Labil

Labil
Tau gak


__ADS_3

Tak pernah kubayangkan, yang dulu hanya khayalan, kini menjadi kenyataan. Berboncengan dengan Rafa, melewati sepanjang jalan raya berdua. Ini benar-benar tidak mimpi. Padahal, dulu aku hanya bisa menatapnya di kejauhan ketika ia berjalan ke parkiran, meskipun dulu ia adalah pacarku. Dan ini pertama kalinya, di usia 16 tahun,aku berboncengan dengan seorang lelaki selain ayahku, kakak iparku, adikku dan tukang ojeg. Rasanya tentu saja berbeda.



"Fa"


Aku memanggilnya, menambah kebisingan jalan raya, yang tak pernah ada sepinya.


"Kenapa?"


"Lo kok bisa ketemu sama ibu?"


Hal yang membuat kepalaku bertanya-tanya sejak tadi. Mengapa ibu bisa membawanya ke rumah?


"Kemuung depan"


"Hah?"


Jawaban macam apa itu.


Kata hah, selain digunakan sebagai ekspresi terkejut, aku gunakan juga ketika kemampuan mendengarku berkurang. Aku meminta Rafa mengulangi jawabannya.


"Ketemu di warung depannn"


Jawab Rafa lebih keras, hingga aku mampu mendengarnya dengan baik.


"Kok tau itu ibu gue?"


Tanyaku lagi.


"Hah?"


Kali ini gantian, Rafa yang budeg.

__ADS_1


"Kok lo tau itu ibu gue?"


Aku mengulangi pertanyaanku sekali lagi.


"Ohh, gue nanya dimana rumah lo, eh yang jawab ternyata ibu lo"


Rafa berteriak-teriak menjawab pertanyaanku. Aku manggut-manggut saja di belakang. Terjawab sudah pertanyaanku itu.


"Ntin, lo tau rumahnya Tia dimana?"


Kali ini,pembicaraanya sudah berganti topik.


"Tau kok"


Jawabku tanpa harus menyuruh Rafa mengulangi pertanyaannya. Satu tahun sekelas dengan Tia, sudah lebih dari sepuluh kali aku bermain ke rumahnya. Kadang mengerjakan tugas, mengajari Tia soal Matematika, diajari Tia menggambar, belajar memasak, atau apa saja hingga kamarnya Tia beratakan. Begitu pula ketika ia ke rumahku.


Setelah menjawab pertanyaannya Rafa tadi, aku berniat mengucapkan sesuatu pada Rafa


"Rafa tau...


"Tau kok, tapi nama jalannya doang"


Yah, padahal aku tidak berniat menanyakan itu padanya. Mungkin Rafa kira, aku menanyakan apakah ia tau rumah Tia atau tidak. Tapi tak apalah, lupakan saja ucapanku itu. Tak lagi berbicara, aku hanya menikmati desiran angin.


Tak terasa, aku dan Rafa sudah sampai di jalan rumahnya Tia. Hanya perlu lurus beberapa jarak lagi


"Nah fa ,ini rumahnya"


Tunjukku sambil menepuk pundaknya. Rafa sedikit kaget dan mengerem mendadak. Sontak, aku langsung memindahkan tangan kedepan, jadi dadaku aman dan terlindungi. Kalo tidak, wah bahaya!


Karena pagarnya Tia terbuka lebar, Rafa pun membawa motornya masuk. Disana sudah banyak motor, ada beberapa yang kukenali, rupanya teman-temanku sudah datang.


"Ih, lo sengaja ya!"

__ADS_1


Aku masih menutupi dadaku dengan kedua tangan.


"Sengaja apaan?"


"Ngerem mendadak, biar bisa itu ya"


Ucapku dengan jutek.


"Bisa apa?"


Mukanya Rafa senyum-senyum.


"Tau ah, gue mau turun"


Aku meninggalkan Rafa di motornya. Lalu, Rafa memanggilku


"Ntin"


"Apa lagi?"


aku menoleh.


"Itu helmnya"


Rafa menunjuk kepalaku. Aku langsung merabanya. Dan,benar saja helmnya masih menempel. Dengan wajah malu, aku pun melepasnya, lalu menghampiri ia lagi


"Maaf, tadi lupa hee"


Kataku sambil menyerahkan helm padanya. Tangan Rafa menerimanya, tapi tangan kirinya menahan tanganku. Seketika,jantungku berdegup kencang.


"Tungguin"


Lalu, dilepaskannya lagi tanganku dengan lembut. Aku membeku, masih untung tidak pingsan. Mungkin saja, pipiku memerah. Lalu aku teringat lagi kata yang hendak kuucapkan di motor tadi

__ADS_1


"Rafa tau gak, gue seneng banget hari ini"


__ADS_2