
Hari Senin pun tiba.
Aku bersemangat pergi sekolah hari ini.
Biasanya,ketika sedang diadakan penilaian akhir semester seperti ini, pulang akan lebih awal. Di tengah perjalanan menuju kelas, aku bertemu dengan Pak Ahmad, guru Matematika sekaligus wali kelasku. Aku menyapanya.
"Oh iya pak, Uti mau ngambil kartu peserta, soalnya belum tau ruangan "
Kataku ketika ingat bahwa aku belum menerima kartu peserta.
"Oh, kartu peserta udah bapak kasih barusan sama KM"
"KM?Rafa?"
Tanyaku memastikan, padahal sudah jelas, KM di kelasku ya memang dia.
"Iya"
"Yaudah Pak, nanti saya cari Rafa, makasih"
Akupun berlalu meninggalkan pak Ahmad. Kembali melanjutkan langkah dan terpaksa harus menemui Rafa.
Di tengah jalan ketika mencari ruangan,aku melihat Rafa dari belakang. Aku pastikan itu memang Rafa karena tasnya sama, cukuran rambutnya juga. Aku tahu karena otakku sudah hafal bagaimana dia. Ada sesuatu yang kurasakan ketika kulihat ia sedang memapah seorang perempuan yang memakai tongkat. Dilihat dari tasnya, aku bisa menebak jika itu Tia. Tapi, kok bisa mereka barengan?Awalnya aku berniat untuk pergi saja, tapi aku harus mengambil kartu peserta. Akhirnya ku pun berlari menghampiri mereka, ketika dekat, aku memanggilnya.
"Rafa"
Rafa menoleh. Ia seperti kaget melihatku ,lalu ia lepaskan tangan kanannya yang tadi berada di pinggang Tia. Kini mereka tidak sedekat tadi. Ada sedikit rasa lega dalam hati.
" Akhirnya lo sekolah juga"
__ADS_1
Kusapa Tia terlebih dahulu. Aku lihat, mukanya Tia lumayan segar,tidak sepucat hari kemarin ketika aku menjenguknya.
"Iya, gue males susulan soalnya"
jawab Tia pelan. Ada untungnya juga Tia sakit,nada bicaranya jadi mengecil. Bayangkan saja, setiap hari aku harus mendengar radio butut di sebelahku. Namanya juga butut, kadang berfungsi dengan baik, kadang tidak. Tapi tak apa, Tia cukup melengkapiku.
"Dianter siapa tadi?"
Tanyaku ingin tahu. Entah mengapa ketika melihatnya dekat dengan Rafa, aku berpikir jika Rafa menjemput Tia. Bisa-bisanya aku berpikiran seperti itu.
"Biasa, dianter papa. Tadi ketemu Rafa di parkiran, terus bareng deh,i ya kan Fa?"
Tia melirik ke arah Rafa, mengaharapkan sebuah jawaban.
"Iya"
"Eh, lo tadi manggil gue kan?"
Tanya Rafa padaku. Haduh, aku sampai lupa tujuan utamaku.
"Iya Fa mau ngambil kartu peserta"
Ucapku mengutarakan tujuanku memanggilnya. Rafa mengeluarkan sesuatu di sakunya, dan diserahkan padaku.
"Loh kok?"
Tanyaku heran saat menerima kartu peserta lebih dari satu. Padahal, aku hanya meminta kartu peserta punyaku.
"Sekalian bagiin sama orang yang seruangan sama lo"
__ADS_1
Katanya.
"Tidak sopan, nyuruh-nyuruh"
Umpatku dalam hati. Tapi lain di mulut lain di hati, pada akhirnya aku menerima kartu peserta itu sambil berkata
"Oke deh"
Jawabku seraya memasukan semua kartu peserta yang diberikan Rafa itu ke dalam saku.
"Tia, mau gue anter gak?"
Tawarku pada Tia. Meskipun aku tahu, Tia tidak akan menjawab mau.
"Gak usah, ruangan lo kan disono"
Nahkan, dugaanku benar.
"Gue sama Rafa aja, kan seruangan"
Katanya sambil mengaitkan tangannya ke tangan Rafa. Aku terdiam menyaksikan itu.
"Yaudah, gue ke kelas dulu ya. Semangat"
Ucapku padanya, jugaa pada Rafa sebenarnya. Aku pergi duluan meninggalkan mereka. Ah dasar aku, mau sampai kapan akan seperti ini?
***
Tinggalkan jejak kalian di komentar yaaa🤗
__ADS_1