
Keesokan harinya di sekolah. Sepertinya aku terlalu bersemangat dan datang sepuluh menit lebih awal dari biasanya. Sekolah masih sepi, aku ragu untuk pergi ke kelas. Akhirnya, aku tidak langsung masuk ke ruang ujian, aku menunggu Tia terlebih dahulu di gerbang. Tidak direncanakan ataupun janjian sebelumnya. Tiba-tiba saja aku mengingatnya karena belum bertemu sejak kemarin. Dan entah mengapa, ingatanku bukan perihal khawatir dengan kondisi kakinya yang belum bisa berjalan dengan baik, melainkan kekhawatiranku tentang Tia jika pergi ke ruang ujian bersama dengan Rafa.
Jujur, aku lebih rela menuntun Tia ke ruang ujian daripada melihat Rafa yang melakukannya. Untungnya, aku tak melihat Rafa disini. Antara masih di perjalanan atau sudah masuk ke dalam ruangan. Tapi ini masih pagi, mungkin saja Rafa masih di rumahnya.
Semakin lama kumenunggu, semakin banyak yang datang, membuat sekolah tidak sepi lagi. Aku gelisah, lebih baik ke kelas atau tetap menunggu Tia disini. Aku yakin Tia belum datang dan sebentar lagi aku akan segera melihatnya. Dan keyakinanku berbuah manis, tak sampai sepuluh menit aku menunggu, mobilnya Tia muncul. Supirnya membukakan pintu belakang, Tia turun dibantu oleh papanya. Aku segera menghampiri mereka. Papanya yang sudah kenal denganku melukis senyum di wajahnya. Ia terliahat rapi, akan pergi bekerja sepertinya.
"Uti, nunggu gue? "
Tanya Tia keheranan melihatku yang menjadi penjaga gerbang hari ini.
"Iya, tadi masih sepi soalnya"
Jawabku setengah berkata jujur. Setidaknya, aku tidak berbohong-bohong amat.
"Om titip Tia ya"
Pesan papanya Tia di balik kaca mobil sebelum mobilnya melaju.
"Siap om"
Kataku sambil menempelkan tangan kanan ke kening, layaknya seorang komandan yang siap memulai barisan. Sedangkan tangan kiriku memegangi Tia. Kini, mobilnya sudah hilang dari pandangan, meninggalkan sekolah dan memulai petualangan di jalan raya yang penuh kemacetan.
"Ayo ke kelas"
Ajaku pada Tia, aku sudah siap untuk menuntunnya. Akan tetapi, Tia belum menjawab, hanya celingukan mencari seseorang. Apa lagi yang ia cari? Atau mungkin tertinggal sesuatu di dalam mobil?
"Rafa mana ya?"
Tanya Tia padaku. Ah ternyata, kehadiranku tidak diharapkan rupanya. Ada sebuah perasaan yang tidak bisa kujelaskan ketika mendengar Tia menyebut namanya.
"Di kelas mungkin"
Jawabku agak malas. Tia tak menjawab, mungkin ia tidak percaya dengan jawabanku. Buktinya, matanya tetap menunggu kehadiran Rafa di ujung jalan. Ia tetap berdiri di depan gerbang, enggan berpindah walau selangkah pun. Aku tidak berani melarangnya, ia sendiri yang memutuskan untuk menunggu. Jadi biarlah, juga tak apa.
"Tebakan lo salah"
Ujar Tia padaku beberapa menit kemudian
"Itu Rafa"
Tunjuknya dengan raut muka bahagia. Aku mengikuti arah telunjuknya. Dan benar, meskipun ada banyak motor yang lewat dan pengendaranya tertutup helm, salah satunya memanglah Rafa. Hebat sekali Tia bisa menghafalnya. Lebih hebat daripada menghafal rumus fisika. Penantiannya tidaklah sia-sia.
"Ayo kesanaa"
__ADS_1
Ajak Tia padaku, ke arah parkiran. Aku tidak mau sebenarnya, tapi tidak enak dengan Tia. Terpaksa, akupun menurut. Tak tega juga jika harus membiarkan Tia berjalan sendirian. Apalagi, papanya sudah menitipkan Tia padaku.
Begitu sampai, Tia menunggu Rafa yang sedang membuka helmnya, tapi tidak dengan jaketnya. Setahuku, ia akan membuka jaket itu setelah tiba di kelas.
"Ngapain kalian berdua disini?"
Tanyanya berbasa-basi. Aku tidak suka ia menyapa seperti ini. Yang kuinginkan, ia menyapaku ketika sedang sendirian. Aku tidak suka sapaannya terbagi dua.
"Bareng"
Pinta Tia pada Rafa dengan antusias. Sementara aku, berdiri layaknya patung, masih enggan membuka suara.
"Kan ada Ntin"
Kata Rafa sambil melirik ke arahku. Ternyata dia sadar juga aku ada disini. Padahal aku berharap tidak. Aku tidak ingin jadi orang ketiga diantara mereka berdua. Kalo jadi orang kedua antara kita, gak masalah. Aku akan lebih bahagia jika itu terjadi.
"Biutyn kan beda ruangan"
Tia membela diri, sambil melirik ke arahku, meminta pembelaan.
"Iya ruangan gue jauh"
Akhirnya aku membuka suara, mendukung ucapannya Tia, meski sedikit berbohong. Tentu saja Rafa juga tau jika ruangannku tidak terlalu jauh dengan ruangannya. Biarlah, asalkan Tia senang.
Tia memegang tangan Rafa, mengajaknya sekali lagi. Kulihat sepertinya Rafa akan luluh. Wajahnya seperti tak tega membiarkan Tia berjalan tanpa dirinya yang menemani. Sekaligus wajahnya juga menyiratkan kebingungan.
"Lo kalo belum sembuh jangan sekolah dulu"
Rafa menasehati Tia. Tia tak membalas nasehatnya, hanya mendengarkan seperti aku ketika dinasehati ibu, tidak berani membantah sedikitpun.
"Lebih baik sekolah sih, kalo susulan ntar ribet"
Aku mengomentari ucapannya Rafa, tidak setuju atas nasehatnya. Lagipula, Tia hanya sakit kakinya, dan itu juga tidaklah parah. Aku setuju dengan tindakannya Tia yang lebih baik memaksakan sekolah daripada tidak sama sekali. Akan tetapi, lebih baik lagi jika Tia memaksakan sekolah namun tidak merepotkan orang lain. Aku bukan suudzon dengan Rafa, tapi kurasa, Rafa juga terbebani jika harus menemani Tia setiap pagi. Harapku, semoga Tia cepat sembuh. Aku rindu berlari-larian dengannya.
"Iya gue juga setuju, cuma kalo belum benar kuat jalan kayak gini, repot. Ke kamar mandi aja susah, apalagi ke kantin kan"
Rafa mengutarakan pendapatnya lagi.
"Kan ada Rafa yang nganter"
Aku mengatakan itu seolah hatiku baik- baik saja, padahal sebenarnya...
"Ini juga bentar lagi sembuh kok. Ayo bareng"
__ADS_1
Tia mengguncang-guncangkan tangannya Rafa.
"Yaudah ayo"
Dan benar dugaanku, Rafa mengiyakan ajakannya Tia. Sembilan puluh persen tak pernah melesat tebakanku. Tia tertawa kegirangan. Dan aku, tidak menang untuk hari ini. Iya, aku kalah. Percuma saja aku menunggu di gerbang sejak pagi, semua sia-sia, hatiku akan kacau.
"Duluan"
Ucap Rafa ketika melewatiku, dengan Tia disampingnya yang melambaikan tangannya padaku . Ah sial, aku harus melihat kejadian ini terulang kembali. Aku menghembuskan nafas tak beraturan. Ekspresiku ketika melihat mereka pergi berdua, dan meninggalkanku.
Ketika mereka sudah cukup jauh, kulangkahkan kaki. Kuanggap semua yang kulihat dengan kedua mataku -barusan itu-tak pernah terjadi.
"Cemburu lagi?"
Aku menoleh. Tak sadar sejak kapan Dio datang dan sudah berada di sampingku. Seperti biasa, ia selalu membawa jaketnya di tangan.
"Berisik lo kadal"
Ucapku setengah membentak. Aku paling tidak suka ketika orang lain menebak jika aku sedang cemburu, dan tebakannya adalah benar.
"Eh iyaa, sorry kemaren gue gak bawa jaket, kalo bawa, udah pasti dikasih pinjem"
Tiba-tiba Dio berganti topik dari cemburu menjadi jaket. Aku jadi ingat kejadian kemarin. Sedikit malu juga jadinya, karena aku tidak sadar darahku tembus.
"Iya gak papa"
Balasku agak canggung. Berharap agar ia melupakan kejadian itu. Aku sendiri hampir lupa sebenarnya, tapi mendengar Dio yang membahasnya lagi, tentu saja membuatku ingat kembali.
"Ngomong-ngomong kok bisa merah sih?"
Aku menatap Dio, bisa-bisanya ia menanyakan ini padaku. Tidak sopan. Apa harus kujelaskan warna darah padanya, sekaligus siklus menstruasi pada wanita? Kupikir, itu hanya buang-buang waktu.
"Bisa, coba aja"
Jawabku dengan singkat, disertai saran yang sangat bagus menurutku.
"Coba apa?coba pake roti bersayap?"
Malas menjawab, aku mengambil sesuatu dalam tas. Ada beberapa pembalut cadangan yang sengaja kubawa, lalu ku keluarkan satu dan kulemparkan tepat di mukanya Dio.
"Makan tuh roti"
__ADS_1
Kataku sambil berlalu meninggalkannya.