Labil

Labil
Bukan Ojeg


__ADS_3

Hari Jum'at.


Aku sangat bersemangat pergi ke sekolah. Selain karena pelajarannya yang tidak menegangkan, hari Jum'at juga hari terakhir belajar, lalu menyambut hari libur Sabtu dan Minggu.


"Jajan banyak gak bikin kenyang, yang kenyang itu makan nasi"


Nasihat ibu ketika aku menolak membawa bekal makan. Ia memang paling tidak suka melihatku telat makan.


Akupun menurut, aku belum siap dikutuk seperti Malin Kundang. Lagipula, apa yang dikatakan ibu ada benarnya juga. Selain membuat perut terasa lebih kenyang karena asupan karbohidrat terpenuhi, membawa bekal juga bisa menghemat uang jajan.


"Belajar yang bener. Mau Ayah antar gak?"


Tawar ayah saat aku mencium tangannya.


"Gak usah Yah, angkutan umum kan banyak"


Jawabku sembari gantian mencium tangan ibu.

__ADS_1


Pukul 06.05, aku berangkat menjalankan misi. Dengan seragam serba coklat yang melekat di tubuh, aku berjalan lurus, turun tangga, melewati gang, lalu sampailah di pinggir jalan. Lalu lintas selalu ramai setiap pagi, terutama kendaraan bermotor. Sebetulnya, bisa saja aku membawa motor ke sekolah.Tapi, ayah belum mengizinkan karena khawatir terjadi hal yang tidak diingankan di jalan. Katanya,aku tidak bisa santai,atau dalam Bahasa Sundanya garabag dan seredeg. Alhasil,akupun memilih naik kendaraan umum. Itung-itung berbagi rezeki dengan para supir.


Menunggu memang hal yang membosankan. Tapi dari sinilah, aku belajar percaya bahwa yang ditunggu akan datang, dengan waktu dan di tempat yang tepat. Karena,tidak mungkin angkutan umum alias angkot-begitu aku menyebutnya-datang di stasiun kereta api kan?Dan angkot yang penumpangnya penuh, tidak mungkin berhenti di depanku. Dan bersabar adalah hal yang tidak boleh bosan kulakukan.


"Tiiiid"


Suara klakson motor yang berhenti di depanku, membuatku menoleh



*pict hanya pemanis :v


"Maaf mas, saya tidak pesan ojeg. Masnya salah alamat"


Tapi setelah diperhatikan, tidak mungkin ini tukang ojeg, karena ia memakai celana pramuka. Setelah pengendaranya membuka kaca helm, terlihatlah bahwa ia, ah apakah ini bukan mimpi?Aku menampar pipiku sendiri, dengan tidak terlalu keras tentunya.


"Aw"

__ADS_1


Ujarku pelan, ternyata ini memang nyata.


"Bareng gak?"


Aku terkejut mendengar ajakannya. Kupikir, ia akan berhenti sejenak, lalu lewat begitu saja tanpa menyapaku.


"Rumah lo bukannya di sana?"


Tanyaku penuh keheranan. Apa mungkin ia pindah rumah?


"Iya, tadi ngisi bensin dulu. Pom yang lain pada penuh"


Jawaban yang lumayan masuk akal. Lagipula, tidak mungkin ia melakukan ini demi aku. Mungkin, ia berhenti karena kasihan melihatku berdiri di sini, bukan karena berniat untuk mengajakku berangkat bareng. Lagi-lagi karena kasihan.


"Gue naik angkot aja, itu angkotnya udah dateng"


Akhirnya yang kutunggu menampakan diri. Buru-buru aku masuk. Penumpang yang lain bergeseran, menyisakan satu tempat untukku di pojok belakang. Untuk kedua kalinya, hati dan mulutku tidak sejalan.

__ADS_1


Ketika aku melirik ke arah kaca belakang, tersampak ia di sana. Motornya tepat di belakang angkot yang kutumpangi. Ia melambaikan tangannya. Oh malunya aku, ketahuan jika sedang memperhatikannya. Aku melirik ke penumpang lain, takutnya lambaian tangan itu bukan ditujukan untukku.Tak ada, hanya aku saja, penumpang yang lain fokus memperhatikan ke depan. Dengan malu-malu, aku mengangkat tangan kanan, bukan untuk mengajukan pertanyaan, tapi membalas lambaian tangannya. Setelah itu, aku langsung memalingkan muka, dan tertawa senang dalam hati.


__ADS_2