Labil

Labil
Merah


__ADS_3

"Dio, ambil ! Gue gak mau turun kalo uangnya gak diambil"



Aku terus membujuk Dio agar ia mau mengambil uangku. Ketika di supermarket tadi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk segera mengganti uangnya. Yah, uang yang seharusnya kugunakan untuk membayar belanjaan tadi. Aku merasa jika itu semua adalah hutang, mengingat jumlahnya yang memang lumayan banyak menurutku. Aku belum mau pulang, sebelum Dio menerima uangku. Dan aku yang memintanya untuk berhenti di sini, tidak di depan rumah. Selain karena halaman rumahku yang tidak terlalu luas, ada juga alasan lain. Yaitu, aku tidak ingin ada cowo selain Rafa yang tau rumahku. Haha, mungkin aku terlalu menganggapnya special.


"Gak papa, uangnya lo simpen aja buat beli roti bersayap lagi kalo abis"


Jawaban Dio sangat menyebalkan. Kenapa ia tidak langsung sebut saja pembalut sekalian.


"Ih Diooo"


Aku merengek dengan wajah cemberut. Susah sekali menyuruhnya mengambil uang ini. Tapi aku terus mencari akal, hingga muncullah ideku.


"Yaudah kalo gak mau ngambil, uangnya taro disini aja"


Aku hendak meletakkan uang itu di dashboard mobil. Dio yang melihat tindakanku, buru-buru menahan tanganku. Ia mendekatkan mukanya, matamnya menatapku sangat lekat. Kuperhatikan mata tajamnya, dilihat-lihat Dio tampan juga*eh.


Aku menutup mata, tidak kuat memandangnya jika harus sedekat ini. Jantungku berdetak lebih kencang. Aku tidak pernah sedekat ini dengan lelaki manapun. Ini untuk pertama kalinya. Tapi aku sadar, aku tidak boleh terbawa suasana, harus menjauhkan muka secepat mungkin dan kulepaskan tanganku. Akan tetapi, Dio sangat kuat memegang tanganku. Meskipun kurus, tapi tenaganya lumayan juga.


"Dio lepasinnn"


Aku merengek lagi. Dio tak menggubris sedikitpun ucapanku, ia malah menatapku semakin lekat, lalu ia berbisik di telinga, deru napasnya terdengar berhembus, membuatku geli tentunya.


"Uangnya simpen"


Katanya. Perlahan, Dio melepaskan tanganku. Sekarang, posisinya sudah berubah dan aku bisa bernafas lega. Dio kembali ke tempatnya. Karena merasa takut atau enggan dicengkram kuat lagi, akupun menurut. Kusimpan uang itu ke dalam saku. Sekarang tanganku kosong, tak memegang uang sepeser pun. Rupanya caraku tidaklah berhasil. Aku kehabisan akal.


"Bagus"


Ucap Dio sambil mengacungkan jempol melihat aku yang menuruti perintahnya. Heran, dikasih uang tidak mau. Apa ia bosan memegang uang? Sombong sekali jika begitu.


"Tapi Dio, gue gak enak. Gue beneran lupa bawa dompet tadi, seriusann"

__ADS_1


Kataku sambil mengacungkan dua jari. Jari tengah dan telunjuk. Menandakan bahwa aku tidaklah main-main. Aku juga tidak tahu mengapa bisa sampai lupa tidak membawa dompet, dan malah meninggalkannya di dalam tas. Kenapa aku tidak membawa tasnya saja sekalian ke dalam supermarket, bodoh memang. Padahal aku baik-baik saja, tidak merasa grogi juga. Jika aku tidak lupa, tentu tidak akan repot seperti ini. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya aku harus membayar semua ini.


"Gak papa, gue sengaja ikut masuk karena emang udah niat buat bayar belanjaan lo"


Aku masih saja bingung dengan ucapannya. Ketika sampai di supermarket tadi, katanya ia ikut masuk karena ingin belanja juga, tapi sekarang alasannya sudah berubah lagi. Masalahnya, aku tidak pernah belanja sebanyak ini tapi memakai uang orang lain. Kecuali jajan siomay ataupun mie ayam di kantin, Tia sering mentraktirku. Karena memang harga siomay dan mie ayam tidak terlalu mahal, cukup dengan selembar uang lima ribu rupiah, sepuluh ribu dapat dua porsi.


"Udah sana turun, gaenak ntar kalo diliat orang"


Ucap Dio sambil larak lirik, menatap ke sekeliling. Hanya ada beberapa motor yang lewat. Tak kulihat ada orang, mungkin sedang berada di dalam rumahnya masing-masing.


"Gaenak kenapa?"


Tanyaku dengan polosnya. Kenapa harus tidak enak, toh aku dan Dio tidak sedang berbuat apapun. Hanya sedang mengobrol, membicarakan uang yang tak kunjung terselesaikan.


"Kalo lo gak turun-turun, ntar disangka macem-macem, apalagi tahu kalo yang di dalem mobilnya cewe sama co.."


"Tapi uangnya gimana?"


Kupotong ucapannya Dio. Aku masih mempermasalahkan itu. Bagiku, uang itu berharga. Di keluargaku sendiri, sangat dianjurkan untuk menghargai uang sejak kecil, sekecil apapun nominalnya. Mungkin, Dio tidak menganut anjuran yang sama seperti keluargaku.


Aku diam saja mendengar ancamannya, bisa saja ia berbohong. Tapi ternyata, Dio tak main-main dengan ucapannya, ia menyalakan mesin mobilnya. Dengan cepat, aku segera menolak dan memohon agar mobilnya dimatikan. Yakali, masa harus ikut kerumahnya. Untungnya, Dio mengabulkan permohonanku.


"Yaudah iya gue turun"


Aku menyerah. Kubuka pintu mobil, tak lupa, kubawa juga sekantong belanjaanku. Sayang juga jika harus ditinggal di mobil. Tidak akan terpakai juga oleh Dio, karena isinya kebutuhan cewe semua.


"Makasih"


Ucapku sembari menutup pintu. Entah terimakasih untuk yang keberapa kalinya.


Dio melambaikan tangannya padaku sambil tersenyum. Aku tidak membalas senyumannya, wajahku cemberut.


Baru setengah jalan, aku berhenti karena hpku berbunyi.

__ADS_1



Tertera nama Dio di layar.


Aku melihat ke belakang, ternyata mobilnya Dio masih di sana. Kuangkat teleponnya.


"Kenapa?Mau minta uang?"


Tanyaku dengan ketus, sambil melihat ke arah mobilnya, lalu memalingkan wajah lagi sembari meneruskan jalanku.


"Balik ke mobil apa jalan cepet?"


Pertanyaanya membuatku bingung. Aku belum bisa menjawabnya. Memangnya, haruskah kujawab?


"Ogah, gue mau balik, gak mau ikut ke rumah lo"


Tolakku secara terang-terangan. Akhirnya, aku berani memberikan jawaban, sekaligus penolakan.


"Siapa juga yang mau bawa lo ke rumah. Kalo lo gak mau balik ke mobil, yaudah jalannya cepetan"


Dih, siapa dia berani menyuruhku. Jalan itu tidak boleh terburu-buru, tidak boleh juga terlalu pelan. Harus santai seperti jalanku ini. Jalan cepat itu bahaya, kalo kesandung batu bagaimana? Kakiku terkilir, emang mau tanggung jawab?


"Dih gajelas lo"


Aku mematikan telepon karena kesal. Sepanjang jalan, aku mengumpat kelakuan Dio, meskipun dengan suara yang pelan. Memang tidak akan ada yang mendengarnya, tapi setidaknya bisa membuatku lebih tenang. Mengapa dua cowo yang kutemui di sekolah selalu menyebalkan. Untungnya aku sudah sampai rumah, jadi aku tidak akan bertatapan dengan mata tajamnya lagi. Tapi amat disayangkan, hutangku padanya belum lunas.


"Uti, coba tengok ke belakang"


Perintah ibu ketika baru saja aku hendak masuk ke kamar. Akupun menengok, tak ada apapun. Kucoba tengok kiri, tak ada apa-apa. Kutengok kanan, tidak ada apa-apa juga.


"Kenapa bu?"


Tanyaku heran.

__ADS_1


"Merah"


Jawab ibu. Seketika aku ingat sesuatu. Kuraba rok belakangku, kuputarkan ke arah depan. Aku melihat sesuatu disana. Oh yaampun, ternyata darahku tembus. Ini pertama kalinya, mungkin sedang keluar banyak. Buru-buru aku masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Pantas saja Dio menyuruhku jalan cepat, rupanya ia melihat sesuatu di rok belakang. Haduh,malunya aku.


__ADS_2