
| Author POV |
1 jam telah berlalu semenjak terjadi pertarungan di penjara Konoha. Kini Naruto sedang berada di rumahnya, membaca buku di dekat jendela yang terbuka sembari meminum secangkir teh hangat. Saat dia sedang asik asiknya membaca buku, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
*TOK
*TOK
*TOK
“Naruto apa kau ada di dalam? Ini aku.” Ucap seorang kakek kakek
(Kakek Hokage? Kenapa dia kemari?) batin Naruto
Naruto menutup bukunya lalu berjalan menuju pintu keluar rumah.
“Aku ada di dalam kek, tunggu sebentar.” Ucap Naruto
Naruto kemudian membuka pintu dan melihat ada Hokage ke-3 yang sedang berdiri. Ketika Naruto melihat wajah Hokage ketiga, dia dapat melihat ada ekspresi sedih yang sedang berusaha disembunyikan.
“Ada apa kek? Tidak biasanya kakek menemuiku pagi-pagi begini. Apa ada sesuatu yang terjadi?” Ucap Naruto
“Naruto… Karena beberapa alasan, Anko sekarang ada di rumah sakit.” Ucap Hokage ketiga
Mendengar itu raut wajah Naruto langsung berubah menjadi serius, “Apa?!”
“Bukankah kakek mengatakan bahwa kemarin Anko-nee bisa segera menemuiku? Bukankah artinya dia baik-baik saja kemarin? Lalu kenapa dia bisa berada di rumah sakit sekarang?” ucap Naruto
Raut wajah sedih hokage ketiga menjadi lebih terlihat, “Maaf Naruto, ini salahku karena tiba-tiba mengirimnya ke sebuah misi kemarin.”
“Misi? Huff~ Kek, aku percaya ada alasan dibalik tindakanmu yang mengirimkan Anko-nee ke misi itu. Apa kau bisa menjelaskan kepadaku misi macam apa itu?” ucap Naruto
“Tentu, aku akan menceritakannya nanti. Namun kita sebaiknya pergi ke rumah sakit sekarang Naruto. Aku akan menceritakannya setelah kau bertemu dengan Anko… dan aku tau kau sudah memiliki sifat dewasa meskipun masih berumur 4 tahun. Naruto, ketika melihat kondisi Anko nanti, tolong berilah dia semangat. Karena kondisi tubuhnya sekarang, Anko mengalami depresi.” Ucap Hokage ketiga
“Depresi?! Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Anko-nee?!” ucap Naruto
“…” Hokage ketiga terdiam
Hokage ketiga, “Anko, dia…”
.../ SKIP /...
Naruto sekarang telah tiba di rumah sakit hanya Bersama Hokage ketiga. Naruto dan Hokage ketiga berdiri di depan pintu ruangan Anko dirawat. Naruto memegang gagang pada pintu itu lalu dia melihat ke arah Hokage ketiga, Hokage ketiga mengangguk lalu Naruto-pun kembali menatap ke depan.
(Baiklah ayo kita lakukan.) ucap Naruto
Naruto membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Ketika pintu terbuka, Naruto dapat melihat seorang wanita berambut ungu yang tergerai dan tengah duduk dengan kaki lurus kedepan tertutup oleh selimut, dia mengenakan baju yang terbuat dari jaring logam tipis dan liontin kecil yang terlihat seperti taring ular di lehernya. Wanita itu sedang melihat ke arah luar jendela sehingga tidak menyadari adanya dua orang yang masuk ke dalam ruangannya.
(Cantiknya… tapi…) batin Naruto melihat kearah tangan kiri Anko yang hanya tersisa dari bahu hingga siku
Naruto tiba tiba menjadi sedih tapi dia berusaha menguatkan hatinya karena keberadaannya di sini adalah untuk membuat Anko kembali semangat bukan untuk memperburuk keadaan. Naruto perlahan berjalan mendekati Anko.
“Anko nee-chan.” Ucap Naruto dengan sangat lembut
Anko yang mendengar suara anak kecil yang sangat familiar, seseorang yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri langsung terkejut dan menoleh ke arah sumber suara itu.
*GREB
Beruntung karena kasur Anko tidak terlalu tinggi, Naruto langsung memeluk Anko dengan erat. Perasaan terharu perlahan muncul di hati Anko, membuat matanya berkaca-kaca. Namun Anko menahan air matanya agar tidak terjatuh dan memperlihatkan bahwa dirinya baik baik saja kepada Naruto. Anko menguatkan dirinya untuk tersenyum lalu diapun memeluk Naruto dengan tangan kanannya yang masih tersisa.
“Naruto.” ucap Anko lirih
Mendengar namanya disebut oleh Anko dengan suara yang lirih, Naruto melonggarkan pelukannya lalu mendongak keatas dan memegang kedua pipi Anko dengan kedua tangannya.
“Nee-chan… Jangan sedih, aku akan selalu ada di dekatmu dan menemanimu neechan, baik senang maupun sedih. Kau tidak perlu depresi karena tangan kirimu neechan. Lihat, kau masih punya tangan kananmu. Aku, ibu, dan kakek hokage juga tidak akan bersikap berbeda padamu karena hal itu. Kami menerimamu apa adanya neechan. Jika kau berpikir dengan satu tangan maka kau tidak akan bisa menggunakan jutsu lagi maka kau salah neechan, kakek hokage bilang selama kau mau kau bisa berlatih untuk mengaktifkan jutsu hanya dengan satu tangan. Jika kau berpikir dengan satu tangan kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri lagi, maka aku yang akan melindungimu dan jika kau menganggap bahwa kau tidak bisa mencari uang dengan satu tanganmu maka kau bisa menetap denganku dan ibuku neechan.” ucap Naruto lalu memeluk Anko
Perkataan yang Naruto lontarkan membuat hati Anko merasa nyaman dan hangat. Ia tidak pernah menyangka bahwa anak kecil yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri mengatakan hal-hal semacam itu. Meskipun hokage ketiga sudah mengatakan hal yang mirip sebelumnya, tapi itu tidak cukup untuk menghibur Anko. Barulah ketika Naruto yang mengatakan hal itu kepada Anko, Naruto berhasil membuat Anko menjadi senang dan terharu. Hal ini menunjukkan betapa spesialnya Naruto di hati Anko.
Anko tersenyum lalu dia membalas pelukan Naruto sembari memejamkan matanya, “Terimakasih Naruto.”
__ADS_1
Mendengar itu Naruto tersenyum lega sekaligus senang. Hokage ketiga menunjukkan ekspresi bahagia di wajahnya, (Syukurlah, Naruto sudah berhasil membuat Anko tenang.)
Hokage ketiga kemudian memutuskan untuk keluar dari ruangan ini dan memberi mereka waktu untuk melakukan reuni, meskipun hokage ketiga menyadari bahwa dirinya belum menepati janjinya ke Naruto, yaitu menjelaskan misi apa yang dijalani Anko kemarin.
.../ SKIP /...
3 menit sudah berlalu, Naruto mulai membuka kembali matanya dan melepaskan pelukannya. Anko kemudian juga membuka matanya dan melepas pelukannya.
“Bagaimana keadaanmu sekarang nee-chan? Lebih baik bukan?” ucap Naruto lalu duduk di kursi yang ada di sebelah kanannya
Dengan senyuman Anko mengangguk pelan, “Ya, aku merasa lebih baik. Terimakasih banyak adikku, jika bukan karenamu aku pasti masih bersedih sekarang.”
“Oh ayolah nee-chan, kau sudah mengatakan terimakasih berkali-kali. Kau tidak perlu mengatakannya nee-chan. Itu sudah menjadi tugasku untuk menyemangati neechan.” ucap Naruto
Anko terdiam mendengar kalimat itu, dia kehabisan kata-kata karena Naruto telah mengucapkan kalimat yang sulit diucapkan bahkan oleh dua orang bersaudara sekalipun, terlebih Naruto itu baru berusia empat tahun dan sangat sedikit anak kecil yang bisa mengatakan hal semacam itu. Anko memegang dagu Naruto lalu…
*CUP
Anko mencium dahi Naruto dengan penuh ketulusan, “Aku sangat senang karena aku bisa merawatmu sedari kecil sehingga aku bisa menjadi neechan-mu sekarang.”
“Aku juga sangat senang, seorang wanita yang memiliki hati tulus, suka bercanda, penyabar, pekerja keras, dan dapat diandalkan menjadi neechan-ku.” Ucap Naruto
Mereka berduapun kembali berpelukan. Tak lama kemudian merekapun menyudahi pelukan mereka.
“Oh iya Naruto, jika tidak salah kau masuk ke ruangan ini tadi hanya bersama dengan tuan hokage. Di mana Kushina okaa-san?” tanya Anko
“Maaf Nee-chan, karena istri dan anak Paman Inoichi pergi ke rumah sakit ini untuk menjenguk Paman Inoichi, okaa-san diminta untuk menjaga dan menjalankan toko bunga Yamanaka.” jawab Naruto
“Hah? Apa yang terjadi dengan paman Inoichi?” ucap Anko
(Paman Inoichi seharusnya bertugas sebagai penggali informasi di Penjara Konoha. Jika dia sampai terluka berarti ada dua kemungkinan, dia terkena serangan mental atau Bangunan Penjara Konoha itu sendiri diserang.) batin Anko
*TOK
*TOK
*SREET
“Inoichi mengalami koma.” Ucap Hokage ketiga
“Apa?” ucap Naruto tidak percaya
Hokage ketiga menghembuskan nafas panjang, “Huff~~ Ketika dia sedang membaca ingatan seorang tahanan pagi ini, tiba tiba tahanan itu tersadar dan menyerang Inoichi serta orang lain di sekitarnya. Upaya penangkapan kembali sudah dilakukan tapi sayangnya gagal.”
“Kakek, bagaimana keadaan Ino sekarang?” tanya Naruto
“Ino sempat menangis cukup lama setelah melihat ayahnya terbaring koma, dia pasti sedikit terpukul karena kejadian ini. Sekarang, gadis itu sudah pulang kerumahnya. Naruto, aku pikir kau harus menghibur gadis itu.” Ucap Hokage ketiga
“Aku pasti akan melakukannya kek.” ucap Naruto
Naruto menatap Anko, “Neechan, aku pamit pergi untuk menghibur putri paman Inoichi dulu. Kapan-kapan aku akan memperkenalkan Ino ke neechan. Neechan bilang neechan belum pernah bertemu langsung dengannya kan? Hehe. Setelah aku pergi jangan bersedih lagi mengerti? Aku tidak tahan melihat orang yang aku sayangi sedih.”
“Tenang saja, neechan tidak akan bersedih lagi. Pergilah Naruto, pastikan kau menghibur Ino dan membuatnya tersenyum lagi sama sepertiku.” Ucap Anko lalu memeluk Naruto
“Tentu neechan.” Ucap Naruto membalas pelukan Anko
Naruto melepaskan pelukannya lalu dia turun dari kursi dan berdiri di depan hokage ketiga.
“Aku pergi dulu kek.” Ucap Naruto
“Ya, berhati-hatilah di jalan dan terima ini.” Hokage ketiga memberikan sebuah gulungan, “Gulungan ini berisi hal yang kau minta.”
Naruto mengangguk dan menerima gulungan itu, “Terimakasih banyak kek.”
Naruto lalu pergi keluar meninggalkan ruangan itu.
“Tuan hokage, apa Naruto meminta sebuah jutsu lagi?” tanya Anko
“Ya begitulah, dia mempelajari hal baru dengan sangat cepat.” Ucap Hokage ketiga sembari tersenyum
__ADS_1
...| Di Luar Ruangan |...
Setelah keluar ruangan, Naruto terdiam sebentar di depan pintu dan mulai menyebarkan energi Qi ditambah dengan energi spiritual miliknya agar dia bisa mendeteksi apa yang ada di area sekitar.
(Aku tidak menyadarinya tadi, tempat ini ternyata sama seperti waktu aku bayi dulu, selalu ramai.) batin Naruto melihat banyak makhluk halus yang berjalan melalui lorong-lorong rumah sakit
(Hmm, nampaknya tidak ada perawat yang lewat di sini sekarang. Aktifkan title {Pembunuh Legenda}.) batin Naruto
Seketika Narutopun menjadi tembus pandang. Naruto kemudian mulai berjalan melewati lorong sebelah kanan. Sembari berjalan Naruto memasukkan gulungan pemberian Hokage Ketiga tadi kedalam penyimpanan system-nya.
[Tuan, ini bukanlah jalan untuk keluar dari rumah sakit, sebenarnya tuan ingin kemana?] ucap Ayu
(Aku ingin menjenguk Paman Inoichi terlebih dahulu dan memastikan suatu hal. Aku mempunyai firasat yang tidak menyenangkan mengenai komanya Paman Inoichi.) batin Naruto
[Firasat tidak menyenangkan?] tanya Ayu
(Ya, aku akan menjelaskannya saat kita sudah sampai disana nanti.) batin Naruto
...| SKIP |...
Setelah berkeliling beberapa saat, Naruto akhirnya tiba di dalam ruangan Inoichi dan tidak ada orang lain disini. Dia melihat Inoichi yang sedang terbaring tak sadarkan diri, (Beberapa tulangnya patah karena benturan keras, lukanya memang parah tapi aku tidak perlu menangani hal itu karena sudah ditangani oleh tenaga medis.)
Naruto kemudian menyalurkan energi spiritual murni miliknya ke tubuh Inoichi, (Energi-ku terserap!) seketika Naruto langsung menghentikan aliran energi spiritualnya, (Tcih.)
[Apa yang sebenarnya terjadi tuan?] tanya Ayu
...| Naruto POV |...
(Ini tidak bagus Ayu.) batinku
(Energi spiritual atau energi mental, itu adalah energi yang berasal dari jiwa seseorang. Meski berasal dari jiwa, cara kerja energi ini hampir sama dengan chakra selama penggunaannya tidak berlebih maka tidak akan mempengaruhi jiwa pengguna. Setiap jiwa memiliki energinya masing-masing, jiwa dengan keadaan yang utuh biasanya tidak akan mau menerima energi milik jiwa lainnya. Kecuali bagi jiwa yang dalam keadaan tidak utuh atau ada bagiannya yang menghilang maupun tersegel.
Jika ada energi spiritual yang memasuki jiwa orang lain yang utuh, jiwa dan tubuh orang itu akan merasakan sakit yang luar biasa seperti aku ketika mengikatkan diriku sendiri denganmu atau ayahku yang menggunakan jutsu Shiki Fujin. Jika jiwa yang dimasuki energi spiritual adalah jiwa yang tidak utuh maka jiwa itu akan kembali utuh tapi akan ada efek samping seperti hilang ingatan.
Dalam kasus paman Inoichi, ini adalah kasus yang merepotkan. Jika kuingat kembali di dalam anime saat teknik membaca pikiran digunakan, teknik itu selalu menggunakan avatar jiwa atau versi mini dari keselurahan jiwa pemakainya ketika digunakan. Itu tidak akan berdampak banyak jika avatar jiwa hanya diserang dan avatar jiwanya kembali ke tubuh utama tapi akan fatal jika avatar jiwa seseorang disegel atau menghilang. Dampak paling ringan adalah pengguna mengalami badan lemah selama sisa hidupnya dan yang paling parah adalah koma selama sisa hidupnya.) batinku menjelaskan kepada Ayu
(Aku harus memastikan semuanya sekarang.) batinku
Aku mengambil gulungan yang diberikan kakek hokage dari penyimpanan lalu membacanya secepat kilat setelah selesai, aku lumayan lega karena musuh yang kutemui tadi dan musuh yang melukai Paman Inoichi memiliki kesamaan, (Syukurlah aku mengambil darah mereka tadi.)
...| Narator POV |...
(Tempat ini sebenarnya kurang aman untuk aku menyelamatkan kondisi Paman Inoichi, tapi tidak ada jalan lain sekarang. Ayu, tolong buatkan array ilusi yang membuat ruangan ini tampak biasa-biasa saja dari luar dan tolong buatkan array kedap suara serta array yang bisa menahan energi spiritual agar tidak meninggalkan tempat ini.) batin Naruto
[Baik, Ayu akan segera memasang array-nya.] ucap Ayu langsung melakukan tugasnya
(Ayu, selama pemasangan array, aku akan melakukan pengecekan sebentar dan kau tetaplah memasang array.) batin Naruto
[Baik tuan.] ucap Ayu
Naruto duduk bersila lantai lalu dia mengeluarkan lima wadah yang berisi darah dari penyimpanan system-nya. Wadah-wadah itu kemudian ia letakkan pada lantai di depannya. Naruto kemudian mulai berkomat-kamit membaca sebuah mantra. Ketika mantra itu selesai dibaca darah pada 2 dari 5 wadah yang ada mengalami gejolak, 2 tetes darah melayang dari dua wadah darah yang bergejolak, darah itu kemudian bergerak menuju ke atas tubuh Inoichi.
(Syukurlah, darah darah itu melayang dan menetap di atas tubuh Paman Inoichi. Ini tandanya avatar jiwa Paman Inoichi hanya tersegel bukan menghilang. Dikarenakan jutsu pembaca pikiran klan Yamanaka membuat penggunanya dapat tiba di alam bawah sadar, pasti avatar jiwa Paman Inoichi tersegel disana. Masalahnya adalah aku kurang yakin bisa membebaskan avatar jiwa Paman Inochi karena aku menduga mereka memiliki perlindungan jiwa dari klan Tsutsuki. Namun mau bagaimanapun juga, aku harus menyelamatkan Paman Inoichi.) batin Naruto
[Tuan, Ayu sudah selesai memasang array yang cukup kuat. Namun, jika seseorang memasuki ruangan ini, array ini tidak akan berfungsi lagi.] ucap Ayu
(Terimakasih Ayu. Nah sekarang, aku harus membuat semacam penghalang berlapis pada array ini agar kemungkinan seseorang menyadari ada keanehan di ruangan ini berkurang.) batin Naruto
“Wahai jiwa makhluk alam lain yang mendiami rumah sakit ini.” Ucap Naruto pelan disertai energi spiritual yang keluar bersamaan
Energi spiritual itu menyebar hingga ke seluruh penjuru rumah sakit, membuat makhluk halus yang berada di rumah sakit terdiam lalu melihat ke arah sumber energi dan suara itu.
“Atas namaku, orang yang menjalin kontrak dengan pemimpin kalian di tempat ini. Aku memerintahkan kalian semua untuk datang ke tempatku berada sekarang. Lindungi tempat ini dan cegah orang orang agar tidak memasuki tempat dimana aku berada sekarang.” Ucap Naruto pelan disertai energi spiritual
Mendengar itu, seluruh makhluk halus yang ada di rumah sakit pergi ke tempat Naruto berada. Ada yang datang dengan melayang menembus lantai dan tembok, ada pula yang berjalan dan naik menggunakan tangga darurat. Setelah sampai, tak ada satupun dari mereka yang berani memasuki ruangan, mereka hanya berkumpul dan menunggu di bagian luar ruangan. Menunggu seseorang yang berniat memasuki ruangan untuk mereka ganggu.
“Apa kau tidak ingin menampakkan dirimu setelah aku menggunakan namamu untuk memerintahkan hantu yang ada disini? Ubume?” ucap Naruto sambil melihat ke langit-langit ruangan
BERSAMBUNG....
__ADS_1
TERIMAKASIH