Labil

Labil
Setres


__ADS_3

Dio fokus menyetir, aku hanya menikmati jalanan, sambil sesekali tengok kanan kiri walaupun tidak berniat menyebrang hee.


Meskipun terdengar lalu lalang kendaraan yang membuat suasana tidak terlalu sepi, tapi aku inisiatif memulai pembicaraan. Aku tidak suka saling diam seperti ini.


"Ehmm Dio"


Ucapku nanggung, masih bingung juga hendak berbicara apa.


"Iya kenapa?"


Dio memalingkan wajah ke arahku, lalu ia fokus menyetir lagi.


"Lo kok mau si ngajak gue pulang bareng"


Pertanyaan itu terlintas begitu saja di benakku. Dio belum menjawab. Semenit, dua menit, tiga menit, aku menunggu.


"Ya emang kenapa?"


Hanya itu, hanya itu yang Dio ucapkan. Bukan sebuah jawaban, melainkan sebuah pertanyaan juga. Curang.


"Ga takut mobil lo lecet emang?"


Dio tertawa mendengar pertanyaanku. Gila nih orang, padahal pertanyaanku tidak lucu.


"Yaemang mobilnya lo apain sampe lecet kek gitu?"


Dio balik bertanya padaku.


"Gak diapa-apain"


Jawabku dengan polosnya sambil menggelengkan kepala.


Dio tidak berbicara lagi, ia kembali fokus menyetir dengan mulut yang masih tertawa.


"Jadi ke supermarket?"


Aku memalingkan wajah ke arahnya ketika mendengar pertanyaannya. Di depan sana, ada supermarket. Mungkin, Dio akan mampir disana.


"Jadi"


Jawabku. Sebenarnya, tidak jadi juga tidak masalah, karena keperluanku yang sudah menipis itu masih bisa digunakan untuk sehari hingga dua hari ke depan. Akan tetapi, Dio menuruti ucapankanku, ia berhenti di supermarket yang telah kuduga.


"Gue masuk dulu yak"


Setelah sampai, aku hendak turun, tapi tidak jadi karena melihat Dio yang juga hendak turun.


"Dio mau kemana?"


Tanyaku sebelum Dio benar-benar turun. Mendengar pertanyaanku, Dio tidak jadi turun.


"Mau belanja juga"


Jawabnya. Aku pikir, Dio akan mengikuti berbelanja. Jika seperti itu, lebih baik ia menunggu di mobil. Karena seperti kataku, perempuan tidak suka berbelanja dalam waktu yang cepat, begitupun juga denganku. Entah kenapa, memilih barang adalah hal yang kusukai. Biasanya aku suka memilih-milih barang untuk membandingkan harga, mana yang lebih ekonomis hehe.


"Oh kirain mau nunggu di mobil"


Kataku padanya. Setelah itu, aku dan Dio turun dari mobil berbarengan lalu masuk ke dalam supermarket. Tidak mungkin kan aku melarang Dio berbelanja juga?


"Selamat siang, selamat berbelanja"


Sapa kasir cantik di supermarket itu dengan ramah. Kasir yang lainnya kulihat sedang mengecek barang.


"Selamat siang juga Mbal"

__ADS_1


Balas Dio sambil menirukan gaya tangan kasir itu. Aku tertawa melihat kelakuan Dio, begitupan mba kasirnya. Untung saja, supermarketnya sedang tidak terlalu ramai.


"Maaf mbak, dia gini"


Ucapku sambil mendekatkan telunjuk ke kening, lalu dimiringkan. Tentu saja mba kasir akan faham kalo itu artinya stres. Terserah apa yang dipikirkan mba kasir itu, mungkin ia akan berkomentar dalam hatinya


"Ganteng-ganteng kok setres"


"Kok mau temenan sama orang setres"


"Setres kok dibawa ke supermarket, duh salah alamat mbanya"


Bodoamat, aku tidak peduli.


Berhubung barang yang akan kubeli lumayan banyak, akupun mengambil keranjang belanjaan. Dio mengikutiku. Kupikir, dia akan mengambil keranjang juga, ternyata tidak. Tangannya kosong, tidak memegang apapun. Gimanasih, katanya mau belanja juga.


"Kok gak ngambil keranjang"


Dio tak menjawab, pura-pura budeg mungkin.


"Lo mau belanja apa sih?Kok ngikutin gue"


Aku mulai risih saat Dio terus mengikutiku.


"Lo mau belanja apa? Dari tadi keranjangnya kosong"


Dio malah balik bertanya padaku.



"Sono ah, gue mau belanja roti"


Aku mengusir Dio, tapi ia tidak kunjung pergi juga. Baiklah, aku yang harus pergi meninggalkannya. Huh, lega rasanya saat Dio tidak mengikutiku lagi.


"Oh belanja roti Jepang"


Tiba-tiba Dio datang dan mendekat ke sampingku. Ia memperhatikan barang yang sedang kupegang. Buru-buru aku memasukkan barang itu ke dalam keranjang.


"Lo kesini ngapain?mau belanja roti juga?"


Ledekku padanya, sambil tanganku berpura-pura sedang mengambil barang lain.


"Roti ko mirip burung sih"


Mana ada burung disini. Burungkan hewan, dan tidak dijual disini pastinya.


"Maksud lo?"


Tanyaku tak faham.


"Ada sayapnya haha"


"Berisik lo"


Aku segera menghindar darinya, pergi ke tempat lain. Terpaksa kali ini aku harus mempercepat durasi belanjaku. Aku malas jika Dio tahu apa yang kubeli. Setelah selesai, aku mendekat ke kasir, untung saja tidak penuh, karena yang berbelanja hanya aku. Dio datang mendekat, ia memasukkan tiga eskrim ke dalam keranjang sebelum kuserahkan pada kasir.


"Nitip"


Katanya. Pantas saja, ia tidak mengambil, keranjang, orang belanjanya cuma beli eskrim. Gak papa deh ya, daripada cuma ikut masuk doang.


Dio menemaniku berdiri di depan kasir yang tengah sibuk menghitung belanjaanku. Lalu kasir itu menyebutkan jumlah uang yang harus dibayar. Aku mencari dompet, di saku rok tidak ada, saku baju juga tidak ada. Apa mungkin jatuh? Ah aku lupa, dompetnya ketinggalan di dalam tas, dan tasnya ada di dalam mobil.


"Ini Mbak"

__ADS_1


Dio menyerahkan uang dua lembar berwarna merah yang ia ambil dari dompetnya. Dompet yang ia simpan di saku celana seragam.


"Eh gausah Dio, biar gue ambil uangnya dulu"


Melihat Dio membayar belanjaanku, aku merasa tidak enak. Aku buru-buru hendak pergi, namun Dio mencegah.


"Gapapa, santai aja kali"


Katanya menenangkanku. Tapi tetap saja aku merasa tidak enak. Apalagi, uang itu telah diterima mba kasir. Ketika sampai di mobil nanti, aku harus segera menggantinya.


"Terimakasih, mau sekalian isi pulsanya?"


Tawar mba kasir itu sambil menyerahkan belanjaanku, Dio menerimanya.


"Ya"


Jawab Dio sambil mengangguk,sambil melirik ke arahku juga.


"Yang lima puluh ribu ya mba"


Mba kasirnya mengangguk. Dio menyebutkan nombernya sambil melihat gawai. Wait, itukan numberku?


"Dio, itukan"


Aku hendak protes.


"Iya emang"


Dio menunjukkan kontak Whatsappku di hpnya.


"Gapapa, tadi lo bilang kuotanya abis kan"


Aku bingung harus berbicara apa, tapi dalam hati senang juga.


"Silahkan dicek langsung ya, pulsanya sudah masuk"


Ucap mba kasir itu dengan ramah. Dio menyuruhku membuka hp, memastikan pulsanya masuk apa tidak. Dan setelah dicek, pulsaku bertambah.



"Udah masuk Mbak"


Kata Dio setelah melihat jumlah pulsa di hpku.


"Oh ya mba, suka eskrim gak?"


Tanya Dio pada kasir itu. Pertanyaanku yang tidak biasanya dilontarkan oleh seorang pembeli.


"Suka"


Jawab kasir itu dengan malu-malu, sambil menyerahkan struk belanjaan. Mendengar jawaban suka dari mbak kasir, Dio mengeluarkan eskrim dalam kresek belanjaan.


"Nih buat mba, selamat menikmati"


Kata Dio sambil menirukan gaya tangan si mbak kasir ketika menyambut pembeli.



"Makasih"


Ucap mbak kasir itu sambil senyum-senyum sendiri. Mungkin ini pertama kalinya ia digombalin anak SMA.


Dio tak menyahut, ia menarik lenganku pergi keluar. Di belakang Dio dengan tangan yang dituntun olehnya, aku melirik ke arah mba kasir yang sedang tertawa, kutempelkan telunjuk yang dimiringkan ke kening lagi. Agar si mba kasir benar-benar faham bahwa

__ADS_1


"Dio memang setres"


__ADS_2