
Sementara jauh diujung sebelah sana Ratih dan ibunya masih berdiskusi perihal keinginan Ratih bertemu Panji. Ratih sudah bertanya kepada Gilang bagaimana Gilang bisa menemukan Panji. Gilang hanya bilang kebetulan saja, mereka sedang lewat rumah Panji dan melihat Panji keluar dari rumah. Ratih juga mengecek ke rumah Panji, ternyata rumah itu sudah dijual.
"Kita terpaksa harus kekantor polisi, kita ahli waris dari korban, kita berhak bertanya dan mendapat info yang detail dari mulai kejadian sampai persidangan, siapa saksinya dan sebagainya, mungkin disana kita bisa dapat info tentang Panji." Ratih mendengar penuturan ibunya.
"Saksi? Dari selentingan kabar dikampung ini satu-satunya saksi adalah ibunya Panji, dan sekarang ia dirawat entah dimana." Ratih menjawab penuturan ibunya. Tiba -tiba ibunya langsung berdiri dengan muka bercahaya.
"Aku sepertinya tahu dimana Nur Azizah dirawat, Saat aku tinggal di Jogjakarta aku bertemu dengan adiknya persis ketika ia keluar dari panti rehabilitasi. Aku yakin kakaknya ada disana karena ia begitu takut ketika bepapasan denganku, sikapnya seperti orang tertangkap basah mencuri! Aku tadinya bingung kenapa ia bersikap begitu kepadaku karena kami dulu teman akrab." Wajah Ratih langsung berubah ketika mendengar informasi dari ibunya.
"Ibu masih ingat lokasinya? Apakah kira-kira ia masih ingat dengan ibu?" Ratih bertanya dengan semangat.
"Harusnya ingat! Kalau ia tak sakit jiwa parah harusnya ia iangat aku."
"Kalau begitu ayo kita berangkat!" Ratih langsung menyambar kunci mobil dan berjalan keluar, meninggalkan ibunya yang ngoceh tak karuan
"Eh ya anak ngeyel, kok mangkat bae, matanya picek ya, apa ora ndeleng, mamake agi dasteran tok!"
( kalau ibunya Ratih orang betawi kira-kira ngomongnya begini, "Eit ya bocah sableng maen berangkat bae! Matanya picek kali ya? apa kagak ngeliat emaknya lagi dasteran bae!" ) Ia tergopoh-gopoh menyambar apa saja yang ada dilemari untuk memantaskan pakaiannya.
Perjalanan dari kebumen ke Jogja memang tak begitu lama, yang lama adalah sang ibu harus mengingat-ingat lagi lokasi sehingga Ratih sering berputar-putar. Akhirnya mereka tiba ditempat yang dimaksud dan langsung menuju meja resepsionis. Mereka sangat gembira ketika mengetahui ibunya panji memang dirawat disana. Setelah Ratih mengaku sebagai putrinya dan ibunya sebagai kakak perrempuannya barulah mereka diberi izin menemui ibunya Panji.
Ratih dan ibunya berharap cemas apakah ibunya Panji mau menemui mereka, kemungkinannya ibunya Panji tidak mengenali nama-nama mereka dan tak mau menemui mereka, namun setelah setengah jam menunggu seorang perawat mengantar seorang wanita dengan kursi roda, melihat siapa yang dikursi roda ibunya Ratih menyenggol tangan Ratih, mengarahkan matanya menuju wanita berkursi roda yang sedang menuju ke arah mereka, dan menganguk.
Ibunya benar, wajarlah kalau Nurazizah ibunya Panji diperebutkan para lelaki dikampungnya, ia sangat cantik, bahkan dalam kondisi seperti itu kecantikannya masih terlihat jelas. Ratih langsung mencium tangan orang yang dianggap ibu supaya perawat tidak curiga, begitu juga ibunya.
Setelah perawat meninggalkan mereka Ratih membawa ibunya Panji keluar dan menjauh dari keramaian agar pembicaraan mereka tidak dicurigai perawat disana.
"Nur! Kau ingat aku kan? Aku Maryati! Kita bersahabat dari kecil, aku sahabatmu dan sahabat Sudibyo suamimu!" Ibunya Ratih berkata dengan sabar, ia setengah berjongkok menghadapi kursi roda, kedua tangannya memegang kedua tangan ibunya Panji mereka saling bertatapan.
"Dan ini anakku Ratih, ia ingin bertemu Panji, anakmu ingin berterima kasih kepada Panji karena telah menyembuhkannya dari penyakit." Ratih langsung menggeser posisinya kesamping ibunya, lalu menganguk sambil tersenyum.
"Salah satu tangan Ibunya Panji melepaskan diri dari tangan Maryati, ia mencoba meraih tangan Ratih, Ratih dengan sigap langsung mengulurkan tangannya.
" Suamiku tak bersalah, ia tak membunuh bapakmu Nduk!" Lalu ia menagis dan kembali teetunduk. Ratih dan ibunya terkesiap kaget, mereka juga khawatir tangisannya akan tetdengar oleh perawat.
__ADS_1
"Apakah ibu benar-benar melihat kejadiannya?" Ratih penasaran. Jawaban yang ditunggu tak juga datang, ibunya Panji hanya menunduk. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahi wawancaranya dan mengantarnya kembali. Sampai diruang tunggu tangan Ratih kembali dipegang ibunya Panji. Ratih langsung menunduk, dan ibunya panji berkata hal yang sama, kali ini nadanya lebih jelas. Tak lama kemudian ia dibawa oleh perawat kembali kekamarnya.
Dalam perjalanan pulang sambil menyetir mobil Ratih tak banyak bicara, ia memikirkan kejadian dipanti.
"Apakah ibunya Panji mengenalinya?" Ratih berpikir, tapi krmungkinan ibunya Panji mengenalinya sangatlah besar, ia sahabat ibunya, biasanya ibu-ibu kalau lagi berkumpul membawa anaknya dan saling memuji anak-anak mereka. Ratih yang justru lupa dengan ibunya Panji.
Ratih yakin ibunya Panji mengenal ia dan ibunya Itulah mengapa ia meraih tangan Ratih dan memberikan pernyataan seperti itu. Mungkin depresinya sudah hampir sembuh. Walaupun begitu kesaksian ibunya Panji akan lemah dipengadilan manapun, tapi Ratih yakin bahwa itulah kebenarannya. Lalu siapa yang membunuh bapaknya?"
Sampai di kebumen Ratih langsung menuju kantor Polres kebumen. Hari sudah hampir sore, jam pelayanan masyarakat hampir habis. Mereka tak yakin usahanya akan berhasil hari ini, tapi ia dan ibunya tetapa melangkah masuk menyampaikan maksudnya kepada polisi yang bertugas dimeja pelayanan. Polisi itu mencatat identitas mereka dan meminta mereka untuk menunggu.
Polisi itu menuju ruang komandannya, mengetuk pintu dan terdengar perintah masuk.
"Komandan! Ada orang yang ingin membaca berkas laporan kasus pembunuhan Lurah Payitno, mantan Lurah kampung Sampang Sempor. Mereka bernama Ratih dan Maryati, mengaku sebagai istri dan anak almarhum. Saya sudah cek datanya, mereka benar ahli waris almarhum."
"Terima kasih Pak, biar Aku langsung yang mengurus pelayanan soal ini, tolong antar mereka kemari!"
"Siap komandan!" Polisi tadi memberikan sikap hormat dan berbalik keluar dari ruangan, tak lama kemudian ia kembali masuk mengantar Ratih dan ibunya menghadap komandan. Komandan mempersilahkan mereka duduk.
"Benar Bu!" Ratih terkesima ternyata komandan polisi disini seorang wanita.
"Aku adalah polisi yang mengurus langsung kasus ini dari awal, ini berkas yang ingin kalian lihat!" Ibu Haryati menyodorkan seberkas file kepada mereka. Kalau kalian ada yang mau tanya silahkan tanya padaku!"
Ratih menerima dan mulai membaca berkas itu, membolak-balik setiap halaman. Ibu Maryati memperhatikan gerak-gerik Ratih dengan seksama.
"Sebenarnya apa yang ingin kalian cari?" Ibu Haryati bertanya dengan lembut. Ratih ragu menjawab, tapi sorot mata polwan didepannya begitu bersahabat, sehingga Ratih memberanikan diri bercerita.
"Saya sebenarnya ingin mencari Panji, anak Pak Sudibyo, saya ingin membantunya mengetahui kebenaran kasus ini."
"Memang banyak kejanggalan dalam kasus ini, tapi kasus ini dinyatakan selesai ketika Sudibyo mengaku sebagai pembunuh tunggal ayahmu."
" Sayalah yang menjemput ayah ketika ia diperbolehkan pulang dari rumah sakit, ayah sangat gembira saat itu karena ia sudah sembuh dari penyakit jantung koronernya." Jantung Ibu Haryati berdegup cepat mendengar info dari Ratih, rasa senang dan antusias mengalir dengan cepat dalam darahnnya.
"Benarkah? Apakah kamu memiliki rekam medisnya?" Ratih mengangguk.
__ADS_1
"Setelah dari rumah sakit, kalian pergi kemana?"
"Kami langsung pulang, tapi ayah langsung pergi lagi, ia bilang mau berterimakasih kepada seseorang."
"Apakah ia pergi sendirian atau ada yang menemaninya?"
"Setahuku ia pergi sendirian, tapi entahlah ditengah jalan mungkin saja ia menjemput temannya."
Ibu Haryati masih bersuka cita. Kasus yang semula gelap mulai terlihat cahayanya satu persatu. Diipandanginya wajah Ratih dan ibunya dengan seksama.
"Apa motivasi kalian mengulik kasus ini lagi? Apakah kalian menyadari mungkin saja kebenaran kasus ini akan berbalik kearah yang berbeda yang akan merusak nama baik keluarga kalian?"
"Aku rasa tidak! Lagi pula nama keluarga kami sudah cemar sejak dahulu. Selain menguak kasus ini, aku sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih karena Panji telah menolongku!"
Ibu Haryati mengamati ekspresi wajah Ratih yang tampak kesulitan menngungkapkan apa yang ada dipikirannya. Ia masih menunggu kelanjutan ucapan Ratih, namun tak ada yang keluar dari mulut Ratih.
"Kau disembuhkan oleh Panji? kaukah wanita yang dipukul Panji beberapa hari lalu di bekas rumah keluarga mereka? Sakit apa yang kau derita?"
Ratih kaget ketika mendengar polisi wanita ini mengatakan apa yang sedang ia pikirkan seolah dia bisa membaca pikirannya.
"Benar Bu! Aku disembuhkan oleh Panji. Aku menderita kanker rahim dan seharusnya rahimku sudah diangkat."
"Alhamdulillah, dan kau bukan sendiri, suamiku juga disembuhkan Panji dari penyakit ginjalnya saat Panji bekerja diperusahaan suamiku. Aku menangkapnya setelah ia memukulmu, sebelumnya memang aku mencarinya untuk berterima kasih. Kami membicarakan kasus ini bersama, ada perkembangan baru yang sudah ditemukan Panji, tapi informasi dari kamu sangat berharga, ia pasti sangat senang mendengar informasi ini."
"Ibu masih berhubungn dengan Panji?" Ratih bertanya dengan antusias.
"Panji sekarang tinggal dirumahku di Jakarta, ia sekarang sudah bekerja lagi, dan adiknya bersekolah disana juga."
"Bolehkah aku meminta alamat Panji yang di Jakarta? Aku ingin menyampaikan informasi ini untuknya sekaligus ucapan terima kasihku."
"Boleh saja, tapi bisakah kami mendapat copian rekam medis ayahmu? aku akan menugaskan seorang polisi kerumah kalian untuk mengambilnya." Ratih menganguk.
Ibu Haryati menulis sebuah alamat dikertas lalu memberikannya kepada Ratih. Ratih menerimanya dengan tersenyum gembira dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
__ADS_1