KUTUKAN Atau ANUGERAH

KUTUKAN Atau ANUGERAH
Korban Berbayar


__ADS_3

Esok paginya Panji baru keluar kamar, setelah mandi dan sholat shubuh ia bergerak ke dapur karena perutnya keroncongan. Ternyata Nissa sudah menyiapkan sarapan untuknya dan mereka sarapan bersama.


Nissa hanya memperhatikan gerak-gerik Panji. Ia sangat menyayangi Panji. Panji dan Nissa hanya terpaut dua tahun, mereka tumbuh bersama saling menyayangi dan melindungi, Panji kakak yang asyik buat diskusi, buat curhat dan teman berantem. kadang kala mereka nongkrong bareng.


Peristiwa pembunuhan yang dilakukan bapaknya telah merubah karakter Panji. Ia menjadi pendiam dan menjauh dari lingkungan. Apalagi sejak ia dikeluarkan dari pondok pesantren. Ia tinggal sendirian dirumah selama setahun lamanya. Makan seadanya dan bertahan dari segala bentuk hinaan dikampung dan disekolah hanya untuk mendapatkan selembar ijazah agar dia bisa pergi jauh meninggalkan kampung halamannya.


Ternyata kehidupan diperantauan lebih menyiksanya. Nissa tak pernah tahu apa yang dialami oleh Panji. Selama di perantauan Panji hanya mengirimkan uang dan kabar yang baik-baik saja, sementara Nissa selalu mengirim surat panjang lebar kepada Panji. Panji baru menceritakan persoalannya ketika ia datang menjemput Nissa untuk meninggalkan pondok pesantren menuju Jakarta. Panji yang sekarang jauh lebih dewasa melebihi usianya, lebih matang dalam berpikir dan bertindak.


Panji yang sedang lahap menikmati sarapannya akhirnya sadar sedang d iamati oleh Nissa.


"Kenapa kau lihatin aku terus? Baru sadar Aku lebih ganteng dari pacarmu ya?, siapa tuh namanya? Yang rambutnya gimbal kaya sarang tawon hahaha!"


"Enak saja! Dia bukan pacarku!" Mulut Nissa mencibir sambil melempar tisue ke wajah Panji.


Panji berhenti menggoda adiknya, ia berkata dengan nada serius.


"Hari ini aku akan ke rumah pak RT dulu melapor kedatangan kita setelah itu aku akan daftar sekolah buat kamu, aku juga sambil mencoba melamar pekerjaan, kamu dirumah saja aku mungkin pulang agak malam!"


Nissa hanya tersenyum dan mengangguk.


"Aku akan merepotkan Mas Panji kalau memaksa melanjutkan sekolah, biarlah aku mencari kerja juga."


"Kau mau jadi apa dengan ijazah SMP? Tidak! Kau harus lulus sekolah! harus jadi sarjana! Aku akan pastikan selama aku hidup cita-citamu akan tercapai Nissa!" Panji berkata dengan keras matanya melotot kearah Nissa.


Nissa hanya tertunduk, Panji mewarisi karakter bapaknya yang kemauannya tak bisa dibantah. Sarapan mereka telah usai. Nissa membereskan piringnya dan bergerak mengambil piring kakaknya. Panji hanya mengamati Nissa lalu ia bersiap nerangkat. Nissa menghampirinya dan memeluk abangnya erat.


Hari sudah menjelang sore, Panji sedang duduk melepas lelah disebuah taman. Ia sudah mendapatkan sekolah buat Nissa, memasukan beberapa CV miliknya di bebrapa perusahaan, duduk ditaman menikmati es cendol sebuah kenikmatan buat Panji. Tiba-tiba dada kirinya merasa sakit, ia memandang sekeliling, matanya fokus kepada seorang laki-laki muda berambut gondrong diikat yang sedang duduk bersama teman-temannya. Semakin ia memandangnya semakin dadanya sakit. Panji memutuskan untuk mencoba rencananya.

__ADS_1


Panji berjalan membelah taman saat kesempatan datang ia menghampiri laki-laki muda itu.


"Perkenalkan nama saya Panji, saya bisa menyembuhkan sakit di paru-paru anda!"


Laki-laki itu memandang Panji dengan penuh selidik, kemudian ia menarik Panji agar menjauh dari teman-temannya.


"Darimana kau tahu aku punya penyakit paru-paru?" Nadanya penuh ancaman.


"Aku tahu karena aku punya kekuatan untuk itu, dan aku bisa menyembuhkanmu yang penting harganya sesuai. " Panji mencoba berkata dengan tenang walaupun gemuruh didadanya bergolak tak karuan.


Laki-laki itu terus memandang Panji dengan tajam. Ia sedang menimbang tawaran Panji.


"OK! Aku akan berikan 10 juta kalau kau benar mampu menyembuhkan penyakitku! Bagaimana caranya?"


"Aku akan memukul bagian dadamu dengan keras, kau mungkin akan pingsan dan akan mengeluarkan darah. Setelah itu silahkan lakukan test ke dokter, untuk mengecek apakah penyakitmu sudah sembuh atau belum. " Kali ini Panji menjabarkannya dengan penuh percaya diri.


Panji bimbang, tapi ia terlanjur melakukan penawaran, akhirnya ia bengambil ancang-ancang untuk memukul. Bukk! Laki-laki itu terjatuh, Panji merasa ia memukul lebih keras dari pada korban-korban sebelumnya, tapi laki-laki itu tidak pingsan apalagi mengeluarkan darah. Rasa panik mulai merayap dinadi Panji.


"Bagaimana? Aku tidak pingsan dan mengeluarkan darah! " Laki-laki itu bangun dan berteriak kepada Panji. Kecemasan Panji semakin bertambah, ia mencoba menenangkan diri.


"Pergilah ke dokter, lakukan test. Aku akan menunggu disini dua hari lagi!"


"Baik! Dua hari lagi aku kemari, kalau penyakitku tak sembuh kau harus membayar pukulanmu yang tadi!" Kembali laki-laki itu mengancam dan berbalik pergi dikuti teman-temannya.


Panji tak tahu harus bagaimana ia hanya berdiri mematung sampai adzan mahgrib menyadarkannya. Ia bergerak menuju masjid terdekat, setelah itu ia menunggu angkutan yang membawanya pulang. Sampai dirumah didapatinya Nissa sudah menyiapkan makan malam buatnya. Panji menghabiskan makannya tanpa sisa, namun kegelisahannya tertangkap oleh Nissa.


"Mas Panji kenapa? Koq kaya habis ketemu kuntilanak?" Nissa mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


"Iya! Nih aku barusan ketemu kuntilanak cerewet!"


" Sialan!"


Keduanya tertawa bareng. Nissa memang begitu perhatian sama Panji, itulah makanya ia rela melakukan apa saja buat adiknya itu. Semua uangnya telah diberikan kepada Nissa untuk kehidupannya di Jakarta, dan terbukti Nisaa bisa mengelola uangnya dengan baik , walaupun sederhana Nissa mencoba memasak makanan yang terbaik buat Panji.


"Aku tadi bertemu korban yang harus kusembuhkan! Aku coba lakukan negoisasi kepadanya supaya membayar jasaku, tapi tampaknya kekuatan ini memang tak berfungsi kalau korban diberitahu sebelumnya, tak bisa buat mencari keuntungan!"


" Terus bagaimana korbannya Mas?"


"Aku tak tahu! Sehabis kupukul ia langsung periksa ke dokter, dua hari lagi kami bertemu disana, kalau tak sembuh ia dan teman-temannya mengancam akan membalas pukulanku!"


"Apakah Mas akan tetap datang ke sana?"


"Aku akan datang! Aku penasaran bagaimana hasilnya!"


Panji menyandarkan tubuhnya kepunggung kursi makan, ia berkali-kali menarik nafas dan menghembuskannya seolah mencoba membuang semua beban yang menghimpit dadanya. Nissa hanya bisa memandangnya dengan cemas.


"Andaikan kekuatan ini normal kita pasti sudah kaya raya Dik! Tapi kekuatan sialan ini membuat kita menderita, bapak dipenjara, Ibu masuk rumah sakit jiwa!" Suaranya melemah wajahnya mendongak menatap kelangit-langit. Nissa menghampiri dan duduk disebelahnya, tangannya meraih tangan Panji, membelainya dengan lembut.


"Jangan berkata begitu Mas! Kita tak boleh menyalahkan takdir! Kita tak pernah tahu apa hikmah yang tersembunyi dari cobaan ini, Tuhan pasti memberikan yang terbaik buat kita."


Panji tersenyum mencoba merubah suasana hatinya yang keruh. Ia memandang adiknya, ia baru menyadari kalau Nissa bukan adik kecilnya lagi, Nissa sudah tumbuh dewasa dan mewarisi kecantikan ibunya. Dua tahun terakhir ini pasti juga berat buat Nissa, ia tak bisa pulang saat liburan semester dan harus tetap liburan dipondok karena tak ada rumah yang dituju. Nissa lebih bisa mengontrol emosinya saat kehilangan bapak dan ibunya, tetap berprestasi di sekolah, walupun ia mendapat banyak buliyan dan hinaan dari teman-temannya. Diperhatikan Panji terus menerus membuat Nissa keluar sifat usilnya.


"Kenapa? Aku lebih cantik dari pacarmu kan? Siapa namanya? Kalau tak salah namanya Bambang, ya kan?" Nissa tertawa terbahak.


"Sialan!"

__ADS_1


Terdengar teriak kesakitan di sela tawanya Nissa karena kepalanya kena jitak Panji.


__ADS_2