Labil

Labil
Aku


__ADS_3


"Nama adalah untaian kata yang terselip


doa didalamnya"


Begitulah kata ibuku setiap kali kutanya mengapa aku bernama Biutyn. Ibu bilang, Biutyn diambil dari bahasa Inggris, -Beauty- yang artinya cantik. Ayah dan ibu berharap, semoga aku menjadi perempuan yang cantik, tak hanya parasnya namun juga hatinya.


Orang bilang, namaku aneh, dan itu memang benar. Kadang ada rasa tidak percaya diri. Aku rasa, arti nama ini terlalu indah untukku yang biasa saja. Aku hanyalah gadis berusia 16 tahun, dengan tinggi 150 cm, hidung pesek dan kulitnya kuning langsat.


Di sekolah, aku tidak terlalu famous, tidak juga pendiam. Aku senang berteman dengan siapa saja. Dan satu hal, aku tidak pernah pacaran. Sebetulnya, pernah sih pacaran, dengan teman sekelas malah. Ah maksudku dengan cowo yang satu kelas denganku, tapi tidak secara terang-terangan alias backstreet.



Aku tidak menyangka akan jatuh cinta pada teman sekelasku sendiri. Dia, sama seperti kebanyakan lelaki pada umumnya yang memiliki mata dua, hidung satu dan rambut pendek berwarna hitam. Awalnya, aku pikir dia pendiam. Karena ketika awal masuk kelas, ia jarang banyak tingkah. Bahkan, dibanding lelaki yang lain, ia paling mendingan karena mau mengerjakan tugas, ya walaupun menyalin tugas orang lain.Tapi lama kelamaan, keluarlah sifatnya yang senang melawak.


Kedekatanku ini dimulai dari ketidaksengajaannya meminjam pulpen di jam istirahat.


"Gak ada, pulpen gua ada satu. Coba tanya sama Uti"

__ADS_1


Kata teman sebangku-ku. Uti adalah nama panggilanku.


"Ada pulpen gak? "


Tanyanya padaku yang sedang memasukan buku pelajaran ke dalam tas.


"Di koperasi banyak"


Jawabku ngasal


"Punya lu Bi, masa kagak ada"


Balasku dengan sewot.


"Kan nama lo Biutyn"


"Panggil aja Uti"


Ucapku menyarankan. Karena aku memang sudah terbiasa dengan panggilan itu.

__ADS_1


"Ga, gue punya panggilan spesial buat lo"


"Apa? "


Tanyaku penasaran. Kali aja dia punya panggilan yang lebih bagus.


"Ntin"


Ucapnya sambil berlari diselingi tawa terbahak-bahak. Saat itu, hatiku bilang bahwa ia menyebalkan.Tapi di disisi lain,ia enak diajak ngobrol, dan punya selera musik yang sama denganku. Karena kedekatan kami yang sering bertengkar lalu akur kembali, teman-teman sekelas membuat gosip bahwa aku jadian dengannya. Setiap aku dan Rafa berdekatan, selalu saja keluar kata cie dari mulut mereka.


Lalu entah bagaimana ceritanya, diam-diam Rafa sering mengirimku pesan Whatsapp, awalnya hanya mengirim beberapa musik. Dia memang bukan lelaki yang romantis, tapi sangat humoris. Selalu ada saja kata-katanya yang membuatku tertawa. Kemudian ia menembakku dan aku menerimanya, sesederhana itu. Tapi dengan catatan hubungan ini adalah privasi tanpa harus publikasi. Alasannya, ia tidak suka jadi bahan ejekan teman teman di kelas, dan akupun setuju.Karena bagiku, cukup kita berdua saja yang menikmati kisah ini wkwk. Suatu hari aku bertanya padanya


"Fa Cie artinya apaan? "


"Artinya mereka cemburu"


jawabnya


Sejak itulah Rafa tidak seperti dulu lagi. Ia seperti menjaga jarak denganku, padahal di dunia maya kita sangatlah dekat. Jujur, saat itu perasaanku belum tumbuh.Tapi ketika dia memutuskan untuk pergi yang aku tidak tahu alasannya kenapa, perasaanku mulai tumbuh. Dan yang membuat sakit hatiku adalah, setelah itu dia pacaran dengan anak IPS, dan mereka mempublikasikan hubungannya. Sejelek itukah aku?

__ADS_1


__ADS_2