
Perjalanan pulang yang cukup lambat. Tak tau mengapa, entah Rafa sedang tidak ingin ngebut, atau ia sedang menikmati perjalanan ini lebih lama denganku. Haha dasar aku, kepedean sekali. Bisa saja kan, Rafa sudah lelah, jadi ia harus menghemat energinya.
Pukul 16.00, aku hampir sama rumah. Kupikir Rafa tidak perlu mengantarku sampai rumah.
Kasian, dia jadi bulak-balik karena letak rumahnya yang memang tidak searah denganku.
"Eh fa sampe sini aja"
Aku memberhentikan Rafa yang hendak membawa motornya masuk gang rumahku. Untungnya, ia tidak mengerem mendadak seperti tadi.
"Loh kenapa, gaenak dong sama ibu"
Katanya. Kedua tangannya masih disimpan di stang.
"Gue jugaa gaenak sama lo, ngerepotin"
Jawabku pelan. Tidak perlu keras-keras juga sih, soalnya tidak sedang di jalan raya, hanya di pinggir jalan raya.
"Gak ngerepotin sama sekali"
Katanya sambil kepalanya menghadap ke belakang, ke arahku. Lalu dihadapkan ke depan lagi. Suasana berubah jadi kaku dan canggung.
__ADS_1
"Iyaa sampe sini aja"
Akupun bergegas turun sebelum motornya di gas lagi.
"Lah ko turun"
Katanya ketika melihatku sudah berada di samping motornya dan mengembalikam helm. Ia menerima helm pemberianku.
"Iyaaahee, makasih ya Fa"
Kataku tanpa sedikitpun menatap wajahnya, karena tidak berani. Aku sendiri juga bingung harus menatap kemana.
"Beda-beda"
"Apaan tuh beda-beda?"
Tanyaku dengan kening yang mengkerut karena bingung.
"Bosen ngucap sama-sama terus"
Oh, aku baru faham. Memang begitu dia, suka merubah kata-kata. Kan sudah kubilang, dia memang aneh.
__ADS_1
Lalu tak ada suara lagi, duaduanya saling diam. Aku sengaja tidak langsung masuk gang, karena berniat menunggu Rafa pulang duluan. Setidaknya sampai motor Rafa melaju jauh dan tak terlihat lagi.
"Ga jadi pulang?"
Duh, jawab apa aku. Masa bilang, mau nunggu Rafa dulu, gengsi soalnya.
"Rafa aja duluan, hati-hati yaa"
Pesanku dengan sedikit gugup. Tidak tau mengapa, jantungku dagdig lebih keras seperti musuk dangdut. Darah di dalam tubuhku mungkin sedang bergoyang.
"Ladies first, lo aja yang duluan. Lagiankan, gue nganter lo kan, tapi gak sampe rumah karena lo nya gak mau, ya seenggaknya gue mastiin lo aman pas masuk gang"
Begitu katanya. Tentu saja aman, aku pastikan tidak ada begal disini. Tapi baiklah, lebih baik aku mengalah.
"Yaudah deh, pulang ya"
Rafa menganggukan kepalanya, seolah-olah berikata
"Oh ya silahkan manis, hati-hati dijalan, perhatikan jalanmu dengan baik"
Begitulah kira-kira.
__ADS_1
Aku pun masuk ke dalam gang. Gang sempit yang hanya bisa dilalui dua orang, itupun dempet-dempetan. Motor saja susah lewat. Sebetulnya, masih ada jalan lain yang lebih luas dan masuk mobil. Akan tetapi, jalan itu lumayan jauh dari rumahku. Jadi ya aku nyaman-nyaman saja lewat gang ini.
Di tengah gang, langkahku terhenti. Aku teringat Rafa, kira-kira, Rafa sudah pulang belum ya? Penasaran, aku menghadapkan kepala ke belakang. Terlihatlah bahwa ia masih disana, mungkin seperti katanya tadi, ingin memastikan bahwa aku aman. Aku pikir, itu becanda dan boongan, ternyata betulan. Lalu tanpa sengaja, mata kita bertemu, Rafa tersenyum, lalu melambaikan tangannya. Aku memalingkan lagi wajahku, kututup dengan kedua tangan, pipiku memerah mungkin, lalu mempercepat langkah karena malu untuk yang kesekian kalinya.