Labil

Labil
Gas Terus


__ADS_3

Waktu semakin cepat berjalan, untungnya aku sudah selesai mengerjakan soal, dan sudah mengumpulkannya. Sengaja tidak mengumpulkan di akhir, selain agar lebih tenang, mataku sudah jenuh memperhatikan soal, untung saja soalnya tidak baper. Alhasil, karena tidak ada lagi yang harus kukerjakan, sedari tadi aku hanya memperhatikan jam dinding di atas papan tulis, hingga tak terasa bersorak senang ketika mendengar bel pulang. Semua sudah tak sabar untuk segera pergi meninggalkan kelas ini.


"Hati-hati di jalan, dan semangat terus belajar"


Pesan pengawas sebelum ia meninggalkan kelas. Semua murid di dalam kelas hanya menyahut mengiyakan. Setelah pengawas keluar, barulah semua murid mengikuti jejaknya, keluar satu persatu, layaknya semut keluar dari sarang.


"Biutyn, mau pulang bareng ga?"


Dio bertanya ketika aku baru saja selesai memakai sepatu. Aku berdiri, meskipun tidak akan pernah sepantar dengannya. Aku tidak tahu pertanyaannya itu hanya sekedar berbasi-basi, atau benar-benar sebuah ajakan. Tapi aku tetap menanggapi pertanyaannya dengan baik.


"Rumah lo arah mana sih?"


Tanyaku memastikan. Seandainya beda arah, aku akan menolak karena itu merepotkan. Seandainya satu arah, akan kupertimbangkan.


"Searah sama lo, gue juga suka liat lo kalo lagi di jalan"


Katanya. Wah searah nih.


"Kok gue gak pernah liat lo lewat ya?"


Kataku sambil mengaitakn tas di pundak kanan, sambil mengingat-ingat juga apakah aku benar-benar tidak pernah melihat Dio, atau memang akunya yang lupa, karena saking banyaknya pengendara di jalan raya.


"Ayo"


Dio mengajakku lagi tanpa menjawab pertanyaanku terlebih dahulu. Aku masih berpikir sejenak, pikiranku mengatakan bahwa aku memang tidak pernah melihat Dio di jalan. Mendengar ajakannya yang kedua kalinya ini, ternyata ia benar-benar mengajakku pulang bareng.


"Tapi, gue mau ke supermarket dulu"


Jawabku sambil mengingat-ngingat kebutuhan bulanan yang harus dibeli karena stoknya yang sudah menipis.


"Yaudah gue anter"


Jawaban yang tidak pernah kuduga. Kukira, Dio tidak akan jadi mengantarku karena harus pergi ke supermarket terlebih dahulu. Biasanya, cowo sering malas berbelanja ataupun mengantar cewe berberlanja. Aku tahu itu dari ayahku, katanya ia pegel karena menunggu ibu berbelanja dalam waktu yang tidak sebentar. Ya gimana, namanya juga cewe. Sangat normal jika hobi berbelanja, karena berbelanja adalah kebutuhan jiwa.


Semoga saja Dio sabar mengantarku. Aku jadi teringat kata-kata Tia, perihal lumayan menghemat uang jajan ketika ada yang mengajak berangkat atau pulang bareng. Alasanku untuk menerima ajakannya semakin kuat. Akhirnya tanpa berpikir lama lagi, aku mengiyakan ajakannya.


Aku dan Dio berjalan beriringan, tidak hanya berdua tapi bersama yang lainnya juga.



Mataku mencari Tia dan Rafa, berharap menemukan mereka, untuk sekedar memastikan apakah Tia masih sering dengan Rafa atau tidak. Tapi hingga sampai di parkiran pun, tidak kulihat batang hidungnya. Bodo amatlah, jika pun mereka pulang bareng, setidaknya aku tidak melihat mereka sedang berduaan.


Ketika sampai di parkiran, Dio menyuruhku untuk menunggu di sebuah tempat yang dulunya adalah warung, Dio menyebutnya dengan sebutan saung karena atap, dinding dan tempat duduknya adalah bambu. Parkiran sedang penuh dan panasnya bukan main. Aku tidak mau karena banyak cowo di tempat itu.

__ADS_1


"Dio, maluuuuu"


Ucapku sambil menahan kaki untuk tidak melangkah kesana. Dio yang berada di depanku ikutan berhenti melangkah.


"Gaperlu malu, mereka semua temen gue"


Dio meyakinkanku dan membujukku sekali lagi. Ia bilang, panas matahari di jam seperti ini sangat tidak baik untuk tubuh. Aku sependapat dengannya, tapi memangnya tidak ada cara lain?


"Lo cuma duduk doang, kalo mereka nanya ya jawab aja"


Pesan Dio padaku. Kulihat saung itu sekali lagi, isinya cowo anak sekolah semua, tidak mungkin juga kan mereka berbuat jahat. Apalagi saungnya dekat dengan parkiran, parkiran bukanlah tempat yang sepi, banyak kendaraan banyak orang juga malah.


Karena Dio telah berkali-kali membujukku, dan aku sendiri tidak menemukan cara lain, akhirnya aku menurut. Dio membawaku kesana.


"Woi bro"


Dio menyalami teman-temannya satu persatu. Ada beberapa yang kukenal, sisanya mungkin kelas sepuluh dan kelas dua belas. Sementara aku, hanya berdiri di dekat tiang kayu, tidak ikut-ikutan menyapa mereka seperti yang Dio lakukan.


"Bawa siapa?"


Tanya yang berkulit putih sambil melirik ke arahku. Aku tidak mengenalnya, tapi pernah melihatnya di sekolah, mungkin kelas sepuluh.


"Bawa cewek"


Jawab Dio dengan santainya. Sudah jelas aku memakai rok, mana mungkin aku cowo.


Kata yang alisnya tebal.


"Bukan"


Jawabku dengan cepat sebelum Dio menjawabnya.


"Oh, lanjutkan bro, jangan dikasih kendor"


Kata yang rambutnya gondrong. Sontak semua tertawa, kecuali aku.


"Biutyn, duduk sini"


Dio memanggil namaku, menunjukkan tempat duduk.


Aku menggeleng, mengutarakan bahwa aku lebih nyaman disini daripada bergabung dengan mereka.


"Sini lah, disitu panas"

__ADS_1


Kata lelaki yang kumisnya tebal. Aku sering melihatnya, Itu kelas dua belas.


"Jangan mau, si abang suka gigit orang"


Kata yang sedang makan kuaci, cemilan kesukaanku.


"Kalo gigit juga gabakal mati, soalnya bukan uler"


Cowo yang dipanggil si abang itu membela dirinya.


"Berisik lo fakboi"


Ucap yang sedang makan kuaci sambil membuang kulit kuacinya, tepat di depan si abang.



"Disini aja bang"


Tolakku dengan halus. Aku belum berani jika harus bergabung dengan mereka. Karena sejauh ini, aku lebih senang bergabung dengan teman yang sesama perempuan.


"Dia gamau katanya, gue titip ya"


Dio pergi mengambil motornya dulu. Aku berharap agar Dio tidak lama. Tapi ternyata malah tidak sesuai dengan harapanku. Dio tak kunjung datang, dan kulihat Dio malah menghilang di parkiran.


"Bang, Dio ngambil motornya kok lama sih"


Tanyaku pada abang kelas dua belas tadi. Aku berani bertanya karena kelihatannya dia ramah dan lebih dewasa dibanding yang lain. Aku juga takut Dio meninggalkanku, ujung-ujungnya dia pulang duluan. Sungguh tidak lucu.


"Bukan ngambil motor, ngambil mobil, parkiran mobil kan disono"


Jawab abang-abang itu.


Huh pantesan lama, pantesan juga aku tidak pernah melihatnya lewat di jalan. Selama ini aku pikir, dia membawa motor ke sekolah.


"Tuh mobil Dio"


Tunjuk seorang cowo yang kukenal, ia satu angkatan denganku, bedanya dia kelas IPS.


Dan benar saja, mobil itu berhenti di depanku. Dio membuka kaca mobilnya, ia turun lalu membukakan pintu, menyuruhku untuk segera masuk. Aku tenang karena akhirnya Dio datang dan tidak meninggalkanku pulang.


"Duluan yak"


Ucapku pada semua orang yang ada di saung itu. Mereka sibuk melambaikan tangan sambil mengangguk.Ternyata mereka tidak seburuk yang kupikirkan tadi. Selama disana, kudengarkan obrolan mereka. Bahkan, tak jarang aku tertawa-meski tidak keras- karena obrolannya yang lucu. Kenyataanya, mereka tidak menyeramkan. Hanya saja, aku yang berlebihan memandang mereka.

__ADS_1


"Hati-hati bro, gas terus"


Ucap teman-teman Dio diiringi tawa. Aku yang sudah berada di dalam mobil ikutan tertawa meskipun tak faham apa maksudnya. Kalo gas terus, kapan ngeremnya?


__ADS_2