
Aku menelpon Rafa berkali-kali, untuk bilang jika aku akan pergi naik angkot saja. Meskipun sebenarnya, perasaanku sangat senang ketika ia bilang akan menjemputku. Tapi disisi lain, ada suara hati yang menyuruhku untuk tidak senang dan mengacuhkannya. Tapi, apakah aku bisa?
"Ayo masuk dulu"
Aku mendengar suara ibu di luar. Bicara dengan siapa?Aku segera mengintip di balik jendela. Tapi terlambat, ibu sudah masuk, dan tidak ada yang bisa kulihat.
"Uti, masih tidur apa udah bangun?"
Ibu mengetuk-ngetuk pintu kamarku.
"Masih tidur bu"
Jawabku setengah berteriak.
"Tidur ko bisa ngomong, ada tamu tuh di luar"
Akupun keluar kamar mendengar ibu bilang ada tamu.
"Tamu siapa bu?"
Tanyaku pelan di balik pintu.
"Temen kamu, Rafi atau Rafa namanya ya, ibu lupa"
"Oh iya bu, Rafi Ahmad"
Jawabku ngasal. Lagipula ibu tidak akan percaya, mana ada Rafi Ahmad masih sekolah SMA ya kan.
"Katanya temen sekelas kamu?"
Ibu percaya saja,padahal aku sedang bergurau.
"Iya, bilang aja bu, Uti lagi tidur dan gak bisa diganggu"
Aku mencari-cari alasan untuk menghindar.
"Lah ini kamu bangun. Katanya mau jenguk Tia kan?"
Sialnya, ibu tidak mendukung alasannku sama sekali. Ibuku juga sudah kenal siapa Tia.
__ADS_1
"Kata siapa bu?"
Padahal, aku belum cerita sedikit pun tentang Tia yang kecelakaan pada ibu.
"Temen kamu sendiri yang bilang"
Sudah kuduga. Baiklah, demi Tia.
"Yaudah, Uti mandi dulu deh"
Aku mengambil handuk, tapi
Ibu menarik tanganku, sekaligus mengambil handuk yang baru saja kutaruh di pundak.
"Eh gausah mandi, cuci muka aja. Kasian ntar nunggu lama"
Ibuku memang suka tidak enakan pada orang.
"Yah ibuu, itu kan urusannya dia. Suruh siapa dia kesini"
Karena aku selalu kalah dan tidak berani berdebat dengan ibu, akhirnya, dengan langkah gontai aku pergi ke kamar mandi, membersihkan muka dan menggosok gigi. Tak sampai tiga puluh menit, aku telah selesai bersiap-siap. Akupun menemui Ibu dan Rafa di ruang tamu. Ini adalah pertama kalinya, ada laki-laki menjemputku ke rumah, lalu berbincang sekaligus meminta izin pada ibu.
Tapi, saat melihat Rafa, ada hal yang membuatku tertawa. Karena tidak enak dengan ibu, akupun menahan tawanya.
Ajakku dengan tangan yang menutup mulut karena masih menahan tawa.
"Ibu pamit dulu ya"
Kata Rafa sambil mencium tangannya ibu.
"Iyaa hati-hati, jangan ngebut-ngebut ya"
Rafa mengangguk lalu meninggalkan ruang tamu.
"Dadah ibu"
Aku melambaikan tangan pada ibu, ibu membalas lambaian tanganku.
Dan ketika sudah sampai di luar, aku tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Lo ngetawain gue?"
"Lo abis disunat ya Fa?"
Tanyaku sambil menunjuk ke bawah. Rafa mengikuti arah telunjukku, dan ia pun malah menertawakan dirinya sendiri. Aku tak menyangka bisa tertawa bersama seperti ini.
"Duh gak nyadar gue masih pake sarung, baru pulang jumatan soalnya"
Ucapnya dengan wajah yang tidak ada malunya sama sekali.
"Gapapa, lucu malah"
"Eh kira-kira, ibu lo ngetawain gue gak yak?"
"Kenapa emang?"
"Malu lah, diketawain camer"
Tiba-tiba tawaku berhenti, entah mengapa.
Dan aku, tidak berkata apa-apa lagi.
"Nih"
Rafa menyerahkan helm padaku, ia membawa dua rupanya.
"Tadi pas di sekolah gak sengaja denger obrolan lo sama Tia, makanya bawa helm dua"
Jelasnya tanpa kutanya.
"Dih nguping"
Helm pemberiannya kupakai
"Gak nguping, orang kalian ngomongnya keras"
Aku tidak menjawab lagi.
Rafa menaiki motornya, lalu aku juga naik ke belakang.
__ADS_1
"Pegangan"
Pesannya sebelum motornya melaju.Tapi aku pura-pura tidak mendengar ucapannya.