
Pak Slamet tinggal bersama dengan Hana dan suaminya. Hana dan suaminya belum lama menikah. Mereka tinggal dirumah kontrakan dipinggiran Jakarta. Keduanya tampak bahagia dan mereka juga menyambut ketiga tamunya dengan ramah. Pak Slamet sudah menyampaikan kepada mereka siapa yang datang bertamu kerumahnya saat ini.
"Aku tak menyangka bisa bertemu kalian disini. Panji, Kau sudah dewasa sekarang, tak kusangka Kau jadi pemuda gagah dan setampan ini, dan kau Nissa, Kau cantik sekali seperti ibumu." Hana berkata dengan sopan dan ceria.
"Terima kasih Kak, kak Hana juga semakin cantik, sudah berapa lama kita tak bertemu ya Kak?"
"Sudah lebih dari dua tahun, kau masih pakai seragam putih biru kalau tak salah."
"Kak Hana kapan menikah?"
"Baru empat bulan, sejak itu bapak tinggal disini. Oh ya Aku mau mengucapkan terima kasih kalian telah menyembuhkan bapakku, aku tak tahu bagaimana membalas budi kepada kalian."
"Oh maaf Kak Hana, kami datang tidak bermaksud untuk itu, kami hanya mau bersilahturahmi dan minta sedikit informasi dari Kakak, mungkin Kak Hana sudah diceritakan sedikit oleh bapak kenapa beliau sampai menginap dirumah kami." Panji menjelaskan.
"Ya, Bapak sudah bilang, tapi aku tapi aku tak tahu aoa-apa soal itu, aku sudah bekerja di Jakarta saat peristiwa itu terjadi."
" Sebelummnya saya ingin minta maaf sebesar-besarnya kepada Kak Hana, karena yang akan kami minta penjelasannya mungkin sesuatu yang kelam yang tak ingin diingat lagi oleh Kak Hana, tapi kami memohon kalau Kak Hana berkenan kami yakin itu menjadi kunci untuk memecahkan kasus ini." Nissa kembali memainkan diplomasi tutur katanya yang luar biasa, Hana menjadi penasaran, ia memandang Nissa dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Menurut Bapak, Kak Hana bekerja di Jakarta karena ada gangguan saat Kak Hana kerja di kantor kelurahan, bagaimana sebenarnya yang terjadi?" Hana tercekat ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Nissa. Lidahnya kelu, ia memandang saemua orang satu-persatu. Tatapannya jatuh kepada suaminya yang ikut berkumpul bersama mereka. Ia tertunduk, suaminya menghampiri dan memegang tangannya. Hana menangis.
"Ceritakanlah sayang, jangan khawatir, aku tak perduli masa lalumu, aku mencintaimu apa adanya. Mereka tulus membantu bapak, kita juga harus bisa bantu semampu kita."
__ADS_1
Hana masih menangis, ia mengangguk kepada suaminya dan tersenyum, suaminya balas tersenyum. Hana menahan nafas mencoba mengeluarkan semua yang dipendamnya.
"Saat iti baru saja bada isya, aku masih dikantor kelurahan, ada beberapa pekerjaan yang terpaksa harus aku selesaikan hari itu juga. Tinggal aku dan seorang hansip yang ada dikelurahan. Tiba-tiba aku terkejut karena pak lurah Prayitno datang. Ia mengendarai mobil sendiri. Hansip disuruh oleh beliau mencuci mobilnya. Beliau tampaknya tak tahu aku ada dikantor. Beliau juga kaget begitu melihatku. Beliau mabuk berat, dari mulutnya tercium aroma minuman keras. Aku menyapa sopan. Ia tak membalas sapaanku. Ia memandangku dengan tajam, dan mulai menyerangku." Air mata Hana kembali menetes, ia mencoba menahan untuk tak menangis, tapi akhirnya ia tetap tersedu sedan.
"Aku berusaha berontak, tapi ia begitu kuat, pakaianku sudah tanggal semua bahkan dalamanku dengan buas ia sobek, aku sudah pasrah, tenagaku sudah habis, tanganku sudah dicekal dengan kuat, aku hanya bisa berdoa memohon keajaiban datang." Kali ini tangis Hanna lebih keras, suaminya memeluknya memberi dukungan.
"Tuhan mendengar doa saya, seorang lelaki datang, ia menarik pak lurah dari atasku, sebelum beliau sempat merusak kehormatanku. Dia memberikan aku jaketnya untuk menutupi tubuhku, iia menyeret pak lurah keluar dan membawanya kembali kedalam mobil. Sebelumnya ia sempat mtenghajar Hansip didepan yang lalai. Hansip itu disuruhnya buka celana dan menyerahkan celananya padaku. Aku pulang dengan jaket lelaki itu dan celana hansip."
Semua yang diruang tamu tak bisa menahan airmatanya ikut merasakan begitu beban berat yang selama ini disimpan didalam memori Hana. Hana menangis tersedu, ia bersujud di kaki suaminya.
"Maafkan aku Mas, aku merahasiakan ini kepadamu." Suaminya menarik Hana bediri, ia menghapus air mata Hana dengan tangannya, ia tersenyum.
"Siapa lelaki yang menyelamatkan Kak Hana?" Nissa kembali bertanya ketika Hana sudah kembali duduk dikursinya dengan lebih tenang.
"Gilang! Sejak kejadian itu aku baru tahu ternyata pak lurah memang tak pernah pulang kerumah, ia selalu kembali kekantor. Pantas aja tak ada pegawai kelurahan yang mau lembur. Aku karyawan baru saat itu."
"Yang lebih menyakitkan buat Hanna adalah Aku harus menyuruhnya meninggalkan rumah, meninggalkan ibunya. Ia awalnya menolak Tapi Aku bersikeras, Aku tak mau yang selanjutnya pak lurah berhasil menodai anakku, karena Aku tahu Aku tak akan mampu menghadapi pak lurah dan kekuatannya. Besok paginya langsung kuantar dia ke Jakarta. Kutitipkan ia dirumah sahabat baikku. Malami tu ia dan ibunya menangis sampai pagi." Pak Slamet yang dari tadi hanya diam saja melanjutkan cerita Hana, Hana menghampiri bapaknya bersimpuh dihadaoannya memegang dan mencium kedua tangan bapaknya.
"Tidak! Bapaklah yang menderita karena Aku, ibu langsung stroke begitu Aku pergi. Bapak tak pernah cerita padaku, dan dia melarang ibuku bercerita kepadaku setiap Aku telepon kerumah, ibu selalu bilang sehat-sehat saja. Bapak berusaha melindungiku dan tetap merawat ibu dengan sabar sampai ibu meninggal. Bapak tak lagi memperdulikan dirinya sampai terkena kanker pankreas Aku tak tahu bagaimana Aku bisa membalas kebaikan Bapak." Hana menangis lalu merebahkan kepalanya dipangkuan bapaknya. Pak Slamet menangis tersedu sambil membelai rambut putri semata wayangnya.
Malam sudah begitu larut ketika mereka sampai kerumah. Ratna kembali meminta izin kepada orangruanya untuk menginap. Semua lelah dan letih yang dirasakan badannya tak akan mampu mengalahkan gelombamg emosi yang menghantam jiwa kedua kakak beradik yang sedang duduk termenung disofa. Ratna berpikir tak ada yang manusia yang mampu merasakan apa yang dirasakan mereka saat ini. Makanan yang ia pesan hanya tergeletak dimeja tanpa ada seorangpun yang berniat menyentuhnya. Ratna tak tahu harus berbuat dan berkata apa kepada mereka. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri, ia yang biasa ceplas-ceplos tak karuan kali ini benar-benar mati gaya.
__ADS_1
Malam semakin larut, akhinya Panji bergerak menuju kamar mandi. Ia memutuskan mandi dan melaksanakan sholat sebelum pergi tidur. Nissa melakukannya sesudah Panji. Nissa member isyarat kepada ratna bahwa ia ingin tidur. Ratna yang dari tadi duduk menatap mereka berdua mengikuti langkah Nissa kekamar. Malam terus berjalan detik demi detik berlalu. Ratna tak bisa tidur, dan ia tahu Nssa juga tak mampu memejamkan matanya. Ratna merasa kagum dengan ketangguhan mental dua remaja ini dan ia yakin andaikata dirinya yang menerima cobaan ini, entah apa yang diperbuatnya. Ayahnya memutuskan pergi ketika usahanya tersendat dikampung. Prasetyo menjadi berandalan ketika dia tahu kena penyakit paru-paru basah yang nyaris mengubur mimpinya jadi polisi. Ratna bertanya dalam hatinya darimana kekuatan itu datang. Jawabannya ada pada sajadah dan mukena yang terlipat rapi dipinggir ranjang. Ia telah begitu lama tak menyentuhnya. Mata Ratna mulai berkaca-kaca. Sssuatu didalam dirinya menuntunnya ke kamar madi mengambil air wudhu dan ia mengenakan mukenanya. Nissa yang memang tak bisa tidur mengamati gerak gerik Ratna langsung menangis bahagia tanpa suara.
Setelah sholat shubuh ketiganya sarapan bersama bersiap melakukan aktivitas mereka seperti biasa.
"Mas Panji, apakah kita jadi berangkat hari sabtu ini menengok ibu?"
"Jadi! Sekalian kita mengunjungi bapak."
"Kalau begitu kita berangkat jumat sore, kita menginap semalam di hotel baru paginya bergerak lagi."
"kau mau ikut?" Panji menatap Ratna.
"Kau mau melarangku? No way!"
"Apakah Mas Panji akan menekan bapak untuk menceritakan sebenarnya?" Nissa mengalihkan potensi keributan antar leduanya.
"Tentu saja Nissa, mungkin kamu yang lebih panda miembujuk bapak agar bercerita, karena semua yang kita ketahui tetaplah belum menjadi kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran sesungguhnya ada di mulut bapak dan ibu kita."
"Bagaimana kalau bapak tetap bersikukuh tak mau cerita?"
" Nah! Kau pikirkan strateginya dari sekarang, tak boleh gagal, ok!" Panji berdiri sambil menarik hidung Nissa dengan dua jarinya.
__ADS_1