Laki-Laki Posesif

Laki-Laki Posesif
KERJA KERAS 4


__ADS_3

Setelah percakapan itu Tika merasa bahwa benar Rei tidak ada perasaan dengannya, hanya sebatas teman dan sudah di anggap adik sendiri.


Di malam itu Tika bercerita dengan mamahnya, menceritakan bahwa dia suka dengan Rei, Tika bilang ke mamahnya


“Mah aku udah lama suka sama kak Rei tapi dia pernah bilang ke aku kalau sudah anggap sebagai adiknya, terus tadi dia  cerita kalau lagi deketin perempuan, aku ngerasa sakit hati tapi  aku juga nggak mau jauh dari kak Rei”


Mamahnya menjawab “anak mamah satu ini ada-ada aja, Tika wajar kalau kamu suka sama Rei


tapi kalau Rei nya anggap kamu sebagai adiknya justru mamah lebih setuju, Namanya saudara pasti nggak bakal saling nyakitin, dan di umur kamu mending fokus sekolah gapai cita-cita kamu barusan cari pasangan”


“Tapi mah namanya juga suka, dia selalu ada buat aku, selalu nolong aku waktu aku kesusahan, aku nggak mau dia sama perempuan lain”


“Gini Tika namanya perasaan nggak bisa dipaksakan, gimana kalau Rei nggak bisa anggap


kamu sebagai perempuan yang di anggap pacarnya, apa kamu mau hubungan kamu


dengan Rei jadi canggung dan nggak kenal lagi?”


“Iya sih mah kak Rei juga bilang gitu,  tapi


ah nggak taulah mah”


“Sini-sini anak mamah” mamahnya sambil memangku kepala Tika dan mengusap-usap kepalanya


Tika yang pada waktu itu ingin menanyakan cerita percintaan mamah dengan papahnya seketika tidak berani menanyakannya karena mengingat perlakuan papahnya dengan mamahnya sendiri.


Tapi mamahnya langsung bilang “kalau anak mamah mau menikah cari laki-laki yang baik, jangan cuma fisiknya, hartanya tapi cari laki-laki


yang tulus, kalau mencintai karena fisiknya, fisik itu ada batasnya misal Tika cantik lama kelamaan karena umur kan nggak secantik muda dulu, terus karena harta, gimana kalau Tika sekarang punya harta besok harta Tika hilang, apa pasanganmu masih mau sama kamu tik?, pasti dia akan cari yang lain, biar pengalaman orang tuamu ini jadi pelajaran buat kamu juga dalam mencari pasangan”


Tika menjawab “maaf mah udah buat mamah sedih, iya aku cari pasangan yang tulus sama


aku, jangan sedih ya mah Tika ada buat mamah”


Dengan raut muka yang ceria mamahnya mengatakan “mamah sayang sama anak mamah”


“Aku juga sayang banget sama mamah”


"Yasudah sekarang kita tidur ya, udah malam besok kan sekolah mamah juga kerja pagi mau


ke kantor ada yang diurus, sini tidur di kamar mamah aja”


“Oke Mah”


Perasan Tika semakin membaik karena bercerita dengan mamahnya, cerita dilanjutkan dengan Rei yang masih chating dengan putri.


“Put”


“Iyaa kak”


“Boleh gak aku telpon”


“Jangan kak, aku gak biasa telponan”


“Berarti jarang telponan kalo ada pacar?”


“Gak pernah, aku pacaran lewat chat aja, kadang ketemu sebentar, karena ayahku ngelarang aku keluar-keluar rumah”


“Galak berarti ayahmu?”


“Enggak juga sih, mungkin lebih takut anaknya di apa-apain orang lain”


“Kalau keluarnya sama aku pasti boleh” dengan PD nya Rei ngomong.


“Mana ada kak, semua pacarku gak boleh bawa keluar aku, apalagi baru temen”


“Nanti liat aja 😊”

__ADS_1


Rasa percaya diri Rei naik ingin membuktikan kalau dia bisa mendapatkan Putri dan hati orang tuanya. Melanjutkan chat Putri membalas hanya “😊”


“Manisnya”


“Apa yang manis?”


“senyum kamu manis 😊”


“Lebay”


“Hahaha bercanda”


“Udah dulu ya kak aku mau tidur ngantuk”


Memang sedikit berbeda Putri dengan perempuan-perempuan lainnya, dibalik kecantikannya sifatnya sedikit keras dan kaku tetapi jika sudah bisa mengambil hatinya dia


akan menjadi perempuan yang sangat perhatian dan romantis mungkin sangat sulit bisa meluluhkan hati Putri tetapi Rei tidak menyerah, pelan-pelan dan sabar.


Setelah percakapan itu berhenti, Rei banyak menonton film drama romantis, agar mendapat inspirasi dan cara mendapatkan hati Putri. Banyak cara yang sudah disiapkan Rei, mulai Rei mencoba mulai mendekati lebih dekat lagi, saat di


sekolah Rei mulai berani menyapa.


Suatu Ketika saat Rei lewat depan kelas Putri


dan melihatnya ada di depan pintu, Rei langsung mendatanginya kemudian menyapa, “Putri” senyumnya mulai lebar.


Kemudian Putri menjawab “iya kak” setelah itu Rei


pergi ke kelasnya.


Saat pulang sekolah Rei sengaja menunggu Putri di parkiran motor, saat bertemu Rei berbasa-basi “pulang put?”


"Iya kak langsung suruh


pulang gak boleh mampir-mampir”, jawab Putri


“Iya kak,makasih”.


Nggak sebatas percakapan singkat itu, Rei melanjutkan lewat chat dengan penuh perhatiannya “Put, udah makan belum?”


“Udah kak barusan selesai, kakak udah makan?”


“Belum ini” berharap diperhatikan Putri padahal Rei sudah makan.


“Oh yasudah kak” tanpa sedikitpun perhatian jawab Putri. Sebenarnya Rei sangat kesal tapi nggak banyak yang bisa di lakukan Rei, hanya bisa bersabar.


“Makan pakai apa dek?”


“Pakai mie”


“Loh nggak pakai tangan apa haha 😊”


“Haha ya pakai lah masa pakai kaki”


“Biar cepat makannya pakai gayung 😊”


“Sekalian aja pakai ember”


“Haha sekarang masih senyum gak ?, kalo masih senyum aku pingin liat senyum kamu”


“Kenapa kok pingin lihat senyumku?”


“Pasti lucu kamu kan kelihatan galak, kalo senyum gimana ya haha”


“Jangan buat aku marah ya kak”


“Tuh kan galak, bercanda dek, coba lihat senyumnya”

__ADS_1


Yang tadinya Putri belum senyum sekarang mulai senyum-senyum sendiri, melanjutkan percakapan Putri “gak mau dilihat senyumnya 😊” gak mau tapi di akhir chat dikasih emoticon senyum.


“Itu senyum, tuh kan kalo senyum manis mirip sapi haha”


“Apalah kakak ini”


“Bercanda, dasar marahan haha 😊”


“Kakak mirip kerbau”


“Eh dendam dia ya, dasar sapi kerjanya tidur mulu”


“Kakak tuh yang tidur mulu kan kerbau haha”


“Berantem aja gimana kita?”


“Ayok”


“Aku suka sapi gak mau nyakitin sapi, karena sapi banyak kasih manfaat untuk orang 😊”


Putri terdiam dan kemudian tak lama Putri membalas “kak aku ngantuk tidur ya?”


“Iya dek”


Dijawab Putri “😊”


Sedikit demi sedikit hati Putri mulai luluh, Rei menanggapinya dengan santai dan tenang,salah


bertindak bisa-bisa langsung hilang Putri dari tangannya. Beralih ke Tika yang sudah dua hari tidak chating dengan Rei merasa kangen dengannya, di malam itu Tika menelpon Rei


Rei menjawab “iya dek”


Dibalas Tika dengan nada agak keras “kemana aja kok gak ada kabar lagi, mentang-mentang udah deket sama gebetannya lupa sama adiknya ini”


“Cemburu ya hahaha??”


“Kalau iya kenapa? Orang biasanya juga nggak pernah lupa sama aku semenjak kenal


gebetannya lupa sama aku”


“Ih ngambek, enggak pernah lupa sama kamu, mau curhat apa hari ini?”


“Enggak mau curhat, besok joging yuk badanku kok gemuk kan”


“Oke besok kalau enggak ada acara kita joging ya”


“Udah ada janji apa kak?”


“Enggak ada sih, yasudah besok kita joging”


“Kak tau nggak kemarin aku dinasehati sama mamah katanya suruh cari pasangan yang


tulus sayang sama aku, aku sedih lihat mamah cerita tentang hubungannya


dengan Papah ku yang kurang baik”


“Gimana ya dek kalau soal orang tua mu kita nggak bisa ikut campur, dan masih kurang


umur untuk bahas hal itu, tapi ya bener kalau cari pasangan yang tulus mencintai kita”


“Kakak cari perempuan yang gimana seandainya nanti mau nikah?”


“Masih lama nikah, yang jelas perempuan yang bisa ngerti kondisiku waktu seneng ada buat aku, waktu susah juga ada buat aku”


“Aku ada terus buat kakak”


“Ya harus gitu kamu kan adikku hahaha”

__ADS_1


__ADS_2