KUTUKAN Atau ANUGERAH

KUTUKAN Atau ANUGERAH
Panji, Gilang dan Prasetyo


__ADS_3

Mereka telah meninggalkan gedung penjara untuk kembali ke penginapan. Rencana menjenguk ibunya ditunda karena Ratna sudah menghubungi Ratih untuk menemui mereka di tempat mereka menginap. Sesuai rencana semula mereka akan berterus terang kepada Ratih dan meminta Ratih menemui Lily. Hal ini juga didukung oleh dokter Ibram yang mengatakan permohonan maaf dari pelaku atau keluarga akan sangat membantu proses penyembuhan korban, khususnya Lily. Dalam perjalanan kembali pembicaraan mereka masih tetap seputar orang tua Panji.


"Kalau saja ada piala oscar untuk kasus ini, bapak dan ibu kalian pantas mendapatkannya."


"Bapakku dapat dua,, aktor dan sutradara terbaik." Nissa terkekeh walaupun hatinya masih terasa pahit seperti empedu.


"Betul! Ibu memainkan peran yang sempurna. Kau tak akan percaya! tatapan mata kosongnya betul-betul nyata. DiawaI pertemuan ia seperti tak mengenalku. Aktingnya luar biasa!" Panji begitu gemas.


"Dia memberi Mas Panji dan Ratih petunjuk, membuat kita benar-benar mencari jawaban."


Ratna memperhatikan kedua bersaudara yang sedang menunjukkan emosinya, entah kesal, marah kecewa atau malah bangga kepada orang tuanya Ratna tak bisa memastikan. Tapi satu hal yang pasti mereka berdua luar biasa. Ratna tak bisa membayangkan kehidupan sulit keduanya diawal ketika peristiwa itu baru terjadi. Mereka dikorbankan dan dijadikan kelinci percobaan oleh orangtua mereka untuk jangka waktu yang cukup lama. Dan yang lebih luar biasa lagi mereka menerimanya dengan ikhlas tanpa dendam.


Mereka sudah tiba di penginapan setelah makan siang bersama di dekat sana sambil menunggu Ratih datang. Tepat jam dua siang Ratih dan ibunya datang, mereka berkumpul di kamar anak perempuan. Panji menceritakan semua kepada Ratih, dan alasan pamannya membunuh ayahnya Ratih. Ia menceritakan kondisi Lily yang ia lihat dirumah sakit. Ratih langsung tersimpuh, kakinya menjadi lemas, ia menangis meraung-raung memanggil-manggil nama Lily.


"Lily...ya Tuhan...lily...! Selama ini aku tak tahu kau menderita karena aku! tuhan ampuni aku ya Allah! Ratih menangis sambil bersujud kemudian berguling memohon ampun kemudian duduk lagi dilantai sambil menarik -narik rambutnya. Suara raungannya memangil Lily terus saja bergema. Para wanita mencoba menahan dan membantu menenangkan Ratih. Raungannya semakin keras, usaha Ratih menyakiti dirinya juga semakin keras. Panji memberi isyarat para wanita agar membiarkan Ratih meluapkan perasaannya.


Ratih terus menangis terduduk disudut ruangan, rambutnya sudah acak-acakan begitu juga pakaiannya. Dia tak lagi perduli keadaannya dihadapan empat pasang mata yang sudah basah menatapnya. Matanya sudah sembab karena menangis. Suaranya juga sudah semakin serak. Akhirnya ketika Ratih sudah bisa mengendalikan emosinya ia berkata dengan tersendat diiringi tangisannya.


"Lily temanku, kami satu sekolah, kami baru pulang dari pesta perpisahan sekolah, ia mengantarku pulang karena aku sangat mabuk, aku melihat ayah dirumah dalam keadaan mabuk, aku tak menyangka ia begitu kejam memperkosa Lily! Aku tahu kejadiannya pasti saat itu! karena sejak itu ponselnya mati, dan ia menghilang. Ya tuhan...Lily .. Lily maafkan aku Lily." Panji menghampiri Ratih dan berjongkok dihadapannya.


"Kau bisa membantunya sembuh, temuilah Lily, mintalah maaf kepadanya mewakili ayahmu, kata dokter ada peluang besar untuk dia sembuh bila kau melakukannya." Ratih terus menangis. Panji mengusap rambut Ratih, kemudian melangkah keluar kamar karena tak tahan menyaksikan seluruh adegan tadi menuju keparkiran. Dari luar masih terdengar isak tangis Ratih. Ia memandang kekamar dimana para wanita berkumpul. Seketika Ia melihat dari spion motor kilatan cahaya dibelakangnya, tubuhnya reflek menjauh namun ujung golok masih berhasil menyambar punggungnya yang membuat darah mengalir deras dari punggungnya.


"Mampus kau Panji!" Suara yang dikenalnya berteriak, Panji terjatuh dan melihat Gilang siap menghantamnya kembali, ia secara reflek mengulingkan badannya kearah deretan motor menghindari tebasan golok Gilang. Ratna yang keluar karena mendengar keributan berteriak histeris.


"Mundur Ratna! Kembali ke kamarl" Panji memerintahkan Ratna, namun Ratna tak mampu bergerak. Panji mengambil bambu baner yang berdiri disamoingnya untuk mempertahankan diri. Seketika ia melihat bahaya mendatangi Ratna, kawanannya Gilang mendekati Ratna dengan goloknya. Panji memilih untuk menyelamatkan Ratna ia berhasil menyodok perut penyerang Ratna dengan ujung bambu didetik terakhir golok siap menebas leher Ratna, tapi pertahanannya menjadi terbuka, dari samping golok Gilang kembali siap menghantam . Panji mencoba menahan hantaman golok dengan batang bambu. Golok Gilang menghantam bambu hingga patah dan mebuat sayatan lebar dilengan panji. Panji kembali roboh, Ratna menangkapnya dan mereka jatuh bersama.


"Gilang! Hentikan! Suara berat laki-laki terdengar, Gilang menoleh, namun ia tak menurunkan goloknya. Sebelum Panji pingsan ia mendengar dua kali letusan.


Panji membuka kelopak matanya, ia menyadari dirinya ada diruangan rumah sakit. Ia tak memakai baju karena terlihat perban melilit badannya. Punggungnya terasa perih, tangan kirinya juga diperban dan tak bisa digerakkan. Terdengar isak tangis Ratna disisinya dan wajah khawatir Nissa yang sembab oleh air mata. Sementara disebelah kirinya ada seorang laki-laki gagah berbadan tegap berpakaian polisi tersenyum padanya.


"Prasetyo?" Panji mengenalnya.


"Apa kabar Panji? Prasetyo menyapa Panji.


"Aku sehat walafiat kecuali ada orang usil yang melilit badanku dengan perban ini." Panji tertawa.


"Dasar bodoh kau! Tentu saja ia tak baik-baik aja" Ratna langsung menyemprot Adiknya.


"Oh iya, kau sedang tak baik-baik saja, maafkan basa-basiku yang bodoh. Maksudku aku senang kau sudah siuman"


"Bagaimana kau bisa ada disini?"

__ADS_1


"Kak Ratna memintaku datang kesini, kebetulan aku lagi dapat jatah libur, aku bersama instrukturku kemari. Tak kusangka ada kejadian berbahaya, untunglah kami tepat waktu."


"Untung katamu? Tidak! Kau terlambat! Panji tak akan terluka kalau kau tak datang terlambat!" Ratna mengumpat dengan geram, Prasetyo hanya diam terkena umpatan Ratna.


"Bisakah kau suruh pacarmu diam Panji? Dari tadi ia menangis tak henti-henti, berisik sekali! Ia terus menyalahkanku. Kalau dia tak bisa diam aku akan karungin dia dan kukirim lewat travel ke Jakarta."


Prasetyo berkata serius kepada Panji, Ratna langsung mengumpat, Nissa terkekeh dalam tangisnya.


"Terlalu mahal! Kau kirim saja lewat truk sayur yang akan ke Jakarta!" Kali ini Panji kena cubit Ratna di perutnya. Panji berteriak kesakitan. Ratna tersenyum jahil.


"Kau sudah bawa karungnya Pras?" Prasetyo terbahak-bahak mendengar permohonan Panji.


"Aku berterima kasih padamu karena kau menyembuhkan penyakit paru-paru basahku waktu itu. Kalau saja aku tak sembuh mungkin nasibku sama dengan Gilang saat ini."


"Tak perlu kau berterimakasih, aekarang posisi kita seri, kau tak punya hutang budi lagi padaku."


"Tidak! Belum! Bukan aku yang menyelamatkanmu, aku belum boleh pegang senjata.aku masih pendidikan, lihat?" Pras menunjuk tanda di bahunya.


"Bagaimana kondisi Gilang?" Panji teringat Gilang yang sempat ia lihat roboh terkena tembakan.


"Kau masih mengkhawatirkan Gilang yang menyerangmu? Kau memang luar biasa Panji. Aku menyesal pernah menjadi musuhmu. Gilang ada dirumah sakit ini. Sedang dalam perawatan, kedua temannya sudah diamankan polisi.


" Panji! Kenapa kalian tak mengabariku datang kesini? Aku bisa mengirim orang untuk menjagamu!"


"Aku tak mau merepotkan anda komandan! Lagi pula siapa yang tahu Gilang akan datang jauh-jauh kemari?"


"Aku yang salah! Aku mengirim pesan keponselnya Ratih alamat kita menginap. Gilang mungkin membacanya." Ratna menunduk ia sangat menyesali kebodohannya yang membuat Panji hampir kehilangan nyawanya.


"Sudahlah! Kalau memang harus terjadi, ya harus terjadi. Tak ada yang bisa merubah takdir. Bersyukurlah kita semua masih selamat." Tangan kanan panji meraih tangan Ratna. Muka Ratna bersemu merah.


Adegan romantis terhenti ketika seorang wanita kembali masuk ruangan. Kali ini Ratih yang masuk. Mukanya pucat pasi, tapi ia sudah tak lagi menangis. Dia sudah merapikan rambutnya yang terakhir sangat kusut. Nissa memberi isyarat agar semuanya keluar ruangan memberi kesempatan kepada Ratih. Ekspresi wajah dan sikap Ratna menunjukkan keberatannya, namun Nissa menarik tangannya dengan paksa. Sekarang diruangan hanya ada Ratih dan Panji yang mencoba untuk duduk. Ratih berjalan perlahan menghampiri Panji.


"Kau punya begitu banyak alasan untuk membenciku Panji, aku bisa memahami kalau kau melakukan itu."


"Tidak, semua bukan salahmu, kita semua hanya korban disini. Bagaimana kondisi Gilang?"


"Masih kritis, dokter belum dapat memastikan keadaannya."


" Gilang sebenarnya anak baik, kau tahu? ia pernah menyelamatkan seorang gadis yang akan bernasib sama seperti Lily, andaikan malam itu Gilang ada, Lily pasti selamat." Ratih terperangah, Panji masih menilai sisi baik seseorang yang akan membunuhnya. Dari mana kemuliaan hati itu berasal? Lalu bagaimana dengan dirinya? Ia menunduk, mengingat sosok Lily dan memantapkan hatinya.


"Panji, mengenai permintaanmu tadi, aku akan melakukannya,, aku akan lakukan apa saja untuk membantu kesembuhan Lily."

__ADS_1


"Alhamdulillah, aku akan berkoordinasi dahulu dengan dokternya disana, kita akan atur waktu yang tepat."


"Panji, aku mengucapkan terima kasih kau tak membenci kami, kau masih menganggap kami sebagai teman."


"Tidak! Kau bukan temanku! Kau Kakakku! Aku akan selalu mengangap kau sebagai Kakakku!" Ratih menangis, mendengar pernyataan Panji. ia menghambur memeluk Panji, mengucapkan terima kasih dalam tangisannya.


Baru saja Ratih keluar dari kamarnya Ratna langsung menghambur masuk menghampiri Panji.


"Kau hampir mati karena kau melindungiku Panji! aku tak tahu bagaimana perasaanku kalau sesuatu terjadi padamu" Ratna terisak jari jemarinya ditautkan dan dimainkan dengan gelisah.


"Sesuatu itu sudah terjadi, dan kita bersyukur masih diberi kesehatan, aku lebih memilih melihatmu dari sini dari pada melihatmu yang terbaring. Mengenai perasaanmu ungkapkanlah!" Panji mulai menggoda Ratna.


" Tidak! Aku perempuan, aku mencintaimu, aku sayang padamu, tapi aku tak akan mengungkapkan duluan perasaanku!"


"Lah? Itu barusan apa?"


"Itu off the record, tidak resmi."


"Dasar licik! Baiklah, Ratna, Aku mencintaimu sejak kali pertama bertemu, aku akan menyayangimu seumur hidupku, maukah kau jadi kekasihku?"


"Tentu saja aku mau! Ratih berteriak kegirangan. Ia langsung memeluk Panji " Aku tadi berpikir sudah terlambat, kukira Ratih sudah mengungkapkan perasaannya padamu. Ia makin mempererat pelukannya. Panji menjerit kesakitan. Ratna hanya melonggarkan pelukannya, tangannya masih melingkar diperut Panji.


"Cengeng sekalu kau! Kau tak teriak tadi saat di peluk janda kembang itu." Ratna cemberut. Panji tertawa.


"Kau mematai-matai kami sejak tadi?"


"Aku memastikan kau tidak selingkuh dibelakangku!"


"Selingkuh? Sebelum kita jadian? Bagaimana rumusnya?" Ratna tersenyum jahil, Panji tak tahan lalu menarik leher Ratna dengan tangan kanannya lalu ia mencium bibirnya, Ratna tak menyangka akan diserang Panji tapi ia membalas ciuman Panji dengan lebih mesra.


"Maaf ini rumah sakit! Bukan hotel!" Nissa baru saja masuk dan langsung mengumpat membuat mereka menghentikan kegiatannya, Ratna berbalik, mukanya merona merah. Tangannya masih memegang tangan Panji. Nissa menghampiri mereka.


"Kau harus lulus fit and propher test dulu dariku sebelum kau layak jadi kakak iparku."


"Apa testnya?"


"Kau harus kerumah setiap hari, mencuci, memasak dan mencabut rumput!" Nissa berkata sambil melotot galak.


"Kau mau jadikan aku kakak ipar apa pembantu?" Ratna menatap balik Nissa dengan galak, tangannya mencubit tangan Nissa dengan gemas. Nissa berteriak kesakitan. Nissa mengelus tangannya yang sakit.


"Kau lihat Mas! Tangannya harus dilatih dengan benar, masih terlalu agresif!" Ia seperti bocah yang sedang mengadu kepada Panji. Ratna dan Panji tertawa. Ratna langsung memeluk Nissa dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


__ADS_2