
Suasana yang canggung, percakapan yang hampir hanya satu arah dan jawaban dan perkataan yang menjengkelkan hatinya direstoran telah dirasa cukup oleh Ibram. Sebelum kesabarannya habis dan emosi yang keluar ia mengajak istrinya pulang.
Sepanjang perjalanan Ibram bersiul dan bernyanyi dan masih mencoba mengajak istrinya tertawa sampai mobil masuk halaman. Ibram membiarkan istrinya lebih dahulu masuk kedalam rumah. Heny membuka pintu dan langsung tercengang. Rumahnya diitaburi bunga mawar merah sepanjang jalan sampai terus kekamar mereka. Tak ada lampu yang menyala, rumahnya diterangi oleh begitu banyak lilin yang disusun rapi mengunakan tempat lilin yang indah. Terdengar bunyi musik mengalun merdu menyanyikan lagu kebangsaan mereka berdua, dan lebih terlonjak lagi ketika ia melihat putranya yamg baru berumur lima tahun melangkah turun dari tangga memakai tuksedo lengkap dengan dasinya, didampingi oleh dua orang pembantunya yang kali ini menggunakan pakaian terbaik mereka. Ditangan putranya terdapat rangkaian bunga mawar beberapa warna yang dirangkai dengan indah.
Ketiganya menghampiri Heny yang masih tak percaya dengan apa yang dialaminya. Heny menerima rangkaian bunga yang diberikan putranya dan langsung memeluknya erat.
" Mamah, ini dari Papah, Mamah jangan marah lagi ya sama Papah!"
Heny kaget mendengar putranya berkata seperti itu, ia menangis. Ia berbalik menoleh ke belakang, dan kembali tersentak kaget, Ibram sudah berganti pakaian, memakai tuksedo yamg sama warnanya dengan putranya, ditangannya juga terdapat rangkaian bunga mawar yang sama.
Ibram mengambil posisi bersimpuh dengan dengkul kiri menjadi tumpuan badannya. Ia menyerahkan rangkaian mawar ditangannya kepada Heny.
"Sayang! Aku meminta maaf atas apa yang tidak bisa kuberikan selama ini, dan aku juga meminta maaf karena telah menyakitimu selama ini, aku ingin kita kembali seperti dulu!"
Arsyad putra mereka memeluk papanya, kemudian memeluk mamanya, ia meminta izin untuk pergi kekamarnya lebih dahulu sambil tersenyum nakal kepada papanya
"Papah jangan lupa janjinya yak! Aku ingin adik perempuan!" Ibram memberikan hurup 'O' dengan jempol dan telunjuknya kepada Arsyad, Arsyad dan kedua pembantunya langsung kembali kelantai atas, sementara Heny masih belum mengerti dengan kejutan-kejutan yang ia terima apa hari ini.
"Tapi apa ini Ibram? Apa yang kita rayakan?" Ibram tak menjawab, ia meraih tangan Heny dan menuntunnya masuk kamar, Heny semakin tak mengerti tapi ia memutuskan mengikuti Ibram. Ternyata seperti halnya diluar, kamar mereka juga didekorasi dengan cara yang sama. Heny masih tak percaya apa yang ia lihat ketika mereka berdua sudah didalam kamar, ibram menguncinya dari dalam.
"Malam ini kita merayakan kesembuhanku, kembalinya kejantananku!"
__ADS_1
"Sembuh?" Heny memandang area bawah Ibram, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar, tapi ia melihat dengan jelas ada yang menonjol seperti memaksa minta keluar dari resleting celana Ibram, ia kembali tercengang.
"Bagaimana kamu bisa sembuh?"
"Bagaimana aku bisa sembuh kita bicara nanti, yang penting aku ingin kau membantuku malam ini untuk membuktikannya, dan aku melakukannya karena aku sangat mencintaimu dan ingin membahagiakanmu lahir batin." Ibram berkata sambil tangannya membelai rambut Heny, terus menjalar kepipi, mata, dan bibirnya. Tangan ibram mulai membuka kancing baju Heny. Darah Heny berdesir hebat, ia memang masih mencintai Ibram, tapi ia tak yakin apakah Ibram benar-benar sembuh, ia memutuskan untuk mencobanya.
Malam menjelang shubuh, Heny tak mampu memejamkan matanya, ia sebenarnya sangat lelah mengimbangi permainan ranjang Ibram yang berhasil membuktikan kejantanannya kepada Heny. Peluh dan keringat mereka sudah membasahi semua area seprai dan bantal. Mereka juga tak perduli lagi dimana mereka melempar pakaian. Kejantanan yang sudah enam bulan hilang setelah kejadian di Sumatera dahulu. Heny memandang Ibram yang sudah tertidur pulas. Ibram sangat buas dan luar biasa malam ini, suatu hal yang membuat Heny bahagia, namun juga membuat hatinya menjadi miris.
Heny mengingat kejadian tadi siang, ia hampir saja menyerahkan tubuhnya kepada laki-laki lain. Laki-laki yang menjadi pelabuhan hatinya saat Ibram tak lagi mampu memuaskan kebutuhannya. Laki-laki yang sangat menarik, tampan atletis dan punya seyum yang menggoda yang akhirnya bisa meruntuhkan iman Heny yang tadinya ingin tetap setia kepada ibram apapun kondisinya.
Ternyata naluri alamiah dirinya sebagai seorang perempuan normal tak bisa membohongi dirinya. Siang itu mereka sebenarnya sudah berada di kamar hotel dan keduanya sudah melucuti pakaian mereka masing-masing saat panggilan telpon dari rumah sakit datang mengabarkan bahwa Ibram tak sadarkan diri. Konsentrasi Heny buyar dan akhirnya mereka sepakat untuk menunda hasrat mereka lain kali, itulah sebabnya ia datang kerumah sakit dengan kesal, dan dongkol tak karuan.
Tuhan telah menyelamatkan kemurnian jiwanya hari ini. Heny tak bisa membayangkan kalau saja perzinahan itu sempat terjadi. Heny sangat bersyukur akan hal itu.
Ia Sengaja pulang larut malam pergi ke diskotik dan sebagainya untuk memancing agar Ibram marah dan menceraikannya. Ia berusaha menyakiti hati Ibram dan ia yakin Ibram pasti sudah merasa sakit hati oleh perbuatannya. Tapi ibram tetap bertekad mempertahankan rumah tangganya dan dia fokus melakukan pengobatan apapun bentuk dan caranya walaupun tak ada yang memberikan hasil, namun Ia percaya keajaiban akan datang menyelamatkan rumah tangganya, dan akhirnya keajaiban itu datang tepat pada waktunya. Heny memandang Ibram dengan penuh cinta, ia memeluk ibram dan bertekad tak akan menukar Ibram dengan laki-laki manapun didunia.
Heny terbangun ketika sinar matahari tanpa permisi menerobos kamarnya, ia menyaksikan Ibram yang berdiri didelan jendela sudah berpakaian rapi, disebelahnya sudah tersedia sarapan untuknya, Ibram telah bersusah payah membuatkan dirinya sarapan. Ibram menghampiri istrinya lalu mengecup ubun-ubun Heny, Heny langsung melayang, ia langsung menarik Ibram agar duduk disampingnya.
"Bangunlah! Mandi sana! Jangan salahkan aku kalau aku akan menyerangmu pagi ini." Panji tersenyum, Heny baru menyadari kalau ia masih polos, ia tersenyum nakal kepada Ibram.
"Tidak! Sebelum engkau meminta maaf atas perbuatanmu semalam!"
__ADS_1
"Apa salahku?" Ibram terperanjat.
"Kau menyiksaku sampai pagi! Menyiksaku dengan kenikmatan, sayang!" Heny kembali tersenyum nakal, ia mencium kedua tangan suaminya. Ibram hanya terkekeh ringan.
"Kau juga luar biasa sayang!"
"Bagaimana kau bisa sembuh?"
"Itulah mengapa aku menyuruhmu mandi, kita akan kerumah sakit, Roy sudah siuman dan kita akan dapat kebenaran ceritanya disana, Cepatlah! Aku menunggu diluar ya, " Panji mengecup bibir Heny dan berjalan keluar kamar.
Heny sudah selesai mandi dan memutuskan tampil berbeda hari ini, ia ingin menunjukkan tekadnya untuk kembali menjadi istri yang terbaik buat Ibram. Ibram sedang duduk diruang tamu ketika istrinya keluar dari kamar, ia langsung berdiri terperangah.
" Kau... Berhijab?" Panji tak percaya apa yang didepan matanya, Heny memakai gamis dan hijab yang pernah ia belikan namun tak sekalipun Heny mau memakainya. Dia sangat cantik, anggun mempesona seperti bidadari. Tatapan Ibram yang tak henti mengaguminya membuat muka Heny menjadi merah. Dia berjalan sambil tertunduk menghampiri Ibram, bersimpuh di depannya sambil menangis.
"Mas Ibram maafkan aku atas perbuatanku selama ini, aku tahu Mas Ibram pasti sangat menderita dengan sikapku selama ini! Aku berjanji kepadamu Mas! aku tak akan mengulangi lagi kesalahanku! Aku akan mencoba menjadi istri yang baik buatmu Mas!" Kepala Heny mendongak dengan air mata berlinang menatap Ibram yang juga berkaca-kaca. Ia membelai kepala istrinya, ia pun bersimpuh sejajar dengan istrinya.
" Sudahlah! Aku juga bersalah kepadamu."
"Tidak Mas! Kau tetap sabar menghadapiku, kau tetap berikhtiar dan berdoa, sementara aku malah melakukan perbuatan hina, selama ini aku bukan mensuportmu, aku malah berusaha lari darimu, lari dari
kenyataan." Sekarang Heny menangis tersedu-sedu. Ibram memeluknya erat kemudian ia mengajak istrinya berdiri.
__ADS_1
"Sudahlah, Tuhan sudah memberikan kita kesempatan kedua hari ini, mari kita mulai lagi perjalanan kita agar lebih baik, ok? sekarang hapus air matamu, aku tak mau nanti ditangkap polisi dengan tuduhan menculik wanita cantik." Ibram tersenyum hangat. Heny terkekeh sambil tersedu, ia mengusap air mata dengan sapu tangan yang diberikan Ibram. Heny memeluk Ibram dan ia begitu bahagia.