara, Ibram dan Roy terperangah mereka memang melihat dia kena sikut Panji.


Roy tertunduk tak berani menatap Ibram, sejak terdiagnosis kanker paru-paru Roy begitu frustasi, ia memilih jadi preman karena tak tahu lagi bagaimana ia menghabiskan sisa umurnya. Roy dengan cepat menjadi penguasa wilayah karena nyalinya yang sangat luar biasa. Dia tak takut mati. Karena memang kematianlah yang ia cari.


"Kau punya keahlian Roy! Kau bisa memulainya dari sana! Aku akan membantumu sekuat aku mampu!"


Sebelum jadi preman Roy memang seorang mekanik mobil, roy sudah memikirkannya sejak semalam setelah diberitahu dokter bahwa kanker paru-parunya sembuh. Ia memang telah nertekad memulai hidup barunya.


"Baiklah Bang! Aku memang sudah bertekad untuk kembali kejalan yang benar, aku akan buka bengkel kecil, aku akan mencari rezeki yang halal."


"Bagaimana dengan kami bos? Kawan Roy yang berkepala botak bertanya


"Terserah kalian! Tapi kalau kalian juga mau ikut denganku mencari uang halal silahkan!"

__ADS_1


"Tapi bikin bengkel mobil modalnya tak sedikit boss! Dari mana kita dapatkan uangnya?"


" Kau kan dengar tadi, ada yang mau memodali kita membangun kehidupan baru." Roy bicara kepada temannya tapi matanya melirik Ibram. Ibram hanya garuk-garuk kepala.


"Sialan! Aku tadi hanya kepeleset ngomong! Menyesal Aku!"


Heny tertawa melihat tingkah mereka. Heny juga mengetahui kalau Roy sebenarnya adalah orang baik. Heny pernah menerima bantuan dari Roy ketika ia menghadapi kesulitan dengan seseorang.


"Baiklah aku akan modali kalian! Aku akan pertaruhkan semua simpananku! Tapi ingat, aku adalah pemilik modal, kalau dalam waktu tiga bulan kerja kalian tak beres aku akan pecat kalian!"


"Siap Boss!" Ketiganya menjawab serempak.


"Apakah aku bisa dapat modal juga kalau aku ingin menikahi pacarku?" Kali ini Roy yang bertanya dengan penuh harap.


"Ngelunjak kau! Dikasih hati minta jantung! Untung saja kau adikku satu-satunya, kalau tidak aku sudah suntik mati kau!"


"Untung saja kau abangku satu-satunya kalau tidak sudah aku rebut istrimu! apalagi kalau aku tahu kau impoten."Roy membalas serangan Ibram, ia tertawa terbahak. Heny juga ikut tertawa. Ibram tahu kalau Roy hanya bercanda, Roy sangat menyayangi dan melindungi ia dan keluarganya.


"Jangan mimpi Roy, bangkainya saja tak akan kuberikan padamu!" Heny semakin tertawa geli melihat tingkah mereka.


Ibram dan Heny sudah didalam mobil berpisah dengan rombongan Roy. Sepanjang jalan sejak mereka meninggalkan kamar sampai parkiran mereka bergandengan tangan dan saling memandang dengan penuh rasa cinta.


"Hari masih belum siang apakah kau mau kuantar kekantormu?" Ibram bertanya kepada istrinya.


"Ingat Mas! Kau punya janji memberikan adik perempuan buat Arsyad, Aku akan membantumu memenuhi janjimu." Heny tersenyum nakal dan memandang Ibram dengan tatapan menggoda. Ibram langsung tersenyum senang dengan penuh gairah dan semangat membara memacu mobilnya pulang.

__ADS_1


__ADS_2