
Senin pagi yang sibuk dirumah Panji. Ratih dan ibunya yang datang dari jauh menginap dirumah Panji atas desakan adiknya. Memang begitulah namanya orang sekampung, semuanya dijadikan saudara. Maksud dan tujuan Nissa mengajak mereka menginap supaya hubungan mereka lebih cair, tapi tidak yang dirasakan Ratna.
Ratna memang tidak bereaksi apa-apa saat itu. Dia hanya pamit pulang karena memang semalam menginap. Tetapi bada maghrib dia susah sampai lagi dirumah Panji dan menginap disana. Hanya Panji Laki-laki sendirian di sana yang membuatnya risih. Akhirnnya Panji memutuskan keluar rumah nongkrong bareng bersama beberapa warga komplek dan sekurity sampai menjelang shubuh. Saat Panji kembali kerumah Nissa baru saja selesai sholat tahajjud dan bersiap menyiapkan sarapan buat mereka.
Kesibukan Nissa di dapur membangunkan para tamu. Ratna dan Ratih terlihat berbasa -basi dengan canggung. Sementara Nissa dan ibunya Ratih berbincang akrab.
"Nduk, kamu sudah cantik, pintar soleh, hatimu mulia, pintar masak lagi! Kalau saja Gilang tak sebandel itu, aku tak ragu menjodohkan kalian." Ibunya Ratih tertawa.
" Ya doakan saja Bu, semoga Gilang bisa berubah, oh iya, bagaimana Ibu bisa tahu tempat ibu saya dirawat?"
"Tak sengaja aku melihat pamanmu, adik ibumu keluar dari panti, ia juga teman kecilku, aku menyapanya, kami tak ngobrol banyak, tapi ketika kutanyakan bagaiana kabar kampung kita sejak suamiku meninggal ia bilang tak tahu, dia bilang dia sudah lama pindah ke jakarta."
"Memangnya Ibu kemana setelah pak lurah wafat?"
"Aku pergi dari rumah sebelum suamiku meninggal, aku bahkan tak pulang saat tahu ia meninggal. Aku kembali ketika kudengar Ratih bercerai dan punya kanker rahim."
Nissa memandang Ratih yang aedang menata meja makan. Nissa tak menyangka Ratih sudah menjanda, umurnya sepantaran Ratna. Dia sudah menjalani pahit manis kehidupan, bergelimang harta dan berfoya-foya ketika bapaknya berjaya, sekarang menderita dan hidup dalam cercaan dan hinaan orang sekampung. Nissa menilai Ratih masih memiliki hati nurani ketika memutuskan membantu mereka memecahkan kasus pembunuhan bapaknya.
Matanya beralih ke Ratna yang sedang membuat teh di teko. Ketertarikan kedua wanita itu kepada kakaknya jelas terlihat dimata Nissa. Ratih tak berpikir dua kali ketika diajak menginap. Sedanhkan Ratna jelas nekad sampai menginap dua malam tak perduli celotehan orangtuanya. Memang Ratna sudah terbiasa pisah denga orang tua. Waktu keluarganya masih dikampung Ratna sudah kuliah di Jakarta sehingga orangtuanya percaya Ratna bisa menjaga dirinya. Sekarang semua kelurga Ratna sudah hijrah le jakarta. Nissa teringat kalimat ibunya Ratih tadi.
"Apakah benar paman sudah pindah ke jakarta? Sejak kapan?" Batin Nissa bertanya.
Setelah semuanya sarapan dan setelah semua piring dan meja sudah bersih dikerjakan bersama Ratih dan ibunya pamit kembali ke rumah mereka. Ratna mengantar keduanya sampai bis terdekat yang mengantar mereka ke stasiun, selanjutnya mengantar Panji sebelum ia sendiri melanjutkan langkahnya ke kantor.
Waktu istirahat makan siang Panji menerima pemberitahuan dari Pak Slamet melalui pesan singkat bahwa kanker pankreas yang dideritanya sudah hilang tak bersisa, dia mengucapkan terima kasih kepada Panji. Panji menyampaikannya kepada Ratna saat mereka bertemu kembali setelah jam kerja usai.
"Kanker pankreas, wow! Sangat berbahaya, apalagi kalau sudah stadium akhir, dia akan menjalar ke kelenjar getah bening, akibatnya alat imun kita lumpuh, mudah diserang penyakit bahkan sebutir debu bisa membuatmu menderita." Panji mendengar dengan heran Ratna bisa bicara dengan santai hal yang menakutkan seperti itu.
"Apa yang menyebabkan orang menderita kanker?" Panji bertanya serius kepada Ratna yang asyik berdendang mengikuti lagu sambil mengendarai mobilnya
__ADS_1
"Biasanya makanan dan pola hidup yang tidak sehat, sepert kau yang suka bergadang!"
"Aku terpaksa begadang karena banyak perempuan dirumah, aku lebih baik cari aman daripada aku diapa-apain kalian dirumah." Panji meledek Ratna.
"Ih.. Tak sudi! Kepedean sekali kau!" Panji tertawa terbahak melihat Ratna bergidik. Dibalik mulutnya yang suka ceplas-ceplos, dan karakternya yang cuek, Ratna wanita yang mandiri dan. agressif. Dia sangat perduli dengan orang lain.DIa langsung jalan pagi-pagi sekali ketika Panji meminta tolong mengantarkan pak Slamet pulang, padahal dia belum sempat tidur nyenyak. Ratna membelokkan mobilnya masuk ke sebuah restoran tempat nongkrrong anak-anakk muda Jakarta, Panji merasa heran.
"Ngapain kita kesini?"
"NUMPANG BERAK!" Mata Ratna melotot membuat Panji terkaget.
"Ya makanlah! Perbaikan gizi buatmu biar kagak kena kanker!"
Ratna tak menjawab, ia hanya memandang Panji dengan wajah cemberut. Panji tak membutuhkan jawaban lagi ketika ia melihat baru saja motor Nissa melewati mobil mereka menuju parkiran motor. Ratna sudah menghubungi Nissa untuk berkumpul disini. Semua sudah direncanakan dengan matang oleh Ratna.
Ketiganya mengambil meja disudut ruangan ketika pelayan masuk memberikan buku menu, Panji dan Nissa hanya membolak balik tak tahu apa yang dipesan. Panji menyerah, Ia melemparkan miliknya kepada Ratna.
"Kau saja yang pesan buat kami, kau kan anak Jaksel! Aku tak tahu makanan apa yang ada disitu, tak ada es cincau!"
"Kalau kau mau es cincau pesanlah, biar aku carikan." Ratna tersenyum dimanis-maniskan.
"Kau akan carikan cincau buatku?" Panji berbunga-bunga.
"Tidak!" Aku akan cari penggali kubur, buat mengubur bocah kampungan macam kau!" Wajahnya berubah beringas.
"Sialan!"
__ADS_1
Kembali Nissa tertawa menyaksikan perseteruan mereka.
"Hey you anak Jaksel and you anak kampung, to fightlah each other, let me enjoy my dinner alone" Sekarang giliran Nissa yang berlagak anak Jaksel yang akhirnya kena lempar buku menu pas dimukanya oleh Ratna.
Ratna menulis pesanan buat mereka bertiga. Setelah pesanan datang meteka makan sambil tetap mendiskusikan kasus mereka.
"Aku tak menyangka mereka datang! Kalau kau sempat lihat bagaimana Gilang benar-benar mau membunuhku saat itu, kalian pasti akan curiga kepada mereka."
"Tapi kau senang dia datang kan? Ada janda kembang mendatangimu, masih cantik dan segar." Ratna berkata dengan ketus.
"Perasaan gue ruangan ini full AC, dingin bener, tapi kenapa ada yang kepanasan yak?" Panji memutar matanya kesetiap sudut atap restoran, Ratna cemberut sambil mulutnya komat-kamit tak karuan.
"Ada yang cemburuuuu, ceilee.." Nissa langsung menyiapkan dua tangannya ke depan muka, takut sesuatu dilempar lagi ke mukanya oleh Ratna.
" Sudahlah! Kita lanjutkan bahasannya, menurut cerita ibunya didapur tadi subuh, ia telah lama meinggalkan mereka sebelum pak lurah meninggal, beliau bahkan tak tahu suaminya telah wafat. Kenapa ia meninggalkan keluarganya? Pak lurah bergelimang harta." Nissa bertanya.
"Banyak faktor yang membuat seirang perempuan meninggalkan lelaki, yang paling umum adalah faktor ekonomi dan yang kedua adalah faktor orang ketiga, ada wanita lain misalnya." Ratna beceloteh sambil lalu, meneguk minumannya sejenak lalu ia melanjutkan celotehannya.
"Selain istrinya, banyak yang pergi dari kampung kita karena kepemimpinan Pak lurah memang membuat kehidupan di kampung kita tak nyaman. Ayahku memutuskan pindah ke Jakarta salah satunya karena usahanya tersendat disana."
"Apa penyebab paman pindah? Aku tak menyangka paman pindah ke Jakarta, ia masih datang mengambil raport kenaikan kelasku." Nissa memandang Panji.
"Sewaktu aku masih sekolah aku tinggal sendiri dirumah, aku beberapa kali kerumah paman untuk urusan sekolah, kadang dia ada kadang tidak, tapi aku tak melihat kak lily dan ibunya di rumah. Ketika kutanyakan kepada paman, paman hanya bilang kak lily melanjutkan sekolah di Jakarta. Kulihat Perabotan rumahnya masih lengkap, tapi memang rumahnya kotor tak terurus."
" Itu artinya dia mau repot bolak-balik untuk mengurus kalian, mungkin ia berjanji kepada orangtua kalian untuk bertanggung jawab kepda kalian. Kalian harusnya berterima kasih padanya."
" Iya kau betul Ratna! Paman juga yang memberikan aku pekerjaan di Jakarta setelah aku melarikan diri dari Kebumen. Ia juga memberikan aku uang untuk modal aku bayar kontrakan dan makan sebulan."
__ADS_1
Nissa dan Panji saling pandang, ada hal yang mereka pikirkan namun keduanya memutuskan menimpannya dalam pikiran mereka sendiri.