Lahir Kembali Menjadi Naruto

Lahir Kembali Menjadi Naruto
Ino


__ADS_3

“Aku merindukanmu Kai…” ucap Ino sembari memeluk Naruto


Dibalik topengnya, Naruto tersenyum kecil. Dia lantas membalas pelukan Ino.


“Aku juga merindukanmu Ino.” Ucap Naruto


Ino melepas pelukannya diikuti oleh Naruto.


*TUG


Naruto menjentikkan jarinya ke dahi Ino. Meski tak sakit sedikitpun, Ino tetap terkejut akan hal itu. Naruto kemudian mencubit pipi Ino dengan tangan kanannya.


“Dasar kau Ino, aku kebingungan mencarimu selama beberapa jam dan ternyata kau malah ada disini. Untung saja aku ingat kau pernah menceritakan tempat ini kepadaku. Huh, aku saja kesusahan mencarimu apalagi orang lain. Lagi pula tempat inikan ada di tengah hutan, kau tidak ingat terakhir kali kita bertemu dengan beruang hah? Bagaimana jika kau bertemu hewan buas lagi hah?” ucap Naruto mengomeli Ino panjang lebar


Kelopak mata Ino menutup setengah kemudian ia memalingkan tatapannya ke bawah. Ekspresi sedih tergambar dengan jelas pada wajah Ino.


Dengan terbata-bata Ino menjawab, “Ma-maaf Kai, a-aku...”


Naruto melepas cubitannya lalu meletakkan tangan kanannya di belakang kepala Ino, Naruto lalu mendorong Ino masuk ke pelukannya.


Tepat di samping telinga Ino, Naruto berkata, “Ssst, kau tidak perlu minta maaf. Aku mengerti kau sedang sedih. Namun, maaf Ino rasa khawatirku pada dirimu tidak bisa kubendung…”


Mata Ino terbelalak, ia langsung tersenyum kecil dan membalas pelukan Naruto.


(Kai… kau selalu perhatian padaku.) batin Ino dengan perasaan senang yang menutupi kesedihannya


Naruto menyudahi pelukannya, “Ino, apa aku boleh tau kenapa kau sedih? Aku pasti menolongmu jika aku mampu.”


Ino mengangguk, “Tentu.” Ino mengalihkan pandangannya, “Ayahku, siang ini, aku dan ibuku mendengar kabar kalau ayahku masuk ke rumah sakit Konoha. Ketika kami datang, ayah sudah terbaring di kamar perawatan. Saat itu, aku langsung sedih…”


Suara Ino mendadak menjadi sendu dan berat, “Saat itu aku masih bisa menahan tangisanku. Namun, ketika ibuku harus pergi untuk menemui dokter. Air mataku mulai menetes dengan deras…”


Mata Ino mulai berkaca-kaca, “Un-untung saja disana ada Paman Shikaku dan Paman Choza yang menghiburku. Aku tidak tau apa yang terjadi pada ayahku. Paman Shikaku, Paman Choza, dan ibu hanya bilang kalau ayah akan bangun secepat mungkin, aku hanya harus percaya pada dokter yang merawat ayahku.”


Tangan kanan Naruto memegang pipi Ino lalu mengusap mata Ino yang berair secara bergantian.


“Sudah, jangan menangis lagi Ino. Semuanya akan baik-baik saja, perkataan paman dan bibi memang benar, kau harus percaya dengan dokter. Hal yang harus kau lakukan sekarang adalah berdoa agar ayahmu lekas sembuh. Aku yakin Paman Inoichi akan sembuh dalam waktu dekat jadi jangan terlalu khawatir oke?” ucap Naruto


Ino mengangguk, “Eun~”


“Bagus.” Ucap Naruto tersenyum sambil mengelus kepala Ino


Meski senyuman itu tertutup oleh topeng yang Naruto kenakan. Ino tetap bisa merasakan bahwa Naruto tersenyum di balik topengnya, hal itu membuatnya ikut tersenyum. Mereka saling tersenyum di bawah langit dengan matahari yang hampir terbenam.


“Ino, matahari hampir terbenam. Ayo pulang, aku akan mengantarmu ke rumahmu. Kau maukan?” tanya Naruto


“Tentu Kai tapi bisakah kita pulang sebelum malam datang? Aku cemas ibu akan khawatir dan mencariku.” ucap Ino cemas


“Tak perlu cemas Ino. Aku bisa mengantarmu dalam sekejap mata tapi maukah kau memegang tanganku dan memejamkan matamu? Aku akan menggunakan sebuah jutsu.” ucap Naruto


“Jutsu?” tanya Ino


“Iya, itu jutsu yang dapat membuat kita sampai di rumahmu dalam sekejap tapi aku tidak tau ini akan membuatmu pusing atau tidak jadi tolong pegang aku dan pejamkan matamu.” tanya Naruto mengulurkan tangannya ke depan


Ino memegang tangan Naruto seperti orang yang berjabat tangan lalu dia tersenyum ke arah Naruto.


“Seperti inikan?” tanya Ino


Naruto mengangguk


“Kalau begitu aku akan memejamkan mataku sekarang. Kai beritahu aku kalau kita sudah sampai.” Ucap Ino memejamkan matanya


“Tentu saja Ino, aku akan memberitahumu.” Balas Naruto


(Baiklah, ayo kita pergi. Hiraishin.) batin Naruto


Keberadaan Naruto dan Ino akhirnya menghilang dari hutan itu disertai dengan munculnya cahaya kuning yang muncul sebagai after effect penggunaan hiraishin.


| Di Sebuah Gang |


Di dalam sebuah gang muncullah siluet cahaya kuning disertai dengan kemunculan Naruto dan Ino.


(Meskipun aku sudah menaruh tanda hiraishin persis di sekitar rumah Ino tapi tidak mungkin bagiku untuk menggunakannya. Terlalu beresiko untuk melakukan itu.) batin Naruto


“Kau bisa membuka matamu sekarang Ino.” Ucap Naruto


“Benarkah?” tanya Ino


Ino membuka matanya, ia terkejut dengan pemandangan di sekitarnya yang sudah berubah menjadi sebuah gang di dekat rumahnya.


“Ini adalah…” ucap Ino


“Benar, ini adalah sebuah gang di dekat rumahmu.” Ucap Naruto


Naruto menarik Ino berjalan keluar dari gang.


“Ayo pergi Ino, kau harus segera pulang.” Ucap Naruto


“Eun.” Ucap Ino mengikuti langkah Naruto


| SKIP |


Tak berselang lama Naruto dan Ino akhirnya sampai di gerbang pintu masuk rumah Ino.Naruto melepaskan tangan yang tadi menarik Ino.


“Ino, aku pamit ya. Ingat jangan berlarut—larut dalam kesedihanmu.” Ucap Naruto


“Tentu, aku akan mengingat itu. Kai… terimakasih banyak.” Ucap Ino tersenyum lebar


Naruto tersenyum di balik topengnya, “Tidak perlu berterimakasih. Itu kewajibanku untuk membantumu, permaisuriku.”


*BUSH!


Kepala Ino memerah dan mengeluarkan kepulan asap, “A-a-a-apa yang kau katakan?!”


“Hehehe, sampai jumpa lagi.” Ucap Naruto kemudian berlari meninggalkan Ino

__ADS_1


Ino terkejut karena Naruto tiba-tiba pergi.


“Hei!” panggil Ino tapi tak direspon sama sekali oleh Naruto


“Dasar… Sampai jumpa lagi!” teriak Ino karena jaraknya dengan Naruto sudah cukup jauh


Pintu rumah Ino kemudian terbuka dan terlihatlah seorang wanita dewasa yang merupakan ibu dari Ino. Dia keluar karena mendengar suara Ino dari luar rumah jadi dia memutuskan untuk mengeceknya. Melihat ibunya yang keluar dari rumah dengan ekspresi lega, Ino paham bahwa ibunya mencemaskan dirinya selama ini jadi Ino berlari kearah ibunya lalu memeluknya dan meminta maaf.


Sementara itu, Naruto berlari ke arah gang dan memakai hiraishinnya agar bisa sampai dirumah dengan cepat. Yah, meskipun sebenarnya dia bisa menggunakan efek title yang membuatnya dapat menjadi kasat mata lalu menggunakan hiraishin. Namun akan tetap merepotkan jika ada yang menyadari bahwa Naruto tiba-tiba menghilang.


Setelah sampai di rumahnya Naruto langsung bergegas mandi lalu memasak makan malam. Kushina akan tiba di rumah saat jam makan malam hari ini dan Naruto tidak ingin membuat ibunya yang baru pulang kerja harus capek capek memasak.


| SKIP |


Sekarang Naruto sudah selesai memasak, dia juga sudah selesai menata makanan dan peralatan makannya di meja makan. Tiba tiba terdengar suara dari pintu masuk rumah.


*DUG


*CEKLEK


“Aku pulang,” ucap Kushina berjalan memasuki rumah.


“Selamat datang, ibu. Terimakasih atas kerja kerasnya.” ucap Naruto sembari berjalan dari dapur ke pintu masuk


“Apa Naruto baru saja selesai memasak?” tanya Kushina


“Iya ibu. Makanannya baru saja matang. Ayo ke dapur dan makan, ibu pasti laparkan?” tanya Naruto mendekati ibunya dan menarik ibunya ke dapur


“Naruto memasak apa hari ini?” tanya Kushina sambil mengikuti langkah anaknya


“Cuman sup bayam dan ikan goreng tapi aku yakin ibu akan suka. Hehe.” Ucap Naruto sedikit sombong


Mendengar itu, Kushina hanya bisa tersenyum. Mereka berdua akhirnya sampai di dapur sekarang, lebih tepatnya di meja makan. Naruto dan Kushina duduk di kursi yang berhadapan. Kushina mengambil mangkok dan mulai mengambil nasi untuk Naruto.


“Ini Naruto,” ucap Kushina memberikan Naruto semangkuk nasi.


“Terimakasih ibu,” ucap Naruto sembari menerima mangkuk nasinya.


Naruto mengambil sup bayam dengan dengan sendok sayur lalu dia menuangkannya ke mangkuk yang lain. Setelah Naruto selesai, Kushina ikut mengambil sup bayam dan menuangkannya ke dalam mangkuk. Mereka berdua kemudian menikmati makan malam tanpa banyak berbicara.


| SKIP |


Naruto dan Kushina kini telah selesai makan malam. Seperti biasa, Naruto bersikeras ingin mencuci peralatan makan yang kotor, Kushina hanya bisa pasrah dan mandi supaya tubuhnya segar. Karena cucian alat makan tidak banyak, Naruto selesai terlebih dahulu daripada Kushina. Naruto kemudian pergi ke ruang tamu dan duduk di sofa.


Naruto bersantai-santai sambil membaca buku ‘cara memasak’ dan terdapat segelas teh hangat pada meja di depannya. Beberapa saat kemudian Kushina keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan langsung mengenakan baju tidur. Kushina berjalan mendekati Naruto yang sedang membaca buku.


“Naruto, bukankah ibu yang seharusnya membaca buku itu?” tanya Kushina


Naruto tersenyum, “Ibu pasti bercanda. Masakan ibu lebih lezat daripada masakanku jadi sudah seharusnya aku membaca buku ini.”


Naruto menutup bukunya dan menaruhnya di atas meja, “Ibu? Bukankah ibu Lelah setelah bekerja seharian? Apa ibu mau kupijat?”


Kushina terkejut, “Eh, sejak kapan Naruto bisa memijat?”


“Aku baru-baru ini mempelajarinya bu, hehe. Ayolah ibu duduk disebelahku, biarkan aku memijatmu.” Ucap Naruto


Kushina duduk di samping Naruto. Naruto lalu memijat punggung Kushina dengan tenaga yang cukup besar, bahkan Kushina sampai terkejut dengan kekuatan yang Naruto punya. Mereka kemudian saling berbicara layaknya ibu dan anak. Mereka membahas apa saja yang telah mereka lakukan hari ini dan tentu saja Naruto menyembunyikan beberapa aktivitasnya hari ini.


“Ibu, apa kau tau? Anko-nee sudah kembali dari misinya.” Ucap Naruto


“Eh, benarkah? Lalu apa dia sudah berkunjung kemari?” tanya Kushina


“Belum bu. Sekarang Anko-nee… harus dirawat di rumah sakit.” Ucap Naruto


“Apa?!” Kushina terkejut dan menoleh ke belakang


Naruto menyudahi pijatannya lalu Kushina menghadapkan tubuhnya ke Naruto.


“Anko-nee terluka dalam sebuah misi. Dia tidak berada dalam kondisi kritis tapi Anko-nee kehilangan lengan kirinya.” Ucap Naruto


“Hah!?” Kushina terkejut, pupil matanya melebar dan tangannya reflek menutupi mulutnya.


“Naruto, kau sudah menjenguk Anko-chan bukan? Bagaimana keadaannya sekarang? Dia pasti sangat sedih dan tertekan.” Ucap Kushina


“Tak perlu khawatir bu, aku sudah menghibur Anko-nee tadi jadi seharusnya kondisi Anko-nee sudah membaik sekarang. Apa ibu ingin menjenguk Anko-nee besok? Aku akan menemani ibu.” ucap Naruto


“Huff~ kita lihat besok ya Naruto.” Kushina mengelus kepala Naruto, “Ibu akan coba meminta ijin tidak bekerja besok jika tidak ada masalah kita akan menjenguk Anko-chan besok. Namun ibu tidak yakin akan dibolehkan atau tidak karena Bibi Shirayuri tidak bisa menjaga toko sekarang. Dia sedang mencemaskan kondisi suaminya.”


“Hah? Memangnya apa yang terjadi dengan Paman Inoichi?” tanya Naruto pura-pura tidak tau


| SKIP |


/Jam 1 Pagi, Kamar Tidur/


Dengan kondisi jendela dan tirai korden tertutup serta lampu yang mati, Naruto dan Kushina tertidur dengan nyenyak. Namun, hal itu tak berlangsung lama bagi Naruto. Tubuh Naruto tiba-tiba saja menggigil, alisnya mengkerut dan wajahnya memucat. Panel sistem milik Naruto tiba-tiba muncul dengan warna merah.


{PERINGATAN}


{PERINGATAN}


{Ditemukan adanya keanehan pada tubuh tuan.}


{MENGANALISA}


{20%}


{50%}


{100%}


{PERINGATAN}


{Aktivitas perubahan Ras dari [manusia] menjadi [tsutsuki] telah terdeteksi.}


{PERINGATAN}

__ADS_1


{MENGAKTIFKAN [MODE PERTAHANAN].}


{MENGHENTIKAN PAKSA AKTIVITAS ILEGAL.}


{10%}


{30%}


{60%}


{100%}


{EROR!!} {EROR!!}


{EROR!!} {EROR!!}


{GAGAL MENGHENTIKAN AKTIVITAS ILEGAL.}


{!!!}


{PERINGATAN}


{EROR}


Panel system menghitam lalu sebuah benda yang diselimuti energi hitam keluar dari dalam panel melayang menuju ke atas Naruto. Energi hitam itu menyebar menyelimuti tubuh Naruto kemudian menghilang, membawa tubuh Naruto pergi bersamanya.


| Di Suatu Tempat |


Di depan sebuah bangunan yang tidak terurus bahkan sebagian besar atap, tembok dan tiang penyangganya telah runtuh, sebuah energi berwarna hitam muncul di tempat itu.



Author: anggap aja ngga ada orang di sana. Author lagi malas ngedit, hehe.


_____________________________________________________________________________________________


Ketika energi itu menghilang, terlihatlah tubuh Naruto yang terbaring di jalan yang terbuat dari batu. Selain itu, benda yang keluar dari panel system dan terselimuti energi hitam akhirnya menampakkan wujud aslinya. Benda itu rupanya merupakan topeng dewa kematian.


Energi hitam kembali keluar dari dalam topeng dewa kematian. Kali ini, energi itu berkumpul di satu titik membentuk sesosok manusia dengan rambut yang panjang dan mengenakan pakaian tradisional cina. Di wajah sesosok manusia itu, terpasang topeng dewa kematian. Sosok itu menatap Naruto.


“Tidak baik, beberapa bagian tubuhnya sudah berhasil diubah. Aku harus segera menyegel jiwanya lagi.” Ucap sosok itu


Sosok itu kemudian merapalkan mantra. Ketika dia selesai, sebuah energi biru seukuran bola pingpong keluar dari tubuh Naruto. Sosok itu kembali merapal mantra lalu menggenggam bola biru dengan tangan kanannya. Ia menguatkan genggamannya hingga bola itu pecah dan mengalir seperti air. Dia membaca mantra lagi lalu energi biru yang mengalir itu bercampur dengan energi hitam yang dia miliki.


Dia lalu mendorong energi itu masuk kedalam tubuh Naruto, mengarahkan energi itu menyebar keseluruh tubuh lalu mengumpulkan kembali energi itu di tangan kiri Naruto. Dia mengerahkan energi hitamnya untuk menyelimuti tangan kiri Naruto. Kedua energi itu menyatu dan terus terkompresi. Sosok itu kembali merapal mantra lalu semua energi di tangan kiri Naruto langsung meresap ke dalam.


Raut wajah Naruto mulai normal kembali dan tubuhnya juga berhenti menggigil.


“Akhirnya selesai. Tadi itu sungguh berbahaya,” ucap sosok itu.


“Eugh…” Naruto membuka matanya, samar samar dia melihat sesosok manusia menggunakan topeng dewa kematian


Naruto reflek hendak bangun dari tidurnya tapi tiba-tiba seluruh tubuhnya berteriak kesakitan, “Argh!”


“Jangan bergerak sedikitpun, aku baru saja membatalkan perubahan paksa pada tubuh dan DNA-mu. Tutup matamu sekarang, aku terlambat membantumu dan matamu telah berubah menjadi mata milik ras Tsutsuki bahkan setengah bagian tubuhmu sudah berubah menjadi ras Tsutsuki sekarang.” Ucap sosok itu.


[Itu benar tuan, Karma Seal tuan mencoba untuk mengganti ras tuan menjadi Tsutsuki. Ayu sudah mencoba sebaik mungkin untuk menghalanginya tapi Ayu gagal. Saat itu, tiba-tiba topeng dewa kematian yang tersimpan di penyimpanan bergejolak dengan hebat. Topeng itu lalu menerobos keluar dari penyimpanan system dan menyelamatkan tuan. Sosok hitam itu juga ada kaitannya dengan topeng dewa kematian.] ucap Ayu


(Aku mengerti garis besarnya sekarang, terimakasih Ayu.) ucap Naruto


Naruto mendengarkan saran sosok hitam itu dan menutup kedua matanya. Namun dia masih ingin melihat siapa sebenarnya orang yang ada di depannya jadi Naruto memutuskan untuk menggunakan ilmu ragasukma yang memungkinkan dirinya melepas sukma atau jiwanya keluar dari tubuh fisik.


Sekarang jiwa Naruto keluar dari tubuhnya, jiwa itu beranjak berdiri meninggalkan tubuh fisiknya yang masih terbaring. Naruto menatap orang yang menyelamatkannya lalu dia sadar, orang di depannya ini bukanlah manusia sama sekali. Tubuhnya terbuat dari energi hitam dengan jumlah yang sangat besar.


(Energi hitam ini membuatku mengingat ruang putih saat aku bertemu dewa dulu. Disamping itu, energi hitam itu juga berasal dari topeng dewa kematian. Mungkinkah…) batin Naruto


“Mungkinkah anda adalah Dewa Kematian?” tanya jiwa Naruto


Sosok hitam itu menatap jiwa Naruto yang tak kasatmata.


“Sudah kuduga kau akan menyadarinya. Namun sayang sekali, jawabanmu kurang tepat.” Ucap sosok itu


Mendengar itu mata jiwa Naruto langsung terbelalak, “Anda adalah pecahan jiwa dewa kematian yang bereinkarnasi ke dunia ini?”


“Ya, akulah pecahan jiwa dewa kematian yang bereinkarnasi.” ucap pecahan jiwa dewa kematian


“Tunggu, bukankah anda sudah mati?” tanya jiwa Naruto


“Benar, aku memang sudah mati. Namun karena kau dalam masalah, aku harus datang dan membantumu. Jika tidak, itu akan menjadi hal yang sangat disesalkan.” Ucap pecahan jiwa dewa kematian


“Omong-omong siapa yang memberitahumu kalau aku sudah mati? Apa dia berpenampilan seperti kakek tua dan menggunakan payung Panjang dengan gagang melengkung sebagai tongkat berjalan?” tanya pecahan jiwa dewa kematian


“Iya dewa, kau benar. Dewa itu bilang kalau anda adalah temannya, apa anda tau dia dewa apa? Saya tidak sempat bertanya saat saya bertemu dengannya. Saya pikir dia adalah dewa kematian tapi energi yang dikeluarkannya sangat berbeda dengan energi anda. Namun, saya heran dia bisa menggabungkan jiwa saya dan jiwa Naruto.” ucap jiwa Naruto


“Kau tidak tau? Dia sebenarnya adalah Dewa Ruang. Dia bisa pergi kemanapun yang ia mau, bahkan menyatu dengan ruang itu sendiri. Soal dia bisa menggabungkan jiwamu dengan jiwa Naruto…” pecahan jiwa dewa kematian terdiam sejenak


“…Aku meminjamkannya teknikku.” ucap pecahan jiwa dewa kematian


“Begitu ya…” ucap jiwa Naruto sembari mengangguk


“Sudah Nak, keberadaanku di dunia ini sudah hampir mencapai batasnya. Aku harus segera menuntaskan apa yang harus kulakukan. Jika aku membiarkanmu kau akan dimakan segel karma-mu lagi jadi aku akan melatihmu, memberitahumu rahasia tentang jiwamu yang bahkan tidak kau ketahui, aku akan menceritakan beberapa sejarah di masa lalu dan alasan dibalik sistemmu yang tidak bisa mendeteksi jiwa Tsutsuki dan mengapa dia tidak bisa menghentikan insiden tadi.” Ucap pecahan jiwa dewa kematian


“Woah! Benarkah? Saya jadi bersemangat!” ucap jiwa Naruto


(Tak bisa kupungkiri aku benar-benar bingung dengan itu semua. Seperti mengapa 60%... bukan, tapi 70% energi spiritualku terasa sedang dikekang. Aku awalnya kehilangan 70% energi spritualku dan setelah Tsutsuki merasukiku, energi spiritualku pulih 10% lalu sekarang energi spiritualku terkekang lagi 10%.) batin jiwa Naruto


“Bagus, aku suka semangatmu nak tapi jangan terlalu formal denganku, lagi pula sebenarnya aku ini adalah kakekmu.” Ucap pecahan jiwa dewa kematian


Mendengar itu Naruto langsung membatu, “Heh, hah, apa??”


“Aku adalah kakekmu.” Jawab pecahan jiwa dewa kematian dengan suara lembut


“La-laaah!!! KOK ISOOO!!!” teriak Naruto dan karena dia kaget, dia tidak sengaja mengucapkan kata-kata bahasa jawa yang artinya kok bisa.


Bersambung…

__ADS_1


Author: Hmm… aku memikirkan sebuah crossover dengan dunia pokemon. Mungkin setelah cerita Naruto 4 tahun semuanya sudah terselesaikan akan ada crossover bentar. Kamu ada pendapat?


__ADS_2