
Aku dan Rafa mendekati pintu. Setelah mengucap salam, ibunya Tia datang.
Aku cium tangan, begitupun dengan Rafa.
"Ayo masuk, yang lain juga di dalem."
Seperti biasa, ibunya Tia selalu ramah pada setiap orang. Aku menuruti ajakan ibunya Tia.
Benar saja, rumah Tia mirip seperti rumah nenekku ketika lebaran, dimana semua anak dan cucunya berkumpul bersama. Untungnya rumah Tia dan rumah nenekku sama, sama-sama besar. Bedanya, rumah nenekku lebih sederhana dari ini.
Di ruang tamu, berkumpul temanku yang laki-laki, sedangkan yang perempuan berkumpul di ruang tengah menemani Tia.
Tapi ketika aku datang, mereka semua malah beranjak dari duduknya
"Eh pada mau kemana ini?"
Tanyaku heran. Aku datang bukannya disambut malah ditinggalkan.
"Mau pulang kita, kemana aja baru dateng"
Kata temanku yang rambutnya keriting.
"Iyanih, Biutyn mandinya lama"
Jawab Rafa tanpa kuduga.
"Engga, tadi abis nganter si Rafa disunat dulu"
Aku membela diri. Sontak teman-temanku langsung tertawa sambil memperhatikan ke arah Rafa yang masih setia dengan sarungnya.
"Disunat lagi lu fa"
"Jangan sering-sering dong ntar abis"
"Perih kagak?Coba gue liat"
Dan ucapan-ucapan absurd lainnya. Selepas itu, mereka benar-benar pulang, meninggalkanku dan Rafa disini.
__ADS_1
"Tia, emangnya mereka udah dari tadi?"
Tanyaku pada Tia yang berbaring di kasur.
"Heem"
Jawabnya dengan anggukan kepala. Kulihat, siku tangan dan kakinya diperban.
"Gue nelpon kok ga diangkat?"
"Hpnya di kamar"
Setahuku, Tia memang tidak pernah membuat nada bunyi di telponnya. Jadi pantas saja.
"Motor lo gak papa kan?"
Rafa bertanya dengan wajah polosnya.
"Lecet dikit, sama ayah dibawa ke bengkel"
"Harusnya, gue tadi tuh beneran nolak diantar lo pulang"
"Apaansih, bukan salah lo Uti"
Tia menjulurkan lidahnya padaku, sambil menepis tanganku di kepalanya.
"Iya nih Ntin nyalahin diri sendiri mulu"
Rafa ikut menimpali.
"Yaa bukan gitu Fa, gue gak enak aja jadinya"
Ucapku pada Rafa.
"Padahal, gue udah lirik kanan kiri, perasaan ga ada motor. Emang bapak-bapaknya aja yang bawa motornya kenceng"
Tiba-tiba Tia menceritakan kronologisnya padaku, ia membela dirinya dan aku percaya. Karena, aku tahu betul sifatnya. Ketika ia salah, ia akan mengakui kesalahannya, tanpa menyalahkan orang lain. Hari ini, aku beribincang banyak dengannya hingga tak terasa waktupun berjalan.
"Senin harus sembuh, harus ikut PAS"
__ADS_1
Aku berusaha memotivasinya.
"Iyaa ntar kalo udah sembuh, gue ajak lari"
Kata Rafa.
"Lari kemana emang fa?"
Tanya Tia begitu antusias
"Lari dari kenyataan"
Sudah kubilang, ia tak pernah serius. Tia memanyunkan bibirnya. Dari raut wajahnya ini, kulihat Tia memang berharap diajak lari oleh Rafa.
"Pokoknya cepet sembuh yaa. Ayo Tin kita pulang, Tia harus istirahat, gaboleh diganggu lama-lama."
Aku melirik ke arah Rafa, mukanya sangat serius mengajakku pulang.
"Tia gue pamit ya, ditunggu di luar"
Rafa berkata sekali lagi. Tia mengangguk, sambil matanya mengikuti gerakan Rafa yang melangkah ke luar.
"Uti, makasi yaa udah ngajak Rafa ke sini"
Tia tersenyum ke arahku, dengan senyuman tulus.
"Oh lo senengnya dijenguk Rafa doang?"
Tanyaku sinis, dan bercanda tentunya.
"Yaengga, makasi juga buat lo yang udah dateng, walaupun telat"
Ucapnya dengan nada bercanda.
"Iyaa pokoknya lo harus cepet sembuh ya, kalo gitu gue pulang,babayy"
Tia membalas lambaian tanganku dan bilang hati-hati di jalan.
Sore itu, aku meninggalkan Tia bersama luka kecelakaannya. Sakitan mana ya, luka di hati apa luka di tangan dan kaki?
__ADS_1
Menurutku tidak bisa dipilih salah satu,luka itu menyakitkan.