
Pukul 11.00, bel pulang berbunyi lebih awal dari biasanya. Ini adalah hal yang sangat langka bagiku dan tentunya bagi teman-temanku. Bagaimana tidak, biasanya pukul 15.00 bel itu baru berbunyi. Kabarnya, kepala sekolah sengaja membubarkann muridnya lebih awal karena hari senin nanti sudah mulai Penilaian Akhir Semester ganjil. Dengan pulang yang lebih awal ini diharapkan siswa-siswi bisa beristirahat lebih banyak. Yah, aku tidak peduli itu.Yang terpenting, hari ini pulang. Sebelum meninggalkan kelas, aku ucapkan sampai jumpa pada kelas ini, karena untuk hari senin nanti hingga satu minggu ke depan tidak akan ada kegiatan belajar mengajar lagi.
Sekilas, aku melirik ke tempat duduknya Rafa, sang ketua kelas yang sangat absurd.
Tak terasa, satu setengah tahun aku memendam perasaan ini, dan sedang berusaha untuk menguburnya dalam-dalam. Teringat dulu ketika awal masuk kelas sebelas, aku membenci kelas ini, karena aku satu kelas lagi dengannya. Aku lupa bahwa dunia tidak hanya tentang dia. Nyatanya, aku nyaman berada di kelas ini karena banyak teman yang menyenangkan. Dan lihat, aku baik-baik saja bukan?
"Uti, pulang bareng yuk"
Suara Tia membuyarkan lamunanku. Beberapa teman yang lain sudah berada di luar sebagian.
"Apaan?"
Tanyaku sekali lagi, karena tadi tidak terlalu jelas mendengarnya.
"Pulang bareng, gue bawa motor soalnya"
Biasanya Tia diantar jemput oleh supirnya. Tia memang tajir, ayahnya adalah pengusaha sukses. Akan tetapi, aku sangat suka kepribadiannya yang tidak sombong dan juga penampilannya yang sederhana. Tumben-tumbenan sekarang ngajak pulang bareng .
"Lah rumah kita kan beda arah, ngerepotin"
Tolakku dengan halus. Aku tidak enak karena sering sekali merepotkannya. Meskipun Tia menyebalkan, tapi kuakui ia memang teman yang sangat baik. Andai rumahnya Tia searah denganku, pasti aku tidak akan menolak ajakannya. Seperti yang Tia pernah bilang, lumayan kan buat menghemat ongkos hee.
"Ih masa kita sekelas setengah tahun gapernah boncengan sih"
Hmm betul juga. Kalaupun main bareng, kita sering membawa motor masing-masing. Aku juga penasaran gimana rasanya dibonceng Tia.
"Gue udah bawa helm dua soalnya, biar mata lo ga perih"
Tumben ni anak niat banget buat nganter pulang. Biasanya, jangankan membawa helm dua, memakai helm dikepalanya pun tidak. Padahal menurutku, menggunakan helm saat berkendara itu sangat penting. Selain untuk menghindari agar tidak ditilang, helm juga berguna untuk keamanan karena melindungi kepala, helm juga bisa melindungi mata dan wajah agar tidak kusam. Makanya, aku suka mengomel ketika melihat Tia membawa motor tanpa menggunakan helm. Bukan apa-apa, sayang aja kalo wajahnya yang mulus hasil skincare-an itu jadi terkotori debu jalanan. Entar uang abis, mukanya gitu-gitu aja kan gak lucu. Lagipula setahuku, skincare itu harganya mahal-mahal, bukankah begitu kaum hawa?
"Seriusan?"
Tanyaku memastikan, karena aku tidak yakin ia membawa helm dua. Tia kemudian menggandeng tanganku, berjalan ke luar kelas, mengambil sepatu di rak, akupun mengikutinya.
__ADS_1
"Kapan gue bohong?"
Tanya Tia sambil tangan kanannya menjingjing sepatu, lalu ia masukkan kedua kakinya ke dalam sepatu itu. Akupun melakukan hal yang sama.
"Kalo gak percaya, makanya ayo ikut ke parkiran"
Ajak Tia padaku.
"Gaenak, ngerepotin"
Jawabku lagi.
"Ih kaya yang baru kenal aja, kan lo emang suka ngerepotin gue"
"Tapi gue emang suka kok direpotin orang"
Aku masih diam, belum menjawab
"Ayo dong pliss"
Tia membujukku lagi. Akhirnya akupun mengiyakan.
Lah,ko gue sih?
"Oh gue tau, lo males panas-panasan kan?Takut tangannya item kan?"
Tia pun nyengir. Yaelah, padahal udah dipuji tadi . Pantesan maksa-maksa, ternyata ada maunya. Dasar ***, eh Tia maksudku.
"Soalnya sekalian mau beli bensin hee"
"Yaudah mana kuncinya?"
Tanyaku sambil mendekatkan telapak tangan.
"Nih"
Tia memberikan kuncinya padaku. Setelah mendapat kunci, aku mulai menjauhkan jarak, lalu aku tunjukkan kunci itu pada Tia.
__ADS_1
"Lo pulang naik angkot ya, kuncinya mau dibuang"
Akupun berlari dan meninggalkan Tia.Tia marah-marah sambil mengejarku ke parkiran.
"Uti jangan dibuang kuncinya"
Teriak Tia padaku. Aku terus saja berlari, dan menahan tawa juga tentunya.
Setelah sampai di parkiran, aku menunggu Tia datang. Ia kelelahn sepertinya mengejarku.Padahal, tidak usah dikejar karena aku tidak mungkin akan membuang kuncinya.
"Mana kuncinya, jangan dibuang"
Tia meminta kunci itu padaku, nafasnya ngos-ngosan.
"Nih ambil di saku"
Kataku bercanda, dan Tia malah tertawa juga. Mana mungkin ia berani mengambil ini disaku bajuku.
"Yaudah mana"
Tangan Tia hampir saja berhasil mengambil kunci itu, tapi segera kutepis karena aku tidak mau ternodai haha.
"Mana motor lo?"
Tanyaku padanya.
"Tuh"
Tangan Tia menunjuk motornya yang berwarna putih.
"Gue bayar ambil helm dulu sekalian bayar parkir, lo tunggu di motor ya"
Kata Tia padaku. Akupun setuju. Dan ketika sampai disana, aku bertemu dengan Rafa, hanya terhalang tiga motor. Aku membuang muka dan pura-pura tak melihatnya. Tia pun datang, aku memberinya helm untuk dipakai. Setelah itu, aku dan Tia pun pulang.
***
__ADS_1
Tinggalkan jejak di komentar yaaa🤗