
Jam sudah menunjukan pukul delapan malam. Panji Ratna dan Nissa baru saja menghabiskan makanan yamg ada dimeja mereka. Langkah mereka untuk meninggalkan meja terhenti ketika datang dua orang laki-laki berjaket kulit hitam menghampiri mereka. Laki-laki yang satu tak ada rambutnya alias botak yang satu lagi rambutnya jabrik. Panji merasa mengenali mereka tapi entah dimana. Sementara Nissa dan Ratna terlihat bingung dan takut.
"Selamat malam, apa benar Abang yang bernama Panji?" Yang berkepala botak bertanya langsung kepada Panji, walaupun mukanya terlihat sangar namun nada bicaranya ramah.
"Benar, saya sendiri, Abang berdua siapa dan ada urusan apa dengan saya?" Panji masih mencoba mengingat wajah mereka, namun tetap tak mampu mengenalinya.
"Abang tak ingat kami? Ingat kejadian di taman cendrawasih tempo hari? Abang menyikut hidung saya, dan teman saya Abang banting, sekarang boss saya ingin bertemu bang Panji."
"Astaga!" Panji terkesiap. Mereka teman-teman lelaki yang dihajar Panji sampai pingsan. Rasa cemas mulai menjalar di tubuh Panji, dan dari kejauhan ia melihat lelaki itu yang dipanggil bos oleh mereka berjalan menghampiri mereka. Dia lebih rapi dan segar, rambutnya masih gondrong tapi Ketika Roy sampai ia langsung menjulurkan tangannya kepada Panji dengan senyum ramah, Panji menyambutnya.
"Apa kabar Panji, boleh kami bergabung dengan kalian?" Roy tak menunggu jawaban Panji, dia menyuruh kedua temannya mengambil dua buah meja dan enam kursi digabungkan dengan meja mereka, Ratna dan Nissa masih bingung. Panji menghitung kursi yang disiapkan.
"Siapa lagi yang akan datang? Polisi? Pengacara mereka?" Panji mencoba tenang walaupun jantungnya berdetak tak karuan.
"Kau sudah ingat kami Panji? Aku Roy, aku mau berterima kasih kau memang benar telah menyembuhkan penyakitku."
"Aku juga Bang, aku juga berterima kasih karena sikutan Abang menyembuhkan sinusku." Yang Jabrik menyerocos memotong pembicaraan Roy.
"Et dah! Nyalip bae kaya sopir angkot! " Roy menyikut si jabrik. Panji, Ratna dan Nissa bernapas lega.
"Bagaimana kalian bisa menemukanku di sini?" Panji bertanya hanya untuk mencairkan suasana.
"Kalianlah yang menemukan kami! Bengkel mobil kami ada di depan restoran ini." Roy menunjuk sebuah bengkel mobil persis diseberang jalan tempat duduk mereka. Panji, Ratna dan Nissa menoleh, tampak sebuah bengkel mobil yang sudah tutup namun masih terlihat baru cat dan logonya.
"Kami insyaf jadi preman sejak kami disembuhkan oleh Bang Panji." Si jabrik kembali kena sikut tangan Roy kali ini lebih sakit dari yang tadi, ia meringis.
"Bisa enggak mulutmu kau sumpal? nyerocos bae kaya petasan kiplik." Kali ini Roy bergaya marah. Tingkah Roy mengundang tawa semua yang ada di meja.
"Alhamdilillah kalau begitu, tapi jangan panggil aku abang, aku lebih muda dari kalian, panggil saja Panji, dan ini Nissa dan Ratna."
"Dalam hal ini umur bukan yang menentukan, -Jabrik langsung menutup mulutnya dan ngacir berpindah ke kursi sebelah sibotak, takut kena sikutan Roy yang sudah menatap dengan galak.
"Din! Kau suruh dia belikan kopi cap teko di Bogor sana!' Roy mengambil selembar uang dua ribuan lusuh yang langsung disodorkan kepada temannya. Temannya yang bernama Udin mengesernya ke si Jabrik yang hanya bisa garuk-garuk kepala, Semua tertawa.
Saat mereka tertawa datang seorang laki-laki berparas tampan dan seorang wanita cantik anggun berhijab. Ditengah mereka seorang bocah lelaki tampan yang sangat lucu meggemaskan. Melihat mereka datang Roy dan kawannya berdiri.
__ADS_1
"Bang! Ini Panji, orang yang menyembuhkan penyakit kita." Ibram menjulurkan tangannya dengan ramah kepada Panji yang masih duduk.
"Saya Ibram, ini istri saya Heny dan ini Arsyad, putra kami, Kau ingat kejadian tempo hari ditaman? Aku berterimakasih kepadamu, Kau telah mengembalikan hidup kami." Panji berdiri menyambut uluran tangan Ibram dan juga Heny. Nissa dan Ratna juga berdiri bersalaman menyambut mereka.Nissa mempersilahkan mereka duduk.
"Sudahlah, bukan aku yang menyembuhkan kalian, aku hanyalah perantara saja. Kenalkan ini Khoirunnissa adikku dan ini teman kami Ratna."
"Ini adikmu? Wow anggun sekali, berhijab bikin dia semakin anggun , luar biasa. Dan ini temanmu? Teman apa pacar? Ini juga luar biasa cantiknya, cantik alami tanpa polesan make up." Istri Ibram tak tahan untuk tak memuji kecantikan dua wanita didepannya. Ucapan terima kasih keluar dari mulut keduanya, muka Ratna langsung berwarna tomat.
"Pacar? Entahlah. Dia masih berrhitung untung ruginya pacaran denganku." Mata Panji memandang Heny tapi ia mengerling kearah Ratna yang akhitnya kepala Panji sukses menjadi pendaratan sebuah sendok plastik hasil lemparan Ratna.
"Kau senang melempar ya? Pasti suka main basket, mau dong aku jadi keranjangnya." Roy menggombali Ratna, Ratna tersenyum malu.
Mereka semua berbincang akrab bercanda seakan sudah lama saling mengenal. Makanan pesanan baru kembali datang. Panji dan kawan-kawan terpaksa memesan kembali untuk menghormati mereka yang baru datang. Sesekali Arsyad yang menjadi pusat perhatian dengan tingkahnya yang lucu.
Dari pembicaraan itu mereka akhirnya tahu kalau Ibram ternyata seorang psikolog, bertugas di salah satu rumah sakit jiwa di Jakarta. Istrinya seorang desainer. Dan mereka bercerita bagaimana kehidupan rumah tangga mereka diselamatkan oleh Panji, tiba-tiba Arsyad menyela.
"Papi mami sudah tidak berantem lagi Om! Tapi Papi bohong! Katanya kalau tidak berantem lagi mau kasih Arsyad adik perempuan."
"Papi lagi berusaha Bang! Siang malam pagi sore papi terus berusaha!" Ibram berkata kepada anaknya sambil mengerling Henny yang tertawa malu.
"Benarkah?" Heny mengangguk tersenyum manja.
"Sudah dua strip biru tadi pagi." Mendengar perkataan istrinya Ibram langsung memeluk Heny dengan erat dam menciumnya dengan mesra.
"Tolong ya! Ini restoran, bukan hotel! Banyak orang dibawah umur disini!" Roy berkata ketus, semua orang tertawa.
"Dan satu-satunya bujang lapuk disini cuma kamu Roy!" Ibram membalas ledekan adiknya.
"Tunggu saja sebentar lagi!"
Roy tidak bohong, tak lama berselang datang seorang perempuan muda tinggi semampai, hitam manis dengan rambut terurai panjang. melambai ke pada Roy yang mengajaknya bergabung.
"Bamg! Ini Astri, calon istriku!" Wanita itu tersenyum kepada Ibram yang diperkenalkan Roy sebagai abangnya, ia menjulurkan tangan yang disambut hangat oleh ibram.
"Kukira kau bercanda ingin kawin! Tapi tunggu, Kau kenal dimana dengan adikku?" Ibram bertanya kepada Astri sambil nyengir.
__ADS_1
"Aku beli kuaci pas aku buka bungkusnya keluar si Roy!" Astri menjawab pertanyaan ibram sekenanya, Roy langsung tepuk jidatnya dan geleng geleng kepala. Semua tertawa dengan jawaban Astri.
"Kau yakin mau jadi istrinya Roy? Aku tak tahu matamu katarak atau kau kena pelet Roy." Ibram masih menggoda Astri.
"Salah satunya pasti benar!" Astri tertawa, kepala Ibram langsung kena toyor adiknya. Ibram langsung yakin kalau Astri yang humoris dan tidak baperan akan cocok sama Roy.
Jam sudah menunjukan pukul sembilan lebih restoran sudah hampir kosong tapi meja disudut tetap ramai. Ibram mulai menanyakan hal-hal yang lebih serius kepada mereka bertiga. Panji juga menceritakan bagaimana kekuatan yang ia punya menimbulkan masalah buat dirinya. Panji merasa aneh pada dirinya sendiri, ia begitu saja bercerita kepada orang lain yang baru ia kenal. Secara naluriah ia begitu saja merasa akrab dengan keluarga mereka.
"Bagaimana kau bisa punya kekuatan yang menakjubkan ituPanji?"
"Entahlah, mungkin keturunan bapak, bapakku juga punya kekuatan yang sama."
"Bapakmu menghadapi kesulitan yang sama denganmu?"
"Tentu saja, kampung kamu, Sampang Sempor hanya kampung kecil dikebumen."
"Sampang Sempor? Ibram berpikir sejenak. "Oh iya, aku punya pasien wanita muda dirumah sakit yang juga berasal dari sana. Umurnya mungkin tak beda dengan Ratna." Ibram berkata dengan nada biasa. Reaksi Panji dan Nissa berbeda, mereka saling pandang penuh minat.
"Boleh aku tahu namanya dokter? Dan kenapa ia dirawat disana?"
"Maaf aku tak bisa memberitahukan itu kepada orang lain, privasi pasien harus dilindungi dokter, tapi kondisinya tak juga membaik, tingkat depresinya sangat tinggi, sangat takut melihat orang lain. padahal sudah dua tahun aku merawatnya, aku tak tahu bagaimana lagi mengobatinya."
Nissa dan Panji tak bisa berkata-apa-apa lagi tapi rasa ingin tahu dan kecerdikan Nissa mendorongnya untuk tak melepas kesempatan ini.
"Dokter, bolehkah kami datang mengunjungi dokter? Ibu kami juga mengalami depresi, sekarang ada di panti rehabilitasi di Jogjakarta, kami mungkin butuh konsultasi sama dokter supaya ibu kami bisa sembuh."
"Oh tentu saja! Aku dengan senang hati menerima kalau kalian datang. Aku akan membantu kalian dengan hidupku kalau perlu, kalian sekarang adalah saudaraku." Ibram mengeluarkan kartu namanya lalu memberikan kepada Nissa, Nissa melihat sedikit lalu tak lupa ia mengucapkan terima kasih.
"Oh ya aku hampir lupa, aku punya hutang kepadamu Panji, sepuluh juta karena kau menyembuhkan penyakitku. Aku minta diskon karena kau memukulku dua kali sedang kau janji hanya satu kali" Roy tertawa. Ia mengeluarkan dua tumpuk uang yang masih baru diberikan kepada panji. Panji melihat angka yang tertera dikertas pengikatnya sebesar 10 juta, dua tumpuk berarti 20 juta. Panji baru saja akan berkata, tapi Heny menahannya.
"Terimalah Panji" Heny juga mengeluarkan uang dari tasnya, bedanya uangnya terbungkus amplop, tumpukannya lebih tinggi dari punya Roy. " Ini juga ungkapan terima kasih kami yang sebenarnya tak bisa dinilai uang karena begitu besar jasamu buat hidup kami, Simpanlah Kalau kau ingin jadi dokter, nanti mas Ibram akan membantu memilihkan kampus yang baik untukmu dan membantu kau dalam proses masuknya." Heny berkata lembut. Ibram langsung menyela.
"Bukan sayang! Aku memberikan itu kepada Panji karena Aku senang dia telah dua kali memukul Roy sampai jatuh, Aku ingin melakukannya dari dulu tapi Aku tak bisa dan tak ada orang diwilayah ini yang bisa memukul Roy!" Ibram tertawa terbahak -bahak.
"Sialan kau Bang! Dendam rupanya Kau sama Aku!"
__ADS_1
Semua orang tertawa.