
Kuambil kartu peserta yang tadi dimasukkan ke dalam saku. Aku lupa belum membacanya. Kulihat, tertera ruanganku disana. Ternyata, letaknya tak jauh dari sini. Aku hanya perlu belok kanan, lalu berjalan lurus, dan sampai. Rupanya, kelasku ini satu ruangan dengan kelas dua belas ips. Untungnya, ketika kulihat denah tempat duduk, ternyata aku duduk dengan perempuan, dan mejanya tidak terlalu belakang, terlalu depan juga tidak. Ketika aku masuk, sudah banyak orang disana, ada Dio juga. Ia melambaikan tangannya padaku, menunjukkan bahwa tempat dudukku tepat berada didepannya.
Urutan absenku dengan Dio memang berdekatan. Ya sesuai dengan abjad, hanya B dan D hanya terhalang oleh huruf C.
"Tumben udah dateng"
Ucapku sambil menyimpan tas. Dio juga kelihatannya baru datang, sebab tasnya masih dipakai.
"Biasanya juga dateng pagi"
Dio membela diri sambil merapikan rambutnya. Ia lepas tasnya dari pundak, lalu disimpan di kursinya. Bukannya duduk di kursi, ia malah duduk di atas meja.
"Eh lo udah dapet belum?"
Tanyaku pada Dio
"Dapet apaaan? Datang bulan maksud lo?salah server ,gue laki"
Maklum, Dio berteman dekat dengan Rafa,jadi tentu saja mereka tak jauh berbeda. Sama sama menyebalkan, sama-sama harus dihadapi dengan kesabaran.
"Gue belum selesai ngomong, maksud gue..."
Aku mengeluarkan sesuatu dari saku
"Lo udah dapet ini belum?"
Tanyaku sambil menunjukkan kartu peserta padanya.
__ADS_1
"Oh ituu, Iya belum, mana sini"
Dio meminta kartu pesertanya padaku. Aku segera mencari kartu peserta yang ada nama Dio-nya.
"Kirain udah, soalnya lo udah tau ruangan"
Kataku sambil menyerahkan kartu peserta itu padanya,yang bertuliskan Diomara Hanif Putra.
"Kan ruangan udah di share di grup Whatsapp"
Kata Dio sambil memasukkan kartu peserta itu di sakunya, padahal belum ia abaca sama sekali. Huh, kuotaku habis sejak Minggu, gara-gara keantengan buka instagram, youtube, dan membaca beberapa cerita di Noveltoon. Aku belum mengisinya hingga sekarang.
"Thanks"
Katanya lagi sambil mengangkat alis hitamnya. Alis yang kata orang sering disebut ulat bulu karena saking tebalnya. Dan aku baru sadar jika Dio memilikinya. Maklum saja, aku tidak pernah memperhatikannya, apalagi ngobrol berdua sepertih ini, bisa dibilang moment yang jarang.
Aku memberikan kartu peserta yang masih tersisa padanya. Dio melihat kartu peserta itu sekejap, lalu menatapku untuk sekejap juga.
"Mana sini"
Kukira, Dio akan menolak. Tapi ternyata, Dio mengambil semua kartu peserta itu tanpa perlu kubujuk hingga mau. Ia tidak membagikannya, tapi ia simpan semua kartu peserta itu di meja, sesuai dengan nama pemiliknya.
"Widih rajin"
Ucapku setengah meledek ketika ia selesai mengerjakannya.
"Harus"
__ADS_1
Jawabnya dengan bangga.
"Makasih ya"
Ucapku dengan senyuman. Ibu selalu mengajarkanku untuk menghargai bantuan orang lain, sekecil apapun. Dio tak membalas ucapanku ,ia hanya mengangguk.
"Ntar istirahat ke ruangannya Rafa yuk"
Ajaknya padaku, aku langsung menggeleng enggan.
"Males ah, mau ke kantin aja"
Jawabku dengan jujur.
"Kali aja lo kangen"
Dio mengatakannya setengah berbisik padaku, juga setengah tertawa.
"Hah, maksud lo?"
Tanyaku bingung, antara tak faham dan pura-pura tak faham. Mengapa Dio bisa berkata seperti itu? Belum sempat Dio menjawab, bel berbunyi dan pengawas masuk ke dalam kelas.
"Lupakan"
Katanya sambil berjalan ke tempat duduk.
Aku hanya menatapnya dengan tatapan heran.
__ADS_1