KUTUKAN Atau ANUGERAH

KUTUKAN Atau ANUGERAH
Malam yang Gelisah


__ADS_3

Jauh di ujung ke sebelah barat Ratna sedang tergolek resah diperaduannya. Pertemuannya dengan Panji kemarin itu memang bukanlah yang pertama. Ketika Panji masih bekerja ia juga sering melihat sosoknya, tapi tak pernah membuat dadanya sesesak ini. Setelah pertemuan terakhirnya, Panji menjadi sosok yang misterius buat Ratna. Setiap kali Ratna mengingat senyum Panji dengan lesung pipitnya dadanya selalu bergetar, dan yang membuatnya terpesona adalah pandangan matanya begitu membius,, seakan -akan siapapun yang memandang Panji akan tunduk dan hormat padanya. Mengingat denyum dan pandangan matanya membuat ia belum juga bisa tidur.


Berulang kali ia mencoba menganalisa kenapa Panji memukul manajernya dan apa hubungannya dengan penyakit Pak Burhan. Ratna berhasil mendapatkan info langsung dari Pak Burhan bahwa selama ini ia menderita arteri karosis, penyumbatan darah ke otak yang dapat menjadi penyebab stroke. Ia teringat bahwa Panji membutuhkan informasi tersebut, langsung saja ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Panji. Lama ditunggu tak juga Panji memberi jawaban membuat hatinya semakin resah.


Setelah sekian lama akhirnya Panji menjawab pesan. Ratna membaca dan membalas setiap pertanyaaan Panji dengan penuh gairah. Pada akhirnya Ratna dengan nekad bertanya apakah Panji akan kembali ke Jakarta, Ratna menunggu jawaban Panji dengan hati berdebar, ia merasa bahagia sekali saat Panji mengatakan mereka ia mengadu nasib di Jakarta. Ratna merasa aneh dengan dirinya saat ini, mengapa ia begitu memikirkan Panji? Ia belum begitu mengenal Panji, banyak cowok dilingkungannya saat ia kuliah atau sekarang bekerja, tapi tak ada yang bisa membuatnya resah seperti ini. Panji memang berbeda.


Sementara di ujung yang berlawanan Panji yang sedang bermalam di sebuah masjid dekat dengan pondok pesantren dimana adiknya mondok disana, baru saja menyimpan ponselnya setelah ia berbalas pesan dengan Ratna. Hatinya bercampur aduk tak menentu. Ia merasa bahagia karena Ratna benar-benar memenuhi janjinya untuk menghubunginya. Tapi juga sedikit galau karena kesembuhan Pak Burhan tak memberi efek positif apapun terhadap dirinya.


"Setidaknya aku layak mendapatkan ucapan terima kasih!" Batin Panji menggerutu.


Pikiran ini menghentak Panji, ia berpikir akan mengambil keuntungan dari orang yang disembuhkannya, seperti layaknya dokter atau tabib yang punya kemampuan khusus menyembuhkan penyakit. Ia sudah mendapatkan uang yang jumlahnya lumayan dari Prasetyo dan mantan manajernya. Membayangkan jumlah uang yang akan dia terima bila ia jadikan kekuatannya sebagai bisnis membuat Panji sumringah, membayangkan bisa membeli apa saja barang yang ia inginkan, adiknya bisa sekolah tinggi, tinggal dirumah mewah. Panji memikirkan strateginya untuk mendapatkan uang banyak bila bertemu korban. Memikirkan atrategi itu membuat otaknya lelah dan akhirnya tertidur sampai adzan shubuh membangunkannya.


Hari ini Panji baru saja menjemput adik perempuannya. Setelah membereskan semua urusan administrasi dan berpamitan kepada penghuni pondok mereka berdua langsung menuju alamat yang diberikan Ibu Haryati, memenuhi undangan beliau dan suaminya untuk bersantap malam dirumahnya. Tiba di depan rumah Ibu Haryati Panji dan Adiknya tercengang, rumah itu besar dan mewah, berada di pusat kota kebumen, didepannya ada penjaga yang siap siaga 24 jam. Setelah penjaga mendapat informasi maksud kedatangan Panji, ia dengan ramah mempersilahkan keduanya masuk.


Tiba didalam rumah mereka disambut oleh Ibu Haryati yang kali ini memakai gaun malam warna merah yang menakjubkan. Gaun itu menonjolkan lekuk tubuhnya yang sangat proporsional. Panji yang kemarin melihat ibu Haryati memakai seragam polisi sekarang memandang terkesima, sangat cantik dan anggun seperti bidadari. Sementara mantan manajernya, Bapak Andi tersenyum ramah, ia memakai kemeja yang juga tampak mewah. Terjebak dalam situasi seperti ini Panji merasa risih, ia hanya berpakaian seadanya, hanya kemeja panjang dan celana katun walaupun itu sudah yang terbaik yang ia punya tapi tak sebanding dengan apa yang dipakai tuan rumah. Panji merasa tak menghormati tuan rumah, padahal tuan rumah begitu menghormatinya.


"Apa Kabar Panji?" Pak Andi mengulurkan tangan dengan senyuman yang ramah, begitu juga senyum ibu Haryati. Mereka seperti tak memandang rendah Panji dan adiknya. Ia harusnya menyadari bagaimana kehidupan mereka, yang satu komandan polisi di kebumen, suaminya manajer perusahaan besar, Panji mengutuk kebodohan dirinya.


"Kabar baik Pak! Maafkan kebodohan kami, kami tak berpakaian yang layak hari ini. Sekali lagi maafkan kami!" Panji menyambut uluran tangan Pak Andi sampai menunduk-nunduk menyadari kebodohannya.


Keduanya tertawa lepas mendengar ucapan Panji. Bu Haryati meraih bahu Panji dari belakang setelah sebelumnya ia menyambut Nissa adik Panji, memeluk erat Nissa dengan hangat.

__ADS_1


"Kamilah yang merasa terhormat engkau mau datang kemari!" Ia sudah berdiri disamping Panji, meraih tangan kanan Panji lalu menuntun mereka ke ruang tamu.


Sepanjang jamuan makan malam itu mereka tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Panji. selain itu Panji coba membahas kasus bapaknya dengan ibu Haryati..


"Aku membaca di berkas ini, ayahku mengaku sebagai pembunuh, ia bilang pak Lurah datang kerumahnya hendak balas dendam dan membawa pisau yang hendak digunakan membunuhnya." Mereka berempat masih di meja makan, ketiganya menyimak apa yang dikatakan Panji.


"Aku mengikuti persidangannya, sidang yang paling singkat yang pernah kusaksikan. Hakim sampai tak habis pikir, hakim berkata bayangkan apakah ada ada orang bodoh yang dipukul sampai pingsan, baru siuman langsung niat balas dendam datang sendirian kerumah pelaku! Sedangkan dia tahu pelaku punya kekuatan yang lebih baik darinya?"


"Apa jawaban bapak Ndan?"Gairah panji terangkat.


"Mungkn pak lurah memang bodoh Pak hakim!"Hahahaha.. Bapakmu memang luar biasa, di momen itu ia masih bisa bercanda."


"Kalau dugaan kita benar, bahwa pak lurah datang untuk berterima kaasih kepada bapakmu, maka apa yang dikatakan bapakmu kepada hakim adalah hal yang mengada-ada!" Ibu Haryati melanjutkan.


"Apakah benar pak lurah disembuhkan? Apa ada laporan medisnya?" Pak Andi bertanya kepada istrinya.


"Tidak ada, harus ahli waris yang memintanya, atau surat perintah dari hakim!" Ibu Haryati menggeleng pasrah.


"Ok kita skip laporan medis, andaikan dugaan kalian benar? Siapa yamg ia lindungi? atas motif apa bapakmu melindunginya? Apakah karena rasa takut? Atau karena rasa sayang?" Pak Andi bicara lagi sambil sesekali menyuap makanan kemulutnya, ia tampak santai sekali.


"Kalau motifnya karena takut, kita masih bisa menghilangkan faktor ketakutannya! tapi kalau faktor sayang, Game over! Karena satu-satunya saksi saat itu hanyalah ibumu yang kesaksiannya sangat meragukan saat ini!" Ibu haryati menahan kalimat terakhirnya, memilih kata yang tepat agar tidak menyinggung Panji dan adiknya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau ibuku sembuh? Kata perawat disana sebentar lagi ibuku sembuh!" Panji mulai bergairah lagi.


" Bisa saja! Tapi tetap sulit Panji, kesaksian orang yang baru sembuh tidak akan membuat kejaksaan membuka kembali kasus ini. Kasus ini sudah selesai ketika bapakmu mengakui sebagai pelalu tunggal. Begitulah hukum bekerja lagipula orang dituduh sebagai pelaku aslinya akan menyewa pengacara yang akan membuat kesaksian ibumu menjadi lemah." Kembali nada suara ibu Haryati mencelos pasrah.


"Siapa tetangga yang diminta tolong ayah? Tiba-tiba Nissa menyahut, ia menyambar berkas ditangan Panji, membacanya sesaat.


"Pak Slamet! Pak Slamet rumahnya cuma sebelah rumah kita!" Nissa mulai bersemangat.


" Kesaksian Pak Slamet juga bisa dibaca disitu, ia didatangi bapakmu untuk menghubungi polisi. Pak Slamet menghubungi polisi lalu menuju TKP, ia menyaksikan pak lurah sudah tertelungkup dengan pisau di punggungnya!"


Panji hanya bisa garuk-garuk kepala, mendengar penuturan ibu Haryati. Tampakmya memang kasus bapaknya sudah game over. Panji hanya diam sambil berusaha menghabiskan makanannya walaupun seleranya sudah hilang. Kempatnya menyelesaikan makan malam mereka.


"Kalian sudah punya tempat tinggal di Jakarta?" Pak Andi bertanya pada Panji ketika mereka kembali keruang tamu.


"Belum! aku akan kembali kekosanku yang lama, disana juga ada kos putri."


"Kalau begitu kalian tinggallah dirumahku, kami punya rumah di Jakarta, biasanya kami pakai kalau kami ada kunjngan ke Jakarta!" Pak Andi menuliskan sebuah alamat di secarik kertas dan menyerahkan kepada Panji yang masih menatapnya dengan ternganga.


"Terimalah Panji, ini ucapan terima kasihku! Kau bukan hanya menyembuhkan penyakitku, tapi kamu juga mengembalikan keutuhan keluarga kami yang hampir hancur karena penyakitku!" Pak Andi menoleh ke istrinya sambil mengedip nakal. Ibu Haryati meresponnya dengan senyum nakal dan menyandarkan kepalanya kebahu suaminya.


Panji menerima kertas yang diserahkan kepadanya, ia mengeluarkan ponsel dari kantongnya bermaksud memfoto kertas tadi agar tidak hilang. Ketika ia membalik ponselnya tiba-tiba sesuatu terlintas dikepalanya. Dengan tergesa-gesa ia mengobral -abrik berkas halaman demii halaman, keterangan yang ia inginkan tak juga ia dapatkan. Matanya memandang Ibu Haryati.

__ADS_1


"Komandan! Pada saat ditemukan, mayat pak lurah tertelungkup, menghadap mana kepalanya?"


Bu Haryati yang tengah bersandar dibahu suaminya langsung duduk tegak kembali.


__ADS_2