KUTUKAN Atau ANUGERAH

KUTUKAN Atau ANUGERAH
Trio Penyembuh Beraksi


__ADS_3

Setelah beberapa hari dilewati tanpa ada kejadian, dan setelah berhari-hari Panji mondar-mandir mencari pekerjaan akhirnya hari ini Panji akan memulai pekerjaan barunya. Hari ini juga hari pertama buat Nissa belajar di sekolah barunya karena semester genap sudah dimulai. Panji dan Nissa baru selesai sarapan, mereka bergegas berangkat. Sebelum Nissa sampai sekolahnya ia mengantar Panji lebih dahulu ketempat kerjanya menggunakan motor yang diberikan Ratna.


Panji bekerja sebagai office boy di perusahaan yang tak kalah besar dengan perusahan Ratna dan ini mungkin akibat paklaring yang diberikan pak Burhan. Agak membagongkan juga buat staff HRD ketika mereka mendapat fakta bahwa Panji baru bekerja dua bulan dan berhenti, tapi mendapat rekomendasi yang baik dari atasannya. Staff HRD sampai menelpon kantor Ratna memastikan paklaring yang dia baca bukan rekayasa Panji, dan dia tercengang mendengar apa yang diucapkan dari seberang sana.


Doa dan harapan Panji hanyalah semoga korban selanjutnya bukan atasan atau teman kerjanya disini. Ia ingin menabung sehingga semester depan ia bisa mendaftarkan dirinya masuk universitas.


Cita-cita awalnya ia ingin menjadi seorang Da'i ketika ia mondok dipesantren. Lepas dari pesantren masuk SMA ternyata di bidang eksak Panji tak kalah pandai, ia ingin jadi dokter. Realitanya sekolah kedokteran samgatlah mahal dan rasanya tak mungkin bisa dibiayai kalau hanya jadi OB. Memang Tidak ada yang tahu bagaimana rezeki datang, tapi terlalu berlebihan kaau ia memaksa diri saat ini. Biarlah kehidupan yang sekarang dijalani mengalir mengikuti alurnya.


Hampir satu bulan bekerja Panji sudah cukup banyak mengenal atasan dan rekan -rekan kerjanya. Panji bekerja dengan sebaik mungkin dan berusaha menjalin hubungan yang baik dengan mereka semua. Kasus pembunuhan bapaknya sudah tak lagi mengusik pikiran Panji. Panji belum memdapat kabar apapun dari Ibu Haryati ataupun perkembangan terbaru yang ia dapat. Hari menjelang sore, waktunya pulang buat Panji dan rekan-rekan. Mereka berjalan bersamaan keluar dari pagar kantor menuju halte terdekat Tiba-tiba ia meraaakan lambungnya sakit, awalnya terpikir olehnya bahwa itu disebabkan ia belum makan tadi siang, namun tak pernah sesakit ini. Ia memandang satu persatu temannya dengan cemas, pandangannya jatuh kepada orang tua yang sedang duduk dihalte. Ia mendekati orang tua itu dan lambungnya semakin sakit. Ketika dilihatnya lebih dekat ia mengenal lelaki tua itu, ia tersentak kaget. Ia langsung menghubungi Adiknya lewat ponsel.


"Aku bertemu dengan Pak Slamet, tetangga kita dan ia akan jadi korbanku selanjutnya!" Nissa mendengar suara Panji dari seberang sana juga tersentak kaget.


"Mas Panji, Pak Slamet mungkin saja saksi kunci kita Mas, sebaiknya kita atur strateginya supaya kita tahu kejadian sebenarnya. Aku akan menghubungi kak Ratna."


Panji menutup ponselnya, Nissa benar! Kesaksian pak Slamet meragukan, ia harusnya tahu banyak karena dia tetangga sebelah rumah bapaknya. "Tapi sedang apa dia di Jakarta?" Panji membatin Ia memutuskan untuk membuntuti Pak Slamet. Panji menolak ajakan teman-temannya yang ingin pulang bareng atau yang sekedar ngopi diwarung bersama.


Setelah sekian lama akhirnya angkot yang ditunggu Pak Slamet datang. Ia menaiki angkot dan Panji juga bergegas menaiki angkot yang sama. Untunglah ia selalu membawa topi dan kacamata hitamnya. Ia menerima pesan dari Ratna untuk menghidupkan GPS diponselnya. Entah bagaimana caranya Ratna sudah memasang GPS di ponsel mereka bertiga bisa saling mengkait sehingga bisa diketahui keberadaan masing-masing. Ketika pak Slamet turun Panji juga turun dan terus membuntutinya hingga ia masuk kedalam sebuah rumah.

__ADS_1


Ratna dan Nissa sudah sampai dimana Panji masih menatap rumah yang di masuki Pak Slamet. Panji langsung masuk mobil Ratna ketika ia melihat mereka datang.


"Itu benar Pak Slamet, dia terlihat sangat pucat dan lemah, tampaknya ia dari rumah sakit dekat kantorku!" Panji langsung berbicara kepada mereka dengan antusias.


"Sebaiknya kita kerumah sakit! Kita bertanya kapan beliau akan kembali lagi kesana." Nissa bicara dengan serius.


"Bagaimana caranya? Kau bukan keluarganya, tak akan mungkin dapat info begitu saja dari rumah sakit." Panji menatap heran adiknya.


"Serahkan padaku!" Nissa tersenyum licik kepada Panji.


"Ok, selanjutnya kita atur penyergapannya. Inikah jalur jalannya Panji?" Melihat anggukan Panji Ratna menoleh ke kanan dan kekiri sambil menjalankan mobilnya, lalu ia berhenti.


"Terlalu lama! Besok hari sabtu, kita semua libur, kita tunggu beliau besok pagi disini." Ratna dan Nissa berpandangan, keduanya menganguk setuju.


Esok pagi Panji, Nissa dan Ratna sudah tiba dilokasi penyergapan. Ratna membawa begitu banyak makanan yang membuat Panji terheran.


"Banyak sekali makanannya? Memangnya kita mau kemping?"

__ADS_1


"Kau tolol! Memangnya kita tahu akan berapa jam disini? Kalau kau lapar dan harus keluar cari makanan, sementara Pak Slamet datang, sia-sialah waktu kita." Ratna menatap panji dengan geram. Panji hanya garuk-garuk kepala, semua sudah dipikirkan oleh Ratna.


Panji memang belum sarapan, ia begitu bersemangat memulai aksinya hari ini, entah apa yang menjadi motivasinya, keinginan untuk membongkar kasus bapaknya, atau karena ada Ratna yang akan menemaninya disana. Panji segera menyantap makanan yang dibawa Ratna, tak lama kemudian ia keluar dari mobil Ratna, mereka memang harus berpisah, Ratna tetap didalam mobil, sementara Panji diujung jalan, sedangkan Nissa yang bertugas sebagai pengalih perhatian berada disisi yang berbeda dengan Panji. Alasan lainnya adalah Panji tak sanggup berlama-lama dekat Ratna, harum badannya begitu menggoda, entah merk parfum apa yang ia pakai. Ratna berpakaian simple dengan rambut dikuncir kuda, yang menampakkan lehernya yang jenjang putih mulus membuat Panji mabuk kepayang.


Hari menjelang siang ketika Pak slamet akhirnya terlihat sudah melewati mobil Ratna. Panji begerak menuju Pak Slamet, ia menghadangnya dan tak lupa meminta maaf, lalu memukul bagian perutnya. Pak Slamet limbung terjatuh tak sadarkan diri dengan darah hitam keluar dari mulutnya. Ratna langsung menjalankan mobilnya mendekati lokasi kejadian, begitu juga Nissa. Ketiganya bekerja sama mengangkat tubuh Pak Slamet dan memasukkanya ke dalam mobil.


Pak Slamet sudah terbaring di dalam kamar Panji dan masih tak sadarkan diri. Nissa sudah membersihkan badannya dan mengganti baju Pak Slamet yang terkena noda darah. Mereka masih menunggu dengan harap-harap cemas. Sampai jam 10 malam Pak Slamet belum juga siuman. Kecemasan mereka semakin bertambah. Panji terlihat lebih cemas.


"Kau pulanglah Ratna! Aku khawatir security depan akan curiga kalau kau masih disini! Takut terjadi apa-apa."


"Memangnya apa yang akan terjadi? kau saja yang ngarep!" Ratna meledek Panji. Nissa tertawa melihat tingkah mereka.


"Jangan khawatir Mas, security depan sudah mengenal kak Ratna, aku bilang ia tunangan Mas Panji."


Nissa langsung dapat delikan tajam dari Ratna dan Panji.


"Tumangan? Jangankan tunangan, dulu dia pernah bilang kalau pacaran saja dia akan merasa rugi banyak denganku! Tidak tahu kalau sekarang!" Panji meledek Ratna yang masih merah mukanya.

__ADS_1


"Setelah kuhitung-hitung tetap aku masih rugi banyak saat ini." Ratna menimpali dengan ketus.


Nissa tertawa terbahak melihat tingkah mereka. Keduanya dengan jelas menunjukan bahwa mereka saling suka tapi tidak ada yamg mau mengatakannya terlebih dahulu. Saat mereka bertemu mereka bertingkah seperti anjing dan kucing.Tawa Nissa terhenti ketika terdengar suara batuk dari kamar Panji. Pak Slamet sudah siuman.


__ADS_2