Labil

Labil
Mantan


__ADS_3

Sesampainya di sekolah, aku segera menuju pintu gerbang. Sebelum sampai, aku melihat motornya Rafa menuju parkiran. Aku harus buru-buru sampai, aku malu jika harus berhadapan dengannya. Langkahku dipercepat, mendahului beberapa orang teman yang berjalan di depanku. Aku menghembuskan nafas lega saat sudah sampai di lapangan. Aku pun meneruskan perjalanan menuju kelas. Pembelajaran akan di mulai lima menit kemudian. Tentu saja harus menunggu bel itu berbunyi.


Setelah aku menyimpan tas, datanglah Rafa dengan jaket hitamnya. Tangannya merapikan rambut, padahal menurutku, rambutnya tidak berantakan.



"Woi Fa, gue kira gak bakal sekolah, tumben amat anak OSIS datangnya siang"


Kata Dio, teman sebangkunya Rafa.


Meskipun letak tempat dudukku berjauhan, tapi aku masih bisa mendengarnya dengan baik.


"Bosen ah datang pagi mulu"


Jawab Rafa sambil menyimpan tas di atas meja. Setelah itu, tak ada percakapan lagi di antara mereka.


"Pagi-pagi jangan ngelamun"


Tia menyenggol tanganku. Saking asiknya menyimak pembicaraan orang, aku malah mengabaikan temanku sendiri.


"Iya ni masih ngantuk huwaaaa"


Ucapku sambil pura-pura menguap, dengan tangan yang menggeliat.


"Emang abis apa semalem?jaga lilin?"


Tanya Tia dengan gaya yang selalu ingin tahunya.

__ADS_1


"Abis jaga hati haha"


Jawabku ngasal.


"Pasti hati ayam"


Ucap Tia meledekku. Saking taunya ia bahwa aku tidak pernah memainkan hati manusia. Tapi kini, aku sedang dipermainkan oleh hatiku sendiri.


"Tia, gue boleh nanya gak?"


Tanyaku mulai serius.


"Ya tanya aja, asal jangan pake soal malaikat penjaga kubur"


"ih Tia, seriusan ini"


"Iyaaa Uti, mau nanya apa?"


Aku terdiam sejenak.


"Misal, lo diajak berangkat bareng sama mantan, lo bakal ikut apa enggak?"


Tanyaku dengan pelan, khawatir ada yang mendengar.



"Diajak berangkat bareng kemana?Ke KUA, ke pelaminan, ke undangan, ke kantin apa kemana?"

__ADS_1


Nahkan, apa kataku, sabar adalah salah satu hal yang tidak boleh bosan kulakukan. Tia memang susah diajak cerita soal urusan hati. Padahal, aku selalu mendengarkan curahan hatinya, entah itu tentang gebetannya, ataupun mantan-mantannya dulu.


"Berangkat sekolah misalnya"


Jawabku kemudian.


"Ya mau-mau aja, lumayankan menghemat uang jajan"


Waw ,jawaban yang sangat berhubungan dengan ekonomi sekali. Padahal, anak ipa tidak belajar soal itu.Yang anak Ipa pelajari adalah ada sebuah motor melaju kencang dengan kecepatan 40 km/jam, lalu berapakah nomber Whatsapp kamu?Ah tidak, maksudku lalu berapa berapa km jarak yang ditempuh, begitulah kira-kira.Aku sendiri tidak terlalu suka dengan pelajaran itu.Tapi aku suka menghitung.


"Gak gengsi emang?"


Tanyaku lagi.


"Ngapain gengsi, kan bukan kita yang mau. Selagi diajak ya ikut aja"


Ucap Tia tetap mempertahankan jawabannya.


"Emangnya lo punya mantan?"


Tia bertanya balik padaku.Pertanyaan yang tidak kupikirkan sebelumnya.


"Kalaupun gue jawab iya, lo pasti gak percaya"


"Haha iyalah, gak yakin gue. Kalaupun lo punya, pasti mantan lo orangnya aneh, soalnya lo adalah spesies cewe teraneh yang pernah gue temuin"


Tia tertawa terbahak-bahak. Sangat tidak lucu.

__ADS_1


Sebenarnya, masih banyak yang ingin kutanyakan pada Tia, bagaimanapun Tia lebih berpengalaman dariku jika soal urusan hati. Akan tetapi, guru bahasa inggrisku sudah masuk kelas, dan menyuruh ketua kelas untuk memimpin doa. Itu artinya, pelajaran akan segera dimulai, dan aku teringat pesan ayah untuk belajar dengan baik, salah satunya tidak mengobrol saat jam pelajaran.


__ADS_2