
Ratih membuka kelopak matanya pemandangan didepannya bernuansa putih, tampak beberapa orang sedang duduk disampingnya. Dilengan kanannya terdapat selang infus yang jarumnya menusuk ke nadi, perlahan ia menyadari bahwa ia ada didalam ruangan rumah sakit. Tampak wajah Gilang dan Ibunya duduk disamping kanan dan kirinya. Mereka tersenyum ketika melihat dirinya sudah membuka mata, Ratih balas tersenyum.
"Alhamdulillah kamu telah sadar Nduk!" Bagaimana? Apakah kamu baik-baik saja? Apakah masih terasa sakit?" Pertanyaan bertubi-tubi datang dari Gilang dan Ibunya.
Ratih mengingat kejadian yang membuatnya terbaring disini, ia dipukul oleh laki-laki yang akan dihajar Gilang dan kawanannya, ia jatuh tak sadarkan diri, yang diingat adalah laki-laki itu meminta maaf dan tersenyum ramah kepadanya tepat sebelum ia memukul perutnya.
"Bagaimana keadaan dia sekarang?" Anehnya Ratih merasakan badannya sangat segar dan belum pernah ia merasa sesehat ini sebelumnya. Pandangan matanya lebih jernih, aliran udara yang masuk melalui hidungnya juga terasa lebih lancar. Kepalanya juga tak lagi sakit seperti dahulu. Merasakan hal seperti itu ia tersenyum dan menjawab dengan anggukan kepala kepada ibunya.
Ratih mencoba untuk duduk, dan ternyata hal itu bisa dilakukannya dengan mudah, satu hal aneh ketika ia tadi mendengar bahwa ia tak sadarkan diri satu hari penuh lamanya. Pikirannya kembali ke momen sebelum ia terpukul jatuh.
Ia ingat sedang kembali dari kunjungan tugas menuju kekelurahan tempat ia bekerja ketika ia melihat adiknya, Gilang dan komplotannya sedang menggeroyok seorang lelaki yang wajahnya juga tak asing baginya. Laki-laki itu berdarah dibagian kepalanya yang langsung memukul perutnya secara brutal ketika ia masih terpesona dengan senyuman laki-laki sialan itu. Laki-laki itu langsung lari dan dikejar Gilang, entah bagaimana nasibnya sekarang. Sedangkan Gilang sedang duduk disamping ranjangnya dengan senyum lega melihat kakaknya sudah siuman dan tampak baik-baik saja.
"Laki-laki itu! Kenapa kalian menmukulinya Gilang?" Ratih langsung menyerang Gilang yang langsung naik darah mendengar serangan Ratih yang tiba-tiba.
"Kakak tidak tahu siapa lelaki itu? Dia itu Panji, anak pembunuh Bapak kita!" Gilang menjawab dengan emosi meluap, amarahnya keluar dari bola matanya yang langsung memerah.
" Sudahlah Gilang, jangan bahas masalah itu lagi, kakakmu baru saja siuman, biarlah ia beristirahat dulu, ayo kita keluar!" Ibunya langsung menarik tangan Gilang dengan paksa, tapi mencoba tetap melemparkan senyum kasih sayangnya kepada Ratih. Gilang terpaksa mengikuti ibunya keluar dari kamar perawatan.
Tak lama kemudian perawat yang dipanggil juga sudah datang untuk memeriksa kondisi Ratih.
"Jadi itu Panji? Pantas saja wajahnya tak asing bagiku." Panji cukup populer dikampungnya terutama buat gadis -gadis seperti Ratih. Otak Ratih terus menerawang menerobos memori beberapa tahun lalu. Sementara suster sudah selesai memeriksa keadaan Ratih, melepaskan selang infus dan beberapa kabel yang menempel dibadan Ratih. Sebelum mengambil sampel darah, ia mengangukkan kepala dan tersenyum kepada Ratih.
"Berapa hari aku tak sadarkan diri suster?"
"Satu hari satu malam, dan kondisi anda sekarang sangat baik, tapi silahkan istirahat dulu sebentar sambil menunggu dokter dan hasil labnya." Suster itu pergi meninggalkan Ratih yang sudah kembali berbaring.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu menunggu akhirnya datang seorang dokter yang sudah cukup berumur namun badannya masih terlihat gagah dan tegap.
"Dokter Rahmat? Kenapa Dokter kemari?" Ratih langsung terduduk melihat siapa yang datang, yang disapa hanya tersenyum.
"Ibu Ratih apakah anda lupa hari ni harusnya adalah jadwal operasi anda?"
"Astaga!" Ratih tersadar tetika ia melihat kalender didinding rumah sakit, ia dijadwalkan untuk operasi hari ini dengan dokter Rahmat. Dokter Rahmat adalah ahli bedah internis, rencananya hari ini rahim Ratih akan diangkat karena sudah terkena kanker stadium 3. Penyakit kanker rahim inilah yang membuatnya tidak mampu punya anak dan akhirnya ia diceraikan oleh suaminya. Penyakit yang membuatnya harus mengubur mimpinya memiliki anak dari rahimnya sendiri. Operasi yang harus dilakukan karena bila tidak dilakukan sesegera mungkin akan menular kebagian tubuh yang lain.
"Tadi dokter bilang seharusnya? apakah tidak jadi dilakukan hari ini? Karena kondisi saya habis koma tak bisa dilakukan? Pertanyaan Ratih lebih hanyalah perkataan putus asa yang keluar dari hatinya yang sudah remuk redam.
"Operasi tidak bisa dilakukan! tidak bisa dilakukan hari ini, besok atau kapanpun!
operasi ini tak mungkin dilakukan!"
"Operasi tak bisa dilakukan karena kanker dirahim Ibu Ratih sudah tidak ada, sudah bersih, kami mengeceknya berkali-kali, tapi tampaknya keajaiban terjadi kepada Bu Ratih, penyakit itu hilang dengan sendirinya. Aku sendiri tak percaya!, tapi itulah yang terjadi!" Mata dokter Rahmat berbinar.
Sekarang gantian Ratih yang tak percaya apa yang ia dengar, berkali-kali ia menanyakan apakah benar apa yang dikatakan dokter yang selalu dijawab dengan senyum dan anggukan kepala. Ratih menutup muka dengan kedua tangannya, ia menangis tersedu-sedu, dokter Rahmat menepuk bahu Ratih beberapa kali untuk memberinya semangat.
"Ini adalah keajaiban yang jarang terjadi, bersyukurlah pada Tuhan, manfaatkan kebaikan yang diberikan Tuhan kepadamu dengan baik." Dokter Rahmat berkata lembut, ia berdiri, tangannya masih memegang bahu Ratih sampai Ratih melepaskan tangan dari mukanya. Dokter tersenyum dan mengucapkan selamat tinggal kepada Ratih.
Ratih menatap kepergian dokter Rahmat sampai pintu kamarnya bemar-benar tertutup. Ia masih tak percaya apa yang ia dengar, ia mencoba membaca berkas yang di berikan kepadanya, meski sebagian besar berisi angka dan istilah yang tidak ia mengerti tapi memang disimpulkan bahwa penyakitnya telah hilang 100 persen, ia pulih normal selayaknya tak pernah dihinggapi kanker.
"Apakah benar ini sebuah keajaiban yang diberikan Tuhan kepadanya? Kenapa DIA memberikan kebaikan ini pada dirinya?" Batinnya bertanya.
Ratih yakin ia tak pantas mendapat kebaikan ini karena tidak ada kebaikan yang pernah dibuat dirinya. Sejak muda ia hidup berfoya-foya, tak perdulii dengan lingkungan sekitarnya, pergaulannya sangat bebas, seringkali ia menggunakan pil anti hamil, itulah sebabnya ia terkena kanker rahim. Setelah menikah Ia juga bersikap kasar kepada suaminya Lulus SMA ia bekerja dikantor kelurahan juga karena koneksi bapaknya tapi tetap saja membuatnya besar kepala. Semua kesombongannya runtuh seketika bapaknya meninggal. Suaminya berani menceraikannya. Bahkan ketikan ia divonis menderita kanker rahim ia justru merasa pantas menerimanya sebagai hukuman dari Tuhan.
__ADS_1
Semua orang di kampungnya tahu apa perbuatan bapaknya saat menjadi lurah, main serobot tanah orang, serobot istri orang, mengambil retribusi semaunya, semua uang haram yang keluarganya. makan berakibat penyakit buat dirinya dan membentuk karakter Gilang menjadi keras dan brutal. Mengingat Gilang tiba-tiba ia mengingat sesuatu dan bamgun secara tergesa gesa, lalu berlari keluar kamar menuju ruangan dokter Rahmat.
Dokter Rahmat yang baru saja hendak duduk tersentak kaget ketika pintu ruangannya yang hampir tertutup didorong kembali oleh Ratih yang langsung mengambil tempat duduk di depan dokter Rahmat.
"DOKTER! Dokter ingat pasien dokter, lurah desa Sampang Sempor, yang meninggal sekitar dua tahun yang lalu?" Dokter Rahmat menyipitkan matanya memandang Ratih.
"Aku ingat! Aku masuk ruangan ini bersama ayahku bertemu dokter, dokter mengizinkannya pulang karena ayahku sudah dinyatakan sembuh!" Ratih terus menyerocos seperti petasan.
"Kamu anak pak lurah Prayitno?" Ratih menganguk, dokter Rahmat masih menatapnya.
"Dokter, apa sebenarnya penyakit ayah? aku tahu ia menderita sakit, tapi ia tak pernah menceritakan kepadaku!"
"Ayahmu menderita penyakit jantung koroner, aliran darah yamg masuk ke jantung ayahmu tak bisa mengalir normal, ia seharusnya dioperasi untuk pasang beberapa ring dijantungnya, tapi ia menolak dengan alasan biaya." Dokter menjelaskan kepada Ratih.
"Lalu sore itu dokter bilang bahwa ia sudah sembuh dan ia begitu gembira, aku melihatnya begitu, apa yang terjadi dokter?"
Tiba-tiba raut wajah dokter Rahmat berubah, ia seperti mendapat ilham dari langit. Dan menatap wajah Ratih dengan rasa takjub.
"Aku ingat, sehari sebelumnya ia dibawa kemari dalam keadaan tak sadarkan diri, mulutnya keluar darah hitam, kukira ia terkena serangan jantung, tapi ternyata ia terlibat perkelahian di pasar Gombong dan terkena pukulan lawannya sampai tak sadarkan diri!" Kali ini keduanya saling memandang dengan mata terbelalak.
Wajah Ratih menegang, urat-urat syaraf di tangannya seperti hendak melompat keluar.
"Apakah keduanya ada hubungannya dokter?"
"Entahlah, mungkin saja ada hubungannya, dan mungkin kamu diberikan keajaiban ini untuk mencari tahu hubungannya!"
__ADS_1