
Seperti biasa, bel berbunyi dan pengawas datang. Suasana yang semula ramai menjadi damai. Karena ujian di sekolahku sekarang sudah berbasis android, jadi tidak ada kegiatan membagikan soal. Pengawas hanya mengawasi peserta, sambil sesekali melaporkan ataupun membantu jika ada beberapa siswa yang mengalami gangguan, entah itu sambungan wifi yang tidak terhubung padahal sandinya sudah benar, ataupun soal yang tiba-tiba hilang. Ucapan yang sering kudengar dari pengawas adalah "refresh hpnya dulu". Aku tidak berminat melakukannya. Mungkin, aku akan lebih berminat jika pengawas itu bilang "refresh hatinya". Yah, seharusnya aku harus segera melakukannya sebelum disuruh.
Bunyi bel terdengar sangat merdu siang ini, menandakan kelas telah berakhir. Teman-teman seisi kelas hendak mengambil tas yang disimpan di depan. Akan tetapi, tertahan oleh pengawas. Semua diperintah untuk duduk kembali di bangkunya masing masing. Padahal, ini sudah waktunya pulang. Aku tidak tahu mengapa pengawas terlihat seperti mengulur-ulur waktu pulang.
"Ada anggota Osis disini?"
Tanya pengawas, yang kebetulan adalah guru mata pelajaran Kimia sekaligus pembina kesiswaan. Namanya Bu Kikit. Ia terkenal sebagai guru yang tegas dan penegak kedisiplinan sekolah. Ada yang segan padanya, ada juga yang tidak menyukai karena dicap terlalu kejam, jarang senyum, pelit nilai dan perkataannya yang pedas. Akan tetapi menurutku, sejauh ini ia baik, asalkan kita sebagai murid berlaku baik juga.
Beberapa temanku yang merasa dirinya terpanggil sekaligus anggota osis mengacungkan tangan, lalu Bu Kikit menyuruh mereka untuk maju ke depan.
"Bantu ibu periksa isi tas satu-satu"
Mereka yang diperintah, saling tatap satu sama lain, entah ekspresi bingung, kaget, atau apa, aku tak faham. Karena enggan dicap pembangkang, barulah mereka melaksanakan tugasnya. Jangankan mereka, aku sendiri yang sedang duduk pun bingung, tak faham dengan perintah Bu Kikit.
Tapi setelah dicerna baik-baik, akhirnya aku faham. Oh, razia dadakan rupanya. Di sekolahku yang terbilang sekolah negri ini memang masih musim dengan yang namanya razia, bahkan teman-temanku yang berada di sekolah lain, mengatakan jika sekolahku terbilang sekolah yang ketat. Kuakui itu memang benar, ada banyak peraturan di sekolah. Mereka yang tidak suka diatur, biasanya memberontak. Makanya tak heran, banyak anak yang dikeluarkan dari sekolah ini.
Perihal razia ini, aku tidak yakin ini dilakukan di setiap ruangan, mungkin hanya di ruanganku saja karena kebetulan pengawasnya adalah pembina kesiswaan. Mereka yang membawa barang-barang tak penting dalam tasnya, tentu sedang tidak bernasib baik hari ini. Aku sendiri memasang wajah yang tenang-tenang saja, karena aku tidak menyimpan barang aneh di dalam tas.
Operasi dadakan pun dimulai, dan suasana mulai tegang. Isi tas diperiksa satu per satu. Ada beberapa orang yang isi tasnya adalah make up, mulai dari make up bermerek sampai abal-abal. Bu Kikit mengambilnya dan dimasukkan ke dalam kresek. Ada juga yang tasnya tidak berisi apa-apa. Sepertinya razia kali ini memang khusus razia make up. Mungkin karena akhir-akhir ini banyak siswi yang bibirnya berwarna merah tebal. Kepala sekolah memang sudah memperingatkan dari sebelumnya tentang pelarangan memakai make up ke sekolah. Ralat, bukan tidak boleh memakai make up. Boleh-boleh saja memakai make up, tapi tidak berlebihan, sewajarnya saja.
"Sialan, gue bawa parfum"
Ucap Amanda, teman sekelasku yang selalu wangi. Ia duduk didepanku. Meskipun tidak berbicara padaku, tapi aku mendengarnya karena tempat duduk yang memang berdekatan.
"Gue juga bawa liptin, tapi disimpen di tempat makan,aman"
Ucap yang lain sambil berbisik-bisik,tapi aku masih bisa mendengarnya. Pinter juga ia sampai menyembunyikan liptin dalam misting. Sepertinya, ia sangat menyayangi liptin itu hingga benar-benar dilindungi.
"Uti, lo bawa apa?"
Tanya Amanda, diputarkan badannya memandang ke arahku. Aku yang sedari tadi memperhatikan Bu Kikit, kini mengalihkan pandang, menatapnya.
"Bawa buku sama tempat pensil,dan.."
Aku mendekat ke telinganya Manda
__ADS_1
"Pembalut"
Kataku. Amanda hanya tersenyum mendengar jawabanku.
"Gak bawa bedak dan sejenisnya?'
Aku menggeleng. Aku tidak sempat memasukkan semua itu ke dalam tas. Lagipula, aku lebih senang mengenakannya ketika berangkat dari rumah. Ketika di sekolah, aku sudah tidak peduli mukaku seperti apa. Entahlah, sepertinya aku belum begitu faham tentang skincare. Di rumah, aku hanya punya bedak, deodorant, parfum dan lipstik, itupun ibu yang membelikan, katanya agar aku sebagai perempuam lebih pandai merawat diri.
Setelah mendengar jawabanku, Amanda mengembalikan lagi posisi badannya. Lalu dari belakang, Dio menepuk pundakku.
"Bawa ganja lu ya?"
Tanyanya dengan pelan. Mungkin ia sedang gabut hingga menanyakan hal bodoh itu padaku.
"Bawa sabu-sabu"
Jawabku dengan pelan juga. Meskipun Bu Kikit sedang meriksa isi tas dan tak melihat jika aku sedang mengobrol, tapi tetap saja aku takut jika ia marah. Jangankan untuk melihat wajahnya ketika marah, mendengar suaranya saja sudah tidak sanggup.
"Sabu-sabu itu yang suka disuruh-suruh yak?"
''Oh ituma ****"
Jawabku sambil bercanda. Padahal jawaban yang seharusnya adalah babu. Aku rasa, tidak seru juga jika melayani obrolan Dio dengan serius.
"Yes baby"
Celetuk Dio padaku.
"Paansih "
Kataku sambil menjitak kepalanya. Dio meringis sambil mengusap-usap kepalanya. Padahal, aku tidak keras menjitak kepalanya itu.
"Ini tas siapa? "
Suara Bu Kikit mengagetkanku, membuatku segera membalikan badan, dan kembali ke tempat duduk. Tangannya memperlihatkan tas berwarna biru muda milikku. Ada perasaan kaget juga dalam diriku, seingatku aku tidak membawa barang aneh ke dalam tas.
__ADS_1
"Punya saya bu"
Jawabku sambil mengangkat tangan. Seisi ruangan menatap ke arahku, dengan tatapan curiga.
"Oh pantesan"
Bu Kikit menaruh kembali tasku di tempat semula. Aku tidak faham apa maksud pertanyaannya itu. Tapi setidaknya, aku lega karena tidak ada apa-apa.
"Ini tas siapa?"
Suara Bu Kikit kembali mengagetkanku. Tangannya memperlihatkan tas berwarna coklat.
"Itu tas saya bu"
Jawab Dio sambil mengangkat tangan kanannya. Semua mata tertuju padanya, suasana tambah tegang. Aku curiga, apa yang Dio bawa hingga Bu Kikit menanyakan pemilik tas itu. Jangan-jangan, Dio membawa ganja ke sekolah.
"Berdiri kamu"
Dengan wajah kebingungan, Dio bangkit dari duduknya.
"Kamu cowo?"
Dio segera mengangguk dengan yakin. Dalam absen pun tertulis jika jenis kelamin Dio adalah laki-laki. Setelah mendengar jawabannya, Bu Kikit lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya Dio.
"Kenapa bawa ini?"
Bu Kikit menunjukkan sesuatu. Ketegangan mencair, seisi kelas tertawa, termasuk aku.
Dio juga ikutan tertawa, sambil menggaruk-garuk kepalanya. Aku tidak tahu Dio sedang menahan rasa malunya atau tidak, bisa saja ia tidak merasa malu sama sekali. Tapi kulihat, raut wajahnya canggung.
"Buka celananya bu, jangan-jangan Dio lagi datang bulan"
Usul temanku yang duduk di kursi belakang. Kelas pun riuh lagi dengan gelak tawa. Yang Bu Kikit tunjukkan adalah pembalut, mungkin pembalut yang kulempar tadi pagi. Bodohnya Dio malah memasukkan itu ke dalam tas. Samar-samar terdengar Dio mengumpatku dengan kesal.
"Sialan, gara-gara lo, kejantanan gue diragukan"
__ADS_1
Sungguh, aku tertawa lepas hari ini.