
Mengingat-ngingat masa lalu, rasanya menyakitkan juga. Tapi biarlah, masa lalu adalah pengalaman, dan dari pengalaman itulah aku belajar. Lagipula, itu terjadi satu tahun yang lalu, ketika aku baru saja mengenakan seragam putih abu. Dan, aku berusaha melupakannya. Parahnya, di kelas sebelas ini aku sekelas lagi dengannya. Ya gapapa sih, hanya saja aku merasa malu mengingat kebodohanku dengannya di kelas sepuluh, walaupun hanya aku dan dia yang tahu. Rasanya menjadi asing itu tidak menyenangkan. Selama empat bulan di kelas ini, kita tidak pernah mengobrol. Ada, tapi dianggap tidak ada. Aku sangat tidak suka ini.
Semakin hari, Rafa semakin terkenal di sekolah. Selain karena anak OSIS yang disukai banyak adik kelas, dia juga tergabung ke dalam sebuah band bernama seventy four dimana ia yang menjadi vokalisnya. Ketika ia manggung, aku hanya bisa menyaksikannya di kejauhan.
"Kang Rafaa kang Rafaa"
Teriak adik kelas perempuan yang mengidolakannya. Di atas panggung sana, ia tersenyum sambil melambaikan tangan. Suaranya memang tidak terlalu merdu, bahkan band mereka isinya anak- anak yang humornya receh semua.
"Uti, gue liat-liat Rafa cakep juga yaa"
Ucap Tia setengah berbisik agar terdengar jelas di telinga. Maklumlah, suasana sedang ramai karena hari ini adalah hari ulang tahun sekolahku. Aku terdiam mendengar ucapannya.
"Mm, engga ah biasa aja"
Jawabku membantah ucapannya. Aku dan Rafa sudah tidak apa-apa lagi, tapi kenapa ketika mendengar itu rasanya seperti..
"Kak Sofa beruntung banget bisa jadi pacarnya dia"
Siti Asshofa, kakak kelas cantik blasteran Arab-Indonesia, berkulit putih, selebgram, dan pintar berbahasa Inggris. Ialah perempuan yang menjadi pacar Rafa setelah ia putus dengan anak IPS itu.Tapi sayang, Kak Shofa pindah sekolah ke luar kota. Jadi apa untungnya?Aku lebih beruntung, karena satu kelas dengannya.
"Tau gak? Semenjak dia kelas sebelas, fansnya makin banyak tau"
Tia memberi informasi padaku. Dia memang type orang yang selalu update.
"Bodoamat Tiaaa,rajin banget ngurusan dia"
Padahal sebenarnya, aku juga suka ngestalk akun ignya Rafa diam-diam, dan benar followersnya semakin bertambah.
"Awas aja kalo ntar lo suka sama dia"
Ucap Tia sambil meminum es teh pocinya yang hampir habis. Hah?
"Udah pernah"
Jawabku, tapi dalam hati. Aku tidak menimpali perkataan Tia lagi, lalu fokus melihat Rafa ke arah panggung.
Setelah mereka selesai menyanyikan beberapa lagu, adik kelas berlarian menghampiri mereka di belakang panggung, lalu mereka bergantian foto bareng.
__ADS_1
"Uti, anter yuu kebelakang panggung"
Tia mengajakku
"Eh, ngapain ah"
Jawabku dengan malas.
"Lo kan dah kenal lama sama si Rafa, tolong bantuin ngomong, gue pengen fotbar sama dia, lumayan kan buat bikin snapgram"
Hhh dasar selebgram gadungan. Memang benar, aku dua tahun sekelas dengannya. Tapi apa ia tidak lihat, jika aku dengannya tidak pernah memgobrol, hanya berbicara seperlunya saja.
"Rafa kan udah punya pacar Tiaa, ntar kalo pacarnya marah gimana?"
Ujarku mencari-cari alasan.
"Kemana aja si lo, mereka dah putus tau"
Hah? Sejak kapan. Benar benar kurang update diriku ini.
"Ayoo ah buruan"
Tia menarik tanganku, ia berjalan menghampiri bandnya Rafa di belakang panggung.
Tia menyuruhku dengan seenaknya.
"Emangnya lo gagu?"
"Gue kalo depan cowo ganteng emang mendadak gagu hee"
Yaelah, dasar bucin.Tapi maaf, tolong ditarik ucapannya, Rafa gak ganteng, ganteng sih, tapi sedikit.
Akhirnya setelah adik kelas itu pergi, aku mendekat ke arahnya
"Rafa"
Panggilku dengan hangat dan ragu. Khawatir jika ia tak akan menyahut panggilanku. Dan, ia pun menoleh.
"Iya kenapa? "
Jawabnya dengan wajah yang sama- sama canggung.
__ADS_1
"Inii , Tia pengen minta fotbar katanya"
Jawabku, dan sebisa mungkin, dengan wajah yang tidak canggung. Sebenarnya, aku gengsi juga harus mengatakan ini.
"Yaelah Tia, di kelas juga bisa kali"
Jawabnya ke arah Tia.
"Tau nih si Tia ngerepotin aja"
Ujarku dengan cepat.
"Yaudah ayo"
Tia mendekat ke arah Rafa, ia menyerahkan hpnya padaku. What?Apa maksudnya. Dengan setengah hati, aku fotokan mereka berdua.
"1 2 3 cekrek"
Rafa tersenyum ke arahku,ah manis sekali. Aku tidak sadar bahwa sebenarnya ia senyum karena melihat kamera, bukan karena melihatku.
"Rafa makasih yaaa"
Ucap Tia dengan senang hati. Pasti dia akan segera mengunggah foto itu dicerita instagramnya.
"Tin, mau foto ga?"
Rafa bertanya padaku. Dia memang satu-satunya orang yang memanggilku dengan sebutin Ntin. Dulu, ia bilang panggilan Ntin itu spesial. Aku sendiri malah ingin tertawa mendengarnya, karena di tempat tinggalku Ntin adalah nama penyanyi dangdut.
"Tin siapa? "
Tia bertanya pada Rafa.
"Biutyn"
Jawab Rafa sambil menunjuk ke arahku
"Oh Uti, gabakal mau dia, iya kan Ti?"
Apa yang harus kujawab?Hatiku berkata mau, tapi..
__ADS_1
"Ntar aja Fa, gampang"
Jawabku malu-malu. Dasar aku, mengapa hati dan mulut tidak pernah sejalan?