Labil

Labil
Malam Jum'at


__ADS_3

Usahaku untuk melupakannya menjadi sia-sia. Masih terbayang jelas bagaimana dia memanggilku tadi dan mengajak fotbar. Kenapa aku terlalu memikirkannya?Bisa saja kan dia hanya sekedar tawar gatra, berbasa-basi karena kasihan melihatku yang hanya memfotokannya. Sebetulnya aku sangat ingin berfoto dengannya, tapi malu. Padahal untuk kenang-kenangan, biar bisa kutunjukkan pada anak dan cucuku nanti jika inilah lelaki yang pernah menyakitiku, namun aku masih menyimpan rasa untuknya. Sangat bodoh.


Dan semenjak hari itu, akhir-akhir ini, dia mengirimku pesan, masih sama seperti dulu, pesannya selalu tidak jelas.


"Ntin, liat tugas indo"


Katanya di suatu malam jum'at. Kadang aku berpikir, mungkin dia ngechat karena ada maunya. Atau dengan kata lain, dia hanya memanfaatkanku. Atau bisa jadi karena sedang kesepian. Aku tidak boleh terlalu terbawa perasaan.



"Bentar"


Balasku kemudian. Aku pun mengirim dua pict padanya. Ceklis dua biru .


"Yaelah Tin, liat isinya bukan tugasnya"


Dia protes karena yang kukirim adalah foto tugas Bahasa Indonesia yang ada di buku paket, bukan mengirim jawabanku. Apakah aku salah?


"Tadi katanya liat tugas indo"


Aku membela diri. Dia tidak membalas lagi, tapi kemudian.


"Eh Tin, tau ga?"


Dia mengirimku pesan lagi, sebuah pertanyaan baru dan ia melupakan tugas Indonesia yang baru saja ia tanyakan begitu saja.


"G"


Balasku dengan cepat dan singkat.


"Yaelah berasa jadi wartawan gue"


Tapi emang cocok juga sih. Dia memang hobby bertanya, percaya diri dan tidak pemalu, bahkan kadang malu-maluin.


"Tapi lo kan masih anak sekolah, duaaa smaa"


Balasku lagi


"Ett dah gue bacanya sambil nyanyi Ntin, seriusan"


Balasnya lagi. Mentang mentang vokalis, apa-apa dinyanyiin.

__ADS_1


"Bodo amat"


Ujarku berpurapura tidak peduli.


"Nama gue Rafa, bukan amat"


Iya tau, tidak perlu memperkenalkan diri lagi.


"Bukan Ucok?"


"Wkwk masih inget aja lo"


Aku terdiam membaca chatnya. Dulu Rafa pernah bilang, nama dia Ucok, bukan Rafa.


Ketika aku panggil Ucok, dia malah protes.


"Disini, Ucok itu tukang jualan seblak, ganti aja jadi Ozan"


Aku hanya geleng-geleng kepala saat itu. Dasar lelaki aneh.


Belum sempat aku membalas pesannya, Rafa mengirimku pesan lagi.


"Ntin gue mau cerita,tadi gue abis beli martabak"



"Dimana? "


Tanyaku sedikit antusias dengan ceritanya.


"Di toko sebelah, tapi rasanya ga manis, jadi nyesel beli"


"Soalnya lo beli martabak telor, yakan?"


Aku menebak duluan, siapa tahu tebakanku benar.


"Bukan, soalnya manisnya ada di lo haha"


Nahkan, humornya receh banget. Aku tertawa seketika. Dia memang gak pernah bisa serius kayaknya.


"Receh lu Fa"

__ADS_1


Balasku lagi. Aku mematikan data seluler.


Bosen, mijitin hape terus-terusan. Lalu beralih ke ruang keluarga. Disana ,ada ayah dan ibu yang sedang nonton TV. Aku memang seperti anak tunggal di rumah. Kakak pertamaku, Mbak Citra sudah berkeluarga, adik laki-lakiku-Ilham- sedang sekolah sambil pesantren.


"Nonton apa si bu, gak seru"


Kataku ketika melihat ayah dan ibu yang sedang menonton acara dangdut.


"Ini loh, masih pada muda, suaranya bagus-bagus"


Jawab Ibu sambil menunjuk ke televisi.


"Coba kamu, bisa gak nyanyi dangdut?"


Ayah menantangku.


"Bisa, tapi males kalo depan ayah"


Jawabku ngasal dan setengah bercanda.


"Yah, pernah ga beli martabak, tapi rasanya gak manis?"


Tanyaku iseng pada ayah, yang menjawab malah ibu.


"Gapernah, ayah kamu ibu larang buat makan yang manis-manis, gabaik buat kesehatan"


"Padahal, ayah suka yang manis-manis"


Jawab ayah kemudian.


"Ayah harus inget umur dong yah, ibu ng elarang kan karena sayang"


"Yang asin gak enak bu, gak ada rasanya.Yang pedes ntar sakit perut"


Kata Ayah menimpali. Tak mau kalah, ibupun menimpali ucapan ayah.


Aku menutup telinga dengan tangan, sambil tertawa melihat ekspresi mereka yang sedang berdebat gara-gara martabak.


"Yauda Yah, Bu, Uti kan cuma nanya"


Jawabku sambil meredakan perdebatan kecil mereka. Kedua orangtuaku ini memang lucu, dikit-dikit debat, lalu akur kemudian. Mereka seperti aku dan...

__ADS_1


Ah kenapa aku ingat dia lagi. Tidak boleh, perasaan ini harus hilang.


__ADS_2