Labil

Labil
Lapang Futsal


__ADS_3

Pukul 13.30


Aku baru saja selesai mandi. Kukenakan baju yang telah kupilih sebelum mandi tadi meski harus mengacak-acak isi lemari. Tapi tak apa, aku telah merapikannya kembali. Meskipun tidak serapi sebelumnya. Beginilah nasib perempuan, berpikir seolah-olah tidak mempunyai baju, padahal sebenarnya tertimbun dalam lemari.


Aku berdiri di depan cermin sembari menyisir rambut hitamku yang sudah panjang sebahu. Aku mengenakan kaos berlengan panjang seperempat berwarna biru muda kesukaanku,



dengan celana model jogger pants korean style berwarna hitam. Aku hafal namanya karena tahu dari olshopnya sendiri yang kebetulan adalah temanku.


Kutaburkan baby cream di wajah, kemudian dilapisi bedak. Tak lupa kuoleskan liptin berwarna merah muda di bibir mungilku agar terlihat lebih berwarna. Rambut kubiarkan tergerai karena rambutnya sedang gampang kuatur. Mungkin aku hanya tinggal membawa ikat rambut, jika gerah tinggal kuikat.


Dua puluh menit yang lalu, Dio bilang sedang dalam perjalanan. Seperti dugaanku sebelumnya, Dio tidak akan datang seperti yang ia janjikan. Perkiraanku, sekarang ia sudah datang. Kuambil gawai yang terletak di atas nakas. Dan benar saja, Dio mengabariku jika ia sudah berada di depan gang. Iya, aku memang menyuruhnya menunggu di sana, tidak perlu sampai rumah.


Baiklah, kukenakan sling bag yang isinya hanya beberapa lembar uang dan ikat rambut. Hp juga kumasukkan ke dalam sana. Aku berjalan menuju depan gang. Tersampak Dio disana, berdiri di belakang mobil sambil menyilangkan tangan.


"Cantik"


Begitu katanya ketika melihat penampilanku. Aku tersenyum, menanggapi sebuah pujian dari seorang teman.


"Mana?"


Dio membuka telapak tangannya.


"Apaan?"


Aku balik bertanya karena tak faham. Tapi jika dilihat dari ekspresinya, ia seperti sedang meminta sesuatu.


"Lo gak baca chat gue?"


Karena masih tak faham, segera kukeluarkan hp. Ternyata ada beberapa pesan dari Dio yang belum sempat kubaca.


"Eskrim titipan gue bawa, kalo belum lo makan"


Diiringi emot pacman. Aku menatap ke arah Dio, lalu menggaruk-garuk rambut yang tak gatal.


"Dio maaf, eskrimnya udah gue makan"


Ucapku dengan malu. Aku lupa jika eskrim yang dibeli di supermarket kala itu adalah titipannya Dio.


"Bagus"


Dio menarik hidungku yang mancung ini, mancung ke dalam maksudku.


"Yaudah sekarang kita ke supermarket, gue ganti"


Ucapku sambil melepaskan tangannya di hidungku. Dio hanya tertawa mendengar ucapanku.


"Gak perlu, gue cuma pengen tau eskrimnya udah dimakan apa belum"


Meskipun Dio berkata tidak apa-apa, tetap saja aku merasa tidak enak untuk yang kedua kalinya. Uang yang kemarin saja belum kuganti.


"Ayo masuk"


Dio membukakan pintu mobilnya untukku. Aku tidak segera masuk, tapi memperhatikan penampilannya terlebih dahulu. Dio mengenakan jaket warna hijau bermotif army dengan celana pendek selutut berwarna coklat muda. Ia terlihat lebih keren dari biasanya.


"Ngapain liat-liat"


Dio menggerakkan tangannya di depan wajahku. Aku segera menatap wajahnya, ia mengangkat alis tebalnya.


"Kok lo gak pake jersey sih?"


Tanyaku ingin tahu. Setahuku, orang yang akan bermain futsal selalu mengenakan jersey kebanggaannya. Aku tahu karena adikku juga seorang futsal player di sekolahnya dulu, nah ketika pergi bermain futsal, ia kenakan jersey kebanggaannya itu.


"Gue bawa baju ganti, noh di dalem tote bag"


Katanya sembari menunjuk ke dalam mobil. Baru kali ini kulihat cowo ribet. Kenapa tidak langsung dipakai dari rumah cobaa?


"Btw, lo udah ijin?"


Dio bertanya padaku. Cowo aneh, dimana-mana juga harusnya laki yang minta ijin ke orangtua cewe. Ya kan?


Aku menggeleng.


"Orangtua gue lagi di luar kota"


Dio hanya mengangguk mendengar jawabanku.


"Ayo masuk"

__ADS_1


Dio menyuruhku sekali lagi. Kali ini, aku menurut. Ketika kumasuk, hampir saja jantungku copot karena rupanya ada tiga orang lelaki di kursi belakang. Mereka hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Aku tidak kenal siapa mereka.


"Dio?"


Aku bertanya keheranan pada Dio yang sudah berada disampingku.


"Mereka teman gue, gausah takut bukan hantu"


Ada perasaan kesal dalam hati. Kenapa Dio tidak bilang dari awal? Kukira ia datang sendirian. Mereka semua membuatku canggung berada disini.


****


"Makasih bro"


Ucap ketiga temannya Dio bergantian sambil menepuk pundak. Mereka turun ketika sudah sampai di tempat futsal.


Aku mengelus dada dengan perasaan lega.


Sedari tadi, mereka tak berhenti bersuara dan membuat kegaduhan di mobil. Mereka seperti anak kecil yang kegirangan karena sedang diajak jalan-jalan oleh ayahnya. Mereka juga banyak bertanya padaku. Tapi, mereka cukup seru karena obrolannya berupa candaan dan cukup menghibur.


"Maklum, temen gue emang gitu semua"


Ucap Dio seolah ia tahu isi pikiranku. Pantas saja, Dio juga tidak jauh berbeda dengan mereka. Tak apa, lagipula aku tidak terlalu mempermasalahkan itu. Sudah menjadi haknya Dio siapa yang boleh masuk ke dalam mobilnya.


"Dio, ganti baju dimana?"


Tanyaku ketika melihat tangannya mengambil tote bag, yang tadi ia bilang berisi jersey kebanggaannya.


"Di ruang gantilah, masa iya disini. Ntar lo ngintip"


"Kali aja lo mau ganti disini kan, biar diintip gue"


Ucapku membalas perkataannya.


"Enggak ah, kalo lo mau ngintip, di kamar aja sekalian, di sini sempit"


Katanya sambil mengedipkan mata sebelah kanannya.


"Ih Dio"


Aku menyubit pinggangnya. Aku tidak sula melihat kedipan mata genitnya.


Katanya sambil mengusap pinggangnya yang telah kucubit tadi. Lebay.


"Lo udah siap?"


Tanyanya sambil menatap mataku.


"Buat?"


Tanyaku, minta diperjelas pertanyaannya.


"Buat manas-manasin mantan haha"


Katanya sambil memalingkan wajah nya dari tatapanku.


"Siapa takut"


Jawabku yakin.


"Oke, lakukan semaksimal lo. Ayo turun"


Aku dan Dio berbarengan ke luar mobil.


"Ayo"


Dio menggenggam tangan kananku ketika berada di luar mobil. x Aku masih mengatur jantungku yang protes karena belum siap atas perlakuannya. Aku berusaha sebisa mungkin bersikap santai dan biasa saja.


Lapangan futsalnya berada di bawah, jadi harus menuruni tangga terlebih dahulu. Dio masih menggenggam tanganku dengan erat, juga terasa hangat. Disana, sudah ada beberapa orang yang datang. Tapi, mataku tak melihat Rafa sama sekali.


"Lo tunggu disini ya, gue mau ke ruang ganti dulu"


Dio menyuruhku duduk di pinggir lapang. Ada sebuah kursi kayu disana. Aku mengangguk. Dio pun melepaskan tanganku.


Ini adalah lapangan futsal terbuka, sekaligus terluas yang pernah kulihat. Suasana udaranya menyejukkan karena keberadaannya yang dekat dengan kebun. Beberapa orang sudah masuk ke dalam lapangan, dan sepertinya sedang melakukan pemanasan.


"Mbak Biutyn?"


Mbak-mbak berbaju coklat menghampiri sekaligus memanggil namaku. Dilihat dari wajahnya, mungkin umurnya sepuluh tahun diatasku.

__ADS_1


"Iya"


Kataku singkat.


"Ini, dari Dio"


Mbak-mbak itu memberikan kantong plastik padaku. Karena tau dari Dio, aku menerimanya, barangkali barang bawaannya Dio yang sengaja dititipkan. Tak lupa juga sambil mengucapkan terimakasih. Setelah itu, ia pergi kembali ke tempatnya sambil menjaga warung.


Aku buka isi nya, ada beberapa cemilan kesukaanku dan dua botol air mineral. Kutemukan kertas disana, kukira struk belanjaan, ternyata bukan. Ada sebuah tulisan, aku baca dengan baik


"Biar lo gak gabut pas nonton gue di lapang"


Aku hanya tersenyum membacanya. Kulipat lagi kertas itu, kembali disimpan ke tempat asalnya.


"Biutyn"


Seseorang memanggilku.


"Udah ganti baj...."


Kukira Dio, ternyata bukan


"junya.."


Kuteruskan ucapanku dengan pelan. Mataku tetap menatap wajahnya.


"Rafa"


Sapaku sambil tersenyum. Ada perasaan kaget karena tak menyangka Rafa akan menghampiriku.


"Kok tau gue maen futsal?"


Tanyanya sambil duduk di sebelahku. Ia terlihat tampan memakai jersey kebanggannya.


"Emm iya tau"


Jawabku salah tingkah, sambil menyelipkan rambut di sisi telinga.


"Kalo lo mau nonton kenapa gak bilang, kan bisa gue jemput"


Katanya dengan lembut. Aku bingung harus menjawab apa.


"Hah?"


Tanyaku dengan tingkah yang masih sama.


"Kaget apa gak kedengeran?"


Rafa bertanya padaku.


"Enggak-enggak"


Aku menggeleng, entah kenapa diriku ini.


"Woi Fa, dah datang lo"


Dio datang, telah selesai berganti baju. Ia menyapa Rafa sambil bersalaman tangan, tapi tidak formal. Tote bag bergambar marshmellow yang ia bawa disimpan di sampingku, disenderkan ke dinding.


"Iya, agak telat dikit"


Jawab Rafa sembari melihat jam di tangannya.


"Dio, semangat"


Kuangkat tangan kanan yang mengepal sambil tersenyum. Tak lagi kupedulikan Rafa di sebelahku. Biarlah, agar ia tahu bagaimana rasanya cemburu. Meskipun aku tidak tahu, ia akan cemburu atau tidak.


"Pasti, kan ditonton lo"


Jawab Dio sembari mengusap puncak kepalaku, lagi dan lagi.


"Ayo ke lapang"


Dio mengajak Rafa, namun Rafa tidak langsung mengiyakan, ia masih duduk di sampingku. Dan setelah Dio pergi, ia berkata padaku


"Sorry, gue kira lo datang sendiri"


Aku tidak menjawab. Hanya mentapnya, mataku mengikuti langkah kakinya menuju lapangan.


Aku juga minta maaf Rafa, kataku dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2