Labil

Labil
Dijemput


__ADS_3

"Waalaikumsalam, kok udah pulang?"


Tanya ibu ketika aku sampai di rumah.Tia hanya mengantarku sampai gang depan, katanya ia akan mampir di lain waktu.


"Iya, senin udah penilaian akhir semester, jadi sekarang pulang lebih awal biar siswa-siswinya bisa istirahat lebih banyak"


Jelasku pada ibu yang sedang membaca buku resep. Akupun ikut duduk di sebelahnya, karena berbicara sambil berdiri dengan lawan bicara yang sedang duduk itu tidak sopan, apalagi dengan orangtua sendiri. Ibuku memang suka memasak, tapi tidak jago katanya. Jadi, ia sering membaca buku resep.Tapi bagiku, masakan ibu tetap enak.


"Oh yaudah belajar yang bener."


Nasihat ibu.


"Siap"


"Bekalnya dimakan ga?"


Tanya ibu sambil menutup dulu buku resepnya. Pertanyaan itulah yang selalu kudengar setiap pulang sekolah, sejak SMA tepatnya, karena semasa SD dan SMP aku tidak suka membawa bekal. Lagi pula, dulu jam pulangnya tidak sesore sekarang. Aku sudah SMA tapi ibu masih memperlakukanku layaknya anak SD. Hmm, sebesar apapun kita tetaplah bayi di mata orangtua.


"Dimakan tadi pagi bu, tapi masih sisa setengah, soalnya kan keburu pulang"


Jawabku sambil mengeluarkan kotak bekal dari dalam tas.


"Yaudah, ntar kamu makan lagi nasinya, mau?"


Aku menggeleng


"Dibuang aja bu"


"Masa dibuang gitu aja sih, di luar sana banyak orang yang kelaparan, kamu malah buang-buang nasi"


Duh salah ngomong, kataku dalam hati.


"Maksudnyaa di.. dikasih ayam aja bu"


Aku memberi usul. Kebetulan ayam tetanggaku banyak dan biasa hilir mudik ke depan rumah.


"Yaudah kamu taro di dapur"


Huh, akhirnya aku selamat dari omelan ibu yang biasanya bakalan super panjang. Jika ibu sudah mengomel, tidak boleh ada yang mengganggunya.


Untuk menikmati pulang yang lebih awal ini,juga untuk meredakan rasa sakit perutku karena sedang mens, aku berenang di atas kasur. Kalian tahu, renangku gaya apa?Jawabannya adalah gaya batu terkena angin. Aku memang tidak bisa tidur anggun. Ketika bangun, tidak mungkin kasurku akan rapi seperti semula.

__ADS_1



"Semoga tidur nyenyak"


Harapku sambil memejamkan mata dan memeluk guling. Tapi, mungkin karena ini bukan jam tidurku, jadinya tidak seperti yang kuharapkan. Miring kiri salah, miring kanan tidak nyenyak, telen tang ya mati lah.


Akhirnya aku tidak memilih tidur sambil telentang, aku bangun dan lebih memilih telen air putih. Ujung-ujungnya aku kembali ke rutinitas biasa, yaitu bermain ponsel.


Setelah menyalakan data, banyak pesan masuk, ada sekitar 300 lebih, maklum namanya juga pesan grup.


Aku membacanya selewat


"Yaudaa ayo kita jenguk"


"Bentar ih motor gue dipake bapak jum'atan"


"Tukang angkot jam segini juga pada jumatan"


Jenguk?siapa yang sakit ya?perasaan tadi sekolah semua deh. Akhirnya kubuka pesan grup, dan aku scrool dari atas. Aku kaget membaca salah satu pesan dari temanku,yang isinya


"Woi tadi ada yang kecelakaan di depan pom bensin, ternyata itu Tia"


Dan pesan ini dikirim satu jam yang lalu. Aku panik dong, segera saja mencari nomber Tia, lalu menelponnya. Berkali-kali, tapi tidak diangkat. Menurut keterangan temanku yang menyaksikan langsung itu, katanya tidak terlalu parah, tadi langsung dibawa ke rumah sakit untuk diobati lukanya, dan sekarang sudah dibawa pulang.


Tanyaku di grup chat.


Yaelah, malah dikacangin. Tapi aku masih menunggu, barangkali ada yang membalas. Tiba-tiba Rafa menelponku.



Aku pikir, tidak ada salahnya diangkat, siapa tahu dia akan memberiku informasi tentang Tia.


"Hai Ntin, lu di rumah kan?"


"Iya"


Jawabaku


"Rumah siapa?"


Ya gak mungkin lah di rumah lo.

__ADS_1


"Rumah, rumah ayah dan ibu"


Jawabku dengan sabar. Ingat, aku sedang berhadapan dengan wartawan.


"Syukurlah, bukan di rumah sakit kan?"


Tanyanya lagi.


"Bukan"


"Gue khawatir, takutnya Tia kecelakaan bareng lo, soalnya tadi gue liat kalian berdua di parkiran"


Aku juga melihat Rafa tadi, saat sedang memakai jaket.


"Iya, gue ngerasa bersalah jadinya"


Spontan, aku mencurahkan rasa bersalahku.


"Kenapa?"


"Kalo Tia gak nganterin gue pulang dulu, mungkin Tia gak bakal kecelakaan"


Ucapku dengan nada menyesal. Seharusnya, aku tolak saja ajakannya tadi.


"Bukan salah lo"


Rafa berusaha menghiburku dengan mengatakan aku tidak bersalah.


"Mau jenguk ga?"


"Mau"


Jawabku dengan antusias.


"Yaudah ayo, gue jemput ya"


"Eh gau.."


"tut..tutt"


Teleponnya mati. Yaampun, padahal belum selesai ngomong. Sekarang, apa yang harus kulakukan?

__ADS_1


*****


Hai jangan lupa like,vote dan komen yaa🤗Kritik dan sarannya ditunggu^_^


__ADS_2