Lahir Kembali Menjadi Naruto

Lahir Kembali Menjadi Naruto
Meredakan amarah Inari


__ADS_3

...| NARATOR POV |...


Naruto menggertakkan giginya lalu dia menggeser pintu yang ada disampingnya dan masuk kedalam ruangan. Seketika itupun, orang orang di dalam ruangan langsung mengalihkan perhatiannya ke Naruto.


(Naruto?!) batin Sakura


Naruto kemudian menghilang dan tiba tiba muncul di samping Inari.


(Apa?!) batin Tsunami dan Inari


(Ba-bagaimana mungkin Naruto-kun bisa tiba tiba muncul di dekat Inari? Diakan masih anak anak.) batin Tsunami


Naruto menatap ke arah Tsunami lalu dengan sebuah senyuman Naruto berkata, “Halo bibi, maaf kalau aku mengagetkanmu.”


Naruto lalu memalingkan wajahnya dan menatap ke arah Inari. Naruto tersenyum lebar dan meletakkan tangan kanannya ke atas kepala Inari.


(Aktifkan Skill : Aura Tobat, Target : Inari) batin Naruto


{TING!!! Skill : Aura Tobat telah aktif!}


...{Aura Tobat}...


Asal : -


Rank : Sedang


Level : 10 (MAX)


Detail : -Membuat target menjadi tenang dan rileks/santai


-Membuat target menyadari bahwa telah melakukan tindakan yang salah


-Membuat target menyesal


-Membuat target tetap mengingat kesalahannya sehingga target tidak akan mengulanginya lagi


-Membuat target pulih dari penyesalannya dan menjadi orang yang lebih baik kedepannya


-Jika pengguna berhasil membuat target menyesal dengan skill ini maka pengguna akan menjadi ‘cahaya’ bagi target


Catatan : Skill telah mencapai batasan upgrade namun masih tidak bisa berpengaruh pada seorang psikopat. Diperlukan evolusi system untuk meningkatkan Rank Skill dan melanjutkan upgrade skill.

__ADS_1


...----------------...


Saat Inari yang sedang marah melihat senyuman Naruto, tiba tiba Inari merasakan kehangatan yang nyaman dan menenangkan muncul di dalam dirinya. Inari merasa kemarahannya sudah mereda sepenuhnya sekarang.


Naruto kemudian mulai mengusap kepala Inari dengan lembut dan penuh kasih sayang hingga membuat Inari teringat kembali dengan usapan mendiang ayah tirinya.


“Kalau tidak salah namamu Inari kan? Aku mengerti perasaanmu Inari. Kau pasti berpikir bahwa ayahmu adalah orang yang keras kepala, orang bodoh, bahkan orang yang sudah tidak peduli dengan keluarganya lagi demi gelar pahlawan.” Ucap Naruto


“Aku juga yakin alasan kau membeci ayah tirimu seperti ini adalah karena ayah tirimu tidak menjelaskan secara rinci hal buruk yang telah Gato lakukan pada negeri ini sehingga kaupun mempertanyakan kebenaran atas tindakan ayah tirimu itu.


Kau yang tidak tau hal buruk Gato dan juga masih anak anakpun akhirnya terpengaruh omongan orang orang kalau tindakan yang dilakukan oleh ayah tirimu adalah sebuah tindakan bodoh yang tidak berarti.


Ditambah dengan tidak ada orang yang mengikuti perjuangan ayah tirimu, kau jadi semakin berpikir kalau ayahmu telah membuat keputusan bodoh dan diapun mati karena berusaha menjadi pahlawan negeri ini namun itu tidak menghasilkan apapun kecuali hinaan.” sambung Naruto


Mendengar semua itu Inari langsung terbelalak karena dia terkejut bahwa Naruto benar benar mengetahui semua yang Inari rasakan selama satu tahun terakhir. Inari merasa sangat tersentuh hingga Inaripun menganggap Naruto sebagai kakaknya sendiri meski baru bertemu.


“Oni-san… semua yang kau katakan itu benar, kalau begitu bukankah kau setuju kalau dia adalah orang bo-” Naruto menjentik dahi Inari, “Auch, sakit Oni-san…” ucap Inari


Setelah Naruto menjentiknya, Inari sama sekali tidak marah. Inari menyentuh bekas jentikan Naruto dengan satu tangannya sambil menatap mata Naruto dengan seksama.


“Bukan dia tapi ayah, kau harus benarkan itu Inari. Meski aku mengerti perasaanmu tapi aku tidak sependapat denganmu. Kau harus tahu Inari, pendapatmu tentang ayahmu memang cukup masuk akal tapi apa kau tahu apa alasannya berjuang melawan Gato?” tanya Naruto


“Bukan bocah.” Naruto kembali menjentik pelan kening Inari, “alasan itu bukanlah demi gelar pahlawan atau semacamnya tapi alasan dia yang sebenarnya adalah kau, Inari.” Naruto menunjuk Inari


Mendengar itu hati Inaripun bergetar. Inari berkata dengan pelan, “Aku?”


Naruto kembali meletakkan tangannya di kepala Inari, “Iya tapi bukan hanya kau saja Inari, Ibu dan kakekmu juga adalah alasan dia berjuang. Dia berjuang untuk melindungi kalian semua.”


Inari terdiam mendengar perkataan Naruto, “Bohong… kau bohong oni-san! Kalau ayah ingin melindungi keluarganya kenapa dia memilih melawan Gato dan mati saat itu daripada tetap hidup dan melindungi kami secara langsung sekarang.”


Tazuna dan Tsunami terkejut ketika Inari menyebut ayahnya dengan sebutan ayah kembali, mereka menyadari bahwa perkataan yang Naruto telah lontarkan membuat Inari menyebut kembali ayah tirinya dengan sebutan ‘ayah’ dan tentu mereka sangat mensyukuri hal itu.


“Dengar Inari, tujuan ayahmu yang sebenarnya adalah dia ingin mempersatukan semangat seluruh penduduk di kota ini dengan gelar ‘pahlawannya’ untuk melawan Gato tapi sayangnya hal itu tidak berhasil, bahkan sampai hari dimana ia dieksekusi.


Dengan kematiannya yang membawa gelar pahlawan, ayahmu berharap kalau itu bisa membangkitkan semangat penduduk untuk melawan Gato namun harapan itu berakhir dengan sia sia, penduduk di kota ini terlalu penakut. Bahkan ketika Gato menyengsarakan hidup mereka, mereka tidak berani melakukan apapun.


Kau tidak seharusnya menghina ayahmu Inari. Kau harusnya menyalahkan Gato yang telah membunuh ayahmu dan juga menyalahkan penduduk kota ini yang terlalu penakut.” Ucap Naruto


*DEG


Mata Inari terbelalak dan hati Inari bergetar secara bersamaan. Inari kemudian menundukkan kepalanya kebawah dan badannya secara tidak sadar jadi gemetar, dia mulai menangis.

__ADS_1


“Hiks… Hiks… hiks… a-aku sudah menghina… hiks… mendiang ayah tiriku begitu banyak… hiks… tapi ha-hari ini a-aku sadar… hiks…


me-mendiang ayah tiriku sama sekali tidak pantas mendapatkannya… HUWAA!! Aku tidak pantas dimaafkan, HUWAA!!! Hiks… Maafkan aku ayah!! Hiks, HUWAA!!!” teriak Inari dengan air mata yang mengalir deras


Tazuna dan Tsunami terharu melihat keadaan Inari sekarang, mereka bergerak untuk menjangkau Inari dan menenangkannya tapi mereka kalah cepat dengan Naruto. Naruto memegang kedua pundak Inari dengan kedua tangannya.


“Cup cup, tenanglah Inari. Mendiang ayah tirimu pasti memang sedih saat kau menghinanya seperti dulu tapi kau sudah mengetahui alasan dia berjuang dan tidak akan menghinanya lagi bukan?” tanya Naruto


Inari menghentikan tangisannya dan menatap Naruto, “Hiks… Un” Inari mengangguk


“Bagus, dengan begitu ayahmu tidak akan merasa sedih lagi malahan ayah tirimu akan senang jika mengetahui anaknya sudah mengetahui alasan dia berjuang bahkan mulai menghormati dirinya. Itu adalah… sebuah kesenangan bagi setiap ayah di dunia.” Ucap Naruto dengan senyuman lebar


Mendengar itu mata Inari mulai kembali berkaca kaca, “Be-benarkah itu Oni-san? Ayah tidak akan kecewa kepadaku?”


“Ya, itu benar Inari.” Naruto tersenyum dan menarik kembali lengannya dari tubuh Inari, “Sekarang selesaikanlah tangisanmu bersama ibu dan kakekmu lalu jangan lupa meminta maaf kepada mereka, kau juga telah melakukan banyak kesalahan kepada mereka bukan?”


Inari seketika teringat kembali kejadian saat dia pulang terlambat, menghilang secara tiba tiba, menolak untuk makan bahkan membentak kakeknya karena berusaha meneruskan pembangunan jembatan.


Air mata Inari mengalir deras, dia lalu berlari menuju kakeknya dan memeluknya dengan sangat erat. Naruto mulai berdiri lalu Kakashi dan Sasuke juga ikut berdiri dari tempat duduk mereka, sementara Sakura hanya mengikuti yang lain dan ikut berdiri.


Naruto, Sasuke dan Kakashi saling tatap menatap secara singkat lalu mereka mengangguk secara bergantian. Mereka bertigapun berjalan menuju pintu keluar rumah dan Sakura mengikuti mereka dari belakang tanpa berbicara.


Setelah beberapa langkah berjalan merekapun mendengar teriakan Inari yang penuh penyesalan,


“HUUWAAAA!!!! Kakek!!! Maafkan Inari selama ini kakek!!! Huwaa!! Hiks…” tangis Inari


Tazuna memeluk kembali Inari sambil mengusap kepala dan punggungnya secara perlahan, “Yosh, yosh, tidak apa apa Inari, kakek sudah memaafkanmu.”


Tsunami berjalan ke arah Tazuna lalu diapun memeluk Inari dan Tazuna secara bersamaan. Mengetahui ibunya yang memeluknya dari belakang, Inari langsung menoleh dan menatap ibunya.


“Hiks… Ibu… maafkan Inari karena selama ini sudah membuat ibu khawatir… hiks…” ucap Inari yang masih sedikit menangis


Tsunami tersenyum lembut, “Tidak apa apa Inari, seperti kakekmu ibu juga sudah memaafkanmu.”


Tsunami kemudian mengecup kening Inari, Tazuna yang melihat ini jadi terharu dan setetes air mengalir dari masing masing matanya. Kemudian merekapun saling berpelukan kembali dan menjadi keluarga bahagia.


TAMA-BERSAMBUNG…


Mohon maaf lahir dan batin semuanya. Maaf karena nggak bisa menemani kalian saat lebaran kemarin karena author sedang lootin- bukan, author sedang ke rumah sanak saudara, meskipun saya bawa hp tapi saya lebih memfokuskan berinteraksi dengan sanak saudara.


Tolong maafkan author yang sering ingkar janji ini dan semoga semua tindakan positif kita dilancarkan oleh tuhan yang maha kuat. Saya rasa cukup… *Ehem, btw Tsunami mau dimasukin harem nggak?

__ADS_1


__ADS_2