KUTUKAN Atau ANUGERAH

KUTUKAN Atau ANUGERAH
Trio Penyembuh


__ADS_3

Panj yang sedang berbaring disofa dikejutkan oleh suara salam yang terdengar dari luar. Nissa lebih dulu keluar dari kamarnya dan menghambur keluar, ternyata penjaga komplek mengantar seorang gadis. Gadis itu masuk setelah dipersilahkan oleh Nissa.


"BU RATNA!" Panji berteriak kaget melihat siapa yang datang.


"Sialan kau Panji! Sudah ku bilang jangan panggil aku Ibu!" Antara marah dan sebal kepada Panji ia masih melotot sambil tolak pinggang.


"Maaf, aku belum terbiasa! Bagaimana kau bisa sampai disini?" Panji merasa gugup dan malu, padahal malam-malamnya selalu dia isi dengan membayangkan sosok Ratna, tapi ketika bertemu orangnya ia gugup setengah mati.


"Kalian bertanya tanpa menyuruh aku duduk?" Ia tersenyum nakal kepada Panji dan Nissa, dan langsung saja duduk di sofa. Panji dan Nissa tersenyum, Nisa langsung pamit untuk mengambilkan tamunya minum.


"Aku mengikutimu dari taman tempat kau dipukuli tadi! Aku melihat kau dipukuli, aku tak yakin itu kau tadinya, tapi ketika kamu lari melewatiku, aku langsung yakin itu kamu!"


Panji baru memperhatikan sosok Ratna, masih cantik dan mempesona seperti kemarin, cuma tampak pakaian yang ia pakai kotor dibeberapa tempat, tas yang ia bawa juga kotor dan lecet dibeberapa bagian. Panji tercengang.


"Kau yang menghadang orang yang mengejarku tadi? panji menatap tajam wajah Ratna, Ratna hanya tersenyum dan mengedipkan matanya.


"Astaga! Jadi kau yang membuat laki-laki itu terjatuh! Aku harus berterima kasih kepadamu!" Ratna kembali tersenyum dan mengibaskan tangannya didepan Panji seolah itu hal sepele, padahal ia juga terjatuh dan pantatnya lumayan sakit, mungkin juga ada luka di lengannya yang terbungkus baju panjang. Ratna tak memperdulikannya.


"Bagaimana kau bisa ada disana dan bisa sampai kesini?"


"Aku dalam perjalanan pulang, rumahku dekat taman itu, kulihat ada keributan, dan aku mengikuti angkot yang kamu tumpangi dengan motor."


Panji memandang heran Ratna, wanita ini baru bertemu dengannya kemarin tapi sudah rela berkorban dan mau bersusah payah mengikutinya, Panji lalu tersenyum, Ratna yang dipandangi Panji terus menerus akhirnya tak tahan, mukanya merah dan langsung menunduk malu, motivasinya melakukan ini semua tertangkap jelas oleh Panji. Nissa yang sudah duduk disana memandang tingkah keduanya dengan senyum lebar.

__ADS_1


"Sudahlah kak Ratna, Mas Panji sudah tidak apa-apa, matanya sudah normal, pasti sudah bisa melihat kecantikan Kak Ratna, otaknya juga sudah normal, cuma hidungnya akan pesek sedikit!" Nissa tertawa meledek Panji, Ratna makin memerah mukanya mendengar ledekan Nissa, Panji hanya mendelik sewot yang dibalas dengan delikan sewot lagi oleh Nissa.


"Terima kasih! Kau adiknya Panji? Kau juga sangat cantik, hijabmu membuat kamu semakin anggun!" Ratna memuji Nissa, ia sudah mulai merasa nyaman duduk disana karena kedua tuan ramah begitu hangat.


"Kalian sudah berapa hari di Jakarta?"


"Baru beberapa hari, aku sedang mencari pekerjaan ketika kejadian tadi."


"Kantor sudah mengeluarkan paklaring untukmu agar mudah mencari pekerjaan baru, dan sudah ditandatangani pak burhan. Pak Burhan menyampaikan terima kasih kepadamu karena telah menyembuhkannya, ia juga bilang akan membantumu sebisa mungkin agar dapat pekerjaan yang baru." Ratna mengeluarkan selembar kertas dari tasnya, Panji menerimanya dengan enggan.


"Biar kutebak, kejadian di taman tadi sama kasusnya dengan kasus Pak Burhan kan? Jadi benarkah kau bisa menyembuhkan penyakit orang lain?"


Panji mengangguk, selanjutnya Nissa yang menceritakan kronologis kejadian kepada Ratna dan bagaimana kekuatan itu bisa dipakai. Ratna mendengarkan semua cerita Nissa dan mencoba memahaminya.


"Aku sudah menyadarinya, Aku memaksa Prasetyo mengatakan hal yang sebenarnya. Seperti halnya kamu aku juga heran bagaimana Pras bisa masuk sekolah kepolisian. Aku dulu berpikir ayahku memberikan uang sogok yang luar biasa banyak karena aku tahu Pras terkena paru-paru basah, makanya ia menjadi anak nakal karena frustasi cita-citanya menjadi polisi ambyar. Tapi pukulanmu membuat harapannya hidup kembali."


"Apakah ketika kamu bertemu korban harus dieksekusi saat itu juga?"


"Entahlah, tapi yang pasti semakin aku menunda semakin sakit yang aku rasakan."


" Jadi kalau memang tak harus dieksekusi saat itu, berarti kita bisa meminimalisir resiko yang akan dihadapi Panji!" Ratna mengeluarkan idenya dengan antusias.


"Maksudnya?" Panji menatap heran Ratna.

__ADS_1


"Kalau kau sudah menemukan korban, kita bisa pancing ketempat sepi, misalnya Nissa memancing korban ketempat sepi, lalu kau eksekusi, setelah korban pingsan kita bisa bawa korban kesini untuk dirawat sampai sadar, kebetulan aku punya mobil dirumah yang jarang digunakan!" Panji terbelalak kaget dengan usul Ratna, ia memandang Nissa dan Ratna bergantian, keduanya mengangguk dan tersenyum kepada Panji.


"No no no! Tidak! Nissa! kamu harus sekolah! Dan kamu! Punya pekerjaan dan tanggung jawab yang penting dikantormu! Aku tak bisa mengorbankan hidup kalian buat membela Aku!" suara Panji sudah hampir berteriak panik.


"Tentu saja kita bisa atur waktunya, bisa saat Nissa sudah pulang sekolah, dan kamu tinggal hubungi aku, pekerjaanku bisa fleksibel, bisa ditinggalkan, yang penting pekerjaan yang diberikan padaku beres sesuai permintaan."


"Dan aku harus rela melihat mayat kakakku di jalan karena coba menyembuhkan orang? Tidak Mas! Kak Ratna benar! Kita harus bisa meminimalisir resikonya!" Nissa memandang Panji dengan berapi-api. Panji merasakan amarah sekaligus rasa kasih sayang dibalik tatapan seramnya.


"Dan kau tidak bisa menahanku Panji! Aku sudah berjanji kepada Prasetyo untuk membantu urusanmu sebaik mungkin!" Ratna menantang Panji.


Panji hanya bisa merebahkan badannya kembali kesofa, kepalanya menjadi sakit, sakit dari luka di alis mata dan hidungnya muncul lagi.


Panji hanya bisa garuk-garuk kepala menghadapi dua wanita dihadapannya. Mereka benar, Panji memang tak bisa menghadapi Ini sendirian. Strategi ini persis seperti apa yang dilakukan bapaknya dengan kepala sipir penjara. Tapi teknisnya didunia luar pasti akan lebih sulit daripada dipenjara yang semua personilnya sudah dipersiapkan untuk mendukung bapaknya dengan baik.


"Bagaimana mungkin setiap eksekusi harus menunggu Nissa pulang sekolah? Atau harus menunggu Ratna datang? Bisa-bisa korbanya sudah keburu kabur." Panji hanya tertawa dalam hati, namun niat dua wanita ini tak boleh dipatahkan, dan Panji merasa senang mendapat dukungan, apalagi dukungan dari Ratna.


"Baiklah kita akan coba! Kalian dengar! Aku menyanggupinya karena kalian keras kepala! untunglah hanya dua yang model begini, mudah-mudahan aku tak mendapat istri keras kepala seperti kalian!" Panji bersungut-sungut.


"Nah! Kalau kau mencari istri yang penurut, carilah di penyalur pembantu!" Ratna menjawab ketus.


"Kau benar! Aku sudah menghubungi penyalur pembantu kemarin! Mereka memberiku kontak nomer seseorang, katanya cocok untuk dijadikan istri, pembantu atau tukang kebun!"


Panji mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu dan meletakkan ponsel dikupingnya. Suara panggilan terdengar dari tas Ratna, ia buru-buru mengeluarkan ponsel dari tasnya, dan melihat apa yang ada disana, matanya kembali menatap tajam kearah Panji.

__ADS_1


"ANAAAK SYEEETAAAN!"


Panji melarikan diri kekamarnya sambil tertawa menghindari tas Ratna yang melayang kearah kepalanya. Nissa tertawa geli melihat tingkah mereka.


__ADS_2