Labil

Labil
Iya atau Tidak


__ADS_3

Hari-hari berjalan seperti biasanya sesuai urutan waktu. Senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu dan minggu. Ya, semua orang juga tahu bahwa itu adalah nama-nama hari, bahkan anak TK sekalipun. Akan tetapi, bukan itu yang hendak kuberi tahu. Kabar baiknya, hari ini adalah hari terakhir ujian semester. Aku bilang ini kabar baik karena, aku sudah bosan melihat beberapa soal yang membingungkan. Entah karena soalnya yang memang salah, pembuat soalnya yang keliru, atau karena kesalahanku sendiri yang memang tidak memahami materi dengan baik. Meskipun aku bukan anak yang berambisi mendapatkan nilai besar ataupun sempurna, akan tetapi soal yang membingungkan itu cukup membuang waktu, percuma aku pikirkan jika isinya tidak ada. Sangat unfaedah bukan? Hingga pada akhirnya aku menjawab asal-asalan tanpa tahu yang mana kebenarannya.


Ditambah lagi, ketika aku sedang merenung mencari jawaban, yang muncul malah wajah ibu yang sedang memarahiku karena malas belajar, pernah juga wajahnya Rafa yang sedang tertawa, atau lebih parah malah adegan kissing dalam drama korea yang tak sengaja kutonton. Awalnya, aku iseng mencari judul drama korea yang sedang ramai di perbincangkan oleh teman-temanku di kelas, bahkan aku sempat ikutan nonton juga. Tapi ketika kutemukan di youtube, aku salah membuka episode. Itulah pertama kalinya aku melihat adegan kissing tersebut. Untung saja ibu tidak melihatnya. Ah dasar otakku. Terkadang memang tidak bisa diajak kerja sama.


Tapi untungnya, rasa sebalku pada soal yang kutemukan setip hari, semua itu akan segera berakhir dalam waktu lima menit. Sembari menunggu, aku hanya memperhatikan jarum jam yang panjang. Kebetulan, letak jamnya di atas papan tulis. Dan akhirnya, bel pun berbunyi. Setelah pengawas memastikan semua sudah mengumpulkan soal, barulah diizinkan pulang. Tidak ada lagi rajia dadakan untuk hari ini. Tas yang disimpan di bawah papan tulis, diambil satu persatu oleh pemiliknya. Cium tangan sebagai tanda hormat, lalu mengambil sepatu di rak. Seminggu lamanya berada di kelas ini, akhirnya ditinggalkan juga. Selamat datang kembali kelas lamaku.


"Uti, jadi kan?"


Dio bertanya kepadaku, memastikan. Aku baru saja mengambil sepatu dari rak. Kini Dio berada di sampingku. Tasnya telah berada di pundak. Tas yang kemarin sempat viral karena berisi pembalut.


"Hmm iya jadi"


Jawabku sambil tersenyum, berhadap-hadapan dengannya.


"Itu cuma tawaran, lo gak harus terima"


Ucap Dio sambil mengusap puncak kepalaku. Perkataannya seperti menyiratkan jika aku boleh saja menolak.



"Eh eh iyaa ntar dikabarin lagi"


Kataku sambil mengawaskan tangannya Dio di kepalaku. Terkadang, perlakuan Dio padaku membuatku salah tingkah. Aku tidak bisa diperlakukan seperti ini, apalagi di tempat umum. Masalahnya, aku risih dan tidak nyaman dilihat orang. Setiap isi pikiran manusia tentulah tidak sama.


"Oke gue balik duluan"


Ucap Dio sambil berlalu meninggalkanku. Entah maksudnya duluan pulang, atau duluan pergi meninggalkan kelas. Ah apa bedanya, dua-duanya sama saja.


"Langsung pulang, jangan nongkrong dulu"


Entah mengapa, kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Seolah-olah menyiratkan sebuah kekhawatiran.

__ADS_1


"Nongkrong dulu bentar"


Jawabnya sambil melirikku sekilas, lalu Dio pergi dari hadapanku. Aku hanya menatap punggungnya, yang lama kelamaan semakin menjauh. Ada rasa kecewa ketika Dio tidak mendengarkan suruhanku.


"Jadi pulang bareng?"


Kini Amanda yang menghampiriku, ia sudah selesai mengenakan sepatu. Aku segera menoleh, dan tidak memandang Dio lagi. Mungkin sebentar lagi, Dio sudah sampai di parkiran dan bertemu dengan teman-temannya.


"Jadi"


Aku segera mengenakan sepatu di sampingnya. Arah pulang Amanda memang searah denganku. Dan kita memang sering pulang bareng naik angkutan umum sejak awal masuk kelas sebelas.


Amanda ini cantik, tubuhnya tinggi langsing, dan aku suka ketika berada di dekatnya, karena ia selalu wangi. Selain itu, ia juga bisa diajak curhat. Tak jarang ketika menuju jalan pulang, aku sering bercerita banyak padanya, entah itu tentang keluarga, maupun cita-cita. Lagi-lagi, aku merasa lebih beruntung. Amanda ini tidak bisa sepertiku yang serumah dan bisa makan masakan ibu setiap hari. Amanda harus tinggal dengan neneknya semenjak orangtuanya cerai tujuh tahun yang lalu, dan ibunya menjadi TKW di Arab Saudi. Sayangnya, tidak pernah pulang hingga sekarang. Mereka hanya bertatap muka lewat video call. Amanda sering bercerita jika ia kesepian di rumah, karena ia anak tunggal. Hampir sama juga denganku, bedanya, aku bukan anak tunggal, melainkan anak tengah tapi berasa tunggal.


"Duluan ya"


Katanya padaku saat ia sampai, tak lupa sambil melambaikan tangan. Aku juga ikut melambaikan tangan, membalasnya.


Kataku yang entah terdengar atau tidak karena Amanda sudah turun dan sedang memberikan ongkos kepada sopir.


Angkutan umum pun melaju lagi. Tinggal beberapa orang yang masih berada di dalam,sebagian adalah teman sekolahku, sebagian lagi bukan. Tak lama kemudian, aku yang turun. Sama seperti Amanda, aku juga harus menyebrang. Terkadang, harus menunggu lama karena kendaraan yang tak kunjung reda. Apalagi kendaraan bermotor,rata-rata kecepatannya sangat tinggi. Makanya, aku tidak berani menyebrang jika jalan raya tidak benar-benar sepi, harus kupastikan tengok kanan dan kiri.


Aku punya kenangan buruk saat menyebrang ketika masih memakai seragam merah putih. Hampir saja aku tertabrak. Untungnya, aku masih diberi kesempatan untuk hidup hingga sekarang. Semenjak itu, aku jadi senang membantu orang menyebrang, terutama anak-anak dan orang yang sudah lanjut usia. Sejak saat itu pula, aku jadi lebih berhati-hati lagi.


Ketika sedang memperhatikan keadaan kanan kiri, hpku bergetar. Aku mengambilnya, ada panggilan masuk, dari Dio rupanya. Aku malas mengangkatnya, karena suaranya akan kalah dengan kebisingan jalan raya. Lebih baik kuputuskan untuk menyebrang terlebih dahulu setelah keadaan dipastikan benar-benar aman. Dan setelah tiba di sebrang, barulah aku angkat telponnya sembari jalan meneruskan langkah.


"Apa?"


Ucapku nyaring. Sengaja, agar Dio mendengar jelas suara merduku. Memang sangat merdu, alias merusak dunia.


"Buruan mandi"

__ADS_1


Dio menyuruhku.


"Belum sampe rumah"


Jawabku dengan suara yang lebih kecil, tidak senyaring tadi. Sengaja dikecilkan volumenya,.takut ada yang nguping.


"Lambat"


Dio mengejekku


"Yakan gue naik angkutan umum"


Aku membela diri sekaligus memberitahunya jika itu tidaklah sama dengan naik kendaraan pribadi


"Dio udah pulang?'


Tanyaku.


"Belum, masih nongkrong"


Aku menghembuskan nafas, entah terdengar olehnya atau tidak.


"Lo aja belum sampe, ngapain nyuruh gue cepet-cepet mandi"


Umpatku kesal.


"Sekitar pukul 13.00 gue ke rumah lo"


Perkataan yang tidak pasti. Kulihat jam ditangan kananku, masih pukul 12.30. Ada waktu tiga puluh menit untuk bersiap-siap, itupun jika memang Dio akan datang tepat waktu. Tapi kurasa, masih ada banyak waktu yang bisa kugunakan, sebab aku tak sepenuhnya yakin dengan apa yang Dio katakan.


Ketika sudah sampai di depan rumah, teleponnya Dio seolah-olah bisu, tak ada suara lagi. Kupanggil-panggil namanya tak menyahut. Karena tidak ada suara lagi, kumatikan teleponnya. Kumasukkan kembali hp itu kedalam saku. Aku masih ragu antara menjawab ajakannya Dio dengan kata iya atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2