Labil

Labil
Rahasia


__ADS_3

Dua jam pelajaran selesai, saatnya istirahat. Beberapa orang telah pergi keluar kelas. Begitupun dengan pengawasnya.


"Uti ayo ke kantin"


Ajak beberapa teman sekelasku


"Iya duluan aja, ntar nyusul"


Jawabku pada mereka.


Aku berniat untuk mengirim pesan pada Tia lewat Whatsapp, hendak menanyakan barangkali ia mau membeli sesuatu di kantin, dan menitipnya padaku. Tapi kuota sedang sekarat. Akhirnya, aku punya ide.


"Dio,hotspot dong. Kuota gue abis"


Kataku pada Dio yang hendak pergi keluar kelas.


"Buat apaa?"


Tanyanya


"Buat ngechat Tia, boleh ya?"


Tanyaku setengah membujuk,berharap Dio akan mengangguk.


"Bentar-bentar"


Dio mengambil hp yang berbunyi di dalam saku celananya.


"Ini, Tia ngevc"


Katanya sambil menunjukan hpnya,disana tertera nama Tia dengan nama kontak yang aneh "Tiati di jalan", aku tertawa membaca nama kontaknya.


"Yaudah angkat"


Dio mengangguk, ia usap ikon berwarna hijau. Aku mendekat ke arah Dio,agar terlihat di layar. Tapi bukan Tia yang kuliahtat,malah Rafa yang ada. Ia senyum-senyum sendiri sambil memainkan rambutnya.


"Woi Whatsapp bro"


Katanya


"Assalamualaikum dulu bangs*t"


Kata Dio sambil tertawa. Aku diam,tak bersuara sedikit pun.


"Assalamualaikum ukhty"


Kata Rafa dengan jelas.


"Gue laki any*ng"


Ucap Dio


"Itu, sebelah lo"


Dio melirik ke arahku. Ia lupa bahwa aku disini sedari tadi. Aku hanya memasamg wajah cemberut.


"Matalo melek terus kalo liat yang bening-bening"


Kata Dio setengah berteriak. Di sana, Rafa hanya tertawa.

__ADS_1


"Dio, coba tanyain Tia"


Kataku


"Kata Biutyn, Tia mana?"


"Ini nih, bentar"


Rafa mengarahkan hpnya pada Tia. Kulihat, Tia ada di sebelahnya sedang makan. Mereka duduk berdua, hmm.


"Tiaaa tumben lo bawa makan"


Dio memberikan hpnya padaku, aku melambaikan tangan pada Tia yang sedang memasukkan nasi ke dalam mulutnya, tangan kirinya melambaikan tangan juga padaku.


"Bukan punya gue, ini punya Rafa"


Kata Tia sambil mengunyah. Jawabannya membuatku terdiam.


"Iya nih Tia ngabisin makan gue"


Kata Rafa ke arahku.


"Kan lo sendiri yang nyuruh, ini juga belum abis"


Tia membela diri sambil memperlihatkan misting berwarna hitam yang isinya tinggal setengah.


"Ya masa lo nyuruh gue beli mie ayam, males tau harus ngantri"


Rafa juga membela diri. Padahal tadinya, aku berniat membelikan Tia mie ayam.


"Ya masa lo tega liat gue beli mie ayam sendiri, bawa tongkat lagi"


"Ya kalo lo mau beli sendiri ya gpp gabakal gue larang"


"Ya tapi kan gue gak mau Rafaa"


Tia tetap membela diri.


"Kalo lo mau nih gue suapin"


Tia mengarahkan tangannya, Rafa mebuka mulutnya. Tapi Tia malah memasukkan nasi itu ke dalam mulutnya sendiri. Tia cekikikan melihat Rafa yang memasang wajah kesal. Aku juga kesal menjadi penonton mereka.


"Nih"


Aku menyerahkan hp itu pada Dio, lalu pergi ke tempat dudukku. Selanjutnya, aku tidak tahu apa yang diobrolkan Dio dengan Rafa, aku malas menyimaknya.


"Ayo ke kantin"


Dio menghampiriku. Video callnya sudah berakhir.


"Males ah, lima menit lagi juga bel masuk"


Kataku sembari melihat jam dinding yang letaknya berada di atas papan tulis.


"Kalo lo masih cinta, kenapa gak balikan"


Aku melirik ke arah Dio


"Maksud lo?"

__ADS_1


Kini seluruh tubuhku benar benar menghadap ke arahnya.


"Lo cemburu kan sama Rafa"


"Engga"


Jawabku dengan cepat sambil menggelengkan kepala.


"Gue tahu, kalian pernah jadian kan"


"Engga"


Jawabku sambil menggeleng.


"Gausah bohong, Rafa sendiri yang cerita sama gue"


"Hah?"


Tanyaku setengah kaget.


"Terus lo percaya?"


"Percaya"


Jawabnya dengan yakin. Aku pikir, Rafa benar-benar merahasiakan hubungan ini. Padahal, aku tidak menceritakan pada siapapun jika aku adalah mantannya.


"Itu cuma bohongan"


Aku mengelak.


"Tapi perasaan lo ga bisa bohong.


Lo sering tertangkap basah lagi liatin Rafa di kelas"


Pipiku memerah.


"Apaansi so tau"


Ucapku dengan jutek. Aku benar-benar malu.


"Yaudah kalo gak mau ngaku"


Dio hendak pergi,tapi aku menahannya.


"Dio, jangan cerita sama orang lain"


Kataku dengan pelan.


"Rafa udah cerita ini sejak lama, tapi aman-aman aja kan?"


Dio meyakinkanku.


"Meskipun Rafa gabilang kalo ini rahasia, tapi gue tau kok mana cerita yg boleh gue ceritain ke orang lain, mana yang enggak"


Ucapnya lagi.


"Makasih ya"


Ucapku untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


Dio hanya mengangguk, lalu ke luar sebentar mengobrol dengan temannya yang lain. Aku juga melakukan hal sama sambil menunggu bel jam kedua berbunyi.


__ADS_2