KUTUKAN Atau ANUGERAH

KUTUKAN Atau ANUGERAH
Rumah Sakit Jiwa


__ADS_3

Pertemuan mereka dengan keluarga Ibram menimbulkan bekas yang mendalam dalam ingatan Panji. Selain mendapatkan rezeki yang tak terduga untuk biaya kuliah, Panji menjadi penasaran siapa orang kampungnya yang dirawat oleh dokter Ibram. Pembahasan dilanjutkan oleh mereka dalam perjalanan pulang. Nissa pulang berdua dengan Panji sedangkan Ratna langsung kembali kerumahnya.


"Aku punya perasaan bahwa yang dirawat dirumah sakit jiwa adalah orang yang kita kenal, kita harus cari tahu siapa yang disana." Panji berkata kepada Nissa saat mereka sarapan bersama.


"Aku setuju, kita harus kesana." Nissa mengeluarkan kartu nama Ibram dari dompetnya.


"Disini tertera alamat rumah sakit tempat dokter Ibram bekerja, mungkin kita perlu strategi khusus untuk mencari informasi apabila dokter Ibram tetap mempertahankan prinsipnya."


"Kita butuh bantuan Ratna kalau begitu, kau hubungi dia dan atur kapan kita berangkat kesana, minggu ini aku shift pagi." Panji begitu beeawmangat, Nissa mengacungkan jempolnya, mereka menyelesaikan sarapan dan berangkat memulai aktivitas mereka.


Hari yang ditentukan tiba, sore hari setelah jam kerja usai mereka bertiga berangkat menuju rumah sakit tempat dokter Ibram bekerja. Dokter Ibram sudah dihubungi bahwa mereka akan datang, Tiba dirumah sakit mereka langsung menuju ruangan dokter Ibram. Ibram menyambut kedatangan mereka dengan ramah dan mempersilahkan mereka masuk.


"Bagaimana Ibumu bisa depresi?" Dokter Ibram bertanya setelah berbasa-basi sejenak.


"Ibu saya saksi pembunuhan yang dilakukan bapak. Persis dihalaman rumah kami." Panji menjawab tanpa basa-basi, Ibram terperanjat.


"Pembunuhan?"


"Betul dokter, pembunuhan ini sangat janggal, orang yang dibunuh bapakku sebenarnya datang untuk berterima kasih karena penyakit jantungnya sudah disembuhkan oleh Bapak. Bapak mengaku sebagai pelaku tunggal. Polisi tak mau repot mencari motif, saksi, bahkan tidak melakukan otopsi , karena sudah ada pelakunya. Satu-satunya saksi hidup adalah ibu saya yang langsung depresi menyaksikan pembunuhan itu."


Ibram mendengarkan dengan cermat setiap kata yang disampaikan Panji. Ibram tak menyangka persoalan dua remaja ini begitu pelik. Ia kagum kepada Panji yang masih sangat muda tapi berhasil mengendalikan dan mengontrol emosi dan pikirannya tetap dalam jalur yang benar, terlebih Panji harus berurusan dengan kekuatannya. Ibram masih mencubit-cubit janggutnya.


"Jadi maksudmu, ada orang lain yang melakukannya? Apakah ada petunjuk kearah kesana?"


"Banyak sekali dokter, tapi sangat lemah, semua tergantung kesaksian ibu saya."


"Tapi walaupun ibumu sembuh kesaksian ibumu sangat lemah dipengadilan, mungkin butuh waktu setelah terbukti ia bisa hidup normal baru kesaksiannya diterima."

__ADS_1


"Ya itu lebih baik dokter, paling tidak ada harapan buat saya."


"Baiklah, untuk lebih mempercepat prosesnya, kau urus kepindahan ibumu kemari. Aku akan bekerja semampuku untuk menyembuhkan ibumu."


"Bisakah aku melihat-ruangan dimana dia akan tinggal dokter? Aku ingin memberi yang terbaik buat ibuku."


"Baiklah, aku akan jadi guide touring kalian disini." Ibram tersenyum lebar, ia melangkah keluar diikuti Panji kemudian Ratna menyusul dibelakang Panji.


Wisata rumah sakit jiwa berjalan singkat, Panji dan Ratna cuma memberi waktu supaya Nissa masuk ke ruangan dokter Ibram untuk mencari informasi yang mereka butuhkan. Setelah merasa cukup keduanya berpamitan kepada dokter ibram.


"Aku mengucapkan terima kasih kalian telah datang kemari, jangan lupa Panji, kau urus kepindahan ibumu, aku buatkan rekomendasinya, surat rekomendasi bisa langsung saya kirim lewat fax kesana, dan salam buat Nissa."


"Baik dokter, akan kami sampaikan, terima kasih atas bantuannya."


Mereka berpisah digerbang depan, Panji dan Ratna menunggu kedatangan Nissa dengan harap-harap cemas. Lama ditunggu Nissa tak juga datang, mereka khawatir Nissa menghadapi kesulitan didalam. Mereka mengatur strategi untuk memancing dokter ibram keluar ruangan, saat mereka keluar, Ratna menempelkan sisa permen karet kepintu agar pintu tak terkunci. Nissa yang bersembunyi langsung menyelinap masuk untuk mencari informasi. Akhirnya Nissa terlihat menghampiri mereka, wajahnya pucat pasi, tubuhnya bergetar hebat.


"Ini lebih menakutkan dari hantu, Aku tak bisa menjelaskan, Mas Panji datanglah ke kamar 402. Biar Mas Panji menyaksikan sendiri."


Panji masih bingung dengan penjelasan Nissa, tapi rasa ingin tahunya membuatnya melangkah kembali ke dalam rumah sakit. Ratna hendak menemaninya, tapi Panji meminta Ratna menemani Nissa yang masih pucat pasi, tubuhnya masih gemetar.


Untuk menghindari kecurigaan petugas Panji tak mau bertanya, ia berinisiatif mencari sendiri kamar yang ditunjukkan Nissa.


Setelah ia menemukan kamar yang dimaksud, ia mengintip lewat kotak kaca kecil yang ada disamping pintu. Panji terguncang hebat ketika melnyaksikan siapa yang didalam ruangan. Seorang wanita yang rambutnya panjang awut-awutan. Kurus kering, tatapan matanya kosong, tubuhnya diselimuti pakaian yang mengikat tangannya. Sekeliling temboknya dilapisi lapisan busa. Hanya kotak kaca ini yang tak dilapisi. Kasurnya terletak dibawah. Jantung Panji berdegup hebat, air matanya jatuh berlinang. Dan yang lebih menyedihkan lagi ketika wanita itu mencoba membenturkan badan dan kepalanya ketembok, setelah itu ia menangis, melolong, menjerit entah apa definisinya Panji tak sanggup menjelaskan. Tubuh Panji menggigil, ia tak sanggup lagi melihatnya.


Panji sudah sampai gerbang depan rumah sakit, tapi tak ada Ratna dan Nissa, ia memeriksa ponselnya, ada pesan mereka menunggu di kedai kopi seberang rumah sakit. Panji langsung menuju kesana. Ratna melihat Panji masuk kedai dengan keadaan persis sama seperti Nissa tadi. Nissa sudah terlihat agak tenang setelah Ratna memaksanya minum dan menelan apapun yang ia bisa telan. Panji duduk bergabung dengan mereka tapi tak satupun kata yang bisa keluar dari mulutnya. Minuman yang telah dipesan Ratna disodorkan buat Panji. Ia langsung meminumnya habis tanpa sisa. Setelahnya Panji terlihat lebih tenang Akhirnya Nissa berbicara.


"Aku membuka komputer dokter Ibram, melihat daftar pasiennya, tak kupercaya aku menemukan nama Dewi Lilyana Sari, Kak Lily, anak perempuan Paman." Ratna terkejut, Panji sudah tak lagi terkejut.

__ADS_1


"Sudah berapa lama dia dirawat disana?" Ratna bertanya.


"Seperti kata dokter Ibram, sudah lebih dua tahun."


"Apa penyebabnya?" Kali ini Panji yang bertanya. Nissa tak langsung menjawab, lidahnya kelu ia menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya beberapa kali.


"Pemerkosaan!" Ratna dan Panji langsung syok.


"Siapa yang perkosa kak lily, dimana kejadiannya?" Panji bertanya.


"Tak ada dalam laporannya."


Tidak ada yang berkata-kata untuk sekian waktu yang cukup lama. Ratna mengingat sesuatu kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan meletakkan dimeja. Nissa dan Panji memandang Ratna tak mengerti apa maksudnya.


"Kalian ingat kesaksian Pak Slamet? Semua ada didalam sana."


"Bagian yang mana?"


"Pak Slamet bilang kalau anaknya terpaksa pindah kerja ke Jakarta, kenapa?" Ratna mengajukan pertanyaan kepada keduanya.


"Anaknya di ganggu pak lurah!" Panji dan Nissa setengah berteriak hampir bersamaan.


"Benar! Kak Hana dulu kerja di kelurahan, dia sangat baik padaku, dia selalu menyapaku setiap kami bertemu." Nissa berkata dengan emosi meluap.


"Kita harus kerumah Pak Slamet sekarang!"


Dalam perjalanan tak ada satupun yang mengeluarkan suara. Ratna memahami kegundahan hati dua bersaudara yang ada dimobilnya. Dia yang biasanya mengendarai sambil memutar lagu dengan volume keras dimobilnya kali ini tak ada sedikitpun suara yang keluar. Mereka tiba di depan rumah Pak Slamet. Pak Slamet menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Pak Slamet tinggal bersama Hana dan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2