KUTUKAN Atau ANUGERAH

KUTUKAN Atau ANUGERAH
Saksi Kunci


__ADS_3

Pak Slamet yang baru saja membuka matanya masih terheran dengan ruangan kamar yang tak dikenalnya. Entah ini dimana dan bagaimana ia sampai disini, yang diingatnya adalah ketika ia hendak ke apotik ia dipukul seorang pemuda, dan sepertinya wajahnya tidak asing baginya. ia masih memandang sekeliling kamar, dan kemudian pintu terbuka. Pak Slamet melihat satu orang laki-laki dan dua wanita muda masuk menghampirinya.


"KAU! Kau yang memukulku! Kenapa kau memukulku? Dimana aku sekarang?" Emosi Pak Slamet langsung naik ketika mengenali Panji yang tadi siang memukulnya, Ia langsung bangkit dari tempat tidur, Panji menahannya sebelum beliau berdiri, kemudian duduk bersimpuh didepannya


"Pak Slamet, maafkan saya! Saya tak bermaksud menyakiti Bapak. Saya Panji, Bapak ingat saya? Saya anaknya Pak Sudibyo, tetangga Bapak di Kampung Sampang Sempor. Ini Khoirunissa adik saya, dan ini Ratna."


"Kau anaknya Sudibyo? Astaga! Aku sama sekali tak mengenalimu Nak! Tapi dimana aku sekarang?"


"Pak Slamet ada dirumah saya, saya tidak bermaksud menyakiti Bapak, saya justru bermaksud menyembuhkan sakit yang diderita Bapak, Bapak sakit apa? Apakah sekarang masih sakit? Coba rasakan dulu, tenangkan diri Bapak, rasakan apakah ada perbedaan dengan hari hari sebelumnya?"


Pak Slamet yang saat ini duduk di tepi ranjang menahan nafas mendengar penuturan Panji. Ia mencoba menenangkan diri, menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Ia menyadari ada yang berubah dengan badannya, perutnya yang selalu sakit, terasa kembung dan mual kali ini semuanya menghilang, ia memperhatikan kuku-kuku tangannya, warnanya tak lagi kuning, begitu juga kulitnya sudah berwarna coklat sawo matang segar. aliran udara terasa lebih lancar.


"Aku tak percaya kau telah menyembuhkan penyakitku!" Pak slamet berkata kasar kepada Panji.


"Begini saja Pak, Bapak bisa mengecek ke dokter besok, apakah penyakit Bapak benar-benar telah sembuh atau tidak. Mas Panji tidak meminta apapun dari Bapak. Maksud kami membawa Bapak kemari adalah kami ingin tahu cerita detailnya tentang pembunuhan yang bapak kami lakukan. Pak Slamet adalah satu-satunya saksi yang ada dilaporan polisi. Itu juga kalau Bapak berkenan membantu kami, kalau tidak kami juga tak akan memaksa Bapak, kami bisa antar Bapak pulang sekarang." Nissa mengambil alih pembicaraan, tutur kata yang lembut dan diplomatis membuat reaksi negatip Pak Slamet berubah. Panji tercengang dengan kemampuan Nissa bertutur kata.


"Anakku pasti khawatir aku belum pulang jam segini" Dia mengeluarkan ponsel dari kantong celananya, sebuah ponsel jadul yang hanya bisa buat nelpon dan sms saja. Ia menghubungi seseorang dengan ponsel tersebut. Ketiga anak muda melihat apa yang sedang dikerjakan Pak Slamet menunggu dengan tegang dan cemas.


"Nak Ini bapak!, iya tak usah khawatir, bapak ada dirumah teman, tadi ketiduran habis minum obat, tak usah kau jemput, besok pagi bapak pulang!" Ia menutup ponselnya dan memandang wajahi wajah yang terlihat lega.


"Apa yang ingin kau tanyakan Panji. Aku sudah menceritakan semuanya kepada polisi saat itu."


"Bagaimana kalau Bapak yang bercerita dari awal, kami akan mendengarkan apapun yang bisa Bapak ceritakan." Nissa memegang tangan Pak Slamet dan bertutur dengan sangat lembut, senyumnya kembali membuat Pak Slamet meleleh.


"Entahlah aku mulai dari mana! Saat itu bada isya, aku sedang duduk diteras, kulihat pak lurah datang memasuki rumah kalian. Aku langsung masuk kedalam rumah karena aku benci melihat pak lurah itu."

__ADS_1


"Kenapa bapak membenci pak lurah? Kembali Nissa bertanya dengan lembut.


"Aku dan bapak kalian sama-sama berdagang di pasar Gombong. Bedanya aku dagang sembako bapakmu dagang sayuran. Jadi waktu dagang kita berbeda. Dan posisinya juga berjauhan. Pak lurah membuat usahaku tersendat, ia juga mengganggu putriku, untunglah putriku langsung bekerja di Jakarta." emosinya mulai kembali naik.


"Apakah dari dalam rumah Bapak tak mendengar suara perkelahian teriakan dan sebagainya?"


"Aku mendengar ibumu berteriak, tapi aku berpikir itu hal biasa karena sudah sering terjadi sejak bapakmu menjadi aneh. Aku orang yang sangat meenghormati bapakmu, tapi ketika kudengar ia jadi jagoan pasar, aku tak begitu respek lagi dengan beliau."


"Apakah hanya itu yang Bapak dengar, apakah Bapak tidak mendengar kalau bapak kami memukul untuk menyembuhkan penyakit seseorang?" Kali ini Panji yang bertanya.


"Banyak selentingan beredar, aku tak percaya orang bisa sembuh dengan pukulan. Tapi setelah bapakmu dipenjara aku mendengar kesaksian langsung dari orang yang disembuhkannya, dan memang aku tahu dia punya penyakit menahun."


"Bapak menyadari kebenarannya namun bapak diam saja?"


"Maafkan aku Panji, tapi aku sedang direpotkan mengurus istriku yang sakit keras. Seluruh pikiran dan hidupku saat itu buat istriku."


"Setelah aku mendengar suara teriakan ibumu tak lama bapakmu mengetuk pintu, bajunya penuh dengan darah, tapi ia begitu tenang, ia memintaku menelpon polisi karena telah membunuh Pak lurah. Tentu saja aku kaget dan takut saat itu, apalagi saat kulihat kedepan rumah kalian ada jasad pak lurah dengan pisau tembus dipunggungnya. Aku mengambil telpon dan menelpon polisi untuk datang dari dalam rumah. Ketika keluar kulihat bapakmu sudah kembali kerumah dan duduk bersimpuh di depan jasad pak lurah. Aku menghampirinya dan duduk dekatnya, tapi tak ada suara. Kulihat di depan pintu ibumu sudah tergeletak pingsan."


"Apakah pot bunga yang ada disisi jalan setapak rumah kami berantakan Pak?"Panji memperlihatkan deretan pot bunga yang ada difoto. "Difoto ini sudah tersusun rapi, tapi susunannya tidak benar, tidak sesuai dengan susunan yang dibuat ibu kami."


"Astaga! Iya benar, bapakmu sempat merapikan satu atau dua buah pot. Apa yang bisa kau simpulkan sengan pot bunga Panji?"


"Aku berasumsi pak lurah datang untuk berterima kasih karena penyakitnya telah disembuhkan bapak. Aku punya kekuatan menyembuhkan karena keturunan dari bapakku. Jadi tak ada perkelahian, kalau terjadi perkelahian pasti pot bunga berantakan, tapi Pak Slamet bilang hanya mendengar teriakan ibu saya. Pertanyaannya adalah? Kenapa pot bunga bisa berantakan? Kalau bapakku menikam punggung pak lurah sedalam itu ia pasti langsung mati, pisau itu tembus ke jantungnya."


"Astaga! Engkau benar Panji. Tapi aku memang tak mendengar apapun." Pak Slamet masih mencoba mengingat ingat.

__ADS_1


Panji terlihat pasrah, cerita pak Slamet tak memberikan fakta baru, semua kembali kepada kesaksian ibunya.


"Berati hanya tinggal kesaksian ibu yang bisa menyelamatkan bapak." Panji terduduk lesu.


Suasana menjadi sangat hening dalam waktu yang cukup lama. Semua mata menatap Pak Slamet. Pak Slamet seperti menjadi terdakwa diruangan ini.


"Tidak! Ada saksi lagi yang melihat kejadian itu, sayangnya ia tak bisa lagi diambil kesaksiannya." Pak Slamet tertunduk lesu.


"Siapa Pak?" Panji dan Nissa serempak bertanya.


"Istriku! Sayangnya ia sudah meninggal tak lama sesudah bapakmu dijebloskan kepenjara.Tapi sebelum meninggal ia bilang kepadaku bahwa bapakmu tak bersalah. Kupikir saat itu ia bicara begitu kepadaku supaya aku tak lagi membenci bapakmu. Tapi sekarang aku ingat." Pak Slamet menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia seakan ingin mengeluarkan sesuatu yang besar dalam pikirannya.


"Istriku punya asma akut, ia tak bisa diruangan tertutup, makanya ia ada dikamar depan dengan jendela terbuka. Dan jendela itu selalu terbuka siang dan malam. Tapi pagi hari setelah malam pembunuhan itu aku ingat aku membuka jendela dan gordennya supaya cahaya dan udara masuk. Saar itu aku merasa aneh, tapi kupikir istriku kedinginan semalam dan ia sendiri yang menutup jendela dan gordennya."


Panji dan Nissa saling pandang. Dipikiran mereka menyimpulkan hal yang sama. Pertanyaan kenapa bapaknya harus repot-repot meminta tolong Pak Slamet menghubungi polisi terjawab sudah.


"Bagaimana dengan fakta kalau mata bapak sembab dan hidungnya patah Mas?" Kali ini Nissa bertanya kepada Panji walaupun matanya tetap menatap Pak Slamet. Mendengar pertanyaan Nissa muka Pak Slamet langsung pucat pasi, ia seperti baru melihat hantu, suaranya tergetar hebat.


"Itu perintah bapakmu, dia bilang kalau ada bekas luka diwajahnya ia bisa berkelit bahwa ia membunuh pak lurah dengan alasan membela diri, sehingga hukumannya lebih ringan. Aku melakukannya karena ingin membantu bapakmu, sungguh!"


Mendengar fakta yang dituturkan Pak Slamet barusan Panji terlonjak, Nissa bahkan sampai menutup mulutnya supaya tak berteriak kaget. Kepala Panji berputar-putar hebat, mencoba menenangkan gemuruh dalam dadanya.


"Itulah kenapa bapakku mendatangi Pak Slamet untuk menelpon polisi, saat Bapak masuk kedalam rumah untuk menelpon polisi, bapakku menutup jendela dan gorden kamar istri Pak Slamet dari luar." Panji mengungkapkan teorinya.


"Bapakku cerdik, dengan begitu ketika polisi datang lalu melihat-lihat sekitar TKP, memang tak ada saksi lain selain Pak Slamet. Ia bahkan sempat menyusun kembali pot yang berantakan. Ini membuktikan ada orang yang dilindungi oleh bapakku." Nissa melanjutkan teori yang sudah diawali oleh Panji.

__ADS_1


"Astaga! Tapi aku tak melihat seorangpun! Aku bahkan berani taruhan kalau pak lurah mengendarai mobilnya sendiri."


__ADS_2