
Suara musik yang mengalunkan semua jenis lagu tak kunjung berhenti di sebuah gedung besar dan mewah. Disana sini terlihat rangkaian bunga bermacam jenis dan warnanya tersusun indah dari pinggir jalan sampai kedalam ruangan. Semua orang yang datang berpakaian mewah dan berdandan sebaik mungkin. Stand makanan dan meja panjang berisi segala macam jenis makanan berjejer rapi disisi kiri dan kanan ruangan. Karpet merah terhampar dari depan pintu sampai ke panggung utama ditemani begitu banyak vas besar yang penuh dengan bunga dikanan dan kirinya.Panggung utama yang didesain dengan indah dihiasi begitu banyak bunga terdapat bebarapa orang yang duduk disana. Panji dan Ratna sedang menggelar resepsi pernikahan mereka.
Panji duduk menggunakan tuksedo lengkap yang semakin menunjukkan ketampanannya. Panji sudah menyelesaikan kuliah kedokterannya dan sekarang akan segera menjadi salah satu dokter bedah termuda di Jakarta. Di sebelahnya duduk istrinya, Ratna. Ratna memakai gaun pengantin berhijab yang membuat kecantikannya begitu menakjubkan seperti putri yang baru saja turun dari kahyangan. Sebelah kanan dan kiri mereka duduk kedua orang tua Panji dan kedua orang tua Ratna yang tak berhenti menebar senyum bahagia.
Entah berapa banyak tamu yang hadir karena gedung yang begitu besar terlihat sangat sesak dengan orang-orang yamg tampak bahagia, dan mereka semua seperti tak ingin malam itu berakhir untuk berbagi kebahagiaan dengan Panji dan Ratna. Sebagian kecil tamu yang hadir adalah mereka yang dikenal Panji dengan baik akibat kinerja yang solid dari kerja trio penyembuh sehingga bisa meminimalisir resiko yang harus ditanggung.
Ratna tak henti-hentinya menebar senyumnya yang menawan, tangannya selalu dalam dekapan tangan Panji yang seolah tak ingin mereka lepaskan. Ratna sudah mencapai titik tertinggi dalam kariernya, namun ia memutuskan untuk berhenti untuk mendampingi suaminya yang akan membuka klinik pribadi, dan ia begitu bahagia dengan keputusannya. Disisi kanan panggung terlihat Nissa, Roy dan Astri dan kawan-kawannya sedang melantunkan suara mereka yang menyenangkan telinga bernyanyi diiringi home band dengan alat musik lengkap.
Tampak deretan tamu yang sedang berbaris rapi menunggu giliran memberkati mempelai yang berbahagia. Panji melihat Ratih menaiki panggung bersama seorang lelaki yang menggendong bayi laki-laki yang lucu menggemaskan. Ratih masih bekerja di klinik milik dokter Ibram dan menemukan jodohnya disana. Ratih memeluk Panji dengan erat dan memeluk Ratna sambil menangis.
"Sudah kubilang jangan menangis! Aku tak mau kecantikanmu luntur karena kau menangis terus" Ratna meledek Ratih, matanya juga berkaca-kaca.
"Air mata bahagia tak akan melunturkan kecantikanku sayang." Ratih kembali memeluk Ratna.
Dibelakangnya ada ibunya Ratih ditemani oleh Gilang. Gilang tampak gagah dan mukanya bersih berseri. Gilang sekarang bekerja sebagai supir diperusahaan Pak Andi. Gilang dan Panji berpelukan erat.
"Aku begitu bahagia ketika engkau mengundangku Panji, mengingat begitu banyak hal buruk yang aku berikan padamu kau malah membalasku dengan kebaikan."
"Kalau masih ada hal buruk yang kau lakukan aku tak segan menangkapmu, biarpun kau sahabatku, dan kau ketua genk kita." Prasetyo berkata dengan galak dari belakang Gilang, Gilang dan Panji tertawa lebar, mereka saling berpelukan dengan erat. Prasetyo datang dari pagi membantu urusan pesta, ia naik keatas panggung mendampingi seorang wanita cantik yang juga seorang polisi.
"Panji! Tolong kau jaga kakakku yang cantik ini, buat dia bahagia, kalau dia bahagia aku tak lagi kena semprot!" Pras langsung mendapat toyoran dikepalanya hadiah dari Ratna.
"Siap komandan! Wani piro?"
"Asem koe! Sudah kau ambil kakakku, masih kau mau ambil duitku juga!" Mereka semua tertawa, Pras mendapat pelukan yang hangat dari kakaknya.
Tak lama berselang paman dan bibinya datang bersama Lily yang memakai gaun indah membawa buket mawar ditangannya. Rambut Lily disanggul indah sehingga menampilkan seluruh wajahnya yang mempesona. Lily mengambil alih bisnis furniture ayahnya dan membawa usaha warisan ayahnya jauh berkembang pesat karena ilmu manajemen yang masih ia pelajari dibangku kuliah. Mereka bertiga menangis tersedu ketika memeluk panji dan Ratna. Pak Burhan juga datang bersama istrinya, Pak burhan sudah pensiun dan sekarang sedang menikmati masa pensiun dengan anak cucunya.
__ADS_1
Rsepsi terus berlangsung meriah, kali ini Ratih, Lily, Pras dan Gilang sudah mengambil alih panggung musik. Mereka membuat para pemain band dan weding singer makan gaji buta. Gilang sangat pandai bermain gitar sementara Pras beraksi dibelakang drum elektrik mengiringi duet Ratih dan Lily, Roy masih duduk disana asyik memainkan gitar bassnya. Disaat semua terrhibur dengan alunan lagu rombongan kepala sipir penjara dan beberapa staffnya yang khusus diundang oleh bapaknya Panji menaiki panggung menyalami Panji dan Ratna. Pak Dedy, kepala sipir penjara menepuk bahu Panji dengan akrab lalu berpelukan erat dengan bapaknya.
Pak Andi dan bu Haryati datang tak lama kemudian. Bu Haryati datang dengan gaun yang mewah yang mempelihatkan bahunya yang indah dan perhiasan yang menyilaukan mata. keanggunannya membuat orang tak akan menyangka kalu dia seorang polisi.
"Kami datang untuk menangkap kalian! Tuduhannya adalah kalian baru mengundang kami didetik terakhir. Aku harus membatalkan semua janjiku hari ini supaya bisa datang kemari!"
"Bukan salahku! Kalian yang pergi honeymoon tak memberi kabar, lagian kenapa ponsel kalian berdua mati berhari-hari?"
"Kau tanyakan kepada peri cantik disebelahmu! Dia selalu menggangguku!" Ibu Haryati merengut.
"Apa salahku? Aku menelepon kalian siang hari kok."
"Disana sudah malam cantiiik! Kau makan bamgku sekolah tidak sih?" Ibu Haryati bekata dengan gemas kepada Ratna. Ratna menepuk jidatnya.
"Awas kau! Kubalas kau nanti malam!" Ibu Haryati dan Ratna tertawa dan komandan langsung memeluk Ratna seolah dia adalah putrinya.
Jarum jam seakan berhenti bedetak ketika dari pintu depan tampak seorang laki-laki dan permpuan bersama kedua anaknya memasuki ruangan. Semua mata memandang tak berkedip kepada mereka. Para wanita memandang dokter Ibram yang sangat tampan dengan tuksedo lengkap dibadannya. Wajahnya dihiasi rambut tipis disisi kanan dan kiri pipinya. Rambut panjangnya yang hitam lurus diikat kebelakang. Kacamata yang ia kenakan menambah wibawanya. Para lelaki tak berkedip memandang Heny. Dia benar-benar seperti bidadari. Kecantikannya begitu sempurna. Baju gamis mewahnya melekat sempurna dibadannya yang indah. Hijabnya dibentuk dengan indah menambah nilai kecantikannya. Makeupnya hanya sederhana karena memang sebetulnya tak perlu. Mata biru dan senyum mempesona tak pernah lepas dari bibirnya. mereka yang sedang asyik main musik sampai berhenti untuk menghormati kedatangan mereka.
"Astaga Kak, kau cantik sekali seperti bidadari! Aku minder berada disampingmu. Berapa umurmu sekarang? 25?" Ratna memuji Heny saking kagumnya.
"Dua puluh bulan depan." Heny tertawa bahagia. Ratna langsung memeluk putri kedua Heny yang datang menghampiri mereka. Yasmin sangat cantik mirip ibunya. Ratna tak perduli dengan gaun pengantinnya, menciumnya bertubi-tubi hingga Yasmin tertawa kegelian. Nissa menghambur naik kepanggung memeluk Heny, tawa Heny berganti menjadi tangis bahagia.
"Kau baik-baik kan sayang? Bagaimana skripsimu?" Heny mengusap air mata Nissa dengan lembut.
"Baik Kak, aku sudah bisa wisuda semester depan." Nissa kembali memeluk Heny dan bermanja dipelukannya.
"Panji! Kau jaga adik-adikku yang cantik ini! Kalau kudengar ada satu tetes saja air mata mereka yang jatuh, aku tampar kau bolak -balik." Mata Heny menatap galak kearah Panji, namun senyum bahagianya tak lepas dari wajah cantiknya.
__ADS_1
"Kau hebat Bang! Betah punya istri yang cantik tapi galak kaya begini!' Panji meledek Ibram.
"Aku punya kurungan macan dirumah, aku kurung dia disana kalau dia lagi kumat!" Kali ini tatapan mata galak Heny beralih ke ibram.
"Tapi setiap kali kau kurung aku kedalam kau ikut masuk juga, ngapain coba?" Kali ini Ibram mati gaya tak mampu membalas ledekan Heny.
"Aku tak akan melepasnya Kak, dia milikku sekarang, lihat? Dia menempel denganku!" Ratna berkata sambil mengedong Yasmin putri Heny, Yasmin juga sangat nyaman digendong Ratna.
"Kalau begitu aku bopong kalian berdua sekarang, aku angkut kalian kerumah. Biar Panji tidur sama guling malam ini." Panji garuk-garuk kepala mendengar celoteh Heny.
"Sayang, Berikan dia ke ibunya, aku tak mau tidur dengan guling malam ini. Aku akan berikan kau sepuluh anak!"
"Sepuluh? Astaga!" Ratna menempelkan tangan ke jidatnya, merubah ekspresi wajahnya seolah sangat lelah sambil geleng-geleng kepala. Semuanya tertawa bahagia.
Acara resepsi pernikahan hampir usai semua tamu VIP berkumpul dalam satu tempat. Home band masih bernyanyi memainkan permintaan lagu dari mereka. Mereka berkumpul bercakap, bergurau dan bertukar cerita bersama-sama.
"Panji, Ratna! Kami tak sempat bawa kado, kami hanya bisa berikan ini sebagai hadiah perkawinan kalian." Pak Andi tiba-tiba berdiri dan menghampiri Panji yang membuat suasana hening seketika. Panji menerima kado kotak ukuran kecil dan mengucapkan terima kasih. Teriakan untuk membuka kado bergema dari seluruh tamunya. Panji membuka kado yang isinya ternyata beberapa anak kunci yang tidak baru, sebagian sudah berkarat. Walau sedikit bingung Panji mencoba menyembunyikan kebingungannya.
"Itu kunci rumah kalian di Kebumen. Kamilah yang dahulu membeli rumah kalian. Sekarang kami berikan kembali kepadamu sebagai hadiah perkawinan." Panji tak tahu harus bilang apa, ia memeluk pak Andi dan menghampiri bu Haryati dan memeluknya sebagai ucapan terima kasih, Ratna mengikuti apa yang dilakukan Panji.
"Bolehkah saya berikan kepada bapak ibu saya? Sebagai ucapan terima kasih karena mereka telah membimbingku sampai seperti ini." Pak Andi dan bu Haryati mengangguk diikuti tepuk tangan dari semua yang hadir.
Seketika seorang security menghampiri bapaknya Panji menyampaikan ada orang yang ingin bertemu dengamnya. Tak lama kemudian Pak Sudibyo sudah kembali dan menuntun seorang lelaki tua yang rambutnya sudah memutih semua, badannya sudah kurus tapi masih kuat berjalan dengan baik meski dibantu tongkat. Ibunya Panji tampak kaget melihat sosoknya.
"Panji, Nissa, ini Pak Suwito, adik almarhum kakekmu. Artinya dia Pamanku! Kau masih ingat beliau Bu?"
"Aku ingat! Walaupun sudah berapa tahun tak jumpa" Ibunya Panji langsung berdiri mencium tangannya, dikuti Panji, Nissa dan seluruh tamu yang ada ikut menyalaminya. Panji mempersiapkan kursi buat kakeknya dan mempersilahkan beliau duduk.
__ADS_1
"Nah, Panji kau mau tahu darimana kekuatan kita berasal? Begitu juga aku. Kakekmu inilah yang tahu dan beliau akan menceritakan semuanya."
Kakek Suwito mulai bercerita...