Labil

Labil
Ikut


__ADS_3

Rumahku sepi, ayah dan ibu sedang pergi ke Yogyakarta, berangkat tadi pagi setelah adzan shubuh. Ada acara keluarga di sana, yaitu acara lamaran pamanku- adiknya ayah yang bungsu- dengan kekasihnya yang cantik, yaitu perempuan asal Yogyakarta . Aku tidak ikut karena tanggung sedang ujian semester. Alasanku sama seperti Tia, malas susulan.


Orangtuaku faham dan tidak terlalu mempermasalahkan itu, meskipun sebenarnya mereka berharap aku bisa ikut. Tak apa, lagipula aku sudah mengucapkan happy engagement kepada pamanku dan calon istrinya yang cantik itu lewat Whatsapp, kubilang semoga mereka cepat naik ke pelaminan. Pamanku membalas, dan untungnya ia juga mengertikan alasanku. Ia bilang, tidak apa-apa di acara lamaran ini aku tidak datang. Tapi ketika hari pernikahannya nanti, batang hidungku harus terlihat. Baiklah, aku akan mengusahakan datang di hari pernikahannya nanti.


Rencananya, ayah dan ibu akan menghabiskan waktu disana selama dua hari dua malam, akan menginap di hotel. Katanya, sambil jalan-jalan sekaligus pacaran lagi karena Yogyakarta punya berbagai tempat wisata yang menarik. Mereka akan pergi ke Candi Borobudur dan Malioboro.



Aku menikmati kepergian mereka, meskipun sebelumnya tidak pernah ditinggal sendirian dirumah. Tapi, aku suka kesunyian ini. Walaupun entah ketika malam nanti.


Jujur saja, aku tipe anak yang penakut. Bahkan ketika aku tidak bisa tidur, seringkali kudatang ke kamar ibu. Atau meminta ibu menemani tidur di kamarku, meskipun pada akhirnya, ketika aku bangun, ibu telah berpindah tempat kembali ke kamarnya.


Kumasuk ke dalam rumah yang kini kosong. Tidak ada ibu yang menyambutku, tidak ada pertanyaan apakah bekal makanku habis atau tidak. Aku jadi teringat Amanda yang tidak serumah dengan ibunya, mungkin inilah yang setiap hari ia rasakan. Dan kini bergantian, aku yang sedang merasakannya. Untungnya, ibu tidak akan selamanya di Yogyakarta. Ia akan kembali pulang bersama ayah, lalu berkumpul bersama lagi denganku di meja makan.


Aku yang baru sampai, dengan segera mengganti seragam. Perut yang meronta-ronta mendorongku untuk pergi ke dapur. Maklum saja, tadi ketika sarapan, hanya sedikit nasi yang kumakan. Rupanya, Ibu telah menyiapkan makanan untuk menu makan hari ini agar aku tidak kelaparan. Tepat sekali, di atas meja makan, sudah tersedia semangkuk tahu kecap kesukaanku. Seperti biasa, masakannya ibu selalu enak, membuatku makan lahap hingga habis. Setelah selesai, kucuci piring bekas makanku itu, lalu kutinggalkan dapur.


Aku masuk ke dalam kamar untuk merebahkan diri di kasur. Tiba-tiba saja, aku teringat dengan ajakannya Dio di sekolah.


" Uti, hari ini gue futsal. Lo ikut gak?"


Tanpa berbasa-basi, Dio berbicara langsung pada intinya. Padahal, aku baru saja datang. Kulihat, ia juga sepertinya baru datang karena tasnya baru saja ia simpan. Mungkin, ia takut lupa membicarakan ini padaku. Padahal sepertinya, pembicaraan ini tidaklah terlalu penting.


"Wah seru tuh, tapi gue udah lama gak futsal, kayaknya gak bisa ikutan main"


Jawabku sambil berbalik badan ke arahnya. Ketika mendengar kata futsal, aku jadi ingat adikku. Di sekolahnya sekarang, ia juga ikutan eskul futsal. Pasti tambah jago ia sekarang.


"Siapa juga yang ngajak lo main futsal ****"


Dio menarik sekumpulan rambut yang kuikat ke belakang, meyebalkan.Dengan sabar, kuperbaiki rambutku lagi. Percuma marah-marah, Dio tidak akan mendengar omelanku


"Gue ngajak lo nonton"


Kenapa dia tidak berbicara itu sejak awal sih.


"Makanya ngomong dong yang jelas !

__ADS_1


Males ah kalo cuma nonton"


Jawabku seketika. Dalam bayanganku, menonton futsal adalah hal yang membosankan.


"Rafa juga ikut"


Dio berkata lagi. Pagi-pagi sudah menyebut namanya. Biar apa?


"Nah, apalagi ada dia"


Kataku dengan cepat.


"Cinta jadi benci nih ceritanya?"


Dio menggodaku.


"Gue ngajak lo buat ikut, siapa tahu bisa bikin Rafa cemburu"


Kali ini, aku menatap ke arahnya, dengan tatapan yang serius. Ucapannya membuatku harus berpikir lebih panjang.


"Rafa gak mungkin cemburu sama gue"


"So tau, dicoba juga belum"


Dio membantah ucapanku. Ia seperti mendukungku untuk balas dendam, karena ia tahu Rafa sering sekali membuatku cemburu. Ah, itu bukan salahnya Rafa. Suruh siapa perasaanku masih tertuju padanya.


"Rafa gak mungkin cemburu sama gue"


Aku pertegas lagi ucapanku.


"Perasaan dia ke gue udah ilang"


Lagi-lagi terdengar menyedihkan. Aku meyakinkan Dio agar ia tahu bagaimana perasaanku sebenarnya, begitupun perasaannya Rafa padaku, dari sudut pandangku sendiri.


"Rafa yang mutusin gue. Dia sendiri yang mengakhiri semua, menjauh dari gue, lalu dengan mudahnya berpindah ke lain hati"

__ADS_1


Aku menghembuskan nafas kecewa. Bagaimana tidak, Rafa adalah cowo yang dulu kuanggap sangat mencintaiku, tidak akan meninggalkanku hingga luka yang tersisa. Tapi nyatanya, seperti inilah.


"Banyak kok yang bilang putus, tapi masih cinta. Ada beberapa alasan, terbawa emosi salah satunya. Memutuskan sesuatu ketika hati sedang tidak baik-baik saja, tidak sepenuhnya yang terbaik. Bahkan, banyak dari mereka yang pada akhirnya menyesal"


Dio berbicara panjang lebar, seolah-olah ia ahli dalam urusan hati. Tapi kuakui, apa yang diucapkannya itu tidak sepenuhnya salah. Lalu bagaimana dengan Rafa? Aku tidak yakin ia masih menyimpan perasaannya padaku. Bahkan, aku tidak tahu alasan kenapa ia meninggalkanku. Rafa juga tidak mungkin meyesal mengatakan putus padaku. Ia memang sudah tidak mencintaiku lagi.


"Futsalnya jam berapa? "


Aku mengalihkan pembicaraan. Enggan berlama-lama dan berlarut-larut membahas urusan hati. Apalagi, hatiku masih berurusan dengan Rafa.


" Jam dua, ayo ikut"


Jawab Dio sambil mengangkat ibu jari dan jari tengah. Dan ia mengajakku lagi.


"Gue ikut, tapi jemput"


Ucapku pada akhirnya. Dipikir-pikir, tak ada salahnya aku menghabiskan waktu di luar. Tak ada juga yang harus kulakukan di rumah, berdiam diri tentu akan membuatku bosan. Dan apa salahnya mencoba? Jika perasaannya Rafa padaku sudah sepenuhnya hilang, lalu apa maksudnya kemarin hari ia menjemputku ke rumah. Jika hanya sekedar pelampiasan, sungguh, aku tidak rela. Jahat sekali jika ia berbuat demikian.


"Gue seneng liat lo semangat"


Ucapnya mengakhiri obrolan singkat di pagi hari itu. Aku sendiri bahkan tidak faham, ia melihatku semangat dari sisi mananya?


Namun yang jelas, jawabanku ketika itu tidaklah sepenuhnya yakin. Jika yakin, tentu aku tidak akan sebingung ini. Jika kujawab iya, aku harus berpura-pura mendekati sekaligus jatuh cinta pada Dio. Itu mudah, tapi masalahnya, apakah Rafa akan cemburu? Bila tidak, tentu sia-sialah perbuatanku itu. Tapi bila kujawab tidak ikut, kapan lagi Dio akan mengajak, sekaligus mau membantuku.


Baiklah, kumantapkan hati untuk ikut.


"Dio, gue jadi ikut"


Tulisku pada akhirnya dalam sebuah pesan.


***


Hai semuaa selamat membaca yaaa,semoga suka ❤


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, vote dan komentar. Itu sangat berharga bagikuuu🤗

__ADS_1


__ADS_2