Labil

Labil
Kosong


__ADS_3

Tak ada holiday untuk hari Sabtu dan Minggu ini . Ibu menyuruhku untuk belajar di rumah, mempersiapkan diri untuk senin nanti. Ibuku memang cerewet dan tegas.


Bahkan, hal itulah yang menjadi alasan kenapa adikku mau dipesantrenkan.


"Aku males kalo denger ibu marah-marah"


Katanya ketika kutanya mengapa ia setuju saat ayah memindahkan sekolahnya ke sebuah sekolah yang ada pesantrennya.


"Hus, gak boleh gitu"


Kataku pelan, takut terdengar ibu. Waktu itu, obrolannya terjadi di ruang tamu .


Adikku memang terbilang anak yang cukup nakal di mata ibu, tapi bagiku itu wajar-wajar saja. buku selalu khawatir jika setiap waktu pulang sekolah, ia belum ada di rumah. Ketika ditanya alasannya kenapa, katanya telat angkot. Bahkan, ia berani meminta motor pada ayah, katanya agar tidak telat pulang lagi dan membuat ibu khawatir. Padahal, saat itu ia masih kelas satu smp. Tentu saja, ayah dan ibu tidak menyetujuinya.


"Jawab jujur, kemana aja baru pulang jam segini?"


Tanyaku ketika ia baru sampai di rumah ketika maghrib, padahal seharusnya sudah sampai sejak jam dua tadi . Aku telpon pun tidak aktif .


"Abis itu ka, nyari tutut di sawah"


Hampir saja aku tertawa mendengar jawabannya. Tapi untungnya tidak. Aku harus bisa menjadi kakak yang tegas, sementara untuk kali ini saja.

__ADS_1


"Jawab yang jujur"


Ucapku lebih tegas lagi


"Abis futsal ka sama anak SMA"


Jawabnya tanpa sedikitpun melihat wajahku. Ia fokus pada hpnya yang miring. Yah, adikku memang hobby bermain game. Kadang, hingga ia lupa waktu belajar.


"Kenapa tadi gak jujur sama ibu?"


Tanyaku lagi, soalnya tadi ia bilang pada ibu kerja kelompok dulu .


Katanya sambil marah-marah. Aku geleng-geleng kepala melihat kelakuannya. Heran, tidak mau diintogerasi, tapi tidak pernah jujur.


Jujur saja, aku rindu ketika rumah ini masih diisi lima orang. Ada kak Citra, aku, Ilham, ayah dan juga ibu.



Rasanya, terasa lebih hangat. Ada kak Citra yang sering sekali curhat padaku, ingin membawa pacarnya ke rumah lalu dikenalkan pada ayah, tapi pacarnya selalu sibuk. Kak Citra juga pernah menangis ketika pacarnya harus bekerja di luar kota untuk beberapa bulan. Kak Citra bilang, khawatir selingkuh katanya. Lalu ada Ilham yang susah sekali bangun pagi. Jika aku mengganggu tidurnya, ia akan mengejarku sampai dapat, atau ia akan mengajakku perang bantal. Ilham juga suka mengejekku dengan sebutan pendek, karena aku hanya setinggi dagunya. Seru lah pokoknya. Sekarang semua itu hanya membekas di rumah ini. Untung saja, ibu selalu siap menjadi ibu sekaligus teman untukku. Karena itulah, aku tidak mau dipesantrenkan seperti Ilham. Karena aku tidak tahu bagaimana jadinya jika nanti jauh dari ibu. Bagaimanapun, aku sayang ibu .


"Heh belajar bukan melamun"

__ADS_1


Seseorang menepuk pundak,pecahlah semua lamunanku. Hendak marah, tapi setelah kulihat, niatnya kuurungkan karena ternyata itu adalah ibuku.


"Belajar terus bu bosen"


Ucapku sambil menutup buku.Sepertinya,aku sudah lelah belajar.


"Yaudah, tidur sana,kasur sudah melambai-lambai"


Wah keren euy, ucapan ibuku bermajas seperti puisi.


"Kelonin bu"


Kataku manja


"Tidur sendiri dulu ya, ayah udah nunggu soalnya"


Kata ibu sambil tertawa pelan ,juga sambil mengusap kepalaku.


"Yah ibu, malah pacaran lagi"


Kataku sambil merebahkan diri di atas kasur.

__ADS_1


__ADS_2